Tuesday, April 28, 2026

FIB Unud Gelar Lokakarya Pengukuran CPL: Mantapkan Mutu OBE dan Persiapan Akreditasi

 


Denpasar, 29 April 2026 - Unit Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (UP3M FIB Unud) menyelenggarakan Workshop Pengukuran Ketercapaian Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) secara hybrid. Bertempat di Ruang Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai 4 FIB Unud. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pimpinan di lingkungan FIB Unud, tim UP3M FIB Unud, Koordinator UPIKS FIB Unud, tim TPPM sarjana, magister, dan doktoral, tim Task Force Program Studi Sastra Inggris, Sastra Jepang, S3 Linguistik, dan perwakilan dosen serta mahasiswa.

Mengawali workshop, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan FIB Unud menekankan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menjamin kompetensi mahasiswa dapat tercapai secara maksimal melalui pelaksanaan kurikulum Outcome-Based Education (OBE). Pemahaman pengukuran ini dinilai sangat krusial dan mendesak, khususnya bagi Program Studi Sastra Jepang dan Sastra Inggris yang akan menghadapi re-akreditasi pada tahun ini, serta Program S3 pada tahun depan. Kendati demikian, Dekan menegaskan bahwa optimalisasi sistem pelaporan ini wajib dimanfaatkan oleh seluruh program studi di lingkungan fakultas guna memenuhi target Indikator Kinerja Utama (IKU), sekaligus sebagai komitmen jangka panjang fakultas dalam menciptakan standar akuntabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Workshop ini menghadirkan dua narasumber utama, diantaranya Dr. Adi Sutrisno, M.A. yang hadir secara daring dari Universitas Gadjah Mada serta merupakan ketua ESAI (English Studies Association in Indonesia) dan I Made Arsa Suyadnya, S.T., M.Eng. dari USDI (Unit Sumber Daya Informasi) Universitas Udayana, dan dimoderatori oleh Dr. Ni Ketut Widhiarcani Matradewi, S.S., M.Hum. sebagai ketua UP3M FIB Unud. 

Dalam evaluasinya terhadap Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Program Studi Sastra Inggris Universitas Udayana, Dr. Adi Sutrisno, M.A. memberikan tinjauan mendalam terhadap implementasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) pada Program Studi Sastra Inggris Universitas Udayana. Dalam evaluasinya, beliau menyoroti adanya inkonsistensi pada dokumen Rencana Pembelajaran Semester (RPS), di mana kandungan materi sering kali tidak selaras dengan judul mata kuliah yang tertera. Sebagai langkah perbaikan, Dr. Adi merekomendasikan restrukturisasi hierarki CPL agar disusun secara berurutan mulai dari aspek sikap, pengetahuan, hingga keterampilan umum dan khusus guna memastikan fondasi akademik mahasiswa terbangun dengan kokoh. 

Terkait metode pengukuran, beliau menekankan penerapan outcome-based assessment dengan menetapkan ambang batas ketercapaian minimal sebesar 70 persen pada setiap mata kuliah untuk menjamin standar kualitas lulusan. Lebih lanjut, beliau mendorong penggunaan instrumen programmatic assessment yang konkret, seperti penyelenggaraan tes profisiensi bahasa mandiri yang kualitasnya setara dengan TOEFL ITP, serta pemanfaatan evaluasi skripsi sebagai sarana untuk menguji kompetensi linguistik dan sastra mahasiswa secara menyeluruh.
Sesi diskusi pada pemaparan pertama menyoroti dinamika teknis dan tantangan administratif dalam implementasi kurikulum Outcome-Based Education (OBE) di lapangan. Perhatian utama peserta tertuju pada upaya pencarian strategi efisiensi guna menekan beban administratif dosen saat menyusun matriks evaluasi penilaian. Lebih lanjut, forum tersebut juga secara spesifik membahas panduan mengenai proporsi ideal jumlah Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang diturunkan untuk setiap rumusan CPL, serta mendiskusikan pedoman terbaik terkait pembobotan soal ujian, yakni apakah sebaiknya diukur berdasarkan CPL atau CPMK, guna memastikan proses asesmen tetap valid, proporsional, dan praktis bagi tenaga pendidik.

Berlanjut ke sesi kedua, Dr. I Made Arsa Suyadnya, S.T., M.Eng. sebagai Ketua USDI Universitas Udayana memaparkan pedoman teknis pengelolaan penilaian Outcome-Based Education (OBE). Implementasi kurikulum ini menuntut pemetaan terstruktur, mulai dari Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), hingga sub-CPMK yang dihubungkan dengan indikator kinerja spesifik pada RPS. Dengan skema ini, pembobotan instrumen asesmen seperti tugas, kuis, UTS, dan UAS tidak lagi menggunakan persentase statis, melainkan dipetakan secara dinamis guna mengevaluasi ketercapaian pada masing-masing indikator. 

Merespons keluhan terkait tingginya beban administratif penginputan nilai, beliau menegaskan bahwa sistem SIMAK telah dilengkapi fitur impor nilai massal berbasis Excel guna menyederhanakan pekerjaan dosen. Jika matriks penilaian diisi secara konsisten, sistem akan otomatis mengakumulasi persentase kelulusan sesuai ambang batas yang ditetapkan program studi. Otomatisasi ini pada akhirnya memfasilitasi penyusunan portofolio penilaian terpusat dan pencetakan transkrip CPL mahasiswa yang sangat krusial untuk pemenuhan kelengkapan borang akreditasi.

Antusiasme sekaligus kehati-hatian para tenaga pendidik dalam beradaptasi dengan sistem SIMAK tergambar jelas pada sesi diskusi. Forum tanya jawab menyoroti berbagai aspek teknis pengoperasian sistem, mulai dari klarifikasi mengenai kewajiban penginputan seluruh Capaian Pembelajaran (CP) ke dalam pangkalan data, hingga aturan hirarki pemilihan indikator Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang secara sistematis harus bermuara pada indikator CP. Lebih dari itu, diskusi ini juga secara langsung memfasilitasi resolusi kendala teknis (troubleshooting) di lapangan, seperti anomali inkompatibilitas sistem yang kerap terjadi ketika dosen menginput jumlah CPMK yang lebih banyak dibandingkan rumusan CP pada suatu mata kuliah. 

Friday, April 24, 2026

Fakultas Ilmu Budaya Unud Melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat di SMA N 1 Melaya: Dorong Minat Lanjut Studi ke Perguruan Tinggi

 


Melaya, 24 April 2026 — Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 1 Melaya. Kegiatan ini disambut hangat oleh pihak sekolah dan diikuti oleh siswa kelas XI dengan antusiasme tinggi. Kedatangan rombongan dosen dan pegawai FIB Unud diterima langsung oleh Kepala SMA N 1 Melaya, I Ketut Widia, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas  kunjungan untuk melaksanakan pengabdian kepada Masyarakat di SMA N 1 Melaya. Ia berharap materi yang diberikan dapat memberikan wawasan baru serta memotivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. “Kami sangat berterima kasih atas kehadiran para dosen dan pegawai. Semoga kegiatan ini memberi manfaat nyata bagi siswa, serta mendorong semakin banyak lulusan SMA N 1 Melaya yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi,” ujarnya.

Koordinator Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UP2M) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Dr. Ngurah Indra Pradhana, S.S., M.Hum. menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata peran dosen dalam berbagi ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif, khususnya bagi generasi muda. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Menurutnya, kolaborasi seperti ini dapat menjadi jembatan bagi siswa untuk lebih mengenal dunia akademik sejak dini.

Kegiatan ini menghadirkan beragam materi menarik dari berbagai program studi di lingkungan FIB Unud. Program Studi Jawa Kuno memperkenalkan konsep kepemimpinan melalui “Leadership Hack: Rahasia Kepemimpinan ala Sastra Jawa Kuno”. Program Studi Sastra Jepang mengajak siswa mengenal dasar-dasar budaya Jepang, sementara Program Studi Antropologi membahas tentang pengenalan kebudayaan secara umum. Selain itu, Program Studi Arkeologi memaparkan perkembangan dunia arkeologi melalui tema “Arkeologi Kini dan Nanti”. Program Studi Sejarah menghadirkan materi “Dari Kakao ke Sejarah” yang mengaitkan komoditas lokal dengan kajian sejarah. Dari sisi bahasa, Program Studi Sastra Inggris memberikan pembelajaran interaktif mengenai penggunaan past tense dan past perfect tense melalui tema “Which happened first?”. Materi yang disampaikan dirancang secara aplikatif agar mudah dipahami oleh siswa dari berbagai latar belakang. Para pemateri juga menggunakan metode interaktif seperti diskusi dan kuis untuk meningkatkan keterlibatan peserta.

Program Studi Sastra Indonesia turut membekali siswa dengan kemampuan literasi kritis melalui modul “Detektif Berita (Fakta vs Opini)”, sedangkan Program Studi Sastra Bali memperkenalkan nilai budaya lokal melalui materi “Tembang dalam Masyarakat Bali”. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga membuka wawasan siswa mengenai berbagai bidang keilmuan yang dapat mereka tekuni di perguruan tinggi. Dengan pendekatan yang interaktif dan kontekstual, siswa terlihat aktif berpartisipasi selama sesi berlangsung. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi berlangsung. Hal ini menunjukkan tingginya minat siswa dalam menggali pengetahuan baru yang relevan dengan kehidupan mereka.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana berharap dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta membangun semangat belajar generasi muda, khususnya di wilayah Bali Barat. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan akan menjangkau lebih banyak sekolah di berbagai daerah. Upaya ini diharapkan mampu memperluas akses informasi pendidikan tinggi bagi siswa.

Thursday, April 23, 2026

Kolaborasi Fakultas Ilmu Budaya Unud dan UNS: Seminar Nasional Kajian Budaya Seri 11 Bedah Posmodernisme Sastra dan Dinamika Diaspora Sumba

 


Denpasar, 24 April 2026 – Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Unud) kembali bekerjasama dengan Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (FIB UNS) dalam melaksanakan Seminar Nasional Mahasiswa Kajian Budaya: Narasi Budaya Seri 11. Seminar yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting ini dihadiri oleh lebih dari 80 peserta serta membahas mengenai dua isu kultural yang relevan, diantaranya kompleksitas posmodernisme dalam sastra kontemporer dan dinamika diaspora internal di Indonesia.

Seminar ini dibuka secara resmi oleh Koordinator Program Studi Doktor Kajian Budaya Unud, Prof. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Ph.D. Beliau mengapresiasi antusiasme yang tinggi dari para peserta serta mengemukakan sebuah korelasi yang menarik dari kedua topik bahasan tersebut, yaitu kesamaan tema 'petualangan'. Tema ini terepresentasikan melalui perjalanan imajinatif tokoh fiktif ciptaan pengarang, sekaligus pengalaman nyata perpindahan masyarakat sub-etnis Sumba menuju Bali.

Acara ini dimoderatori oleh Agus Putra Mahendra, mahasiswa S3 Kajian Budaya FIB Unud. Pemaparan sesi pertama dilakukan oleh Dra. Susilorini, M.A. (perwakilan Doktor Kajian Budaya FIB UNS) yang mengkaji novel Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu karya Intan Paramadita. Karya ini merespons posmodernisme dengan mendekonstruksi alur linear menjadi literatur ergodik bernarasi bercabang, memberikan otonomi penuh kepada pembaca sebagai karakter "Kau" untuk menavigasi jalannya cerita.

Lebih lanjut, beliau menekankan dimensi transnasional novel ini. Melalui pendekatan intertekstual, dongeng Rumpelstiltskin dan Faust dimanfaatkan sebagai kiasan kritis terhadap eksploitasi buruh perempuan di tengah kapitalisme global. Teks ini juga mengilustrasikan transisi dari ranah epistemologis menuju ontologis, di mana eksistensi perempuan pascamodern menempati ruang liminal yang dinamis dan terus bertransformasi secara rhizomatic (menyebar tanpa hierarki).

Dr. Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo, S.S., M.Hum. selaku perwakilan dari Program Doktor Kajian Budaya Unud mengkaji dinamika integrasi dan kontestasi diaspora Sumba di Bali, menyoroti eksistensi mereka sebagai subjek aktif yang terus menegosiasikan identitas di ruang multikultural. Manifestasi keluwesan budaya ini terlihat pada fenomena "Marapu Modern", yakni adaptasi nilai leluhur agar selaras dengan spiritualitas Bali, serta penguatan kohesi sosial melalui wadah paguyuban seperti Ikatan Warga Sumba dan Flobamora.

Menanggapi eskalasi stigmatisasi media sosial yang diperparah oleh algoritma kapitalisasi konflik, Fransiska memaparkan bahwa pelabelan "Nak Sumba" justru memicu resistensi kultural. Stigma negatif tersebut kini direbut dan dimanfaatkan oleh komunitas diaspora sebagai wujud representasi identitas demi mendapatkan pengakuan sosial yang setara.

Rangkaian seminar ini ditutup oleh Koprodi S3 Kajian Budaya UNS, Prof. Dra. S.K. Habsari, M.Hum., Ph.D., melalui apresiasi tinggi yang diberikan terhadap tajamnya pisau analisis pada kedua pemaparan tersebut. Ditegaskan pula oleh beliau bahwa kapasitas Kajian Budaya dalam membaca perubahan, negosiasi identitas, dan dinamika kuasa telah dibuktikan melalui kebaruan topik fiksi digital maupun diaspora etnik yang dikaji. Pada akhirnya, keberlanjutan kerja sama antara Unud dan UNS yang telah terjalin selama dua tahun ini sangat diharapkan, agar nalar kritis peneliti dalam merespons lanskap budaya yang dinamis dapat senantiasa dirawat melalui mimbar akademis tersebut.


Tingkatkan Visibilitas Riset Global, FIB Unud Resmi Luncurkan Ekosistem Humaniora Digital "DUMILAH”

 

Denpasar, 23 April 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) melaksanakan launching DUMILAH (Digital Humanities Landscape at the Faculty of Humanities Udayana University). Bertempat di Ruang Dr. Ir. Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, kegiatan ini dihadiri oleh jajaran dekanat, ketua Senat FIB Unud, para koordinator program studi dan  ketua Unit di lingkungan FIB Unud, pimpinan CIRHSS (Centre for Interdisciplinary Research on the Humanities and Social Science), dan ketua Media FIB Unud.

Mengawali kegiatan, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan FIB Unud menegaskan bahwa peluncuran DUMILAH merupakan langkah strategis guna meningkatkan visibilitas fakultas di tingkat nasional dan internasional. Inovasi yang mewujudkan amanat pendiri Fakultas Sastra sekaligus penjabaran Rencana Strategis FIB ini, dikembangkan sejak 2025 dengan melibatkan pakar humaniora digital dunia dari Oxford dan Melbourne. Kehadiran DUMILAH diproyeksikan menjadi wadah interaktif bagi peneliti dan mahasiswa dalam mengelola data penelitian untuk mendongkrak produktivitas akademik, selaras dengan komitmen pimpinan dalam menaikkan peringkat global Universitas Udayana.

Melanjutkan kegiatan, Gede Primahadi Wijaya Rajeg, S.S., M.Hum., Ph.D. selaku Ketua tim peluncuran DUMILAH memaparkan bahwa inisiasi pengembangan platform ini dimotivasi oleh fakta bahwa para kolega peneliti di lingkungan FIB Unud sejatinya telah banyak melaksanakan riset terkait Humaniora Digital. Rangkaian riset tersebut di antaranya mencakup penyusunan basis data pada bidang arkeologi dan antropologi, hingga upaya pemetaan dan pelestarian teks lontar. Oleh karena itu, DUMILAH hadir secara spesifik untuk memfasilitasi visibilitas dan diseminasi riset bernuansa sains terbuka, memastikan pengakuan yang tepat bagi peneliti melalui sitasi karya (citeability), serta menjamin kelestarian arsip riset digital dalam jangka panjang (long-term preservation).

Secara teknis, DUMILAH memanfaatkan Zenodo, yakni sebuah repositori riset terbuka tak berbayar yang berskala global. Platform ini dipilih karena integritasnya yang telah dipercaya oleh berbagai lembaga riset dunia dan dikelola langsung oleh CERN. Keunggulan utama pengarsipan melalui Zenodo ini adalah setiap materi yang diunggah akan secara otomatis mendapatkan Digital Object Identifier (DOI) sehingga terekam secara global dan mudah dikutip, serta materi tersebut memiliki kapabilitas untuk terus diperbarui ke versi-versi lanjutannya (versioning).

Mendampingi Ketua tim DUMILAH, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. mendemonstrasikan lebih detail mengenai cara menggunakan DUMILAH, diantaranya cara mengakses DUMILAH melalui Zenodo yang dapat dilakukan melalui berbagai opsi browser, Setelah berhasil login, pengguna dapat langsung mencari komunitas dengan mengetikkan "DUMILAH" pada kolom pencarian di menu Communities. Di dalam laman komunitas tersebut, pengguna akan mendapati tombol New Upload yang berfungsi untuk mengunggah berbagai data penelitian mentah, seperti basis data atau dataset. Pengguna diwajibkan untuk mengisi sejumlah metadata esensial, utamanya mencentang opsi permintaan Digital Object Identifier (DOI) untuk memastikan visibilitas dan kemudahan sitasi karya secara global. Selain itu, fitur penting seperti Save Draft sangat disarankan untuk ditekan secara berkala guna mencegah hilangnya data saat proses pengunggahan berlangsung. Setelah seluruh metadata wajib yang ditandai dengan asteris merah serta pengaturan visibilitas publik dilengkapi, pengguna dapat menekan tombol Submit for Review. Karya yang telah diunggah akan melalui proses kurasi terlebih dahulu oleh tim pengelola (reviewer) sebelum akhirnya disetujui, dipublikasikan secara resmi di laman DUMILAH, dan mendapatkan DOI serta format sitasi yang dapat disesuaikan (misalnya format Vancouver).  

Dalam sesi tanya jawab, isu krusial mengenai pelindungan hak cipta kekayaan intelektual dan kebijakan kurasi data menjadi sorotan utama. Menanggapi kekhawatiran terkait hak cipta, tim DUMILAH menjelaskan bahwa platform Zenodo telah dilengkapi dengan fitur opsi lisensi yang fleksibel. Peneliti dapat menerapkan hak cipta penuh, membatasi akses data (restricted), atau sekadar menampilkan rekaman metadata (record) beserta tautan luar tanpa harus mengunggah data mentahnya secara terbuka. Sementara itu, terkait kebijakan pengunggahan, ditegaskan bahwa komunitas DUMILAH diprioritaskan untuk mewadahi karya sivitas akademika FIB Unud. Pihak luar atau kolaborator eksternal hanya diizinkan untuk menyumbangkan data ke dalam repositori tersebut apabila menyertakan sivitas akademika FIB sebagai salah satu penulis atau mitra kolaborasi dalam karyanya. Guna menjamin mutu dan relevansi konten yang dipublikasikan, pengelola DUMILAH juga akan memberdayakan perwakilan dari masing-masing grup riset program studi untuk bertindak sebagai kurator yang bertugas menyeleksi serta memverifikasi karya yang masuk sesuai dengan disiplin keilmuannya.

Turut mengapresiasi peluncuran ini, Ketua Senat FIB Unud, Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., menaruh harapan besar pada generasi muda untuk menjadi motor penggerak pemanfaatan DUMILAH. Beliau menekankan pentingnya sosialisasi berkelanjutan agar inovasi ini dapat dimaksimalkan oleh seluruh sivitas akademika. Prof. Weda optimis bahwa program ini akan terus berkembang dan berkontribusi signifikan terhadap kemajuan serta reputasi FIB Unud.


Tuesday, April 21, 2026

Fakultas Ilmu Budaya menjadi lokasi pelaksanaan SNPMB SNBT UTBK 2026

 


Selasa, 21 April 2026 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana yang berlokasi di Jalan Pulau Nias 13, Denpasar berlangsung kegiatan Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) yaitu Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Kegiatan tersebut dilaksanakan tanggal 21 April hingga 23 April 2026 di ruang Laboratorium 19 dan Laboratorium 20. Pelaksanaan SNBT di FIB ini diikuti sebanyak 240 orang peserta yang terdiri dari siswa lulusan tingkat SMA/SMK/MA. Ujian yang dilaksanakan kali ini diikuti oleh peserta dari wilayah Bali dan sekitarnya.

Pelaksanaan ujian dilakukan dalam 2 kali sesi yaitu sesi Pagi dari pukul 07.45 WITA – 11.30 WITA, sedangkan sesi siang dilaksanakan pada pukul 13.30 WITA -17.15 WITA. Ruang ujian lab 19 dan lab 20 masing-masing dapat menampung 20 orang peserta untuk setiap sesinya. Pada ujian kali ini, sebelum memasuki ruang ujian calon mahasiswa diperiksa setiap peserta diperiksa ketat barang bawaannya, selama ujian diawasi gerak-geriknya, hingga ujian berakhir pun dipastikan bahwa semua berjalan dengan baik.

Setiap peserta disediakan ruangan khusus menyimpan barang bawaannya. Kemudian, sebelum memasuki ruangan ujian dilakukan pemeriksaan fisik menggunakan metal detektor yang dilakukan sesuai prosedur. Selanjutnya, pemeriksaan dokumen dan juga pencocokan identitas peserta dilakukan oleh Pengawas Ujian. Selain itu, peserta ujian juga diberikan kesempatan melakukan tutorial ujian pada layar komputer agar peserta dapat memiliki gambaran tentang penggunaan sistem ujian dan langkah-langkahnya.

Pada ujian kali ini,  Fakultas Ilmu Budaya juga dipantau oleh Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. yang sekaligus memeriksa kesiapan dan kelancaran pelaksanaan ujian. Pada sesi akhir pelaksanaan ujian peserta dipersilahkan memberikan kritik dan masukan melalui monev pelaksanaan ujian dengan mengakses barcode  yang telah disediakan oleh panitia.

Malam Keakraban di Nari Graha: Puncak Hari Pertama Konferensi Internasional IFSSO 2026

 


Denpasar, 21 April 2026 – Sebagai penutup dari rangkaian hari pertama The 27th IFSSO International Conference and General Assembly 2026, para delegasi dan tamu kehormatan dijamu dalam acara Gala Dinner yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bali. Bertempat di Gedung Wanita Nari Graha, malam keakraban ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Universitas Udayana, pimpinan di lingkungan FIB Unud, pengurus IFSSO, serta para pakar dari berbagai institusi kolaborator global.

Suasana khidmat menyelimuti ruangan sesaat sebelum rangkaian sambutan dimulai dengan penampilan apik Tari Sekar Jagat. Tarian penyambutan khas Bali ini berhasil memukau para delegasi mancanegara, memberikan impresi pertama yang kuat tentang kekayaan seni Pulau Dewata di tengah agenda akademik yang padat.

Mengawali malam keakraban tersebut, Presiden IFSSO, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Provinsi Bali atas dukungannya dalam memfasilitasi jamuan istimewa ini. Beliau melaporkan bahwa konferensi tahun ini berjalan sangat sukses dengan kehadiran lebih dari 100 peserta dan sekitar 35 makalah penelitian yang telah dipresentasikan. Sebagai wujud komitmen akademik, hasil pemikiran dari perhelatan ini akan diterbitkan secara resmi melalui kolaborasi penerbitan antara pihak Vietnam dan Udayana Press. Lebih lanjut, Prof. Ardhana yang juga secara aklamasi terpilih kembali untuk memimpin IFSSO, turut mengumumkan bahwa konferensi internasional tahun depan direncanakan akan diselenggarakan di Vietnam.

Menyambung sambutan hangat tersebut, Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., menekankan bahwa gala dinner ini dirancang untuk mempererat hubungan antar-delegasi dalam suasana yang lebih santai namun tetap sarat akan nilai kolaborasi. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi harus senantiasa hadir sebagai jembatan penghubung pengetahuan global. Prof. Sudarsana juga merefleksikan filosofi Bhinneka Tunggal Ika serta keharmonisan budaya Bali yang diharapkan mampu menjadi sumber inspirasi bagi para akademisi mancanegara untuk terus memperkaya pemahaman kolektif dalam merespons dinamika sosial.


Dari Borobudur hingga Ritual Modern: Panel IFSSO Eksplorasi Warisan Budaya

 


Denpasar, 21 April 2026 – Memasuki paruh kedua penyelenggaraan hari pertama The 27th IFSSO International Conference, antusiasme delegasi global tidak surut. Usai pemaparan dari para pembicara utama di Auditorium Widya Sabha Mandala, gelora akademik berlanjut pada sesi diskusi panel paralel yang terpusat di Gedung Poerbatjaraka, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Para delegasi membedah berbagai kajian spesifik yang terbagi ke dalam tiga ruang utama, yakni Ruang Dr. Ir. Soekarno, Ruang Prof. Dr. Priyono, dan Ruang Sidang Senat.

Di Ruang Dr. Ir. Soekarno, dinamika diskusi berpusat pada penelusuran jejak peradaban dan diplomasi masa lampau. Sesi yang dipandu secara bergantian oleh Prof. Dr. I Wayan Karja dan Prof. Dr. Sudarman ini menghadirkan perdebatan tajam dengan hadirnya penanggap (discussant) Prof. Dr. Nestor T. Castro, Dr. Nguyen Thi Hau, dan Dr. Cao Thu Nga. Sorotan utama jatuh pada paparan Assoc. Prof. Dr. Phan Thi Hong Xuan yang menjadikan Candi Borobudur dan situs Dong Duong sebagai fondasi diplomasi akademik antara Indonesia dan Vietnam. Narasi ini diperkuat oleh kajian kesejarahan Vo Thi Huynh Nhu mengenai kesinambungan Buddhisme Champa, ekskavasi warisan Buddha di Sumatera Barat oleh Prof. Sudarman, hingga pelacakan jejak Hindu-Buddha pada era pra-Hispanik di Filipina oleh Prof. Nestor T. Castro.

Beralih ke Ruang Prof. Dr. Priyono, diskursus bergerak ke arah adaptasi sosiokultural dan kelangsungan ritual di era modern. Dipandu oleh Assoc. Prof. Dicky Sofjan dan Dr. Duong Hoang Loc, serta dibahas oleh penanggap Vo Phan My Tra dan Phan Hieu Nghia, ruangan ini mengeksplorasi isu yang lekat dengan realitas hari ini. Assoc. Prof. Dicky Sofjan membedah transformasi praktik ziarah di tengah arus globalisasi, sementara Dr. Duong Hoang Loc memaparkan peran vital Buddhisme dalam menjaga ketahanan spiritual masyarakat saat pandemi COVID-19. Isu toleransi maritim di Selat Lombok oleh Putri Maya Masyitah serta kajian catur sebagai warisan budaya oleh Võ Phan Mỹ Trà turut memperkaya diskusi di ruangan ini.

Sementara itu, Ruang Sidang Senat menyajikan kekayaan kearifan lokal dan sistem kepercayaan tradisional Nusantara. Dengan Budiana Setiawan dan Dr. Nguyen Thi Hau sebagai moderator, sesi ini mengupas lapisan terdalam nilai spiritual masyarakat, mulai dari ritual Kuk Kir Kna suku Doreri di Papua oleh George Mentansan hingga tradisi Katoba pada masyarakat Muna oleh La Aso. Dinamika pariwisata religi di Makam Troloyo turut dikaji oleh Rochtri Agung Bawono, melengkapi temuan I Kadek Surya Jayadi mengenai pelestarian ajaran Buddha melalui arsip keluarga di Budakeling, serta pemaparan Dr. Preeti Oza mengenai kosmopolis Hindu-Buddha abad ke-9.

Seluruh rangkaian diskusi paralel ini membuktikan kuatnya benang merah sejarah dan budaya yang mengikat kawasan Asia Tenggara. Setelah sesi yang intens ini berakhir, para delegasi bersiap untuk agenda penutup hari pertama, yakni Gala Dinner yang akan diselenggarakan pada malam hari.


Konferensi Internasional IFSSO ke-27 Resmi Dibuka di FIB Unud, Bahas Dinamika Agama, Modernisasi, dan Sekularisasi

 


Denpasar, 21 April 2026 - Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sukses menyelenggarakan kegiatan akademik bergengsi bertajuk “The 27th IFSSO International Conference and General Assembly 2026”. Konferensi yang terlaksana secara luring di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud ini, merupakan wujud kolaborasi masif dengan berbagai institusi global, yaitu University of the Philippines, The Institute for Social Sciences and Humanities Research (ISSH) VNU-HCM Vietnam, University of Mumbai, Gujarat University, serta International Federation of Social Science Organizations (IFSSO). Acara prestisius ini turut dihadiri oleh Duta Besar Turki untuk Indonesia, Rektor Universitas Udayana, jajaran pimpinan di lingkungan FIB Unud, beserta para pakar dari institusi kolaborator.

Pada sesi sambutan, Presiden IFSSO, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., mengapresiasi antusiasme delegasi global yang berhasil menyumbangkan lebih dari 35 abstrak penelitian. Menandai akhir masa jabatannya setelah mengawal IFSSO sejak 2003, beliau memastikan bahwa seluruh gagasan dalam perhelatan ini tidak hanya berakhir di ruang diskusi. Luaran akademik dari konferensi ini akan bermuara pada publikasi resmi melalui kolaborasi penerbitan antara pihak Vietnam dan Universitas Udayana.

Selanjutnya, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. mengungkapkan rasa bangganya atas penunjukan fakultas sebagai tuan rumah perhelatan ini. Merespons tema besar konferensi, Prof. Aryawibawa merefleksikan kembali nilai historis FIB Unud yang pada tahun 1959 silam menjadi lokasi cikal bakal lahirnya majelis agama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Lebih lanjut, sebagai wujud diplomasi budaya dan literasi, beliau secara khusus mengundang para delegasi global untuk mengeksplorasi kekayaan intelektual Nusantara dengan mengunjungi Perpustakaan Lontar FIB yang saat ini menyimpan 898 koleksi naskah kuno.

Puncak seremonial pembukaan secara resmi ditandai dengan pemukulan gong oleh Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. Dalam pidatonya, Prof. Sudarsana menegaskan bahwa Bali merupakan representasi hidup dari harmonisasi antara nilai spiritual dan arus modernisasi, sebuah keseimbangan yang berakar kuat pada visi filosofis lokal Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Melalui momentum peresmian The 27th IFSSO International Conference ini, Rektor kembali menekankan komitmen Universitas Udayana sebagai pendorong utama kolaborasi riset lintas disiplin di kancah global, sekaligus mengajak para delegasi internasional untuk menyelami secara langsung keindahan budaya Pulau Dewata.

Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Anggota Dewan IFSSO, Prof. Nestor T. Castro, Ph.D., turut memaparkan rekam jejak kiprah International Federation of Social Science Organizations (IFSSO). Berdiri resmi sejak 1977, organisasi lintas benua ini konsisten mendorong kolaborasi ilmu sosial global untuk merespons berbagai problem kemasyarakatan kontemporer, khususnya di negara berkembang. Menariknya, Prof. Castro secara khusus menyoroti peran sentral Indonesia bagi kemajuan organisasi, mengingat sejak tahun 2019, sekretariat pusat IFSSO telah resmi dipindahkan dan berkedudukan di Jakarta.

Pemaparan  materi dari Prof. Dr. Talip Küçükcan selaku Duta Besar Turki untuk Indonesia dan keynote speaker membawakan kajian berjudul “Managing State-Religion Relations in the Context of Modernization and Secularization” Beliau membantah teori lama dari ilmuwan Barat yang menyebutkan bahwa kemajuan zaman akan membuat masyarakat meninggalkan agama. Menurutnya, agama tidak mati tergerus modernisasi, melainkan tetap hidup dan beradaptasi. Hal ini terbukti dari fenomena global, seperti munculnya gereja-gereja besar di Amerika Serikat hingga kuatnya tradisi spiritual di Bali. Di hadapan peserta internasional, Prof. Talip secara khusus memuji Indonesia sebagai contoh negara modern yang sukses. Ia kagum melihat bagaimana negara menghargai berbagai agama secara setara, salah satunya dengan memberikan hari libur nasional untuk perayaan suci masing-masing agama yang merupakan sebuah keharmonisan yang menurutnya sering kali sulit dipahami oleh negara-negara Barat. 

Berikutnya, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. memaparkan kajian "Reinterpretation of Buddhism in the Context of State and Statecraft in Early Udayana". Beliau menyoroti peran Kerajaan Sriwijaya dan era awal Udayana sebagai jembatan penyebaran nilai spiritual di Asia Tenggara. Prof. Ardhana menekankan bahwa hubungan harmonis antara tradisi Hindu dan Buddha di masa lampau berhasil melahirkan sinkretisme damai tanpa memicu konflik. Nilai toleransi inilah yang kemudian menjadi akar sejarah bagi lahirnya semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Pada sesi akhir, narasumber Assoc. Prof. Dr. Phan Thi Hong Xuan dari VNU-HCM memaparkan kajian "Religious Urbanism as 'Soft Infrastructure' The Role of Buddhist Spaces in Shaping Identity and Community Connectivity in Contemporary Southeast Asian Cities". Ia menegaskan bahwa kuil atau pagoda di Asia Tenggara bukan sekadar tempat ibadah pasif, melainkan infrastruktur sosial yang aktif menopang kehidupan kota modern. Lewat contoh nyata di Vietnam dan Thailand, Prof. Phan menunjukkan peran vital kuil dalam menyatukan warga; mulai dari menjadi pusat bantuan sosial hingga menggerakkan daur ulang plastik menjadi jubah biksu. Karenanya, ia mendesak agar tata kota masa depan turut mengintegrasikan institusi agama sebagai fondasi ketahanan masyarakat kota.

Usai pemaparan mendalam dari para pembicara utama, rangkaian hari pertama The 27th IFSSO International Conference ini langsung dilanjutkan dengan sesi diskusi panel. Pada sesi paralel ini, para delegasi dari berbagai negara dibagi ke dalam beberapa ruang diskusi untuk membedah kajian yang lebih spesifik.


Monday, April 20, 2026

Mendukung Mahasiswa Semester Akhir: Prodi Sastra Jepang Laksanakan Bimbingan dan Konseling dengan Psikolog



Denpasar, 20 April 2026 — Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana menyelenggarakan workshop bimbingan dan konseling yang berlangsung secara hybrid di Ruang Ir. Soekarno pada Senin, 20 April 2026. Acara yang berlangsung selama lima hari ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa prodi Sastra Jepang, dengan moderator Dr. Silvia Damayanti, S.S., M.Hum. selaku Koordinator Program Studi Sastra Jepang. Workshop ini menghadirkan narasumber Ni Putu Adelia Kesumaningsari, S.Psi., M.Sc. yang memberikan materinya secara online, sementara sekitar setengah peserta hadir secara offline dan setengahnya lagi mengikuti dari jarak jauh.

Dr. Silvia Damayanti selaku moderator menjelaskan latar belakang diselenggarakannya workshop ini, yaitu karena hampir 50 persen mahasiswa angkatan 2019 hingga 2023 belum menyelesaikan skripsi. Selain itu, ditemukan pula adanya gangguan psikologis yang mempengaruhi pengerjaan skripsi di kalangan mahasiswa. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., yang mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kehadiran narasumber. Dalam sambutannya, beliau menyatakan bahwa tantangan penyelesaian tugas akhir bukan hanya masalah teknis tetapi juga masalah mental dan ketahanan mental. Bagi mahasiswa, menurutnya, skripsi merupakan uji kemandirian untuk melihat apakah mereka mau bekerja keras, sementara bagi dosen, membimbing skripsi adalah sebuah seni. Beliau berharap melalui workshop ini dapat tercapai kerjasama yang positif antara dosen dan mahasiswa, serta mahasiswa dapat menyerap ilmu mengenai cara tidak burnout dan menjaga kesehatan mental dalam menyelesaikan tugas akhir. Pembukaan ditandai dengan kegiatan mengetuk mikrofon sebanyak tiga kali.

Pada sesi pertama yang diperuntukkan bagi dosen, narasumber Ni Putu Adelia Kesumaningsari, S.Psi., M.Sc. memaparkan berbagai hambatan psikologis yang sering dialami mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa saat ini cenderung lebih mengapresiasi diri sendiri, namun skripsi sering terasa seperti beban mental karena dianggap sebagai gerbang terakhir sebelum kelulusan. Beberapa faktor yang mempengaruhi penyelesaian skripsi meliputi faktor kognitif, sikap kerja, kepribadian, dan faktor sosial seperti tekanan atau dukungan dari keluarga serta konflik di rumah. Narasumber juga mengidentifikasi empat tipe mahasiswa berdasarkan kombinasi motivasi dan kemampuan, yaitu Tipe A dengan kemampuan dan motivasi tinggi, Tipe B dengan motivasi kuat namun kemampuan kurang, Tipe C dengan kemampuan tinggi namun motivasi rendah, dan Tipe D dengan kemampuan dan motivasi sama-sama rendah. Menurutnya, tipe C dan tipe D adalah yang paling perlu diperhatikan agar tidak hilang dalam proses pengerjaan skripsi. Strategi yang disarankan antara lain weekly meeting, pendekatan personal, menyediakan tools dan resource, mendorong peer support atau dukungan antar teman, serta intervensi struktural institusional seperti retreat penulisan, workshop metodologi, bimbingan terstruktur, dan forum diskusi secara rutin.

Dalam sesi tanya jawab, seorang dosen mengajukan pertanyaan mengenai keterbatasan pembimbing dalam memberikan dukungan di luar hal teknis, misalnya ketika mahasiswa memiliki masalah keluarga. Dosen tersebut mengungkapkan kekhawatirannya bahwa empati yang diberikan tanpa aksi nyata dapat menjadi toxic positivity. Menjawab pertanyaan ini, narasumber menjelaskan bahwa memang sebagai pembimbing tidak bisa masuk ke ranah personal mahasiswa. Namun, pembimbing dapat mengakui permasalahan tersebut dengan mengingatkan mahasiswa bahwa jika skripsi tidak diselesaikan, hal itu hanya akan menambah masalah baru. Narasumber menyarankan agar dosen menyampaikan kepada mahasiswa bahwa ia ingin membantu menyelesaikan masalah skripsi tersebut sambil tetap menemani mahasiswa dalam prosesnya. Pertanyaan lain muncul mengenai mahasiswa yang tidak mau bertemu sama sekali karena berada di luar pulau dan tidak mau mengikuti bimbingan online. Narasumber menyarankan agar pihak kampus melibatkan orang tua jika permasalahan sudah lebih lanjut, terutama dalam bentuk surat peringatan.

Sesi kedua workshop ini diperuntukkan bagi mahasiswa dengan topik menyelesaikan skripsi tanpa burn-out, yang disampaikan oleh narasumber yang sama secara online. Materi dalam sesi ini disajikan lengkap melalui file presentasi yang dibagikan kepada peserta. Narasumber memberikan berbagai tips dan strategi bagi mahasiswa untuk menjaga kesehatan mental selama proses pengerjaan skripsi, menghindari rasa lelah berlebihan, serta tetap produktif tanpa mengorbankan kesejahteraan psikologis. Sesi ini juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab di mana mahasiswa dapat berkonsultasi langsung mengenai kendala yang mereka hadapi.

Workshop ditutup dengan acara penyerahan sertifikat apresiasi kepada narasumber sebagai tanda terima kasih atas partisipasi dan ilmu yang telah dibagikan. Secara keseluruhan, workshop bimbingan dan konseling yang berlangsung selama lima hari ini diharapkan dapat membantu dosen dan mahasiswa Program Studi Sastra Jepang dalam menghadapi tantangan penyelesaian skripsi, baik dari sisi teknis maupun psikologis, serta memperkuat kerjasama positif antara kedua hal tersebut.


Thursday, April 16, 2026

FIB Unud Sosialisasikan Program Fast Track: Dorong Mahasiswa Raih Dua Gelar dalam Lima Tahun

 


Denpasar, 17 April 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melaksanakan sosialisasi yang membahas mengenai pengenalan program akselerasi S1 ke S2 yang terlaksana secara daring melalui Zoom Meeting. Sosialisasi ini dihadiri oleh jajaran dekanat, para koordinator program studi S1dan dosen di lingkungan FIB Unud, serta mahasiswa semester 2, 4, dan 6 di lingkungan FIB Unud.

Mengawali sosialisasi, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan FIB Unud memaparkan bahwa lahirnya program ini bukan sekadar tawaran pemotongan masa studi. Secara institusional, Fast Track merupakan mandat dari Peraturan Rektor (Pertor) untuk mendongkrak pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 1 Universitas Udayana, yakni persentase lulusan sarjana yang langsung melanjutkan studi. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa mahasiswa yang akan mengikuti program fast track harus berusaha ekstra keras, mengingat mahasiswa yang mengikuti program ini akan menjalankan kuliah paralel dengan menghabiskan sisa SKS di semester 7 dan 8 sekaligus mengikuti kuliah magister.

Melanjutkan sosialisasi, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. menjelaskan mengenai detail dari program fast track ini. Dalam program akselerasi ini mahasiswa dituntut untuk memenuhi serangkaian persyaratan yang sangat ketat. Syarat mutlak yang tidak dapat ditawar adalah asas linieritas keilmuan; mahasiswa Program Studi Sastra diwajibkan melanjutkan ke Magister Linguistik, sedangkan mahasiswa Prodi Non-Sastra diarahkan ke Magister Kajian Budaya. 

Secara spesifik, pendaftaran yang dibuka pada 11 Mei hingga 5 Juni 2026 ini ditujukan bagi mahasiswa aktif Semester 6 yang telah menempuh dan lulus minimal 110 SKS dengan nilai sekurang-kurangnya B pada akhir Semester 5. Pendaftar juga diwajibkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,25, mengantongi skor kemampuan Bahasa Inggris dari UPT Bahasa Unud minimal 475, serta melampirkan surat rekomendasi dari dua dosen bergelar Doktor. Dari segi administrasi, mahasiswa harus menyertakan surat persetujuan finansial dari orang tua atau wali, menandatangani pakta kesanggupan menyelesaikan program tepat waktu, dan melunasi biaya seleksi pada saat pendaftaran.

Dekan FIB Unud menekankan bahwa setelah mahasiswa resmi lulus ujian skripsi dan mendapatkan gelar Sarjana, mereka akan memasuki semester sembilan dan sepuluh untuk berfokus penuh pada penyusunan tesis dengan kewajiban membayar UKT S2 sebesar 100 persen yang sebelumnya membayar UKT S1 secara full dan 50% UKT S2 selama kuliah paralel (semester 7 dan 8) . Untuk menunjang percepatan studi ini, pihak fakultas sangat menyarankan agar topik skripsi S1 diangkat dari fondasi penelitian yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi tesis di jenjang Magister.

Sesi tanya jawab menyoroti tiga polemik utama. Pertama, dekanat menolak keras wacana lintas fakultas karena asas linieritas adalah syarat mutlak; lulusan rumpun sastra wajib ke Magister Linguistik dan non-sastra ke Kajian Budaya. Kedua, terkait keluhan sulitnya memenuhi syarat minimal 110 SKS untuk kurikulum prodi tertentu. Fakultas menyatakan aturan tersebut merujuk kaku pada draf rektorat sehingga mahasiswa dihimbau mengakali dengan mengambil 24 SKS sejak semester awal. Terakhir, terkait kepastian potensi beasiswa maupun tagihan IPI, pihak fakultas belum bisa memberikan jawaban pasti karena masih menunggu pengesahan Peraturan Rektor.


Wednesday, April 15, 2026

FIB Unud Melaksanakan Pelepasan Calon Wisudawan Periode Ke-175

 

Denpasar, 16 April 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana  melaksanakan Pelepasan Calon Wisudawan Periode Ke-175 secara luring. Bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud, pelepasan ini dihadiri oleh jajaran dekanat, seluruh koordinator program Sarjana, Magister, dan Doktor di lingkungan FIB Unud, seluruh kepala unit di lingkungan FIB Unud, dan 53 calon wisudawan.

Mengawali rangkaian pelepasan, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerjasama dalam laporannya memaparkan bahwa terdapat 53 calon wisudawan yang akan dilepas kali ini, diantaranya 1 mahasiswa program Doktor Linguistik, 4 mahasiswa program Doktor Kajian Budaya, 1 mahasiswa program Magister Linguistik, 5 mahasiswa program Magister Kajian Budaya, 5 mahasiswa Program Sarjana Sastra Indonesia, 1 mahasiswa program Sarjana Sastra Jawa Kuno, 8 mahasiswa Program Sarjana Sastra Inggris, 6 mahasiswa program Sarjana Arkeologi, 5 mahasiswa Program Sarjana Ilmu Sejarah, 6 mahasiswa Program Sarjana Antropologi Budaya, dan 11 mahasiswa program Sarjana Sastra Jepang. Selanjutnya, beliau memaparkan 3 mahasiswa Doktor yang lulus dengan predikat Dengan Pujian, 2 mahasiswa Doktor lulus dengan predikat Sangat Memuaskan, 6 mahasiswa Magister lulus dengan predikat Sangat Memuaskan, 2 mahasiswa Sarjana lulus dengan predikat Dengan Pujian, 26 mahasiswa lulus dengan predikat Sangat Memuaskan, dan 14 mahasiswa lulus dengan predikat Memuaskan.

Rincian calon wisudawan terbaik dipaparkan oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Informasi, Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M. Si. Calon wisudawan terbaik dari program Sarjana diraih oleh Meutia Aulia Hakim, S.S. dari Program Studi Sastra Indonesia. Calon wisudawan terbaik dari program Magister diraih oleh Aura Alifia Asmarandana, S.Fil., M. Si. dari Magister Kajian Budaya, dan calon wisudawan terbaik dari program Doktor diraih oleh Dr. Fransiska Dewi Setiawati Sunaryo, S.S., M.Hum. dari Doktor Kajian Budaya.

Dalam pelepasan calon wisudawan kali ini, perwakilan lulusan sarjana dan alumni turut menyampaikan pesan reflektif. Mewakili sarjana, Meutia Aulia Hakim, S.S., menyampaikan apresiasi atas bimbingan sivitas akademika seraya menaruh harapan agar birokrasi fakultas ke depannya semakin inklusif dalam melahirkan kebijakan yang saling menguntungkan (win-win solution). Sementara itu, Dr. Made Narawati, S.Th., M.Si. sebagai perwakilan dari Program Studi Doktor secara khusus menyoroti dedikasi total para dosen dan staf tenaga kependidikan fakultas. Ia juga menitipkan pesan moral melalui akronim AKSARA, menyerukan agar gelar akademik tidak sekadar menjadi kebanggaan teoritis (nice to know), melainkan sebagai panggilan aksi (calling to action) untuk membawa perubahan nyata dan menyuarakan hak-hak kelompok marjinal di masyarakat.

Mengakhiri rangkaian pelepasan, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., menyampaikan ucapan selamat seraya menekankan pentingnya dedikasi tinggi bagi para lulusan. Melalui analogi perjuangan Thomas Alva Edison, beliau menegaskan bahwa kesuksesan sejati merupakan buah dari satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras. Senada dengan hal tersebut, Melanjutkan ucapan Dekan, Ketua Senat FIB Unud, Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., dalam refleksi 43 tahun pengabdiannya, mengingatkan bahwa pendidikan adalah instrumen mutlak untuk mengubah taraf kehidupan. Beliau memotivasi para lulusan untuk tidak cepat berpuas diri dan terus melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi guna meneruskan estafet kepemimpinan serta menjaga kejayaan fakultas di masa depan.


Gandeng EA Exchange, FIB Unud Siap Menerima Mahasiswa Internasional


Denpasar, 16 April 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menerima audiensi dari Europe and America Higher Education Exchange & Study Abroad Platform (EA Exchange) yang berbasis di Kanada dan Republik Rakyat Tiongkok. Bertempat di Ruang Dekan, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai I FIB Unud, audiensi ini dihadiri oleh Rossi Chu sebagai President of International Affairs EA Exchange, Charter Chen sebagai Vice President of International Affairs EA Exchange, Dekan FIB yaitu  Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A. Ph.D. yang didampingi  Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerjasama, Koordinator Kantor Urusan Internasional Unud yaitu Ni Putu Senja Pratiwi S.S, M.Hum, PhD. ,dan Koordinator UPIKS FIB Unud yaitu Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M.Hum., dan Drs. I Ketut Tika, M.A.  Kunjungan strategis ini bertujuan untuk membahas peluang kerja sama pengiriman mahasiswa internasional dari kawasan Amerika Utara, Eropa, dan Australia untuk menempuh studi selama satu semester di lingkungan Universitas Udayana.

Dalam pertemuan tersebut, Rossie Chu dan Carter Chen dari EA Exchange memaparkan rencana mereka untuk memfasilitasi mahasiswa asing mengikuti program pertukaran selama satu semester di Bali. Para mahasiswa ini ditargetkan untuk mengambil sekitar lima mata kuliah, di mana kredit akademiknya nanti dapat ditransfer kembali ke universitas asal mereka di Eropa, Amerika Utara, atau Australia. Inisiatif kerja sama ini didasari oleh daya tarik Bali yang tidak hanya unggul di sektor pariwisata, tetapi juga mampu menyediakan lingkungan akademik yang kondusif bagi mahasiswa asing. Selain itu, tingginya biaya pendidikan tahunan di universitas di Amerika Utara yang dapat mencapai 80.000 Dolar AS, ini menjadikan program pertukaran ke Asia sebagai alternatif studi yang jauh lebih terjangkau namun tetap memberikan pengalaman internasional yang berharga.

Merespons rencana dan penawaran tersebut, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A. Ph.D. selaku Dekan FIB Unud menawarkan skema kolaborasi yang lebih inovatif dan efisien melalui Cultural Immersion Program. Program unggulan ini telah didesain secara khusus oleh FIB Unud dan memiliki standar akreditasi internasional. Alih-alih merancang kurikulum baru dari nol, program satu semester ini dinilai sudah sangat siap mengakomodasi mahasiswa asing untuk menyelami kebudayaan Bali secara komprehensif melalui outdoor classes. Mahasiswa akan diajak melakukan observasi langsung ke berbagai lokasi sarat budaya, seperti kawasan agraris Jatiluwih, hingga mempelajari bahasa isyarat lokal di lapangan.

Selanjutnya, untuk menjamin kelancaran aktivitas outdoor classes, kedua belah pihak sepakat merumuskan skema pembiayaan terpadu yang transparan, mencakup biaya akademik dasar hingga operasional lapangan. Selain itu, standar keselamatan dan perlindungan hukum bagi mahasiswa internasional juga menjadi prioritas. EA Exchange memastikan bahwa setiap mahasiswa yang berpartisipasi diwajibkan memiliki asuransi internasional, serta akan menandatangani surat pelepasan tanggung jawab hukum (waiver) untuk memastikan pihak FIB Unud terbebas dari tuntutan terkait insiden di luar aktivitas akademik.

Sebagai langkah tindak lanjut, pihak FIB Unud didampingi oleh Kantor Urusan Internasional Unud akan segera merumuskan dokumen legalitas formal. Penyusunan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) akan diproses secara komprehensif di tingkat universitas, guna merealisasikan masuknya gelombang mahasiswa internasional ke FIB Unud di masa mendatang. Harapannya, penjajakan kerjasama ini dapat memperluas jangkauan internasionalisasi dan memperkuat posisi FIB Unud sebagai pusat studi budaya yang terakreditasi internasional. 


Monday, April 13, 2026

Menjembatani Masa Depan: SMAN 3 Sidoarjo Menjelajahi FIB Unud

 


Denpasar, 13 April 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menerima kunjungan dari SMAN 3 Sidoarjo. Bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala, kunjungan ini dihadiri oleh 143 peserta yang terdiri dari siswa kelas XI dan para guru pendamping. Kegiatan ini memiliki tujuan jangka panjang untuk meningkatkan persentase penerimaan lulusan SMAN 3 Sidoarjo di perguruan tinggi negeri pada tahun mendatang melalui berbagai jalur seleksi, seperti SNBP, SNBT, maupun jalur Mandiri.

Wakil Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) SMAN 3 Sidoarjo, Dr. Sri Wulandari, S.Pd., M.Pd.I. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan untuk mengenal Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana secara lebih dekat. Kunjungan langsung ke lokasi ini dinilai sangat esensial guna melengkapi informasi dari internet, sehingga para siswa dapat melihat secara nyata mengenai program studi, mata kuliah, dan arah program akademik agar tidak salah dalam menentukan pilihan studi. 

Kunjungan ini disambut oleh Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M.Hum. selaku Koordinator Unit Pelayanan Informasi dan Kerja Sama (UPIKS) FIB Unud serta Dr. Ni Ketut Widhiarcani Matradewi, S.S., M.Hum. selaku Koordinator Unit Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (UP3M) FIB Unud. Keduanya memaparkan sejarah dan keunikan FIB Unud sebagai fakultas pertama di Universitas Udayana, yang pada awal berdirinya merupakan cabang dari Universitas Airlangga. Penjelasan dilanjutkan dengan pengenalan fasilitas di Kampus Nias dan Jimbaran, delapan program studi sarjana di bawah naungan FIB Unud, serta prospek karier yang menjanjikan bagi para lulusannya.

Sebagai representasi komitmen terhadap mutu pendidikan berstandar global, turut disoroti pencapaian membanggakan dari tiga program studi, yakni Sastra Inggris, Sastra Jepang, dan Sastra Indonesia, yang telah sukses meraih akreditasi internasional dari Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA). Mengakhiri pemaparan, dijelaskan pula mengenai berbagai wadah organisasi yang dinaungi oleh FIB Unud, meliputi BPM FIB, SMFIB, himpunan mahasiswa di masing-masing prodi, hingga ragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) akademik maupun non-akademik.

Sesi pemaparan dilanjutkan dengan diskusi antusiasme dari para siswa SMAN 3 Sidoarjo, khususnya terkait strategi seleksi mahasiswa baru. Menjawab pertanyaan mengenai Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), beliau menyarankan agar siswa tidak hanya mengandalkan nilai rapor, tetapi turut melampirkan sertifikat prestasi guna meningkatkan daya saing. Adapun terkait pertanyaan mengenai jalur khusus bagi pengurus organisasi seperti Ketua OSIS, pihak fakultas menegaskan bahwa seluruh regulasi penerimaan mahasiswa baru sepenuhnya berada di ranah Rektorat. Oleh karena itu, para siswa diarahkan untuk memantau pembaruan informasinya secara berkala melalui situs resmi PMB Universitas Udayana.

Sesi penutup, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi penyerahan cendera mata oleh kedua belah pihak sebagai simbol jalinan silaturahmi yang baik antara SMAN 3 Sidoarjo dan FIB Unud. Momen kebersamaan tersebut kemudian diabadikan melalui sesi foto bersama. Setelah itu, para siswa diajak untuk melakukan peninjauan langsung ke lingkungan kampus. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya diperkenalkan dengan berbagai fasilitas akademik dan gedung perkuliahan, tetapi juga berkesempatan mengunjungi Unit Lontar Udayana. Kunjungan ke unit pelestarian ini memberikan pengalaman edukatif bagi para siswa untuk melihat secara langsung proses konservasi naskah-naskah kuno, yang sekaligus merepresentasikan komitmen FIB Unud dalam merawat dan mengkaji warisan budaya Nusantara.


Saturday, April 11, 2026

Manfaatkan Bahasa Inggris untuk Promosi Desa: Mahasiswa Sastra Inggris Unud Resmi Memulai Bina Desa di Senganan Kanginan

 


Pada hari Sabtu, 11 April 2026, tim Bina Desa Senganan Kanginan Universitas Udayana melaksanakan pembukaan Bina Desa Senganan Kanginan sebagai bagian dari program Kampus Berdampak Universitas Udayana. Bertempat di Wantilan Desa Senganan, Kabupaten Tabanan, kegiatan ini dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan, perwakilan Babinsa dan Bhabinkamtibnas Desa Senganan, Prajuru Adat Senganan Kanginan, perwakilan Bendesa Adat Senganan Kanginan, Kepala Wilayah Banjar Adat Senganan Kanginan, Sekretaris Desa Senganan, Ketua Presiki Darma Sentana Senganan Kanginan, dan Ketua Sekaa Truna Giri Kusuma.

Mengawali rangkaian pembukaan, I Kadek Dwi Widya Nugraha selaku Wakil Ketua Tim memaparkan bahwa menjelaskan bahwa Bina Desa merupakan bagian dari program Kampus Berdampak yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berkolaborasi langsung dengan masyarakat dalam menggali serta mengangkat potensi desa yang belum terjamah secara optimal. Melalui program kerja yang telah dikurasi, tim Bina Desa Senganan Kanginan berkomitmen untuk mempromosikan keunikan dan keramah-tamahan Desa Senganan Kanginan ke kancah nasional maupun internasional.

Melanjutkan sambutan, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sekaligus Koordinator Program Studi Sastra Inggris Universitas Udayana, Dr. I Gusti Ngurah Parthama, S.S., M.Hum., secara resmi menyerahkan para mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan Bina Desa di Desa Senganan Kanginan dari bulan April hingga Juni 2026. Beliau menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari implementasi kurikulum yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat melalui program kerja berbasis digital serta pendampingan pengajaran bahasa Inggris.

Sekretaris Desa Senganan mewakili Perbekel Desa Senganan, I Wayan Supartika menyoroti secara khusus latar belakang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan mahasiswa Bina Desa yang berasal dari Program Studi Sastra Inggris Universitas Udayana. Beliau mendorong para mahasiswa untuk mengoptimalkan bidang keilmuan tersebut dengan menciptakan inovasi promosi potensi budaya dan adat desa menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Langkah ini ditekankan sebagai strategi yang sangat tepat untuk memperluas jangkauan promosi Desa Senganan Kanginan, terlebih karena lokasinya yang berdekatan dengan destinasi wisata Jatiluwih.

Mengakhiri sambutan, perwakilan Bendesa Desa Adat Senganan Kanginan menyampaikan ucapan selamat datang dan rasa bangga atas terpilihnya wilayah mereka sebagai lokasi pelaksanaan program Bina Desa pada tahun ini. Beliau memberikan apresiasi yang tinggi terhadap inisiatif para mahasiswa untuk terjun langsung dan membaur bersama warga setempat. Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi para mahasiswa untuk mengimplementasikan serta mendedikasikan ilmu yang telah mereka peroleh di bangku perkuliahan agar dapat memberikan manfaat nyata di tengah masyarakat Desa Adat Senganan Kanginan.

Bina Desa Senganan Kanginan resmi dibuka dengan pemukulan gong oleh Sekretaris Desa Senganan yang mewakili Perbekel Desa Senganan. Mengakhiri pembukaan, I Kadek Dwi Widya Nugraha selaku Wakil Ketua Tim dan Ni Kadek Karista Denianti selaku Sekretaris Tim memaparkan program kerja Tim Bina Desa Senganan Kanginan, diantaranya E-Seng (English in Senganan), yaitu program pengajaran bahasa Inggris rutin mingguan bagi anak-anak tingkat SD dan SMP. Kedua, Senganan in Frame (SIF), yakni pembuatan film dokumenter yang menyoroti potensi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat. Ketiga, pembuatan video profil desa guna meningkatkan visibilitas Desa Senganan Kanginan di media sosial. Terakhir, program pengadaan barang berupa peralatan kebersihan dan perlengkapan keagamaan untuk menunjang kebutuhan esensial desa. 

Harapannya, pelaksanaan Bina Desa Senganan Kanginan mampu menjadi program yang keberlanjutan di masa mendatang dan mengimbau para mahasiswa untuk terus menjaga komunikasi serta koordinasi yang solid dengan perangkat kewilayahan, seperti Kepala Wilayah (Kawil) dan perwakilan desa adat, agar inisiatif ini dapat sukses dan menjadi percontohan bagi wilayah lain di Senganan.

Friday, April 10, 2026

Sinergi Mahasiswa dan Masyarakat: Pembukaan Program Bina Desa Unud 2026 di Pedungan


 

Pada hari Jumat, 10 April 2026, tim Bina Desa Pedungan Universitas Udayana melaksanakan pembukaan Bina Desa Pedungan Kampus Berdampak Universitas Udayana 2026. Bertempat di Ruang Pertemuan Kelurahan Pedungan, kegiatan ini dihadiri oleh Dosen Pendamping Lapangan, perwakilan Linmas, Pecalang Desa, Bendesa Adat, Kepala Lingkungan dari tiap lingkungan di Desa Pedungan, staf Kelurahan, dan Sekretaris Desa Pedungan.

Mengawali kegiatan, I Gusti Agung Ngurah Gorda selaku Koordinator Desa melaporkan bahwa rencana pelaksanaan kegiatan Bina Desa akan berlangsung selama empat bulan, terhitung dari bulan April hingga Juli 2026. Mengusung tema yang berfokus pada pelestarian lingkungan, program ini bertujuan untuk mengajak warga menjaga alam sebagai sumber kehidupan sekaligus memberdayakan masyarakat melalui langkah-langkah yang nyata dan berdampak. 

Bendesa Desa Adat Pedungan, I Ketut Dantara sangat menyambut baik dan mengapresiasi kehadiran mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana yang telah melaksanakan program pengabdian masyarakat melalui kegiatan Bina Desa di wilayah Pedungan serta berharap kepada tim Bina Desa Pedungan agar dapat membantu pihak kelurahan mensosialisasikan mengenai pemilahan sampah ke masyarakat.

Melanjutkan rangkaian acara, I Gusti Ngurah Mayun Susandhika, S.S., M.Hum., selaku Dosen Pendamping Lapangan (DPL), menaruh harapan besar agar kegiatan Bina Desa ini mampu menciptakan sinergi yang positif dan kolaboratif antara pihak Desa Adat Pedungan dengan para mahasiswa. Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa program ini merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada pilar pengabdian kepada masyarakat. 

Mengakhiri sambutan, I Wayan Diana selaku Sekretaris Lurah Pedungan menaruh harapan besar agar Bina Desa ini dapat berdampak positif dan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat di lingkungan Desa Pedungan. Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan mengucapkan terima kasih kepada Bendesa Adat serta para Kepala Lingkungan atas sinergi yang terjalin erat antara pihak pemerintahan kelurahan dan desa adat dalam mendukung kesuksesan kegiatan pengabdian ini.

Puncak rangkaian pembukaan Bina Desa Pedungan ditandai dengan pengalungan name tag kepada perwakilan peserta Bina Desa Pedungan oleh Bendesa Adat Pedungan dan Sekretaris Lurah Pedungan. Pemaparan program kerja utama untuk Kelurahan Pedungan tahun 2026 dilanjutkan oleh Koordinator Desa. Program unggulan di bidang lingkungan difokuskan pada sosialisasi dan demonstrasi pembuatan eco-enzyme bagi masyarakat banjar dan siswa SMP, yang puncaknya akan ditandai dengan panen dan penebaran cairan tersebut ke aliran sungai setempat. Di sektor pendidikan, mahasiswa menyasar siswa SD melalui pengajaran interaktif Bahasa Inggris dan Jepang, edukasi biopori, serta kegiatan P5 berupa pembuatan potpourri dari bahan alami. Guna mempererat sinergi dengan warga, tim juga akan membaur dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada, seperti kerja bakti dan pelayanan posyandu.

Harapannya, pelaksanaan Bina Desa Pedungan ini dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk terjun langsung memahami dinamika masyarakat, sekaligus menghadirkan program kerja yang kebermanfaatannya dapat dirasakan secara nyata dan berkelanjutan oleh warga desa.


Kelompok 23 Bina Desa 2026 Melaksanakan Pembukaan Program Bina Desa di Desa Taro, Tegallalang, Gianyar

 


Gianyar, 10 April 2026 — Kelompok 23 Bina Desa yang terdiri atas 15 anggota dari program studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, secara resmi melaksanakan pembukaan sebagai awal dari terlaksananya kegiatan Kampus Berdampak Bina Desa. Acara tersebut dilaksanakan pada Wantilan Pura Agung Gunung Raung dan dihadiri oleh Dr. Galuh Febri Putra, M.A. selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), I Wayan Warka selaku Kepala Desa Taro, Ketua Pengelola Desa Wisata Taro, Bendesa Adat Taro Kaja, Klian Banjar Dinas (KBD) se-desa Taro, perwakilan Bimas dan Babinsa, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD),  perwakilan Karang Taruna, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), perwakilan puskesmas, serta anggota kelompok sekaligus panitia acara.

Acara diawali oleh sambutan dari Fransiska Oktafian selaku Ketua Kelompok Bina Desa Taro sekaligus Koordinator Desa. Beliau menyampaikan rasa terima kasih pada pihak-pihak desa yang telah menyambut kehadiran mereka di Desa Taro dengan baik dan telah berkenan hadir pada acara pembukaan. Beliau juga menjelaskan bahwa Bina Desa merupakan salah satu program dari Kampus Berdampak yang berlangsung selama kurang lebih 4 bulan dan berharap pihak-pihak desa ikut bekerja sama untuk membantu kelancaran  pelaksanaannya.

Dr. Galuh Febri Putra, M.A. selaku DPL turut menyampaikan rasa terima kasih atas kerjasama pihak Desa Taro. Beliau menjelaskan bahwa fokus dari kegiatan bina desa ini adalah meningkatkan rekognisi global dari Desa Taro melalui program-program kerja yang akan dilaksanakan nanti. Menurutnya, selain Ubud, masyarakat lokal maupun internasional juga harus tahu bahwa ada Desa Taro sebagai bagian dari Gianyar. Potensi Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia yang dimilikinya berlimpah sehingga Desa Taro pantas untuk mendapat perhatian lebih dari publik.

Kepala Desa dari Desa Taro, I Wayan Warka, menanggapi sambutan DPL dengan menyatakan bahwa memang Desa Taro merupakan desa tertua di Bali yang secara historis sudah dihuni oleh kira-kira 11.000 penduduk. Sehingga, tatanan masyarakat, budaya kultural, pura-pura sakral, hingga tempat-tempat wisata yang ada sudah sejak lama terbangun. Sebagai awal dari tradisi subak atau irigasi di Bali, Desa Taro pun dihuni oleh masyarakat yang hampir 70% profesinya petani. Beliau berharap kehadiran mahasiswa dari Universitas Udayana dapat membantu lebih banyak orang mengenal Desa Taro, juga dapat memberikan dampak yang tetap bermanfaat dan dirasakan oleh Desa Taro meskipun program Bina Desa Taro ini selesai setelah beberapa bulan.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan singkat program kerja Bina Desa Taro 2026 yang dipaparkan oleh Ketua dan Wakil Ketua Kelompok. Judul dari proposal Bina Desa Taro adalah “Penguatan Kapasitas SDM dan Media Promosi dalam Mendukung Pengembangan Desa Wisata Taro” dengan 4 program yang akan dilaksanakan, yaitu; Digi-Taro (Digitalisasi Promosi Desa Wisata Taro) yang dinaungi oleh Divisi Publikasi; Tour-Eng (Tourism English) yang dinaungi oleh Divisi Akademik; WARSA (Warisan Sejarah) yang dinaungi oleh Divisi Non-Akademik; dan SAPTA (Sarana Pariwisata Tertata Taro) yang dinaungi oleh Divisi Sarana dan Prasarana. Ketua Pengelola Desa Taro pun memberi saran untuk mencatat warisan-warisan sejarah dari setiap dusun atau banjar yang ada di Desa Taro, karena bagian tersebut lah yang belum pernah tercatat sebelumnya.

Pembukaan kemudian dilakukan secara simbolis dan resmi dengan penyematan jas almamater oleh Kepala Desa Taro kepada perwakilan kelompok Bina Desa Taro 2026. Acara kemudian diakhiri dengan foto bersama antara kelompok bina desa, DPL, serta seluruh pihak-pihak desa yang telah hadir.


FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...