Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) menerima kunjungan dari LPK Zenith yang diwakili oleh Direktur LPK Zenith, Dr. Catrini Pratihari K. Pertemuan tersebut membahas potensi kerja sama antara LPK Zenith dan FIB Unud, khususnya dalam pengembangan pengajar Bahasa Jepang, program magang mahasiswa, serta peluang pengembangan kompetensi dan karier mahasiswa di Jepang. Kunjungan tersebut disambut oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., bersama Ketua Unit Pengelola Informasi dan Kerja Sama (UPIKS) FIB Unud, Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M. Hum., dan berlangsung dalam suasana konstruktif dengan fokus pada penjajakan peluang kerja sama di masa mendatang.
Dalam pertemuan yang terlaksana di Ruang Dekan tersebut, Dr. Catrini menyampaikan bahwa LPK Zenith melihat adanya keterbatasan tenaga pengajar Bahasa Jepang di Bali. Di sisi lain, terdapat potensi kerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki program studi Bahasa Jepang dan mahasiswa yang memiliki ketertarikan untuk menjadi pengajar. Berdasarkan kondisi tersebut, LPK Zenith mengusulkan adanya kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia, salah satunya melalui program Training of Trainers (TOT) untuk mempersiapkan calon pengajar Bahasa Jepang. Selain itu, LPK Zenith juga melihat adanya peluang bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman profesional di Jepang. Peluang tersebut didukung dengan adanya kerja sama baru LPK Zenith bersama Japan Airlines yang mencakup bidang ground handling, kargo, dan administrasi, dengan beberapa posisi yang membutuhkan kemampuan Bahasa Jepang pada tingkat N2 dan N3.
Menanggapi usulan tersebut, Prof. Aryawibawa menyambut baik potensi kerja sama yang ditawarkan dengan menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap kegiatan yang dikembangkan tetap selaras dengan misi akademik dan kurikulum FIB Unud. Ia menjelaskan bahwa dalam pengembangan kerja sama dengan pihak Jepang, FIB Unud perlu berhati-hati dalam memosisikan program agar peran universitas sebagai institusi pendidikan tinggi tetap berfokus pada pengembangan akademik dan tidak dipersepsikan sebagai lembaga vokasi untuk penempatan tenaga kerja. Oleh karena itu, peluang kerja sama dapat dikembangkan melalui skema akademik seperti mobilitas mahasiswa, magang, atau bentuk pembelajaran berbasis pengalaman lainnya yang relevan dengan program studi.
Prof. Aryawibawa juga menilai bahwa program TOT dapat menjadi salah satu bentuk kerja sama yang potensial, khususnya bagi mahasiswa yang memiliki ketertarikan untuk menjadi guru atau dosen Bahasa Jepang. Mahasiswa yang memilih jalur tersebut nantinya dapat memperoleh pelatihan khusus yang mendukung kompetensinya. Selain bidang pendidikan, peluang pengembangan karier juga dapat diarahkan pada bidang administrasi, pemerintahan, maupun bidang profesional lainnya yang sesuai dengan profil lulusan masing-masing program studi. Ia juga menyampaikan bahwa peluang magang dapat dikembangkan tidak hanya untuk mahasiswa Sastra Jepang, tetapi juga mahasiswa dari program studi lain yang memiliki kompetensi relevan, dengan tetap menyesuaikan kegiatan magang terhadap kurikulum dan kompetensi utama masing-masing program studi.
Dari sisi kelembagaan, Ketua UPIKS FIB Unud, Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa kegiatan magang dalam skema Kampus Berdampak dapat dikonversikan ke dalam satuan kredit semester, dengan mahasiswa berpotensi memperoleh hingga 20 SKS untuk kegiatan yang memenuhi ketentuan. Ia menjelaskan bahwa kerja sama yang melibatkan kegiatan mahasiswa perlu didukung oleh kerangka kelembagaan yang sesuai, seperti Memorandum of Understanding (MoU) dan/atau Perjanjian Kerja Sama (PKS), bergantung pada bentuk dan tingkat kerja sama yang dikembangkan. Pelaksanaan kerja sama juga perlu disertai kegiatan dan luaran yang jelas, seperti laporan mahasiswa, buku, artikel, maupun bentuk luaran lain yang disepakati. Dengan adanya kerangka tersebut, bentuk kegiatan yang akan dikembangkan bersama dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan ketentuan akademik yang berlaku di FIB Unud.
Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam menjajaki potensi kerja sama antara FIB Unud dan LPK Zenith. Berbagai peluang, mulai dari pengembangan pengajar Bahasa Jepang melalui program TOT hingga kegiatan magang dan pengembangan kompetensi mahasiswa, menjadi bagian dari pembahasan yang dapat dikembangkan lebih lanjut. FIB Unud dan LPK Zenith selanjutnya akan mempertimbangkan bentuk kegiatan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan masing-masing pihak sebelum menentukan bentuk kerja sama yang akan dikembangkan.

No comments:
Post a Comment