Tuesday, August 18, 2026

Jejak Kolonial di Layar Kaca: Bedah Film De Oost Warnai HUT ke-62 Ilmu Sejarah Unud



Rangkaian puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) menyajikan ruang diskursus yang beragam. Berjalan secara paralel dengan sesi Bedah Buku, antusiasme belasan sivitas akademika juga terlihat memadati Ruang Guru Besar, Gedung Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Lantai II FIB Unud untuk mengikuti agenda Bedah Film pada Selasa (18/8/2026). Sesi yang dimoderatori oleh I Dewa Made Adnyana Setiarsa ini secara eksklusif membedah film The East atau De Oost (2020) arahan sutradara Jim Taihuttu.

Film De Oost berlatar masa Agresi Militer pasca-Kemerdekaan Indonesia. Film ini mengikuti kisah Johan de Vries, seorang prajurit muda Belanda yang dikerahkan ke Nusantara untuk meredam pergerakan kemerdekaan. Dalam penugasannya, ia bergabung dengan pasukan elite di bawah komando Raymond Westerling. Konflik batin dan krisis moral mulai mendera Johan tatkala ia menyaksikan langsung kebrutalan serta taktik pembantaian keji yang dilakukan oleh komandannya sendiri terhadap rakyat setempat. Bertindak sebagai pembedah utama dalam sesi ini adalah Mikael Yohanes Pradana Yapari, seorang akademisi muda yang secara khusus menjadikan film De Oost sebagai subjek penelitian skripsinya. Pada awal pemaparannya, Mikael menceritakan tantangan akademis yang sempat dihadapinya ketika meyakinkan pihak program studi bahwa sebuah karya sinematik layak diangkat menjadi objek penelitian Sejarah.Argumentasi ilmiahnya ditegaskan bahwa subjek sejarah kini tidak lagi sempit dan terpaku pada wujud manusianya saja. Definisi tersebut dinilai telah melebar pada berbagai jejak peninggalan manusia, mulai dari prasasti, buku, hingga karya visual. Oleh karena itu, film De Oost diposisikan sebagai subjek sejarah yang valid, terlebih pendekatan serupa terhadap sebuah film juga telah banyak diaplikasikan dalam berbagai penelitian Sejarah lainnya.

Motif di balik layar pembuatan De Oost turut dibedah dalam sesi ini. Diungkapkan bahwa film ini menjadi unik karena diproduksi oleh "pihak penjajah" (Belanda), namun disutradarai oleh Jim Taihuttu, seorang sineas Belanda keturunan Maluku. Film ini lahir dari krisis identitas sang sutradara yang mempertanyakan mengapa asal-usul kakek buyutnya di Maluku seolah ditutupi dan tidak pernah diceritakan, baik dalam lingkup keluarga maupun kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah Belanda. Sesi diskusi bergulir hangat menyoroti posisi film sejarah di tengah masyarakat. Audiens dan pembedah saling bertukar pandangan mengenai batasan antara fakta riil dan fiksi di dalam film, serta bagaimana mengubah stigma masyarakat terhadap sinema berlatar sejarah yang kerap kali hanya dipandang sebagai instrumen narasi politik semata.

Sesi Bedah Film ini pun sukses membuka wawasan para peserta bahwa sebuah karya sinema bukan sekadar produk hiburan visual, melainkan sebuah jejak peninggalan manusia yang menyimpan pergulatan identitas, memori kolektif, dan narasi sejarah yang patut dikaji secara kritis. 

No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...