Thursday, August 13, 2026

Meneliti Terjemahan Istilah Teknologi Informasi , Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud Luluskan Doktor ke-289


Program Studi Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan Doktor baru pada Sidang Ujian Terbuka yang terlaksana di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud pada Jumat, 14 Agustus 2026. Promovenda atas nama Sri Widiastutik, S.S., M.Hum. berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Terjemahan Terminologi Teknologi Informasi dalam Buku Teks Electronics A First Course” serta meraih predikat “Sangat Memuaskan”. Melalui sidang yang dihadiri oleh keluarga dan para rekan sejawat Promovenda. Promovenda menjadi Doktor ke-289 di Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud.

Keberhasilan Promovenda dalam mempertahankan risetnya tentu tidak lepas dari arahan dan evaluasi dewan penguji. Sidang ujian terbuka ini diketuai oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. dan didampingi oleh Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. sebagai Promotor, Prof. Dr. Drs. I Made Rajeg, M.Hum. sebagai Kopromotor 1, dan Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M.Hum. sebagai Kopromotor 2. Adapun tim penguji yang menemani para pimpinan sidang diantaranya :Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sukarini, M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Dra. Luh Putu Laksminy, M.Hum., Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., dan Prof. Dr. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, S.S., M.Hum. sebagai penguji eksternal dari Uniiversitas Mahasaraswati Denpasar.

Di hadapan para anggota penguji, Promovenda memaparkan bahwa penelitian disertasinya dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi global yang kerap memicu inkonsistensi penggunaan istilah di Indonesia, dan berujung pada maraknya adopsi langsung dan transferensi istilah asing akibat belum tersedianya padanan kata yang akurat. Oleh karena itu, penelitian ini hadir menyoroti urgensi untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan bahasa formal, yakni pedoman pembentukan istilah dari Badan Bahasa dengan dinamika dan realitas komunikasi praktis yang digunakan oleh masyarakat dalam ekosistem digital.

Menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memadukan berbagai sumber data (triangulasi) guna memastikan keakuratan hasilnya. Fokus utamanya adalah mengkaji berbagai bentuk kata teknis TI dari buku teks, mulai dari kata dasar, kata turunan, nama merek, hingga singkatan. Untuk memastikan bahwa hasil analisis tersebut teruji di dunia nyata, peneliti mengujinya kembali menggunakan pangkalan data bahasa digital atau korpus. Langkah ini dilakukan agar peneliti dapat melihat dan mengukur secara langsung seberapa sering sebuah istilah benar-benar dipakai dan seberapa jauh masyarakat bisa menerimanya dalam komunikasi sehari-hari. 

Melalui serangkaian pengujian, temuan penelitian ini membuktikan bahwa masyarakat luas tidak serta-merta menggunakan sebuah istilah TI hanya karena istilah tersebut sudah patuh pada aturan baku tata bahasa. Faktor yang justru lebih menentukan adalah seberapa sepadan istilah tersebut terhadap pemahaman masyarakat terhadap fungsi asli teknologinya. Sebagai bukti, kata baru seperti "daring", "luring", dan "ponsel" berhasil populer di tengah masyarakat. Hal ini berbanding terbalik dengan istilah yang sangat baku seperti "tetikus" (untuk mouse) atau "waring wera wanua" (untuk world wide web) yang justru jarang dipakai. Sebagai jalan keluar, penelitian ini menawarkan cara penerjemahan baru, yakni dengan menyandingkan istilah asing dan padanannya secara bersamaan, misalnya melalui penggunaan tanda kurung. Cara ini dinilai paling efektif untuk menjaga keutuhan makna aslinya sekaligus membuatnya lebih mudah dipahami oleh pengguna di Indonesia. 

Pemaparan hasil tersebut kemudian memantik diskusi mendalam pada sesi tanya jawab yang menyoroti tiga poin utama. Pertama, Promovenda menjelaskan bahwa kata kerja (verba) tidak diteliti karena masyarakat lebih sering menggunakan kata benda (nomina) dalam komunikasi digital sehari-hari, sehingga pemaksaan istilah asing menjadi kata kerja bahasa Indonesia (misalnya "dicampur") justru membuat kata tersebut menjadi panjang dan tidak efisien. Kedua, terkait kebaruan penelitian (research gap), disertasi ini dinilai lebih unggul dari kajian sebelumnya karena tidak sekadar mengandalkan kuesioner dari responden, melainkan telah menggunakan pangkalan data bahasa digital (korpus) yang lebih luas dan akurat. 

Terakhir, untuk cara mengukur kualitas terjemahan, Promovenda memaparkan bahwa ia membandingkan Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) dengan data pemakaian nyata di masyarakat. Hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa meskipun kata baku seperti "tetikus" atau "hipertaut" sudah benar secara aturan resmi, istilah tersebut nyatanya tidak laku dan jarang dipakai oleh masyarakat dibandingkan istilah bahasa Inggrisnya. 

Sebagai penutup, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., selaku Promotor, menyampaikan pesan dan harapan besarnya kepada Promovenda. Ia menitipkan mandat agar sebagai Doktor baru segera menjalin kerja sama strategis dengan instansi terkait, khususnya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Langkah sinergis ini didorong agar hasil penelitian disertasi yang telah dikerjakan dengan penuh dedikasi tersebut dapat memberikan masukan praktis bagi standardisasi bahasa Indonesia. 


No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...