Monday, August 31, 2026

FIB Unud Gelar Evaluasi Kinerja Triwulan II 2026,:Rumuskan Langkah Strategis Pencapaian IKU

 

Pada Senin, 31 Agustus 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) menyelenggarakan Rapat Evaluasi Capaian Kinerja Fakultas dan Program Studi Periode Triwulan II Tahun 2026. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang Senat, Gedung Poerbatjaraka ini dipimpin oleh Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan I FIB Unud. Kegiatan ini dihadiri oleh para Koordinator Program Studi (S1, S2, S3, BIPA, dan BIPAS), Ketua Unit Pengelola Informasi dan Kerja Sama (UPIKS), Koordinator Tata Usaha, para Sub Koordinator, Tim PIC Capaian Kinerja dari masing-masing program studi, serta Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UP2M). Rapat dilaksanakan untuk meninjau realisasi target Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Perguruan (IKP) hingga Triwulan II, sekaligus merumuskan langkah strategis penanggulangan sebelum berakhirnya Triwulan III pada September mendatang. 

Dalam pemaparannya, perwakilan Tim Perencanaan Fakultas, I Nyoman Agesta Amandayana, S.Kom., menyampaikan rekapitulasi capaian kinerja fakultas dan prodi. Berdasarkan evaluasi awal, sejumlah indikator kinerja masih membutuhkan dorongan signifikan karena belum mencapai target persentase tahunan yang disepakati bersama Dekan. Pada aspek angka efisiensi edukasi dan persentase mahasiswa aktif, rata-rata pencapaian masih berada di bawah target.

Selain itu, dibahas pula kendala administratif mahasiswa, seperti pemenuhan sertifikat PKKMB maupun Satuan Kredit Partisipasi (SKP) yang berpotensi menghambat kelulusan tepat waktu. Terkait persentase alumni yang bekerja atau melanjutkan studi, fakultas terus mendorong optimalisasi penelusuran alumni melalui kerja sama dengan Career Development Center (CDC) serta pemberian bimbingan bagi lulusan yang belum bekerja. 

Pembahasan juga mencakup aspek kualifikasi dosen dan luaran akademik. Mengenai rekognisi internasional serta persentase dosen berpendidikan S3, publikasi jurnal internasional pada tingkat program sarjana tercatat menunjukkan kemajuan yang signifikan. Sementara itu, pelaporan data pada jenjang pascasarjana masih terus dirapikan melalui sistem IMISSU. Pada aspek luaran kerja sama dan publikasi bereputasi, fakultas menyoroti pentingnya pencatatan luaran berbasis riset dan kolaborasi internasional. Contoh luaran yang telah dipublikasikan di antaranya adalah kerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Bali pada Prosiding Seminar Nasional Bahasa Ibu, serta penuangan laporan kerja sama ke dalam bentuk buku atau repositori yang dapat diakses publik. 

Di samping itu, kontribusi program studi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) serta keterlibatan dosen sebagai pakar dalam penyusunan kebijakan juga didorong untuk terus didokumentasikan secara resmi melalui surat tugas. 

Menanggapi hasil capaian tersebut, pimpinan fakultas menekankan pentingnya efisiensi anggaran dan akselerasi tindakan oleh seluruh unit kerja. Mengingat pentingnya pemenuhan kontrak kinerja dengan Rektorat maupun Kementerian, para koordinator program studi dan unit terkait diminta segera menyusun Rencana Aksi untuk memitigasi indikator yang masih di bawah target. Selain pencapaian IKU, rapat tersebut turut membahas pemetaan dan digitalisasi proses bisnis fakultas. Alur kerja administrasi, mulai dari pendaftaran yudisium hingga penyusunan rencana kerja, diarahkan untuk terintegrasi dalam sistem digital guna meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan akademik. 

Rapat evaluasi ini menjadi pijakan strategis bagi FIB Unud untuk mengidentifikasi tantangan dan mengoptimalkan kinerja di pertengahan tahun anggaran 2026. Sebagai tindak lanjut, seluruh Koordinator Program Studi dan PIC Kinerja diinstruksikan untuk melengkapi pendataan mahasiswa yang terlibat dalam penelitian dan MBKM, memperbarui pelaporan luaran kerja sama, serta segera merampungkan pelaporan Rencana Aksi Triwulan III melalui sistem integrasi fakultas. Dengan komitmen bersama, FIB Unud optimistis dapat memenuhi target kinerja yang telah ditetapkan pada periode mendatang. 


Friday, August 21, 2026

Jiwanmukti sebagai Sastra Pembebasan dalam Kakawin Panca Dharma, Bahasan dalam Sidang Doktor ke-290 FIB Unud


Program Studi Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka yang dilaksanakan di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud pada Jumat, 21 Agustus 2026. Promovenda atas nama Ni Made Ari Dwijayanthi, S.S., M.Hum. berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Representasi Jiwanmukti Sebagai Sastra Pembebasan Dalam Kakawin Panca Dharma”. Sidang tersebut dihadiri oleh keluarga dan rekan sejawat Promovenda. Dengan keberhasilan tersebut. Promovenda menjadi Doktor ke-290 pada Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud.

Keberhasilan Promovenda dalam mempertahankan hasil penelitiannya tidak terlepas dari arahan, masukan, dan evaluasi yang diberikan oleh para anggota penguji. Sidang ujian terbuka ini diketuai oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum., dengan didampingi Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum. sebagai Promotor, Prof. Dr. Drs. I Ketut Sudewa, M.Hum. sebagai Kopromotor 1, dan Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. sebagai Kopromotor 2. Sementara itu, tim penguji yang turut mendampingi pimpinan sidang terdiri atas Prof. Dr. Dra. Luh Putu Puspawati, M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Dr. Drs. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum., Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., dan Dr. Drs. Ketut Yarsama, M.Hum.

Di hadapan para penguji, Promovenda memaparkan bahwa penelitian disertasinya dilatarbelakangi oleh krisis kesadaran diri manusia modern yang cenderung mencari kebahagiaan melalui hal-hal eksternal serta praktik spiritual yang bersifat simbolik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis wacana kritis, penelitian tersebut menunjukkan bahwa Kakawin Panca Dharma merupakan satu kesatuan ajaran yang menggambarkan perjalanan manusia menuju pembebasan batin.

Perjalanan tersebut berlangsung secara bertahap melalui kalepasan, kamoksan, kasunyatan, dan kaputusan. Kalepasan berkaitan dengan pengendalian diri, indra, ucapan, serta pelepasan berbagai keterikatan. Kamoksan merupakan proses penyatuan jiwa dengan kesadaran yang lebih tinggi. Kasunyatan menggambarkan kondisi keheningan dan kebebasan dari dualitas duniawi. Sementara itu, kaputusan menjadi tahap tertinggi ketika manusia terbebas dari keterikatan dan mencapai kesadaran tertinggi. Ajaran tersebut tidak hanya dipahami sebagai konsep mistis, tetapi juga sebagai proses psikologis yang mencakup penerimaan diri, pengendalian pikiran, keikhlasan, dan kontemplasi.

Penelitian ini juga menemukan adanya paralelitas antara ajaran pembebasan dalam Kakawin Panca Dharma dengan psikologi analitik Carl Gustav Jung, khususnya melalui konsep individuasi, shadow, anima-animus, dan Self. Dengan demikian, Kakawin Panca Dharma tidak hanya dapat dipandang sebagai warisan sastra Jawa Kuno, tetapi juga sebagai peta spiritual dan psikologis yang tetap relevan bagi manusia modern. Nilai-nilai seperti penerimaan diri, kesadaran batin, pengendalian ego, keikhlasan, dan dialog dengan diri sendiri dapat menjadi bahan refleksi dalam membangun kesehatan mental yang lebih holistik.

Pemaparan hasil penelitian tersebut kemudian memunculkan diskusi mendalam dalam sesi tanya jawab yang menyoroti dua poin utama. Promovenda menjelaskan bahwa Kakawin Dharma Sawita, Kakawin Dharma Wimala, Dharma Niskala, Dharma Sunya, dan Dharma Putus memiliki pertalian atau benang merah yang menunjukkan tahapan dari dasar hingga tingkat lanjut dalam mencapai pembebasan diri. Pembebasan diri yang dimaksud berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengendalikan diri sehingga seseorang mampu melihat serta menilai dirinya sendiri.

Promovenda berharap hasil penelitiannya dapat dibaca secara lebih luas oleh para stakeholders, khususnya pihak yang berkonsentrasi dalam bidang ilmu gizi. Dalam Kakawin Dharma Sawita, misalnya, dijelaskan mengenai cara mengolah rasa, termasuk mengendalikan makanan. Selanjutnya, dalam bidang psikologi, ketika seseorang mampu memahami dan mengendalikan apa yang masuk ke dalam tubuh, hal tersebut juga dapat membantu proses pengendalian diri. Dengan tubuh yang sehat, kesehatan jiwa juga diharapkan dapat terjaga.

Sebagai penutup, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum. selaku Promotor menyampaikan pesan dan harapannya kepada Promovenda. Sebagai seorang aktivis sekaligus dosen, gelar yang telah diperoleh harus dapat dipertanggungjawabkan melalui kontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia akademik. Lebih dari sekadar menjadi sebuah disertasi, kajian mengenai Kakawin Panca Dharma diharapkan dapat terus dihidupkan sebagai pengingat filosofis bagi setiap orang untuk senantiasa merefleksikan nilai-nilai kehidupan, kesadaran diri, dan pembebasan yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, karya ini tidak hanya berhenti sebagai pencapaian akademik, tetapi juga dapat memberikan makna dan manfaat bagi seluruh hadirin serta masyarakat luas.


Thursday, August 20, 2026

Luluskan 309 Mahasiswa, Yudisium FIB Unud Catatkan Peningkatan Capaian Akademik yang Gemilang

 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi melepas 309 mahasiswanya dalam acara Yudisium Calon Wisudawan Periode ke-177 dan 178 yang digelar pada Kamis, 20 Agustus 2026. Upacara akademik yang berlangsung di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud ini turut dihadiri oleh jajaran dekanat, senat fakultas, para koordinator program studi, pimpinan unit kerja, tenaga kependidikan, serta perwakilan lembaga kemahasiswaan di lingkungan FIB Unud. 

Pelaksanaan yudisium menjadi prasyarat mutlak yang menandai berakhirnya masa studi mahasiswa secara administratif dan akademik di fakultas. Melalui prosesi ini, 309 mahasiswa tersebut resmi dikukuhkan sebagai alumni FIB Unud untuk kemudian dilepas ke tingkat universitas. Berdasarkan laporan akademik dari Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama, lulusan pada yudisium periode ini menunjukkan kualitas akademik dan efisiensi studi yang sangat baik. Pada jenjang Sarjana (S1) yang menjadi kelompok mayoritas, tercatat  rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,87 dengan masa studi 51 bulan. Sementara itu, lulusan program pascasarjana (Magister dan Doktoral) turut menorehkan prestasi impresif dengan rata-rata IPK pada rentang 3,80 hingga 3,93, serta waktu penyelesaian studi antara 30 hingga 49 bulan. Dari sisi sebaran peserta, Program Studi Sastra Inggris mendominasi pelepasan kali ini dengan menyumbang 103 calon wisudawan, sedangkan Program Studi Sastra Jawa Kuna melepas sejumlah 10 mahasiswa. 

Calon wisudawan terbaik dipaparkan oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Informasi, Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M. Si. Calon wisudawan terbaik untuk periode ke-177 dari program Sarjana diraih oleh Ni Kadek Febriyati Wulandari, S.S. dari Program Studi Sastra Inggris. Calon wisudawan terbaik dari program Magister diraih oleh Ni Putu Dian Angga Melani, S.S., M.Hum. dari Magister Linguistik, dan calon wisudawan terbaik dari program Doktoral diraih oleh Dr. Asridayani, S.S., M.Hum. dari Doktor Linguistik.

Periode ke-178, calon wisudawan terbaik dari program Sarjana diraih oleh Rafi Nazmi Ghifari, S.S. dari program studi Sastra Inggris, Calon wisudawan terbaik dari program Magister diraih oleh Ni Nyoman Tri Gitayani, S.S., M.Hum. dari Magister Linguistik, dan calon wisudawan terbaik dari program Doktoral diraih oleh Dr. Yana Qomariana, S.S., M.Ling. dari Doktor Linguistik.

Puncak kehidmatan acara ditandai dengan prosesi pengalungan gordon kepada seluruh 309 calon wisudawan oleh Dekan FIB Unud dan penyerahan sertifikat kelulusan oleh masing-masing Koordinator Program Studi. Suasana haru dan penuh kebanggaan yang menyelimuti Auditorium Widya Sabha Mandala ini turut disemarakkan oleh persembahan hiburan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Symphony FIB Unud. 

Sesudah sesi pengalungan gordon kepada seluruh calon wisudawan, Ni Kadek Febriyati Wulandari, S.S. yang didapuk sebagai perwakilan wisudawan terbaik memberikan kesan pesan selama studi yang reflektif. Ia menekankan bahwa kelulusan ini bukanlah sebuah garis akhir, melainkan titik awal yang membawa ketidakpastian sekaligus peluang baru untuk terus belajar. Mewakili rekan-rekannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada jajaran sivitas akademika, tenaga kependidikan, serta keluarga yang terus memberikan dukungan.   

Mengakhiri rangkaian kegiatan, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. menekankan bahwa kegagalan adalah bahan baku utama menuju kesuksesan. Mengambil inspirasi dari perjalanan tokoh dunia seperti J.K. Rowling, Thomas Alva Edison, hingga pesepakbola Lionel Messi, Dekan mengingatkan para lulusan agar tidak takut menghadapi penolakan di dunia nyata. Lebih lanjut, beliau juga membagikan pengalaman pribadinya saat menghadapi penolakan jurnal internasional semasa studi doktoralnya, yang justru menjadi batu loncatan menuju publikasi bereputasi tinggi.

Berakhirnya prosesi yudisium ini sekaligus menjadi penanda dimulainya babak baru bagi ke-309 lulusan. Berbekal ilmu kebudayaan dan gelar yang kini disandang, para calon wisudawan diharapkan tidak hanya siap menghadapi tantangan global, tetapi juga mampu mengukir jejak kesuksesan dan membawa nama baik almamater di tengah masyarakat.


Wednesday, August 19, 2026

LPK Zenith Jajaki Kerja Sama dengan FIB Unud untuk Memperkuat Pembelajaran Bahasa Jepang dan Peluang Karier

 


Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) menerima kunjungan dari LPK Zenith yang diwakili oleh Direktur LPK Zenith, Dr. Catrini Pratihari K. Pertemuan tersebut membahas potensi kerja sama antara LPK Zenith dan FIB Unud, khususnya dalam pengembangan pengajar Bahasa Jepang, program magang mahasiswa, serta peluang pengembangan kompetensi dan karier mahasiswa di Jepang. Kunjungan tersebut disambut oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., bersama Ketua Unit Pengelola Informasi dan Kerja Sama (UPIKS) FIB Unud, Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M. Hum., dan berlangsung dalam suasana konstruktif dengan fokus pada penjajakan peluang kerja sama di masa mendatang.

Dalam pertemuan yang terlaksana di Ruang Dekan tersebut, Dr. Catrini menyampaikan bahwa LPK Zenith melihat adanya keterbatasan tenaga pengajar Bahasa Jepang di Bali. Di sisi lain, terdapat potensi kerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki program studi Bahasa Jepang dan mahasiswa yang memiliki ketertarikan untuk menjadi pengajar. Berdasarkan kondisi tersebut, LPK Zenith mengusulkan adanya kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia, salah satunya melalui program Training of Trainers (TOT) untuk mempersiapkan calon pengajar Bahasa Jepang. Selain itu, LPK Zenith juga melihat adanya peluang bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman profesional di Jepang. Peluang tersebut didukung dengan adanya kerja sama baru LPK Zenith bersama Japan Airlines yang mencakup bidang ground handling, kargo, dan administrasi, dengan beberapa posisi yang membutuhkan kemampuan Bahasa Jepang pada tingkat N2 dan N3.

Menanggapi usulan tersebut, Prof. Aryawibawa menyambut baik potensi kerja sama yang ditawarkan dengan menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap kegiatan yang dikembangkan tetap selaras dengan misi akademik dan kurikulum FIB Unud. Ia menjelaskan bahwa dalam pengembangan kerja sama dengan pihak Jepang, FIB Unud perlu berhati-hati dalam memosisikan program agar peran universitas sebagai institusi pendidikan tinggi tetap berfokus pada pengembangan akademik dan tidak dipersepsikan sebagai lembaga vokasi untuk penempatan tenaga kerja. Oleh karena itu, peluang kerja sama dapat dikembangkan melalui skema akademik seperti mobilitas mahasiswa, magang, atau bentuk pembelajaran berbasis pengalaman lainnya yang relevan dengan program studi.

Prof. Aryawibawa juga menilai bahwa program TOT dapat menjadi salah satu bentuk kerja sama yang potensial, khususnya bagi mahasiswa yang memiliki ketertarikan untuk menjadi guru atau dosen Bahasa Jepang. Mahasiswa yang memilih jalur tersebut nantinya dapat memperoleh pelatihan khusus yang mendukung kompetensinya. Selain bidang pendidikan, peluang pengembangan karier juga dapat diarahkan pada bidang administrasi, pemerintahan, maupun bidang profesional lainnya yang sesuai dengan profil lulusan masing-masing program studi. Ia juga menyampaikan bahwa peluang magang dapat dikembangkan tidak hanya untuk mahasiswa Sastra Jepang, tetapi juga mahasiswa dari program studi lain yang memiliki kompetensi relevan, dengan tetap menyesuaikan kegiatan magang terhadap kurikulum dan kompetensi utama masing-masing program studi.

Dari sisi kelembagaan, Ketua UPIKS FIB Unud, Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa kegiatan magang dalam skema Kampus Berdampak dapat dikonversikan ke dalam satuan kredit semester, dengan mahasiswa berpotensi memperoleh hingga 20 SKS untuk kegiatan yang memenuhi ketentuan. Ia menjelaskan bahwa kerja sama yang melibatkan kegiatan mahasiswa perlu didukung oleh kerangka kelembagaan yang sesuai, seperti Memorandum of Understanding (MoU) dan/atau Perjanjian Kerja Sama (PKS), bergantung pada bentuk dan tingkat kerja sama yang dikembangkan. Pelaksanaan kerja sama juga perlu disertai kegiatan dan luaran yang jelas, seperti laporan mahasiswa, buku, artikel, maupun bentuk luaran lain yang disepakati. Dengan adanya kerangka tersebut, bentuk kegiatan yang akan dikembangkan bersama dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan ketentuan akademik yang berlaku di FIB Unud.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam menjajaki potensi kerja sama antara FIB Unud dan LPK Zenith. Berbagai peluang, mulai dari pengembangan pengajar Bahasa Jepang melalui program TOT hingga kegiatan magang dan pengembangan kompetensi mahasiswa, menjadi bagian dari pembahasan yang dapat dikembangkan lebih lanjut. FIB Unud dan LPK Zenith selanjutnya akan mempertimbangkan bentuk kegiatan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan masing-masing pihak sebelum menentukan bentuk kerja sama yang akan dikembangkan.

Tuesday, August 18, 2026

Jejak Kolonial di Layar Kaca: Bedah Film De Oost Warnai HUT ke-62 Ilmu Sejarah Unud



Rangkaian puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) menyajikan ruang diskursus yang beragam. Berjalan secara paralel dengan sesi Bedah Buku, antusiasme belasan sivitas akademika juga terlihat memadati Ruang Guru Besar, Gedung Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Lantai II FIB Unud untuk mengikuti agenda Bedah Film pada Selasa (18/8/2026). Sesi yang dimoderatori oleh I Dewa Made Adnyana Setiarsa ini secara eksklusif membedah film The East atau De Oost (2020) arahan sutradara Jim Taihuttu.

Film De Oost berlatar masa Agresi Militer pasca-Kemerdekaan Indonesia. Film ini mengikuti kisah Johan de Vries, seorang prajurit muda Belanda yang dikerahkan ke Nusantara untuk meredam pergerakan kemerdekaan. Dalam penugasannya, ia bergabung dengan pasukan elite di bawah komando Raymond Westerling. Konflik batin dan krisis moral mulai mendera Johan tatkala ia menyaksikan langsung kebrutalan serta taktik pembantaian keji yang dilakukan oleh komandannya sendiri terhadap rakyat setempat. Bertindak sebagai pembedah utama dalam sesi ini adalah Mikael Yohanes Pradana Yapari, seorang akademisi muda yang secara khusus menjadikan film De Oost sebagai subjek penelitian skripsinya. Pada awal pemaparannya, Mikael menceritakan tantangan akademis yang sempat dihadapinya ketika meyakinkan pihak program studi bahwa sebuah karya sinematik layak diangkat menjadi objek penelitian Sejarah.Argumentasi ilmiahnya ditegaskan bahwa subjek sejarah kini tidak lagi sempit dan terpaku pada wujud manusianya saja. Definisi tersebut dinilai telah melebar pada berbagai jejak peninggalan manusia, mulai dari prasasti, buku, hingga karya visual. Oleh karena itu, film De Oost diposisikan sebagai subjek sejarah yang valid, terlebih pendekatan serupa terhadap sebuah film juga telah banyak diaplikasikan dalam berbagai penelitian Sejarah lainnya.

Motif di balik layar pembuatan De Oost turut dibedah dalam sesi ini. Diungkapkan bahwa film ini menjadi unik karena diproduksi oleh "pihak penjajah" (Belanda), namun disutradarai oleh Jim Taihuttu, seorang sineas Belanda keturunan Maluku. Film ini lahir dari krisis identitas sang sutradara yang mempertanyakan mengapa asal-usul kakek buyutnya di Maluku seolah ditutupi dan tidak pernah diceritakan, baik dalam lingkup keluarga maupun kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah Belanda. Sesi diskusi bergulir hangat menyoroti posisi film sejarah di tengah masyarakat. Audiens dan pembedah saling bertukar pandangan mengenai batasan antara fakta riil dan fiksi di dalam film, serta bagaimana mengubah stigma masyarakat terhadap sinema berlatar sejarah yang kerap kali hanya dipandang sebagai instrumen narasi politik semata.

Sesi Bedah Film ini pun sukses membuka wawasan para peserta bahwa sebuah karya sinema bukan sekadar produk hiburan visual, melainkan sebuah jejak peninggalan manusia yang menyimpan pergulatan identitas, memori kolektif, dan narasi sejarah yang patut dikaji secara kritis. 

Bedah Buku HUT ke-62 Ilmu Sejarah Unud: Dari Kosmopolis Hindu-Buddha Hingga Kritik Sumber Sejarah

Selasa 18 Agustus 2026 - Semarak puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dilanjutkan dengan dua agenda akademik yang berjalan secara paralel. Belasan peserta mengikuti sesi Bedah Film di Ruang Guru Besar, denyut dialektika yang tak kalah kritis juga sangat terasa pada sesi Bedah Buku yang dilangsungkan di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno. Dipandu oleh mahasiswi Ilmu Sejarah angkatan 2024, Salsabila Dinaristi sebagai moderator, sesi di Ruang Soekarno ini mengupas tuntas dua karya kesejarahan melalui kacamata pakar internasional hingga akademisi senior. 

Sesi ini mengupas tuntas dua karya penting, yakni "Hindu-Buddhist Cosmopolis Interfaith Studies in Comparative Perspective" dan "Merawat Memori Kolektif dalam Konteks Kajian Budaya dan Sejarah: Kusumanjali Dr. Drs. Ida Bagus Gde Putra, M.Hum." 

Sesi pembedahan diawali pemaparan Dr. Preeti Oza, akademisi dari St. Andrew College, Mumbai, India hadir secara daring. Mengupas buku "Hindu-Buddhist Cosmopolis Interfaith Studies in Comparative Perspective”, Dr. Preeti menyoroti jejak kosmopolis Hindu-Buddha pada abad ke-9 di Asia Tenggara. Ia membedah Candi Borobudur sebagai sebuah stone mandala (mandala batu) yang tidak hanya merepresentasikan kosmologi agama terdiri dari Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, melainkan juga merupakan wujud dari Teologi Politik serta legitimasi kekuasaan raja di masa lampau. 

Perspektif lainnya juga disampaikan oleh Naufal Azhar Romadhoni, mahasiswa Ilmu Sejarah Unud angkatan 2023. Ia memberikan sorotan tajam terhadap pentingnya menulis sejarah pedesaan. Mengambil contoh risetnya mengenai Desa Budakeling dan Buahan Kaja, Naufal menekankan bahwa desa memiliki narasi kesejarahannya sendiri yang kaya. Ia mengajak para akademisi muda untuk melepaskan pandangan bernuansa kolonial yang sering kali hanya mengerdilkan desa sebagai penopang atau sekadar latar belakang sejarah perkotaan. 

Diskursus semakin menghangat ketika akademisi dan pakar sejarah kesenian, Dr. Drs. I Gusti Ngurah Seramasara, M.Hum., mengambil alih mimbar untuk membedah buku Merawat Memori Kolektif dalam Konteks Kajian Budaya dan Sejarah: Kusumanjali Dr. Drs. Ida Bagus Gde Putra, M.Hum.". Sebelum memaparkan telaahnya, Dr. Seramasara memberikan apresiasi luar biasa terhadap tradisi Prodi Ilmu Sejarah Unud yang selalu menerbitkan buku dedikasi bagi para dosen yang memasuki masa purnabakti (pensiun) sebagai sebuah tradisi intelektual yang menurutnya sangat langka dan patut dicontoh oleh program studi lainnya.

Dalam telaahnya, beliau memberikan pembedahan yang konstruktif terkait metodologi sejarah. Beliau menyoroti pentingnya peran seorang editor untuk merangkai "benang merah" antar-bab agar buku tidak sekadar menjadi kumpulan naskah. Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya kritik sumber, terutama dalam menganalisis arsip foto historis dan arsitektur bangunan Indis. Menurutnya, sebuah foto peninggalan kolonial atau foto jurnalistik masa revolusi tidak boleh ditelan mentah-mentah, karena di balik lensa seorang fotografer, selalu terdapat struktur, dominasi, hegemonik, serta orientasi politik yang perlu dikritisi oleh seorang sejarawan. 

Menanggapi dinamika diskusi tersebut, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., menyambut baik kritik dan pandangan mendalam dari Dr. Seramasara. Prof. Ardhana menegaskan bahwa perdebatan akademis yang lugas ini adalah "kuliah berharga" bagi para mahasiswa untuk memahami perbedaan mendasar antara sejarah sebagai seni (History as Art) dan sejarah sebagai ilmu pasti (History as Science). 

"Ketika sejarah dipelajari sebagai ilmu (science), ia harus bisa diuji, divalidasi, dan dianalisis melalui tahapan metode sejarah kritis, bukan sekadar peminatan belaka," pungkas Prof. Ardhana.

Sesi Bedah Buku ini ditutup dengan antusiasme tinggi dari para peserta, membuktikan bahwa pada usianya yang ke-62, Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unud terus konsisten mencetak ruang dialektika yang tajam, progresif, dan relevan dengan tantangan zaman.


Merawat Ingatan Bangsa: Kesaksian Veteran di HUT ke-62 Ilmu Sejarah Unud

 


Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Udayana pada Selasa (18/8/2026) diwarnai dengan momen reflektif yang mendalam. Melalui sesi Talkshow Veteran yang dimoderatori oleh I Kadek Surya Jayadi, M.A., sivitas akademika diajak menyelami langsung memori kolektif masa revolusi fisik bersama Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bali, I Gusti Bagus Saputera. Pria berusia 96 tahun tersebut membagikan kesaksian otentiknya sebagai mantan prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang pernah berjuang di bawah komando Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai. 

Saputera mengenang sosok I Gusti Ngurah Rai sebagai pemimpin yang religius, demokratis, berwawasan luas, dan pantang menyerah. Ia bersaksi bagaimana Ngurah Rai selalu menyempatkan diri bersembahyang sebelum bertempur dan konsisten antara perkataan dan perbuatan. Secara lugas, Saputera melafalkan ulang isi surat balasan Ngurah Rai yang menolak tegas ajakan perundingan dari Belanda, sebagai sebuah korespondensi historis yang menegaskan bahwa urusan keamanan Bali adalah tanggung jawab pejuang, dan penyelesaian diplomatik diserahkan sepenuhnya kepada para pemimpin Republik di Jawa.

Tidak hanya bernostalgia, Saputera juga memanfaatkan forum tersebut untuk meluruskan narasi sejarah yang simpang siur. Menjawab pertanyaan akademisi terkait desas-desus bahwa Puri Pemecutan berniat membunuh Ngurah Rai pada masa revolusi, Saputera dengan tegas membantahnya. Ia meyakini klaim tersebut mustahil terjadi dan murni merupakan taktik divide et impera (adu domba) dari pihak kolonial untuk memecah belah kekuatan perjuangan rakyat Bali.

Sebagai saksi hidup yang merasakan pahit getirnya masa penjajahan, sang veteran menitipkan pesan mendalam bagi para generasi penerus yang memadati Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno. Ia mendesak generasi muda untuk terus mempertahankan nilai-nilai dasar Pancasila dan UUD 1945, serta merawat semangat patriotisme, solidaritas, dan kerelaan berkorban demi memajukan bangsa. 

Ketika ditanya mengenai rahasia kebugarannya di usia yang hampir mencapai satu abad, Saputera membagikan prinsip hidup yang sederhana namun sarat makna. "Rajin berdoa, selalu berlaku jujur, dan hiduplah agar bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya.

Kehadiran I Gusti Bagus Saputera menjadi pengingat yang berharga bagi sivitas akademika Universitas Udayana. Dari sekitar 25.000 pejuang kemerdekaan di Bali pada masa awal revolusi, saat ini hanya tersisa 1.236 veteran di bawah naungan LVRI Bali, dengan banyak di antaranya yang sudah mengalami penurunan kondisi kesehatan. Hal ini semakin menegaskan pentingnya upaya mendokumentasikan sejarah lisan agar memori kolektif bangsa tidak ikut pudar ditelan zaman.


Semarak HUT ke-62 Ilmu Sejarah FIB Unud: Padukan Seremonial dan Penguatan Metodologi Sejarah Lisan

Pada rangkaian Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) merayakan ulang tahun ke-62 pada Selasa, 18 Agustus 2026 dan bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lanai IV FIB Unud. Perayaan yang mengangkat tema "Belajar Sejarah, Memaknai Indonesia" ini menjadi momentum refleksi kritis untuk mempererat tali silaturahmi antargenerasi sivitas akademika, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga purnabakti. Dengan mengusung tema tersebut, perayaan ini sekaligus menjadi wadah bagi seluruh keluarga besar Ilmu Sejarah untuk meneguhkan peran akademisi dalam menggali nilai kebangsaan, serta membangun semangat harmoni dalam memaknai realitas sejarah Indonesia sebagai fondasi identitas bangsa. Selain melibatkan seluruh sivitas akademika Ilmu Sejarah, perayaan ini juga mengundang para siswa dari berbagai SMA di Denpasar dan Tabanan.

Ketua Panitia, I Kadek Surya Jayadi, M.A., melaporkan bahwa peringatan berbalut nuansa busana Nusantara ini berfokus pada penguatan akademik. Sorotan utama acara adalah Workshop Oral History bersama pakar sejarah UGM, yang dirangkai dengan gelar wicara bersama veteran LVRI Bali, bedah buku, serta bedah film. Seluruh agenda ini dirancang untuk menginspirasi pengembangan digital humanities dan kajian sejarah di Universitas Udayana.

Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., memaknai usia ke-62 tahun ini dengan rasa syukur atas tren positif peningkatan jumlah mahasiswa baru. Sebagai proyeksi strategis ke depan, prodi akan menggarap kajian kolaboratif bersama Antropologi dan Arkeologi yang berfokus pada kawasan Indonesia Timur. Langkah ini ditargetkan untuk melahirkan buku monumental sekaligus memangkas kesenjangan referensi historiografi antara kawasan Barat dan Timur Indonesia.

Membuka acara secara resmi, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., sangat mengapresiasi konsep edukatif acara ini, khususnya penerapan post-test pada Workshop Oral History sehingga mahasiswa benar-benar mendapatkan hasil pembelajaran yang konkret. Mendukung penuh inisiatif riset Indonesia Timur dari Koprodi, Dekan FIB kembali mengingatkan prinsip Historia Magistra Vitae bahwa sejarah adalah guru kehidupan yang menjadi fondasi penting untuk menentukan arah masa depan bangsa. 

Acara resmi dibuka melalui prosesi penyerahan bunga dari Koprodi Ilmu Sejarah kepada Dekan FIB Unud. Momen ini kemudian dirangkai dengan penyerahan bunga anggrek oleh perwakilan Keluarga Mahasiswa Ilmu Sejarah (Kemas) kepada pihak program studi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Workshop Oral History dengan mengundang Dr. Abdul Wahid, pakar sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) dan dimoderatori oleh I Kadek Surya Jayadi, M.A. Sebelum pemaparan dimulai, para mahasiswa diminta untuk mengikuti pre-test dengan menuliskan definisi singkat dari sejarah lisan. 

Dalam pemaparannya, Dr. Abdul Wahid menguraikan bahwa sejarah lisan merupakan metode pengumpulan memori serta pandangan personal mengenai peristiwa sejarah penting melalui wawancara mendalam yang kemudian direkam dan ditranskripsi. Ia menekankan bahwa sejarah lisan tidak sekadar menjadi instrumen atau alat penelitian, tetapi juga telah berkembang menjadi bentuk konstruksi sejarah itu sendiri. Mengingat objek utamanya adalah manusia beserta ingatannya yang bersifat sangat cair, retrospektif, dan emosional, pewawancara diwajibkan untuk membangun rasa saling percaya (mutual trust) dengan narasumber. Selain itu, pewawancara harus murni bertindak sebagai pendengar dan penyambung lidah tanpa melakukan intervensi apa pun terhadap hasil wawancara.

Lebih lanjut, materi lokakarya tersebut membedah lima tahapan krusial dalam mengeksekusi penelitian sejarah lisan, yakni tahap persiapan, pelaksanaan, pembuatan transkrip, pengarsipan, dan pemanfaatannya. Metode pelacakan ingatan ini dinilai memiliki manfaat filosofis dan metodologis yang kuat untuk menghasilkan konstruksi sejarah yang lebih berimbang (fair), terutama dengan memberikan ruang bagi suara kelompok kelas bawah, pihak yang kurang beruntung, maupun kaum yang dikalahkan. Di ranah praktis, sejarah lisan juga menawarkan berbagai kegunaan strategis, mulai dari menciptakan sumber sejarah baru untuk menambal kekurangan dokumen tertulis, mewariskan memori antargenerasi, hingga menjadi medium penyembuhan trauma (trauma healing) di masyarakat.

Teori dan metodologi Sejarah lLsan yang telah dibedah tuntas kemudian langsung direlevansikan ke dalam forum diskusi nyata. Memasuki agenda selanjutnya, para peserta diajak untuk menyelami langsung memori kolektif seorang saksi sejarah melalui sesi Talkshow Veteran bersama Ketua LVRI Bali, I Gusti Bagus Saputera.


Thursday, August 13, 2026

Meneliti Terjemahan Istilah Teknologi Informasi , Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud Luluskan Doktor ke-289


Program Studi Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan Doktor baru pada Sidang Ujian Terbuka yang terlaksana di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud pada Jumat, 14 Agustus 2026. Promovenda atas nama Sri Widiastutik, S.S., M.Hum. berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Terjemahan Terminologi Teknologi Informasi dalam Buku Teks Electronics A First Course” serta meraih predikat “Sangat Memuaskan”. Melalui sidang yang dihadiri oleh keluarga dan para rekan sejawat Promovenda. Promovenda menjadi Doktor ke-289 di Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud.

Keberhasilan Promovenda dalam mempertahankan risetnya tentu tidak lepas dari arahan dan evaluasi dewan penguji. Sidang ujian terbuka ini diketuai oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. dan didampingi oleh Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. sebagai Promotor, Prof. Dr. Drs. I Made Rajeg, M.Hum. sebagai Kopromotor 1, dan Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M.Hum. sebagai Kopromotor 2. Adapun tim penguji yang menemani para pimpinan sidang diantaranya :Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sukarini, M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Dra. Luh Putu Laksminy, M.Hum., Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., dan Prof. Dr. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, S.S., M.Hum. sebagai penguji eksternal dari Uniiversitas Mahasaraswati Denpasar.

Di hadapan para anggota penguji, Promovenda memaparkan bahwa penelitian disertasinya dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi global yang kerap memicu inkonsistensi penggunaan istilah di Indonesia, dan berujung pada maraknya adopsi langsung dan transferensi istilah asing akibat belum tersedianya padanan kata yang akurat. Oleh karena itu, penelitian ini hadir menyoroti urgensi untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan bahasa formal, yakni pedoman pembentukan istilah dari Badan Bahasa dengan dinamika dan realitas komunikasi praktis yang digunakan oleh masyarakat dalam ekosistem digital.

Menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memadukan berbagai sumber data (triangulasi) guna memastikan keakuratan hasilnya. Fokus utamanya adalah mengkaji berbagai bentuk kata teknis TI dari buku teks, mulai dari kata dasar, kata turunan, nama merek, hingga singkatan. Untuk memastikan bahwa hasil analisis tersebut teruji di dunia nyata, peneliti mengujinya kembali menggunakan pangkalan data bahasa digital atau korpus. Langkah ini dilakukan agar peneliti dapat melihat dan mengukur secara langsung seberapa sering sebuah istilah benar-benar dipakai dan seberapa jauh masyarakat bisa menerimanya dalam komunikasi sehari-hari. 

Melalui serangkaian pengujian, temuan penelitian ini membuktikan bahwa masyarakat luas tidak serta-merta menggunakan sebuah istilah TI hanya karena istilah tersebut sudah patuh pada aturan baku tata bahasa. Faktor yang justru lebih menentukan adalah seberapa sepadan istilah tersebut terhadap pemahaman masyarakat terhadap fungsi asli teknologinya. Sebagai bukti, kata baru seperti "daring", "luring", dan "ponsel" berhasil populer di tengah masyarakat. Hal ini berbanding terbalik dengan istilah yang sangat baku seperti "tetikus" (untuk mouse) atau "waring wera wanua" (untuk world wide web) yang justru jarang dipakai. Sebagai jalan keluar, penelitian ini menawarkan cara penerjemahan baru, yakni dengan menyandingkan istilah asing dan padanannya secara bersamaan, misalnya melalui penggunaan tanda kurung. Cara ini dinilai paling efektif untuk menjaga keutuhan makna aslinya sekaligus membuatnya lebih mudah dipahami oleh pengguna di Indonesia. 

Pemaparan hasil tersebut kemudian memantik diskusi mendalam pada sesi tanya jawab yang menyoroti tiga poin utama. Pertama, Promovenda menjelaskan bahwa kata kerja (verba) tidak diteliti karena masyarakat lebih sering menggunakan kata benda (nomina) dalam komunikasi digital sehari-hari, sehingga pemaksaan istilah asing menjadi kata kerja bahasa Indonesia (misalnya "dicampur") justru membuat kata tersebut menjadi panjang dan tidak efisien. Kedua, terkait kebaruan penelitian (research gap), disertasi ini dinilai lebih unggul dari kajian sebelumnya karena tidak sekadar mengandalkan kuesioner dari responden, melainkan telah menggunakan pangkalan data bahasa digital (korpus) yang lebih luas dan akurat. 

Terakhir, untuk cara mengukur kualitas terjemahan, Promovenda memaparkan bahwa ia membandingkan Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) dengan data pemakaian nyata di masyarakat. Hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa meskipun kata baku seperti "tetikus" atau "hipertaut" sudah benar secara aturan resmi, istilah tersebut nyatanya tidak laku dan jarang dipakai oleh masyarakat dibandingkan istilah bahasa Inggrisnya. 

Sebagai penutup, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., selaku Promotor, menyampaikan pesan dan harapan besarnya kepada Promovenda. Ia menitipkan mandat agar sebagai Doktor baru segera menjalin kerja sama strategis dengan instansi terkait, khususnya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Langkah sinergis ini didorong agar hasil penelitian disertasi yang telah dikerjakan dengan penuh dedikasi tersebut dapat memberikan masukan praktis bagi standardisasi bahasa Indonesia. 


Thursday, August 6, 2026

Harmoni Awal Mahadayana: PKKMB FIB 2026 Selaraskan Ekosistem dan Ruang Aman Kampus

 


Denpasar, 6 Agustus 2026 – Lembaran baru para Mahadayana (Mahasiswa Ilmu Budaya Udayana) resmi dimulai melalui PKKMB FIB 2026 (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Budaya 2026). Rangkaian hari pertama orientasi ini bertujuan untuk mengakselerasi adaptasi mahasiswa baru terhadap ekosistem fakultas; yang mencakup pemahaman sistem akademik, pengenalan pimpinan dan lembaga kemahasiswaan, hingga edukasi pencegahan kekerasan di perguruan tinggi. Kegiatan terlaksana di Auditorium Widya Sabha Mandala dan Ruang Baca, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud serta diikuti oleh 460 mahasiswa baru dan 16 mahasiswa lama. Orientasi ini dihadiri oleh seluruh unsur pimpinan dari lingkungan FIB Unud.

Sebagai langkah awal pembukaan acara, Taufik Agus Purnomo, S.Pd., M.A. selaku Ketua Umum PKKMB FIB 2026 melaporkan bahwa masa pengenalan tahun ini diikuti oleh 460 mahasiswa baru dan 16 mahasiswa lama, dengan mengusung komitmen lingkungan yang positif. “Kegiatan ini mengedepankan nilai-nilai edukatif, humanis, inklusif, aman, bebas dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun perpeloncoan” ucap beliau. Semangat tersebut disambut dan diteruskan oleh Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (SMFIB Unud), I Putu Gede Lion Ojasvin Putra Barata, yang mengajak para Mahadayana 2026 untuk memaksimalkan masa orientasi ini sebagai ruang transisi untuk memahami ekosistem kampus dan membangun karakter sebagai insan akademis. 

Komitmen fakultas dalam membina mahasiswa baru semakin dipertegas melalui arahan Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau memberikan peringatan mutlak bahwa keikutsertaan dalam PKKMB merupakan sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar oleh setiap mahasiswa, bahkan menjadi prasyarat administratif yang krusial hingga tahap penyelesaian skripsi kelak, serta mendorong mahasiswa untuk menyeimbangkan tanggung jawab akademik dengan keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan guna mengasah kepemimpinan  Terkait keamanan lingkungan belajar, beliau juga memberikan penegasan absolut. 

“Fakultas Ilmu Budaya terikat dengan komitmen membangun zona integritas. Kami berkomitmen tidak ada bullying,” tegas beliau. Setelah sesi perkenalan jajaran pimpinan Dekanat, Koordinator Program Studi, Koordinator Unit, dan para Sub Koordinator, beliau resmi membuka acara secara simbolis melalui pemukulan gong dan dibarengi dengan pengalungan nametag kepada perwakilan Mahadayana 2026 dan diikuti oleh seluruh Mahadayana 2026. 

Usai peresmian tersebut, fokus mahasiswa langsung diarahkan pada pembedahan berbagai aspek operasional dan akademik fakultas. Sesi komprehensif yang dipandu oleh Putu Gede Suarya Natha, S.S., M.Hum. selaku moderator ini menghadirkan tiga wakil dekan sebagai narasumber utama.

Pemaparan pertama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Perencanaan, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., yang mengupas tuntas aturan dan kebijakan akademik di FIB Unud. Materi kemudian dilanjutkan oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. Beliau merinci kesiapan fasilitas sarana dan prasarana di kampus Jimbaran maupun Nias, sejalan dengan komitmen fakultas menuju Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI-WBK). Sebagai penutup sesi, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Informasi, Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M.Si., membedah ekosistem kemahasiswaan; memberikan wawasan mengenai lembaga eksekutif dan legislatif mahasiswa, himpunan program studi, hingga ragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan program Kampus Berdampak.

Beranjak dari kebijakan tingkat fakultas, orientasi kemudian dikerucutkan pada pengenalan lingkup akademik yang lebih spesifik. Para mahasiswa baru menerima penjelasan mendalam mengenai profil masing-masing program studi (Prodi) yang dinaungi FIB Unud beserta perkenalan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) sebagai wadah bernaung pertama mereka.

Suasana akademik yang padat tersebut kemudian dicairkan melalui sesi istirahat; di mana panitia menayangkan video interaktif dari gugus 1-5 sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas para Mahadayana. 

Memasuki paruh kedua acara, tensi kegiatan kembali difokuskan pada isu institusional yang krusial melalui pemaparan materi pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Sesi ini mengundang I Gusti Agung Ayu Yuliari, S.E.Ak., M.Si. selaku sekretaris Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Universitas Udayana (UPPK Unud) yang didampingi Putu Dyah Pradnya Paramitha, S.S., M.A. sebagai moderator, . Beliau menegaskan bahwa payung hukum terbaru melalui Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 telah memperluas cakupan perlindungan kampus; yang kini tidak hanya berfokus pada kekerasan seksual, tetapi juga menindak tegas kekerasan fisik, psikis, perundungan, intoleransi, hingga kebijakan yang melanggengkan kekerasan. 

Selanjutnya, beliau menekankan pentingnya keberanian mahasiswa untuk segera melapor apabila melihat, mendengar, atau mengalami tindak kekerasan, mengingat otoritas UPPK tidak dapat memproses penanganan tanpa adanya laporan resmi. Sebagai bentuk manifestasi komitmen dalam menjaga ruang aman, seluruh mahasiswa baru angkatan 2026 juga diwajibkan menyetujui Pakta Integritas, yang diiringi dengan peringatan tegas mengenai sanksi administratif berat, hingga ancaman pemberhentian tetap sebagai mahasiswa kepada siapa pun yang terbukti menjadi pelaku kekerasan. 

Rangkaian hari pertama PKKMB FIB 2026 kemudian ditutup secara resmi melalui perkenalan lembaga kemahasiswaan tingkat fakultas, diantaranya Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (SMFIB) sebagai motor eksekutif dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (BPMFIB) selaku pilar legislatif. Pada sesi pamungkas ini, para perwakilan fungsionaris membedah secara menyeluruh detail struktural organisasi beserta ragam aspek yang dinaungi oleh masing-masing lembaga guna memberikan gambaran utuh bagi para Mahadayana untuk kelak menyalurkan hak aspirasi maupun arah pergerakan mereka di lingkungan kampus. 


Perkuat Kompetensi Profesional: Mahasiswa FIB Unud Ikuti Program Magang Kampus Berdampak di Dinas Kebudayaan Denpasar

 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) resmi melepas 15 mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FIB Unud untuk melaksanakan program Magang Kampus Berdampak di Dinas Kebudayaan Kota Denpasar pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan langkah awal pelaksanaan Magang Kampus Berdampak yang bertujuan memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa melalui keterlibatan di instansi mitra. Pelepasan ini dihadiri oleh Dosen Pendamping dari FIB Unud serta jajaran Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar sebagai pihak penerima mahasiswa.

Rangkaian kegiatan pelepasan diawali dengan penyampaian sambutan oleh jajaran perwakilan Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar. Dalam kesempatan tersebut, pihak instansi mengapresiasi kerja sama yang terjalin erat dengan FIB Unud melalui pelaksanaan Program Magang Kampus Berdampak. Kehadiran para mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi secara nyata dalam mendukung berbagai program pelestarian, pengembangan, sekaligus pemajuan kebudayaan di lingkungan Kota Denpasar. Di samping itu, perwakilan dinas juga berpesan agar mahasiswa senantiasa tanggap beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru, menjunjung tinggi etika profesional, serta menuntaskan setiap penugasan dengan penuh tanggung jawab. 

Pada sesi selanjutnya, sambutan dan arahan turut diberikan oleh I Gusti Ngurah Mayun Susandhika, S.S., M.Hum., selaku Dosen Pendamping Program Magang Kampus Berdampak. Beliau memaparkan bahwa program Magang Kampus Berdampak adalah wujud implementasi kebijakan pembelajaran yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyerap pengalaman nyata di dunia kerja. Melalui penugasan ini, mahasiswa didorong untuk terus mengembangkan kompetensi akademik dan kemampuan profesional, memperluas wawasan, sekaligus mengaplikasikan keilmuan dari bangku perkuliahan secara langsung di lapangan kerja. 

Para mahasiswa program Magang Kampus Berdampak ini berasal dari berbagai program studi di FIB Unud. Keberagaman latar belakang akademik ini diharapkan mampu melahirkan kolaborasi multidisiplin yang solid dalam mendukung program kerja Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar. Pengalaman lintas disiplin ini tidak hanya akan meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga menjadi ajang krusial untuk mengasah kemampuan komunikasi, kerja sama tim, serta pemecahan masalah sebagai bekal karier mahasiswa ke depan. 

Sebagai penutup, pelepasan ini menjadi wujud nyata komitmen FIB Unud dalam menyelenggarakan sistem pembelajaran yang adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan tuntutan dunia kerja. Sinergi antara dunia akademis dan instansi pemerintah ini diharapkan dapat terus terjalin secara berkesinambungan, sehingga memberikan manfaat mutualisme sekaligus berkontribusi nyata pada upaya pelestarian kebudayaan di Kota Denpasar. 

Monday, August 3, 2026

Kupas Dinamika Internasional, Prodi Ilmu Sejarah FIB Unud Gelar Workshop Kajian Wilayah

 


Denpasar - Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) melaksanakan Workshop Kajian Wilayah bertajuk “Area Studies: Concepts, Strategies, and Understanding International Relations for a Better Future” yang terlaksana secara hybrid pada Senin, 3 Agustus 2026.. Bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, workshop ini dihadiri oleh perwakilan dekanat, para dosen dan mahasiswa dari program studi Ilmu Sejarah FIB Unud sebagai wujud komitmen proaktif program studi dalam memperdalam pemahaman aspek kajian wilayah. Workshop ini mengundang beberapa pakar lintas institusi, diantaranya Prof. Dr. Sudarman S.Hum., M.A. dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Ekmel Geçer dari Marmara University Türkiye, serta Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. dari Universitas Udayana.

Mengawali acara, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., berharap agar lokakarya ini mampu memperkaya perspektif analitis sivitas akademika melalui pendekatan komprehensif dan komparatif dalam merespons dinamika global. Senada dengan hal tersebut, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., yang hadir untuk membuka acara secara resmi, memberikan apresiasi atas kehadiran para pakar internasional. Beliau menegaskan bahwa kajian wilayah memiliki urgensi krusial karena menawarkan perspektif holistik yang mencakup irisan sejarah, bahasa, budaya, hingga politik dan dapat menjadi wujud nyata upaya peningkatan kapasitas (capacity building) bagi mahasiswa, dosen, maupun institusi ke depannya.

Memasuki sesi presentasi utama, kajian wilayah mula mula dibedah melalui kacamata sejarah kemaritiman Nusantara. Melalui materi bertajuk "The Cradle of Malay Civilization: A Historical-Anthropological Study of the Cultural Connectivity of Minangkabau and the Malay Peninsula", Prof. Dr. Sudarman, S.Hum., M.A. membahas asal usul peradaban Melayu dan hubungan erat antara Minangkabau dengan Semenanjung Malaya. Beliau menjelaskan bahwa peradaban Nusantara dibentuk oleh gelombang kedatangan Melayu Tua di pedalaman dan Melayu Muda di pesisir, yang kemudian diperkaya oleh arus budaya India, Persia, Cina, dan Eropa. Persebaran budaya ini didorong oleh tradisi merantau masyarakat Minangkabau sejak akhir abad ke 17. Dalam konteks ini, Selat Malaka berperan penting sebagai jalan raya peradaban yang membuktikan bahwa identitas Melayu terbentuk dari sebuah jaringan maritim yang dinamis.  

Melengkapi tinjauan historis tersebut, perbincangan bergeser pada pentingnya konektivitas sosial masyarakat melalui pendekatan psikologi. Membawakan ulasan bertajuk "Finding Flourishing in Community: Cultural Values, and Psycho-Social Well-Being in Turkish Collectivism", Prof. Ekmel Geçer menyoroti urgensi kesejahteraan psikologis kolektif. Beliau menegaskan bahwa kebahagiaan manusia sangat bergantung pada kualitas hubungan sosialnya. Lingkungan yang suportif dan aman secara psikologis sangat dibutuhkan mulai dari tingkat keluarga hingga negara. Berbagai studi membuktikan bahwa ikatan sosial yang kuat serta kebiasaan saling membantu dapat menurunkan stres dan memperpanjang usia. Untuk menghadapi tantangan era digital saat ini, beliau juga menyarankan agar orang tua membatasi penggunaan gawai pada anak dan lebih mengutamakan interaksi nyata yang berlandaskan empati. 

Pemahaman mengenai dinamika masyarakat ini kemudian diperluas ke dalam konteks tata dunia global dengan menilik perkembangan multikulturalisme di Eropa. Lewat presentasi berjudul "European Area Studies: Understanding multicultural societies in the context of enhancing human well-being and dignity", Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. memaparkan kembali pentingnya disiplin Kajian Wilayah untuk memetakan situasi perpolitikan internasional. Berdasarkan hasil risetnya, beliau menyoroti tantangan multikulturalisme di Jerman yang banyak dipengaruhi oleh tingginya arus migrasi pekerja dari Turki sejak tahun 1961. Prof. Ardhana lantas membandingkan karakteristik masyarakat multikultural di negara Eropa tersebut dengan kondisi kerukunan di Asia Tenggara. Beliau menyimpulkan bahwa pemahaman komprehensif mengenai sejarah Eropa merupakan kunci penting bagi sivitas akademika untuk menganalisis berbagai persoalan sosial yang sedang melanda dunia saat ini. 

Rangkaian presentasi dari ketiga narasumber sukses memantik antusiasme dari para peserta. Hal ini terlihat secara nyata pada sesi diskusi interaktif, di mana perwakilan dosen dan mahasiswa melontarkan beragam pertanyaan kritis terkait sejarah perdagangan maritim Nusantara, tantangan pengasuhan anak di era digital, hingga relevansi historis kajian Eropa dalam merespons konflik global kontemporer. Lokakarya Kajian Wilayah ini kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat apresiasi kepada ketiga pakar atas kontribusi keilmuan yang telah diberikan. 

Melalui penyelenggaraan lokakarya ini, Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unud berharap agar diskursus mengenai Kajian Wilayah tidak sekadar berhenti pada tataran teoretis di ruang kelas. Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak cendekiawan muda yang tidak hanya kritis dalam membedah sejarah, tetapi juga memiliki kepekaan empati dan wawasan lintas budaya yang mumpuni dalam merespons dinamika perpolitikan global. Ke depannya, perspektif holistik ini diyakini akan menjadi bekal krusial bagi sivitas akademika dalam berkontribusi membangun peradaban dan tata masyarakat dunia yang lebih baik.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Menerima Siswa dan Tim Kanto International Senior High School dalam Pembukaan Cultural Visit Program


 Senin, 3 Agustus 2025, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menggelar Pembukaan Cultural Visit Program Kanto International Senior High School yang bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Denpasar. Kegiatan ini sekaligus menyambut tiga siswa yang berpartisipasi, pendamping, serta segenap panitia.

Pada program cultural visit ini, para siswa akan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari budaya Bali dan Indonesia secara langsung dan berdampingan dengan masing-masing host family. Melalui sambutannya, koordinator program studi Sastra Indonesia, Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. mengungkapkan bahwa bagi program studi Sastra Indonesia sendiri,  kegiatan ini merupakan upaya untuk mempererat kerja sama internasional sekaligus memperkenalkan budaya Bali dan Indonesia kepada mitra dari luar negeri. Beliau menambahkan, pertukaran budaya semacam ini merupakan hal yang memiliki manfaat yang besar, di mana persahabatan serta perasaan saling memahami dan menghormati dapat tumbuh di antara generasi muda Jepang dan Indonesia. Diharapkan melalui acara ini, para siswa dapat belajar tentang Indonesia secara langsung dan merasakan suasana akademik dan keramahannya, bukan melalui buku dan layar gawai semata.


Acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Kanto International Senior High School, Ibu Yumiko Cecilia Horas. Dalam pidatonya, beliau menyatakan keberhasilannya dalam memenuhi janji untuk kembali membawa siswa melalui program ini, yang memungkinkan dengan dukungan dari Dekan dan kerja sama FIB Universitas Udayana. Kanto International Senior High School merupakan sekolah menengah atas swasta di Jepang yang membuka jurusan Bahasa Indonesia pada tahun 2007. Sejak pendiriannya, jurusan ini menyelenggarakan program latihan lapangan di Indonesia, khususnya di Bali, di mana para siswa akan berkegiatan di dalam dan luar kampus. Salah satu keistimewaan dari program ini adalah di mana para siswa dapat tinggal bersama dengan keluarga dari SMA Santo Yoseph untuk mengenal lebih dekat keseharian masyarakat Indonesia. Beliau menyampaikan terima kasih kepada Universitas Udayana dan keluarga yang telah menerima para siswa dari Jepang. Sambutan ditutup dengan harapan bahwa hubungan harmonis yang telah terjalin tidak berhenti, dan program ini dapat berjalan lancar serta membawa kebahagiaan.


Sambutan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. menyampaikan terima kasih atas kehadiran beliau, para siswa, pendamping, dan segenap tim. Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Beliau. menyampaikan bahwa program ini merupakan kegiatan yang penting tidak hanya bagi Kanto International Senior High School, namun juga bagi Program Studi Sastra Indonesia. Program studi Sastra Indonesia terakreditasi internasional serta memiliki sumber daya yang bagus. Program Cultural Visit akan membantu visibilitas bagi program studi tersebut karena bekerja sama dengan Kanto International Senior High School. Hal ini tentu akan berdampak bagi para siswa, karena akan berada di antara para pengajar yang mumpuni. Menurut beliau, kendati Bali dan Jepang memiliki kemiripan nilai-nilai yang dianut, namun terdapat beberapa perbedaan. Para siswa akan mempelajari secara langsung budaya Bali dan Indonesia dengan tinggal bersama host family, serta mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia dari FIB Universitas Udayana. Di penghujung sambutan, beliau secara resmi membuka program cultural visit ini. Kegiatan pembukaan ini ditutup dengan sesi pengenalan, dimana para siswa bertemu dengan masing-masing host family, dilanjutkan dengan campus tour di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.


FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...