Thursday, September 17, 2026

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

 



Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguistik Berseri (KELIR) pada Kamis (17/9/2026) di Aula Widya Sabha Mandala FIB Denpasar. Sebagai ajang yang baru pertama kali diselenggarakan, KELIR Seri 1 ini mengangkat tajuk utama "Dinamika Bahasa Bali dalam Konteks Lokal, Global, dan Kekuasaan" di bawah payung tema besar "Cultivating Balinese: Weaving A Future of Balinese Language and Culture". Acara yang menyoroti pergeseran paradigma dalam memandang eksistensi bahasa Bali sebagai fondasi relasional dan kebudayaan ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan, Guru Besar, Koordinator Program Studi, dan pejabat struktural di lingkungan FIB Unud maupun fakultas lainnya, perwakilan Dinas Kebudayaan serta Balai Bahasa Provinsi Bali, delegasi pimpinan dari berbagai perguruan tinggi mitra (seperti Undiksha, UHN, Universitas PGRI Mahadewa, dan STKIP/Fakultas Dharma Acarya), beserta seluruh jajaran pengisi acara, akademisi, peneliti, dan mahasiswa. 

Dalam laporannya, Ketua Panitia KELIR, Dr. Sang Ayu Isnu Maharani, S.S., M.Hum. menekankan bahwa forum ini adalah ruang perjumpaan berbagai gagasan dan pengalaman akademik. Ia juga menyoroti hakikat bahasa daerah bagi masyarakat. "Bahasa Bali bukan sekadar kata, bahasa Bali bukan sekadar tata bahasa, bahasa Bali adalah cara kita menempatkan diri di antara sesama," ungkapnya. Ia mencatat kolokium perdana ini dihadiri oleh 150 tamu undangan dan peserta mulai dari mahasiswa, akademisi, hingga pemangku kebijakan bahasa di Bali, yang membuktikan bahwa ruang akademik tidak pernah ditutup dengan pagar institusi.

Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. dalam sambutannya memaparkan dinamika teori linguistik dan antropologi terkait bagaimana bahasa memengaruhi cara berpikir. Ia menegaskan bahwa mengkaji bahasa Bali tidak cukup dari struktur semantik kalimatnya saja, melainkan harus melampaui aspek pragmatik dan sosial budaya. Ia mengapresiasi inisiatif Program Studi S3 Linguistik yang telah menyelenggarakan kegiatan perdana ini dan menghadirkan narasumber unggul yang ia sebut sebagai "the sharpest and finest minds of FIB".

Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. Dalam pidato pembukaannya, Rektor menyoroti tantangan eksistensi bahasa Bali di tengah disrupsi teknologi dan era komunikasi digital yang membuat generasi muda terbiasa hidup multilingual. Bagi Rektor, perguruan tinggi memegang peran krusial tidak hanya untuk menguji asumsi dan mencetak publikasi, tetapi juga untuk memastikan luaran tersebut berdampak nyata secara sosial, ekonomi, dan lingkungan.

"Oleh karena itu saya selalu bilang bahwa ada tagline 'rooting in cultural, competing globally'. Kita berakar pada budaya kita, budaya Nusantara, budaya Bali, dan kita berkompetisi secara global," tegas Prof. Sudarsana.

Sesudah dibuka secara resmi, rangkaian kolokium ini dilanjutkan dengan pemaparan materi dari kurator, pemantik, serta pembahas, sebelum akhirnya ditutup dengan pembacaan hasil rumusan. Seluruh alur diskusi yang membedah dinamika bahasa dan budaya Bali ini dipandu langsung oleh Prof. Dr. Ni Luh Nyoman Seri Malini, S.S., M.Hum. selaku moderator.

Kolokium ini dibuka oleh Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. selaku kurator yang menekankan pentingnya Lanskap Linguistik (LL) sebagai cerminan identitas budaya di ruang publik era globalisasi. Penggunaan bahasa Bali pada papan nama atau tanda publik bukan sekadar sarana informasi, melainkan simbol eksistensi, interaksi sosial, dan wujud nyata keberhasilan kebijakan pelestarian bahasa di tengah kuatnya arus modernitas.

Gagasan ini diperluas oleh Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. selaku pemantik, yang menyoroti pergeseran ruang publik bahasa Bali ke ranah digital melalui Literary Landscape. Beliau menepis pesimisme wacana kepunahan bahasa Bali dengan membuktikan tingginya gairah generasi muda yang adaptif memanfaatkan media sosial, televisi, dan platform digital untuk terus mengekspresikan sastra serta budaya Bali modern.

Dari kacamata linguistik, Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S. memaparkan bahwa eksistensi bahasa Bali kini berada pada tingkat berisiko (level 2) akibat penyempitan ranah penggunaan yang terdesak bahasa nasional dan asing. Menghadapi tantangan tersebut, beliau mendorong penguatan pendekatan linguistik kultural—yang memandang bahasa sebagai penyimpan memori dan citra budaya masyarakatnya—untuk menjadi pijakan dalam riset, pendokumentasian, dan penyusunan kamus bahasa Bali.

Mengakhiri diskusi dari perspektif budaya, Prof. Dr. Drs. A.A. Ngurah Anom Kumbara, M.A. menegaskan bahwa pelestarian bahasa Bali tidak boleh berhenti pada sekadar kegiatan seremonial. Budaya harus terus dirawat (cultivating) dan dijalin (weaving) agar menjadi ruang hidup yang nyata sehari-hari, termasuk perlunya memaknai ulang tata krama anggah-ungguhing basa agar lebih setara dan inklusif sehingga generasi muda tidak takut untuk mempraktikkan bahasanya.

Sebagai muara dari seluruh rangkaian diskusi, tim perumus kolokium yang terdiri atas Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si. dan Dr. Drs. I Wayan Suardiana, M.Hum., menetapkan beberapa poin strategis sebagai atas Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si. dan Dr. Drs. I Wayan Suardiana, M.Hum., menetapkan beberapa poin strategis sebagai cetak biru pelestarian bahasa dan budaya Bali. Eksistensi bahasa Bali ditegaskan harus terus diperluas ruang hidupnya secara adaptif, baik melalui penguatan Lanskap Linguistik di fasilitas publik maupun penjajakan Literary Landscape di ranah virtual untuk mewadahi kreativitas sastra era digital. Merespons posisi bahasa Bali yang secara linguistik berada pada tingkat berisiko, rumusan ini juga mendesak adanya riset lanjutan, pendokumentasian komprehensif, serta penyusunan kamus berbasis linguistik kultural demi menjaga citraan mental dan memori masyarakat. Pada akhirnya, gerakan pelestarian mutlak harus bergeser dari sekadar formalitas seremonial menuju praktik penanaman (cultivating) di ruang kehidupan yang nyata, dengan mengedepankan tata krama anggah-ungguhing basa yang lebih setara dan inklusif agar generasi muda memiliki ruang aman untuk kembali mempraktikkan bahasa ibunya.



Friday, September 11, 2026

KUI dan BIPAS FIB Unud Gelar Pengabdian Internasional "Global Classroom" di SDN 3 Sesetan

 


Kantor Urusan Internasional Universitas Udayana (KUI Unud) bekerjasama dengan Bali International Program on Asian Studies Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (BIPAS FIB Unud) melaksanakan pengabdian masyarakat internasional dengan tema “Global Classroom and Cross-Cultural Learning” pada Sabtu, 12 September 2026. Pengabdian yang bertempat di SDN 3 Sesetan dan menyasar siswa kelas 6 SD ini dihadiri langsung oleh belasan mahasiswa BIPAS FIB Unud, para perwakilan dan volunteer dari KUI Unud, dan didampingi oleh guru-guru setempat. Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi para siswa dalam mempraktikkan langsung materi bahasa Inggris, sekaligus melengkapi program ekstrakurikuler English Club yang telah mulai diterapkan di tingkat sekolah dasar .

Pelaksanaan kegiatan ini merupakan upaya kolaboratif untuk menghidupkan kembali program pengabdian internasional FIB Unud. Perwakilan KUI Unud, I Gusti Ngurah Bagus Pramana Putra, S.Kom., menjelaskan bahwa pelibatan FIB secara khusus didasari oleh kompetensi fakultas di ranah pengajaran bahasa, yang didukung oleh kapabilitas Program Studi Sastra Inggris serta ketersediaan mahasiswa internasional. 

Menyambut inisiatif tersebut, Komang Yuli Wirahayu, S.Pd., M.Pd. selaku Kepala SDN 3 Sesetan menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya karena telah mempercayakan sekolahnya sebagai lokasi pengabdian. Ia meyakini bahwa interaksi langsung dengan mahasiswa dan delegasi internasional ini akan membawa dampak positif yang signifikan bagi peserta didik. “Saya yakin, momen ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa bagi anak-anak kami di SDN 3 Sesetan untuk belajar membuka wawasan kebinekaan global, melatih keberanian berkomunikasi, dan memotivasi mereka mewujudkan mimpi-mimpi seperti kakak-kakak mahasiswa sekalian,” tuturnya. 

Usai penyampaian sambutan, agenda pembukaan diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan secara simbolis kepada pihak sekolah dan sesi foto bersama, sebelum para mahasiswa BIPAS FIB Unud serta volunteer KUI Unud menyebar ke ruang-ruang kelas untuk memulai sesi pengajaran.

Memasuki agenda inti, kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam dua sesi utama yang difokuskan pada penguasaan kosakata bahasa Inggris dengan tema “Hobbies” atau hobi. Sesi Teaching Activity 1 diawali dengan perkenalan interaktif oleh para mahasiswa asing, di mana mereka berinteraksi dengan siswa sembari mengenalkan negara asal masing-masing. Pendekatan atraktif tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemaparan kosakata bahasa Inggris, pelafalan macam-macam hobi, serta struktur kalimat tanya-jawab sederhana mengenai hobi beserta alasannya.

Setelah jeda istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan Teaching Activity 2 yang menitikberatkan pada keberanian siswa untuk berbicara (speaking). Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, di mana mahasiswa asing bertindak secara langsung sebagai fasilitator dan mentor diskusi. Dalam sesi intensif ini, setiap anak dibimbing untuk merumuskan dan menuliskan naskah personal mengenai hobi mereka masing-masing dalam bahasa Inggris. Turut berpartisipasi dalam sesi pendampingan ini, Puteri Remaja Indonesia Bali 2026, Putu Anindhita Indhivara Disty Dananjaya, yang hadir bersama relawan KUI juga tampak membaur membantu mengarahkan para siswa di kelas. Sebagai puncak kegiatan, setiap siswa tampil ke depan kelas secara bergiliran untuk mempresentasikan naskah tersebut secara lisan, dengan didampingi serta diberikan dukungan moral secara penuh oleh para fasilitator dan relawan internasional

Antusiasme yang sama turut dirasakan oleh Yusuf Hadi, salah satu mahasiswa asing BIPAS asal Nigeria. Ia mengaku mendapatkan pengalaman berharga melalui interaksi lintas budaya, sekaligus terkesan dengan suguhan penampilan alat musik dan tarian dari para siswa beserta guru setempat. “Saya merasa sangat gembira, terutama ketika para siswa dengan antusias menghampiri untuk menanyakan nama dan hobi saya. Jika waktu memungkinkan, saya berharap bisa berkesempatan untuk menampilkan tarian atau budaya tradisional saya pada acara mendatang,” ungkapnya. 

Thursday, September 10, 2026

Tingkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Sejak Dini, Sastra Inggris FIB Unud Gelar Pengabdian di Takmung

 


Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat yang bertajuk “Pembelajaran Bahasa Inggris Komunikatif bagi Siswa SDN 2 Takmung, Klungkung” pada hari Jumat, 11 September 2026. Kegiatan yang menyasar siswa kelas 4-6 SD ini dihadiri langsung oleh Koordinator Program Studi beserta jajaran dosen dan mahasiswa, dengan didampingi oleh guru-guru setempat. Pelaksanaan pengabdian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dasar dan kepercayaan diri siswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris sejak dini. 

Dalam pelaksanaannya, proses pembelajaran difokuskan secara khusus pada penerapan ungkapan kesantunan berbahasa Inggris (Polite English Phrases) yang relevan dengan interaksi sehari-hari siswa. Materi utama yang diberikan mencakup berbagai ragam ungkapan kesantunan dasar, seperti tata cara memohon bantuan ("Please", "Could you please...?"), meminta izin ("May I...?"), menyampaikan permohonan maaf ("Sorry / I'm sorry"), hingga menunjukkan rasa terima kasih dan memberikan respons yang tepat ("Thank you", "You're welcome"). Selain itu, para mahasiswa juga melatih siswa untuk mengenali dan mempraktikkan ungkapan spesifik lainnya, seperti cara meminta perhatian ("Excuse me") serta cara mempersilakan orang lain ("After you"). 

Guna menciptakan suasana belajar yang interaktif dan mengukur tingkat pemahaman siswa, pemaparan materi diiringi dengan pengerjaan lembar kerja praktik (worksheet). Lembar kerja tersebut dikemas secara aplikatif melalui latihan menyusun dan melengkapi percakapan rumpang menggunakan kalimat permintaan sopan (polite requests). Para siswa diarahkan untuk merangkai kalimat permintaan bahasa Inggris yang tepat berdasarkan berbagai skenario situasi fiktif yang diberikan, seperti meminta tolong untuk diambilkan buku dari perpustakaan hingga meminjam alat tulis. Tidak berhenti pada pengerjaan tertulis, metode pengajaran juga dikemas secara atraktif melalui sesi permainan konsentrasi (ice-breaking). Sesi interaktif ini tidak hanya berfungsi untuk menyegarkan suasana kelas, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pendekatan partisipatif yang menyenangkan. Melalui permainan tersebut, siswa yang terpilih secara acak diarahkan maju ke depan kelas untuk mempraktikkan kemampuan berbicara (speaking). Mereka diajak melatih kepercayaan diri dengan membacakan kalimat permohonan santun (polite requests) yang telah disusun di lembar kerja sebelumnya. 

Melalui metode pembelajaran yang interaktif dan intensif tersebut, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi peningkatan kemampuan berbahasa para siswa di SDN 2 Takmung. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi wujud nyata penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi oleh sivitas akademika Program Studi Sastra Inggris FIB Unud dalam berkontribusi langsung di tengah masyarakat.

Tuesday, September 8, 2026

Standardisasi Dokumen Kemitraan, FIB Unud Selenggarakan Penyusunan Perjanjian Kerja Sama

Unit Pengelola Informasi dan Kerja Sama Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (UPIKS FIB Unud) menyelenggarakan kegiatan “Penyusunan Perjanjian Kerja Sama” pada Selasa, 8 Agustus 2026. Bertempat di Ruang Sidang Prof. Dr. Prijono, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, lokakarya ini dihadiri oleh PIC Kerjasama dan PIC MBKM, baik di tingkat fakultas maupun program studi di lingkungan FIB Unud, beserta koordinator UPIKS guna menstandarkan penyusunan dokumen Perjanjian Kerja Sama (PKS) sesuai prosedur hukum universitas terbaru demi mengoptimalkan capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 5 dan internasionalisasi.

Koordinator UPIKS, Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M.Hum. menekankan tata cara baru dalam penyusunan dan pengajuan dokumen kemitraan yang diwajibkan sejak Januari 2026. Setiap rancangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Universitas Udayana kini harus melalui tahapan peninjauan oleh Kantor Urusan Hukum Unud yang dikirimkan melalui sistem SIRAISA. Dokumen tersebut juga diwajibkan untuk menyesuaikan dengan template universitas. Selain aspek administratif, pemaparan ini secara khusus menekankan perlunya diversifikasi kegiatan kemitraan agar institusi tidak menaruh ketergantungan yang berlebihan pada program magang mahasiswa. Program studi di lingkungan FIB Unud, termasuk Program Studi Sastra Inggris yang tercatat masuk dalam lima besar program studi dengan dokumen kerja sama terbanyak, didorong untuk membangun kolaborasi strategis yang lebih luas seperti riset bersama, penyelarasan kurikulum, hingga pelatihan industri. Seluruh capaian dari kegiatan kemitraan ini wajib didokumentasikan dan dilaporkan ke UPIKS sebagai luaran IKU 5, sebagaimana yang telah diimplementasikan melalui publikasi artikel terindeks Q1 dan Q2, penerbitan buku, dan pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) oleh beberapa program studi. 

Melalui pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan seluruh pengelola kerja sama di tingkat fakultas maupun program studi dapat merancang kemitraan yang lebih strategis, berdampak, dan berkelanjutan dengan berbagai pihak eksternal. Kedepannya, berbagai inisiatif kerja sama ini diharapkan mampu menghasilkan luaran konkret, baik berupa karya tulis ilmiah, karya terapan, maupun karya seni, yang tidak hanya mengoptimalkan capaian IKU internasionalisasi dan IKU 5 perguruan tinggi, tetapi juga memberikan solusi atas permasalahan aktual yang dihadapi oleh mitra serta masyarakat luas. 




 


Kuliah Tamu Sastra Indonesia FIB Unud Bahas Pemerolehan Bahasa Anak dalam Konteks Multilingual





Denpasar—Selasa (08/09/2026), Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana,  menggelar kuliah tamu yang membahas topik pemerolehan bahasa anak dalam konteks multilingual. Kuliah tamu ini turut dihadiri oleh para mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia. Acara yang berlangsung di gedung Poerbatjaraka, ruang Soekarno, Kampus FIB Unud, Denpasar ini menghadirkan Dr. Bernadette Kushartanti, M.hum. dosen sekaligus Kepala Program Studi Sastra Indonesia Universitas Indonesia sebagai narasumber yang  didampingi oleh moderator Ni Komang Diah Restu Swari, S.Pd., M.A. dari Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Udayana.


Dalam paparannya, Bernadette mengangkat isu pemerolehan bahasa anak dari sudut pandang psikolinguistik sekaligus sosiolinguistik. Beliau mengawali materi dengan menjelaskan perbedaan mendasar antara tiga istilah yang kerap tertukar dalam kajian bahasa, yaitu bahasa, dialek, dan variasi. "Bahasa merupakan sistem komunikasi yang luas dengan tata bahasa, kosakata, dan pelafalan tersendiri. Suatu bentuk tutur biasanya diakui sebagai bahasa tersendiri apabila tidak dapat dipahami secara timbal balik dengan bahasa lain, meski faktor politik dan budaya turut memengaruhi status tersebut. Dialek, di sisi lain, adalah bentuk bahasa yang bersifat regional atau sosial, yang berbeda dalam hal pengucapan, kosakata, dan kadang tata bahasa, namun tetap berakar pada bahasa yang sama. Sementara itu, variasi merupakan istilah paling luas yang mencakup segala bentuk linguistik, termasuk bahasa, dialek, aksen, sosiolek, hingga ragam bicara formal maupun informal. Ketiga konsep ini menjadi pembahasan utama dalam kajian sosiolinguistik." ujar Bu Kiki, panggilan Bernadette yang kerap disapa. Beliau juga mengulas konsep hierarki dalam pemerolehan bahasa. Menurutnya, anggapan bahwa pemerolehan bahasa semata-mata bersifat hierarkis perlu diluruskan. Seorang anak yang belajar berbahasa, jelasnya, tidak hanya dituntut menguasai kecakapan komunikatif atau kemampuan membedakan tuturan yang benar dan salah, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kecakapan mengenai kapan suatu bahasa layak dituturkan.


Bernadette menekankan bahwa lingkungan sosial berperan penting dalam pemerolehan bahasa anak, karena cara suatu tuturan diucapkan atau disingkat dipengaruhi faktor sosial. Karena itu, kajian pemerolehan bahasa tidak bisa hanya mengandalkan psikolinguistik, tetapi juga perlu pendekatan sosiolinguistik dan antropolinguistik. Sebagai contoh, pelafalan anak biasanya baik untuk satu suku kata, tetapi menjadi tidak beraturan saat merangkai dua suku kata. Meski begitu, anak merasa ucapannya sudah benar, sehingga orang tua sering mengulanginya untuk mengoreksi. Menurut Bernadette, ini menunjukkan bahwa tuturan anak tidak semata mencerminkan kesempurnaan alat ucapnya.


Memasuki topik kedua, Bernadette memaparkan bahwa pemerolehan bahasa tidak selalu terjadi dalam satu variasi tunggal. Merujuk pandangan seorang ahli psikolinguistik, ia menguraikan tiga kondisi pemerolehan bahasa pertama, yaitu Pemerolehan bahasa pertama monolingual (Monolingual First Language Acquisition/MFLA), Pemerolehan bahasa pertama awal (Early Second Language Acquisition/ESLA), Pemerolehan bahasa pertama bilingual atau dalam lingkungan rumah (Bilingual First Language Acquisition/BFLA). 

"Ada kalanya seorang anak memperoleh bahasa pertama terlebih dahulu sebelum disusul bahasa berikutnya, namun ada pula anak yang menerima lebih dari satu bahasa sejak awal". papar Bernadette.

Beliau juga menjelaskan tiga bentuk pembedaan bahasa yang dilakukan anak ketika terpapar lebih dari satu bahasa. Pertama, anak menciptakan satu sistem gabungan dari dua bahasa yang didengarnya. Kedua, anak mampu membedakan kedua bahasa tersebut dan memperolehnya tanpa saling memengaruhi satu sama lain. Ketiga, anak membedakan kedua bahasa, tetapi perkembangan keduanya tetap saling memengaruhi.


Bernadette turut memaparkan efek bilingualisme terhadap perkembangan bahasa anak, yang mencakup pengaruh terhadap arah perkembangan bahasa dan laju perkembangannya. Ia menyebutkan bahwa perkembangan bilingual dapat berdampak berbeda pada tiap anak: sebagian anak mampu mengembangkan kompetensi kedua bahasanya dengan mudah, sementara sebagian lain mengalami kesulitan dalam mempelajari kedua bahasa tersebut. Kondisi ini, menurutnya, sangat bergantung pada nilai sosial dan budaya yang berlaku, termasuk nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga.


Sebagai penutup, ia menyoroti pengaruh budaya terhadap perkembangan bilingualisme anak. Menurutnya, jika bi- atau multilingualisme dianggap penting dalam suatu budaya, anak yang tumbuh bilingual cenderung memperoleh kemampuan berbahasa lebih banyak dibandingkan anak monolingual. Kuliah tamu ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Udayana untuk memperdalam wawasan tentang pemerolehan bahasa anak, khususnya dalam masyarakat multilingual seperti Indonesia, sekaligus memperkaya perspektif akademik mereka dalam mengkaji fenomena kebahasaan di sekitarnya.



Friday, September 4, 2026

SNBSB FIB Unud 2026: Menggali Peran Bahasa, Sastra, dan Budaya di Era Digital

 


Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Budaya (SNBSB) merupakan sebuah agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun dalam rangkaian acara HUT ke-68 dan Badan Kekeluargaan (BK) ke-45 Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Pada tahun ini, SNBSB diselenggarakan pada Jumat, 4 September 2026 di Auditorium Widya Sabha Mandala Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana dengan Tema “Bahasa, Sastra, dan Budaya Sebagai Penguatan Identitas Yang Berkelanjutan.” Seminar ini dihadiri oleh Dekan FIB Unud beserta jajaran, pada koordinator program studi, para dosen, dan peserta seminar..


Eirenne Pridari Sinsya Dewi, S.S.,M.ED., selaku Ketua Panitia BKFIB 2026 melaporkan bahwa tema dari kegiatan BKFIB 2026 ialah “Gema Kampus Kuning: Merawat Tradisi Merespon Bumi”. Tema ini menjadi sebuah ajakan bagi generasi muda untuk bisa merenungkan apa peran ilmu budaya dalam menghadapi tantangan melalui pelestarian bahasa dan budaya lokal. Lalu dilanjut dengan adanya BKFIB yang memasuki usia 45 tahun, ini menunjukkan komitmen untuk mempererat persaudaraan seluruh keluarga besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.


Ketua Panitia SNBSB 2026, Putu Dyah Pradnya Paramitha, S.S., M.A., menyampaikan bahwa acara tahun ini mengusung tema “Bahasa, Sastra, dan Budaya Sebagai Penguatan Identitas Yang Berkelanjutan” karena ketiga elemen tersebut melekat erat dalam kehidupan sehari-hari serta berperan krusial dalam pembentukan identitas manusia. Dalam laporan penyelenggaraannya, tercatat bahwa panitia menerima 73 abstrak yang kemudian melalui tahap Blind Pre-review, dengan hasil 57 abstrak dinyatakan lolos dan 16 lainnya belum dapat diterima. Keunggulan utama dari pelaksanaan SNBSB 2026 ini juga terlihat pada tingginya keberagaman pemakalah yang turut berpartisipasi dari berbagai institusi, baik dari dalam maupun luar Bali.


Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasinya kepada jajaran panitia sekaligus meresmikan kick-off rangkaian HUT FIB Unud pada Jumat, 1 September 2026. Dalam sambutannya, beliau menyoroti urgensi pelaksanaan SNBSB 2026 melalui paparan studi kasus mengenai kemunduran penggunaan bahasa Melayu di Singapura. Berbeda dengan situasi tersebut, Indonesia dinilai sangat beruntung karena memiliki landasan hukum yang kuat untuk melindungi entitas bahasa dan budayanya. Melalui perbandingan fenomena ini, Prof. Aryawibawa menegaskan bahwa pelaksanaan SNBSB menjadi wadah yang sangat relevan dan krusial untuk terus menyuarakan pentingnya pelestarian bahasa dan budaya sebagai pilar utama dalam mempertahankan identitas bangsa.


Kegiatan SNBSB ini juga mengundang satu pembicara kunci dan tiga pembicara utama. Keempat pembicara tersebut, antara lain Prof. Dr. Suhandano, M.A. dari Universitas Gadjah Mada, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. dari Universitas Udayana, Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.Hum., M.Hum. dari Universitas Udayana, dan Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si. dari Universitas Udayana. 


Sesi selanjutnya yaitu penyampaian materi yang dimoderatori oleh Dr. Ni Ketut Widhiarcani Matradewi, S.S., M.Hum., dan pembicara kunci, Prof. Dr. Suhandano, M.A. yang membawakan topik “Bahasa Pengetahuan Lokal dan Identitas”. Beliau juga menyampaikan kalau setiap kita harus bisa melestarikan bahasa, menjaga pengetahuan, dan identitas. lanjut beliau mengatakan, bahwa bahasa berasal dari pengetahuan, pengetahuan bertumbuh dari pengalaman dan budaya, pengalaman dan budaya membentuk realitas. Maka dari itu, jika bahasa tetap dijaga, maka pengetahuan dan budaya akan tetap hidup dan berkembang. 


Melanjutkan ke materi pertama yang disampaikan oleh I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. Beliau memaparkan topik “Psikolinguistik dan Eksperimen Bahasa”. Beliau mengkaji irisan psikologi dan linguistik melalui tahapan proses berbahasa serta konsep mental lexicon yang berkaitan dengan penyimpanan memori manusia. Terkait metodologi, beliau menekankan bahwa penelitian eksperimental bahasa menuntut pemahaman terminologi, statistik dasar, dan yang paling krusial adalah kontrol penelitian yang ketat guna menghasilkan data yang valid. “Semakin tinggi kontrol  maka semakin bagus hasilnya,” ujarnya.


Narasumber kedua, Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.Hum., M.Hum., mengkaji “Peran Budaya Populer dalam Penguatan Bahasa, Sastra, dan Identitas Masyarakat Ainu di Jepang”. Beliau menyoroti bagaimana media edutainment seperti anime "Golden Kamuy" berhasil mengangkat eksistensi dan mendobrak stereotip masyarakat adat Ainu yang terpinggirkan melalui representasi positif karakter Asirpa. Meskipun memiliki keterbatasan dalam menciptakan penutur bahasa yang fasih, beliau menegaskan bahwa budaya populer terbukti sangat efektif untuk memantik kesadaran dan ketertarikan publik terhadap pelestarian identitas Ainu. 


Pada sesi ketiga, Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si., membawakan materi “Makna Kebudayaan di Era Digital: Dari Otoritas Tradisional Menuju Logika Algoritmik” yang mengkritisi fenomena deteritorialisasi akibat globalisasi. Beliau menyoroti problematika adaptasi budaya yang berisiko menggerus nilai-nilai kolektif, sekaligus menantang audiens untuk mengubah ruang digital menjadi arena sosial yang produktif untuk internalisasi nilai budaya. Beliau menegaskan pentingnya mengedepankan konteks dan refleksi dibandingkan sekadar mengejar konten serta viralitas, sehingga ruang digital dapat berfungsi sebagai medium pembentukan identitas yang bermakna. 


Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif antara mahasiswa dan dosen yang menyoroti literasi digital Generasi Z, fungsi edutainment anime Golden Kamuy, serta tantangan adaptasi nilai budaya di era modern. Rangkaian acara kemudian beralih pada dua sesi presentasi paralel di Gedung Goris yang memfasilitasi para pemakalah untuk mempresentasikan beragam riset seputar kebahasaan, sastra, budaya, dan dinamika identitas masyarakat digital. Keberagaman topik dalam sesi paralel ini menjadi wadah strategis bagi para akademisi untuk saling bertukar temuan penelitian sekaligus memperluas cakrawala perspektif dalam kajian humaniora.




Thursday, September 3, 2026

FIB Unud Bersama Tsinghua Southeast Asia Center dan School of Cybernetics ANU Selenggarakan “International Conference on Indigenous Knowledges, Systems, Wisdom & Technology”

 


Pada Jumat, 04 September 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana bersama Tsinghua Southeast Asia Center dan School of Cybernetics, The Australian National University menyelenggarakan International Conference on Indigenous Knowledges, Systems, Wisdom & Technology (CIKSWT) 2026 di Tsinghua Southeast Asia Center – Kura Kura Bali SEZ sebagai bagian dari rangkaian agenda Badan Kekeluargaan (BK) FIB Unud 2026. Mengusung tema “The Future in Balance: AI, Humanity, and Sustainability”, konferensi ini mempertemukan 23 peneliti dari 7 negara untuk membahas keterkaitan antara AI, pengetahuan masyarakat adat, sistem pengetahuan, tata kelola, serta keberlanjutan lingkungan.

Sesi pembukaan konferensi diawali oleh Michael Tuori selaku Chair of Conference dan Academic Director Tsinghua Southeast Asia Center yang menyampaikan bahwa konferensi ini merupakan pengembangan dari Conference on Indigenous Wisdom in the Contemporary World dengan fokus yang lebih luas pada pengetahuan, sistem, kebijaksanaan, dan teknologi masyarakat adat. Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan berbagai cara memahami, menjalani, dan menerapkan pengetahuan lokal dalam menghadapi tantangan modern, termasuk perkembangan AI dan keberlanjutan. 

Selanjutnya, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. selaku Rektor Universitas Udayana menyampaikan bahwa tema “The Future in Balance: AI, Humanity, and Sustainability” sangat relevan dengan perkembangan teknologi saat ini. Beliau menjelaskan bahwa AI memberikan peluang besar dalam mempercepat inovasi, penelitian, dan penyelesaian tantangan global, namun penggunaannya harus tetap berlandaskan etika, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan. Beliau juga menekankan pentingnya memastikan perkembangan AI tetap berpusat pada manusia, inklusif terhadap budaya, dan berkelanjutan bagi lingkungan. Selain itu, beliau menyampaikan bahwa inovasi perlu berjalan berdampingan dengan kearifan lokal, seperti filosofi Tri Hita Karana yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual. Menurut beliau, pengetahuan masyarakat adat bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat memberikan inspirasi bagi solusi masa kini melalui kolaborasi antara ilmu pengetahuan modern dan kebijaksanaan lokal.

Sesi keynote speech disampaikan oleh Hokky Situngkir selaku Founder Bandung Fe Institute yang membahas hubungan antara kecerdasan buatan (AI) dan pelestarian budaya Indonesia. Ia memperkenalkan konsep digital symbiosis, yaitu hubungan timbal balik antara budaya dan AI, di mana budaya dapat menjadi sumber pengembangan teknologi, sementara AI dapat membantu mendokumentasikan dan memperluas pengetahuan budaya. Hokky menjelaskan bahwa pengembangan AI perlu mempertimbangkan bahasa, data, dan nilai budaya lokal, salah satunya melalui pengembangan Toba.LM yang dirancang untuk memahami struktur bahasa Indonesia dan Austronesia. Ia menekankan bahwa keberagaman bahasa dan budaya Indonesia tidak hanya menjadi warisan yang harus dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi inspirasi dalam membangun teknologi AI yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Keynote speech selanjutnya disampaikan oleh Prof. Angie Abdilla dari School of Cybernetics, The Australian National University yang membahas hubungan antara kecerdasan buatan (AI), budaya, dan pengetahuan masyarakat adat. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa teknologi dan AI tidak terlepas dari budaya karena muncul dari cerita, nilai, dan cara pandang tertentu. Beliau menjelaskan bahwa pengetahuan masyarakat adat dapat memberikan perspektif dalam menghadapi perkembangan AI, terutama melalui prinsip hubungan (relationality), timbal balik (reciprocity), dan regenerasi (regeneration). Prof. Angie juga memberikan contoh sistem Subak di Bali sebagai bentuk sistem pengelolaan air yang berlandaskan hubungan antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Beliau menekankan pentingnya memahami asal-usul, nilai, dan pihak yang membentuk AI agar teknologi tersebut dapat dikembangkan dengan tetap mempertimbangkan keberagaman budaya dan hubungan dengan dunia kehidupan.

Selain menghadirkan para peneliti sebagai pembicara, konferensi ini juga melibatkan dosen FIB UNUD sebagai moderator dalam beberapa sesi diskusi. Dr. Sang Ayu Isnu Maharani, S.S., M.Hum. berpartisipasi sebagai moderator pada sesi presentasi di ruang Saraswati yang membahas topik “Relationality Between Living Systems and AI”. Sementara itu, Gede Primahadi Wijaya Rajeg, Ph.D. berperan sebagai moderator pada 2 sesi. Sesi pertama yaitu membahas “Plurality in AI” dan yang kedua membahas “Indigenous Governance in AI” berlangsung di ruang Auditorium. Keterlibatan keduanya menunjukkan peran aktif akademisi FIB UNUD dalam mendukung jalannya diskusi mengenai hubungan antara kecerdasan buatan, budaya, dan pengetahuan lokal dalam konferensi ini.

Konferensi ditutup dengan sambutan dari Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. yang menyampaikan bahwa konferensi ini menjadi ruang untuk membahas dua hal yang berbeda, yaitu solidaritas masyarakat adat yang telah berkembang sejak masa lalu dengan kecerdasan buatan (AI) sebagai teknologi modern. Beliau menyampaikan bahwa berbagai gagasan menarik telah muncul dalam forum ini, seperti bagaimana sistem pembelajaran konvensional dapat diterapkan untuk mengajarkan AI kepada anak-anak. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya menjaga identitas lokal dalam pemanfaatan teknologi serta bagaimana budaya dapat digunakan dalam pengembangan AI dan AI dapat mendukung masa depan budaya. Beliau berharap berbagai ide yang muncul dalam konferensi ini dapat menjadi pertimbangan dalam memperdalam pemanfaatan AI dalam perkembangan budaya di masa depan.



FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...