Tuesday, August 18, 2026

Merawat Ingatan Bangsa: Kesaksian Veteran di HUT ke-62 Ilmu Sejarah Unud

 


Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Udayana pada Selasa (18/8/2026) diwarnai dengan momen reflektif yang mendalam. Melalui sesi Talkshow Veteran yang dimoderatori oleh I Kadek Surya Jayadi, M.A., sivitas akademika diajak menyelami langsung memori kolektif masa revolusi fisik bersama Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bali, I Gusti Bagus Saputera. Pria berusia 96 tahun tersebut membagikan kesaksian otentiknya sebagai mantan prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang pernah berjuang di bawah komando Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai. 

Saputera mengenang sosok I Gusti Ngurah Rai sebagai pemimpin yang religius, demokratis, berwawasan luas, dan pantang menyerah. Ia bersaksi bagaimana Ngurah Rai selalu menyempatkan diri bersembahyang sebelum bertempur dan konsisten antara perkataan dan perbuatan. Secara lugas, Saputera melafalkan ulang isi surat balasan Ngurah Rai yang menolak tegas ajakan perundingan dari Belanda, sebagai sebuah korespondensi historis yang menegaskan bahwa urusan keamanan Bali adalah tanggung jawab pejuang, dan penyelesaian diplomatik diserahkan sepenuhnya kepada para pemimpin Republik di Jawa.

Tidak hanya bernostalgia, Saputera juga memanfaatkan forum tersebut untuk meluruskan narasi sejarah yang simpang siur. Menjawab pertanyaan akademisi terkait desas-desus bahwa Puri Pemecutan berniat membunuh Ngurah Rai pada masa revolusi, Saputera dengan tegas membantahnya. Ia meyakini klaim tersebut mustahil terjadi dan murni merupakan taktik divide et impera (adu domba) dari pihak kolonial untuk memecah belah kekuatan perjuangan rakyat Bali.

Sebagai saksi hidup yang merasakan pahit getirnya masa penjajahan, sang veteran menitipkan pesan mendalam bagi para generasi penerus yang memadati Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno. Ia mendesak generasi muda untuk terus mempertahankan nilai-nilai dasar Pancasila dan UUD 1945, serta merawat semangat patriotisme, solidaritas, dan kerelaan berkorban demi memajukan bangsa. 

Ketika ditanya mengenai rahasia kebugarannya di usia yang hampir mencapai satu abad, Saputera membagikan prinsip hidup yang sederhana namun sarat makna. "Rajin berdoa, selalu berlaku jujur, dan hiduplah agar bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya.

Kehadiran I Gusti Bagus Saputera menjadi pengingat yang berharga bagi sivitas akademika Universitas Udayana. Dari sekitar 25.000 pejuang kemerdekaan di Bali pada masa awal revolusi, saat ini hanya tersisa 1.236 veteran di bawah naungan LVRI Bali, dengan banyak di antaranya yang sudah mengalami penurunan kondisi kesehatan. Hal ini semakin menegaskan pentingnya upaya mendokumentasikan sejarah lisan agar memori kolektif bangsa tidak ikut pudar ditelan zaman.


No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...