Tuesday, August 18, 2026

Bedah Buku HUT ke-62 Ilmu Sejarah Unud: Dari Kosmopolis Hindu-Buddha Hingga Kritik Sumber Sejarah

Selasa 18 Agustus 2026 - Semarak puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dilanjutkan dengan dua agenda akademik yang berjalan secara paralel. Belasan peserta mengikuti sesi Bedah Film di Ruang Guru Besar, denyut dialektika yang tak kalah kritis juga sangat terasa pada sesi Bedah Buku yang dilangsungkan di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno. Dipandu oleh mahasiswi Ilmu Sejarah angkatan 2024, Salsabila Dinaristi sebagai moderator, sesi di Ruang Soekarno ini mengupas tuntas dua karya kesejarahan melalui kacamata pakar internasional hingga akademisi senior. 

Sesi ini mengupas tuntas dua karya penting, yakni "Hindu-Buddhist Cosmopolis Interfaith Studies in Comparative Perspective" dan "Merawat Memori Kolektif dalam Konteks Kajian Budaya dan Sejarah: Kusumanjali Dr. Drs. Ida Bagus Gde Putra, M.Hum." 

Sesi pembedahan diawali pemaparan Dr. Preeti Oza, akademisi dari St. Andrew College, Mumbai, India hadir secara daring. Mengupas buku "Hindu-Buddhist Cosmopolis Interfaith Studies in Comparative Perspective”, Dr. Preeti menyoroti jejak kosmopolis Hindu-Buddha pada abad ke-9 di Asia Tenggara. Ia membedah Candi Borobudur sebagai sebuah stone mandala (mandala batu) yang tidak hanya merepresentasikan kosmologi agama terdiri dari Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, melainkan juga merupakan wujud dari Teologi Politik serta legitimasi kekuasaan raja di masa lampau. 

Perspektif lainnya juga disampaikan oleh Naufal Azhar Romadhoni, mahasiswa Ilmu Sejarah Unud angkatan 2023. Ia memberikan sorotan tajam terhadap pentingnya menulis sejarah pedesaan. Mengambil contoh risetnya mengenai Desa Budakeling dan Buahan Kaja, Naufal menekankan bahwa desa memiliki narasi kesejarahannya sendiri yang kaya. Ia mengajak para akademisi muda untuk melepaskan pandangan bernuansa kolonial yang sering kali hanya mengerdilkan desa sebagai penopang atau sekadar latar belakang sejarah perkotaan. 

Diskursus semakin menghangat ketika akademisi dan pakar sejarah kesenian, Dr. Drs. I Gusti Ngurah Seramasara, M.Hum., mengambil alih mimbar untuk membedah buku Merawat Memori Kolektif dalam Konteks Kajian Budaya dan Sejarah: Kusumanjali Dr. Drs. Ida Bagus Gde Putra, M.Hum.". Sebelum memaparkan telaahnya, Dr. Seramasara memberikan apresiasi luar biasa terhadap tradisi Prodi Ilmu Sejarah Unud yang selalu menerbitkan buku dedikasi bagi para dosen yang memasuki masa purnabakti (pensiun) sebagai sebuah tradisi intelektual yang menurutnya sangat langka dan patut dicontoh oleh program studi lainnya.

Dalam telaahnya, beliau memberikan pembedahan yang konstruktif terkait metodologi sejarah. Beliau menyoroti pentingnya peran seorang editor untuk merangkai "benang merah" antar-bab agar buku tidak sekadar menjadi kumpulan naskah. Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya kritik sumber, terutama dalam menganalisis arsip foto historis dan arsitektur bangunan Indis. Menurutnya, sebuah foto peninggalan kolonial atau foto jurnalistik masa revolusi tidak boleh ditelan mentah-mentah, karena di balik lensa seorang fotografer, selalu terdapat struktur, dominasi, hegemonik, serta orientasi politik yang perlu dikritisi oleh seorang sejarawan. 

Menanggapi dinamika diskusi tersebut, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., menyambut baik kritik dan pandangan mendalam dari Dr. Seramasara. Prof. Ardhana menegaskan bahwa perdebatan akademis yang lugas ini adalah "kuliah berharga" bagi para mahasiswa untuk memahami perbedaan mendasar antara sejarah sebagai seni (History as Art) dan sejarah sebagai ilmu pasti (History as Science). 

"Ketika sejarah dipelajari sebagai ilmu (science), ia harus bisa diuji, divalidasi, dan dianalisis melalui tahapan metode sejarah kritis, bukan sekadar peminatan belaka," pungkas Prof. Ardhana.

Sesi Bedah Buku ini ditutup dengan antusiasme tinggi dari para peserta, membuktikan bahwa pada usianya yang ke-62, Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unud terus konsisten mencetak ruang dialektika yang tajam, progresif, dan relevan dengan tantangan zaman.


No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...