Denpasar, 29 April 2026 - Unit Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (UP3M FIB Unud) menyelenggarakan Workshop Pengukuran Ketercapaian Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) secara hybrid. Bertempat di Ruang Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai 4 FIB Unud. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pimpinan di lingkungan FIB Unud, tim UP3M FIB Unud, Koordinator UPIKS FIB Unud, tim TPPM sarjana, magister, dan doktoral, tim Task Force Program Studi Sastra Inggris, Sastra Jepang, S3 Linguistik, dan perwakilan dosen serta mahasiswa.
Mengawali workshop, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan FIB Unud menekankan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menjamin kompetensi mahasiswa dapat tercapai secara maksimal melalui pelaksanaan kurikulum Outcome-Based Education (OBE). Pemahaman pengukuran ini dinilai sangat krusial dan mendesak, khususnya bagi Program Studi Sastra Jepang dan Sastra Inggris yang akan menghadapi re-akreditasi pada tahun ini, serta Program S3 pada tahun depan. Kendati demikian, Dekan menegaskan bahwa optimalisasi sistem pelaporan ini wajib dimanfaatkan oleh seluruh program studi di lingkungan fakultas guna memenuhi target Indikator Kinerja Utama (IKU), sekaligus sebagai komitmen jangka panjang fakultas dalam menciptakan standar akuntabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Workshop ini menghadirkan dua narasumber utama, diantaranya Dr. Adi Sutrisno, M.A. yang hadir secara daring dari Universitas Gadjah Mada serta merupakan ketua ESAI (English Studies Association in Indonesia) dan I Made Arsa Suyadnya, S.T., M.Eng. dari USDI (Unit Sumber Daya Informasi) Universitas Udayana, dan dimoderatori oleh Dr. Ni Ketut Widhiarcani Matradewi, S.S., M.Hum. sebagai ketua UP3M FIB Unud.
Dalam evaluasinya terhadap Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Program Studi Sastra Inggris Universitas Udayana, Dr. Adi Sutrisno, M.A. memberikan tinjauan mendalam terhadap implementasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) pada Program Studi Sastra Inggris Universitas Udayana. Dalam evaluasinya, beliau menyoroti adanya inkonsistensi pada dokumen Rencana Pembelajaran Semester (RPS), di mana kandungan materi sering kali tidak selaras dengan judul mata kuliah yang tertera. Sebagai langkah perbaikan, Dr. Adi merekomendasikan restrukturisasi hierarki CPL agar disusun secara berurutan mulai dari aspek sikap, pengetahuan, hingga keterampilan umum dan khusus guna memastikan fondasi akademik mahasiswa terbangun dengan kokoh.
Terkait metode pengukuran, beliau menekankan penerapan outcome-based assessment dengan menetapkan ambang batas ketercapaian minimal sebesar 70 persen pada setiap mata kuliah untuk menjamin standar kualitas lulusan. Lebih lanjut, beliau mendorong penggunaan instrumen programmatic assessment yang konkret, seperti penyelenggaraan tes profisiensi bahasa mandiri yang kualitasnya setara dengan TOEFL ITP, serta pemanfaatan evaluasi skripsi sebagai sarana untuk menguji kompetensi linguistik dan sastra mahasiswa secara menyeluruh.
Sesi diskusi pada pemaparan pertama menyoroti dinamika teknis dan tantangan administratif dalam implementasi kurikulum Outcome-Based Education (OBE) di lapangan. Perhatian utama peserta tertuju pada upaya pencarian strategi efisiensi guna menekan beban administratif dosen saat menyusun matriks evaluasi penilaian. Lebih lanjut, forum tersebut juga secara spesifik membahas panduan mengenai proporsi ideal jumlah Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang diturunkan untuk setiap rumusan CPL, serta mendiskusikan pedoman terbaik terkait pembobotan soal ujian, yakni apakah sebaiknya diukur berdasarkan CPL atau CPMK, guna memastikan proses asesmen tetap valid, proporsional, dan praktis bagi tenaga pendidik.
Berlanjut ke sesi kedua, Dr. I Made Arsa Suyadnya, S.T., M.Eng. sebagai Ketua USDI Universitas Udayana memaparkan pedoman teknis pengelolaan penilaian Outcome-Based Education (OBE). Implementasi kurikulum ini menuntut pemetaan terstruktur, mulai dari Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), hingga sub-CPMK yang dihubungkan dengan indikator kinerja spesifik pada RPS. Dengan skema ini, pembobotan instrumen asesmen seperti tugas, kuis, UTS, dan UAS tidak lagi menggunakan persentase statis, melainkan dipetakan secara dinamis guna mengevaluasi ketercapaian pada masing-masing indikator.
Merespons keluhan terkait tingginya beban administratif penginputan nilai, beliau menegaskan bahwa sistem SIMAK telah dilengkapi fitur impor nilai massal berbasis Excel guna menyederhanakan pekerjaan dosen. Jika matriks penilaian diisi secara konsisten, sistem akan otomatis mengakumulasi persentase kelulusan sesuai ambang batas yang ditetapkan program studi. Otomatisasi ini pada akhirnya memfasilitasi penyusunan portofolio penilaian terpusat dan pencetakan transkrip CPL mahasiswa yang sangat krusial untuk pemenuhan kelengkapan borang akreditasi.
Antusiasme sekaligus kehati-hatian para tenaga pendidik dalam beradaptasi dengan sistem SIMAK tergambar jelas pada sesi diskusi. Forum tanya jawab menyoroti berbagai aspek teknis pengoperasian sistem, mulai dari klarifikasi mengenai kewajiban penginputan seluruh Capaian Pembelajaran (CP) ke dalam pangkalan data, hingga aturan hirarki pemilihan indikator Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang secara sistematis harus bermuara pada indikator CP. Lebih dari itu, diskusi ini juga secara langsung memfasilitasi resolusi kendala teknis (troubleshooting) di lapangan, seperti anomali inkompatibilitas sistem yang kerap terjadi ketika dosen menginput jumlah CPMK yang lebih banyak dibandingkan rumusan CP pada suatu mata kuliah.















