Tuesday, August 18, 2026

Semarak HUT ke-62 Ilmu Sejarah FIB Unud: Padukan Seremonial dan Penguatan Metodologi Sejarah Lisan

Pada rangkaian Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) merayakan ulang tahun ke-62 pada Selasa, 18 Agustus 2026 dan bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lanai IV FIB Unud. Perayaan yang mengangkat tema "Belajar Sejarah, Memaknai Indonesia" ini menjadi momentum refleksi kritis untuk mempererat tali silaturahmi antargenerasi sivitas akademika, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga purnabakti. Dengan mengusung tema tersebut, perayaan ini sekaligus menjadi wadah bagi seluruh keluarga besar Ilmu Sejarah untuk meneguhkan peran akademisi dalam menggali nilai kebangsaan, serta membangun semangat harmoni dalam memaknai realitas sejarah Indonesia sebagai fondasi identitas bangsa. Selain melibatkan seluruh sivitas akademika Ilmu Sejarah, perayaan ini juga mengundang para siswa dari berbagai SMA di Denpasar dan Tabanan.

Ketua Panitia, I Kadek Surya Jayadi, M.A., melaporkan bahwa peringatan berbalut nuansa busana Nusantara ini berfokus pada penguatan akademik. Sorotan utama acara adalah Workshop Oral History bersama pakar sejarah UGM, yang dirangkai dengan gelar wicara bersama veteran LVRI Bali, bedah buku, serta bedah film. Seluruh agenda ini dirancang untuk menginspirasi pengembangan digital humanities dan kajian sejarah di Universitas Udayana.

Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., memaknai usia ke-62 tahun ini dengan rasa syukur atas tren positif peningkatan jumlah mahasiswa baru. Sebagai proyeksi strategis ke depan, prodi akan menggarap kajian kolaboratif bersama Antropologi dan Arkeologi yang berfokus pada kawasan Indonesia Timur. Langkah ini ditargetkan untuk melahirkan buku monumental sekaligus memangkas kesenjangan referensi historiografi antara kawasan Barat dan Timur Indonesia.

Membuka acara secara resmi, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., sangat mengapresiasi konsep edukatif acara ini, khususnya penerapan post-test pada Workshop Oral History sehingga mahasiswa benar-benar mendapatkan hasil pembelajaran yang konkret. Mendukung penuh inisiatif riset Indonesia Timur dari Koprodi, Dekan FIB kembali mengingatkan prinsip Historia Magistra Vitae bahwa sejarah adalah guru kehidupan yang menjadi fondasi penting untuk menentukan arah masa depan bangsa. 

Acara resmi dibuka melalui prosesi penyerahan bunga dari Koprodi Ilmu Sejarah kepada Dekan FIB Unud. Momen ini kemudian dirangkai dengan penyerahan bunga anggrek oleh perwakilan Keluarga Mahasiswa Ilmu Sejarah (Kemas) kepada pihak program studi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Workshop Oral History dengan mengundang Dr. Abdul Wahid, pakar sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) dan dimoderatori oleh I Kadek Surya Jayadi, M.A. Sebelum pemaparan dimulai, para mahasiswa diminta untuk mengikuti pre-test dengan menuliskan definisi singkat dari sejarah lisan. 

Dalam pemaparannya, Dr. Abdul Wahid menguraikan bahwa sejarah lisan merupakan metode pengumpulan memori serta pandangan personal mengenai peristiwa sejarah penting melalui wawancara mendalam yang kemudian direkam dan ditranskripsi. Ia menekankan bahwa sejarah lisan tidak sekadar menjadi instrumen atau alat penelitian, tetapi juga telah berkembang menjadi bentuk konstruksi sejarah itu sendiri. Mengingat objek utamanya adalah manusia beserta ingatannya yang bersifat sangat cair, retrospektif, dan emosional, pewawancara diwajibkan untuk membangun rasa saling percaya (mutual trust) dengan narasumber. Selain itu, pewawancara harus murni bertindak sebagai pendengar dan penyambung lidah tanpa melakukan intervensi apa pun terhadap hasil wawancara.

Lebih lanjut, materi lokakarya tersebut membedah lima tahapan krusial dalam mengeksekusi penelitian sejarah lisan, yakni tahap persiapan, pelaksanaan, pembuatan transkrip, pengarsipan, dan pemanfaatannya. Metode pelacakan ingatan ini dinilai memiliki manfaat filosofis dan metodologis yang kuat untuk menghasilkan konstruksi sejarah yang lebih berimbang (fair), terutama dengan memberikan ruang bagi suara kelompok kelas bawah, pihak yang kurang beruntung, maupun kaum yang dikalahkan. Di ranah praktis, sejarah lisan juga menawarkan berbagai kegunaan strategis, mulai dari menciptakan sumber sejarah baru untuk menambal kekurangan dokumen tertulis, mewariskan memori antargenerasi, hingga menjadi medium penyembuhan trauma (trauma healing) di masyarakat.

Teori dan metodologi Sejarah lLsan yang telah dibedah tuntas kemudian langsung direlevansikan ke dalam forum diskusi nyata. Memasuki agenda selanjutnya, para peserta diajak untuk menyelami langsung memori kolektif seorang saksi sejarah melalui sesi Talkshow Veteran bersama Ketua LVRI Bali, I Gusti Bagus Saputera.


No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...