Monday, March 30, 2026

Upskill Audiensi ke FIB Unud: Gagas Program Short Course dengan Mahasiswa dari University of Technology Sydney

 


Pada hari Senin, 30 Maret 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menerima kunjungan dari Upskill Study Bali. Bertempat di Ruang Dekan, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai I FIB Unud, kunjungan ini bertujuan untuk membahas rencana pelaksanaan program jangka pendek (short course) bertajuk "Bahasa Indonesia dan Budaya" bagi mahasiswa University of Technology Sydney (UTS), Australia. kunjungan ini disambut oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. dan Koordinator Program Studi Sastra Indonesia FIB Unud, Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. 

Short course yang diselenggarakan oleh University of Technology Sydney (UTS) ini akan didanai oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia. Short course ini dijadwalkan berlangsung selama dua minggu, mulai 15 Juni hingga 10 Juli 2026, dengan kuota peserta sebanyak 20 mahasiswa. Dalam pertemuan tersebut, pihak Upskill menekankan bahwa FIB Unud dipilih sebagai mitra mendampingi Universitas Gadjah Mada karena memiliki keunggulan kompetensi dosen serta pengalaman dalam menyelenggarakan program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) dan kajian budaya dibandingkan unit lainnya. Program ini diharapkan mampu memberikan pengalaman pembelajaran yang komprehensif bagi mahasiswa internasional, baik secara akademik maupun kultural.

Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D.  menyambut sangat positif inisiasi kerja sama tersebut. Beliau menyatakan antusiasmenya dan menilai bahwa program ini merupakan ide yang sangat bagus untuk pengembangan lembaga, khususnya bagi Program Studi Sastra Indonesia. Beliau juga menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi program tersebut dan merasa senang atas kunjungan pihak Upskill yang dinilai sudah sangat tepat sasaran. Beliau menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi kelangsungan program UTS dan tidak ingin universitas kehilangan potensi kerja sama internasional. 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Cornell University, Amerika Serikat Jajaki Peluang Kolaborasi Penelitian Pohon Sakral di Bali

 


Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, M.A., Ph.D., menerima kunjungan Prof. Chiara Formichi pada hari Senin (30/3/2026) di Kampus Fakultas Ilmu Budaya, Jalan Pulau Nias, Denpasar. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut membahas potensi kerja sama riset antara kedua institusi.

Rencana kolaborasi ini akan berfokus pada kajian pohon-pohon besar yang memiliki nilai sakral di Bali, terutama yang berada di area pura maupun kuburan, dengan pendekatan multidisipliner serta perspektif pelestarian lingkungan. Penelitian tersebut juga akan melibatkan Dr. Ni Made Pertiwi Jaya, S.T., M.Si., M.Eng. dari Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Udayana, sebagai bagian dari upaya lintas disiplin dalam mengkaji isu lingkungan dan budaya.

Dalam pertemuan itu, Prof. Aryawibawa didampingi Koordinator Program Studi S3 Kajian Budaya, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. Sedangkan, Prof. Formichi hadir bersama timnya, yakni Paola Cannuciari dan Fransiska Eva Lidya Natalia. Prof. Aryawibawa menyampaikan apresiasinya terhadap rencana kerja sama internasional ini dan menyatakan kesiapan Fakultas Ilmu Budaya untuk terlibat dalam riset bersama. Menurutnya, kolaborasi semacam ini tidak hanya penting untuk peningkatan kapasitas, tetapi juga berkontribusi dalam memperluas eksposur Fakultas Ilmu Budaya dan Universitas Udayana di tingkat Internasional. Ia juga memaparkan berbagai kerja sama internasional yang telah dilakukan Fakultas Ilmu Budaya, khususnya dalam penelitian bahasa daerah serta penguatan nilai-nilai Tri Hita Karana sebagai dasar pembangunan berkelanjutan di Bali.

Di sisi lain, Prof. Formichi menyambut positif peluang kolaborasi tersebut dan menekankan pentingnya melibatkan mahasiswa sarjana dalam kegiatan penelitian. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman langsung di lapangan, seperti melakukan wawancara dan proses transkripsi, sehingga pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui praktik nyata. Ia juga menambahkan bahwa partisipasi mahasiswa dalam penelitian dosen merupakan bagian penting dari strategi pembelajaran sekaligus mendukung aspek penilaian akreditasi program studi. Selain itu, ia menekankan pentingnya peran peneliti senior dalam membimbing peneliti muda untuk pengembangan karier akademik.

Kerja sama ini diharapkan segera diwujudkan dalam bentuk program penelitian konkret yang tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat internasionalisasi bidang akademik.


Tuesday, March 24, 2026

Kejar Akreditasi 'Unggul', Sastra Jepang FIB Unud Gelar Workshop Finalisasi Dokumen APS 2.0

 


Pada hari Rabu, 25 Maret 2026, Program Studi Sastra Jepang FIB Unud melaksanakan Workshop Finalisasi Penyusunan Lampiran Dokumen Laporan Kinerja Program Studi (LKPS) dan Laporan Evaluasi Diri (LED) APS 2.0 secara hybrid. Bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, kegiatan ini dihadiri oleh jajaran dekanat, ketua UP2M (Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) FIB Unud, ketua UP3M (Unit Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu) FIB Unud, para dosen dari Program Studi Sastra Jepang dan Sastra Inggris.

Dalam sambutannya, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menyampaikan bahwa workshop ini merupakan langkah strategis untuk menghadapi reakreditasi Program Studi Sastra Jepang yang masa berlakunya akan berakhir pada bulan September mendatang. Mengingat prodi tersebut saat ini menyandang status akreditasi Unggul, pembaruan dokumen evaluasi mutlak diperlukan untuk menyesuaikan dengan instrumen Akreditasi Program Studi (APS) yang baru.

Workshop ini menghadirkan Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum., selaku asesor dan pakar dari Universitas Sebelas Maret dan dimoderatori oleh Dr, Silvia Damayanti, S.S., M.Hum. selaku Koordinator Program Studi Sastra Jepang. Dalam arahannya, Prof. Rohmadi menekankan bahwa sistem akreditasi terbaru (APS 2.0) sangat bergantung pada verifikasi data daring, seperti penarikan data dari PDDIKTI dan SINTA. Karena sistem penilaian asesor kini lebih kaku dan hanya berfokus pada pilihan "terpenuhi" atau "tidak terpenuhi", kelengkapan Laporan Evaluasi Diri (LED) menjadi sangat krusial. Beliau menegaskan agar tim penyusun tidak hanya menuliskan narasi yang normatif, tetapi wajib memberikan jawaban langsung yang didukung oleh data empiris dan tautan bukti dan harus diletakkan spesifik pada bagian indikator yang sedang dibahas, agar asesor mudah memverifikasi kebenaran argumen.

Untuk menyusun dokumen yang kuat dan mencapai target Unggul, Prof. Rohmadi membagikan lima langkah taktis. Pertama, pastikan seluruh sub-butir indikator pada matriks penilaian BAN-PT tercantum secara lengkap. Kedua, pertegas poin-poin tersebut di dalam naskah. Ketiga, jawab setiap indikator secara lugas di kalimat atau paragraf pertama sebelum menjabarkan penjelasannya. Keempat, sertakan tautan bukti pada setiap jabaran jawaban tersebut. Kelima, khusus untuk memenuhi syarat unggul, program studi harus percaya diri menyatakan bahwa mereka memiliki kualitas yang terbaik dan komprehensif, bukan sekadar menggunakan bahasa bersayap yang menyatakan "sudah memadai"

Terakhir, beliau mengingatkan urgensi kemandirian dokumen karena pada sistem yang baru ini tidak semua program studi akan mendapatkan kesempatan divisitasi ke lapangan atau Asesmen Lapangan. Keputusan akreditasi bisa saja ditetapkan murni berdasarkan dokumen yang dibaca oleh asesor, sehingga tidak ada lagi ruang untuk konfirmasi lisan. Oleh karena itu, mengingat masa akreditasi Sastra Jepang berakhir pada bulan September, kelengkapan ini harus segera diunggah sebelum tenggat waktu. Sekalipun nantinya ada kendala dari sistem kementerian yang membuat jadwal penilaian tertunda, dokumen yang sudah diserahkan tepat waktu akan menjadi jaminan untuk perpanjangan masa aktif akreditasi secara otomatis.

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada Prof. Rohmadi. Beliau berharap agar proses finalisasi dokumen dilakukan secara teliti dengan melihat dan memastikan kelengkapan dari butir ke butir sesuai matriks penilaian. Beliau juga menaruh harapan besar agar program studi memiliki keberanian untuk mengklaim pencapaian terbaik mereka secara tertulis sebagai syarat mencapai akreditasi unggul. Lebih lanjut, beliau berharap setiap tautan bukti pendukung diatur agar dapat diakses secara publik. Terakhir, beliau sangat berharap seluruh dokumen dan data disajikan selengkap dan sedetail mungkin sejak awal karena sistem akreditasi yang baru tidak menjamin adanya proses visitasi lapangan.



Sunday, March 15, 2026

Program Studi Sastra Inggris FIB Unud Melaksanakan Seminar Mengenai Panduan Dokumentasi Bahasa Bersama Pakar dari Republik Ceko

 


Pada hari Senin, 16 Maret 2026, Program Studi S1 Sastra Inggris FIB Unud melaksanakan seminar yang bertajuk “How to Conduct Language Documentation: From Start to Finish”. Bertempat di Ruang 5 Gedung Dr. R. Goris Lantai 1 FIB Unud, seminar ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa dari program studi Sastra Inggris. Workshop ini bertujuan untuk membekali para peserta dengan keterampilan teknis dalam pendokumentasian bahasa sesuai dengan standar modern yang berlaku.

Narasumber pada seminar kali ini adalah George Saad, seorang ahli bahasa dari Palacky University Olomouc, Republik Ceko. Dalam seminar ini, beliau memaparkan bahwa alasan dari munculnya dokumentasi bahasa adalah sebagai alat untuk mempertahankan dan melestarikan bahasa-bahasa yang terancam punah yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti globalisasi, bahasa daerah yang tidak terintegrasi dengan kurikulum, dan stigmatisasi terhadap bahasa daerah. Beliau menerangkan bahwa dalam melaksanakan dokumentasi bahasa, diperlukan adanya data linguistik yang dapat berupa sampel bahasa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Untuk mendapatkan data linguistik tersebut, diperlukan beberapa tahap yang harus diperhatikan, seperti: perencanaan, pemilihan narasumber, dan penerapan persetujuan dari penutur bahasa. Aspek etika menjadi perhatian utama, di mana informan harus memahami tujuan penelitian, memberikan izin atas penggunaan data, serta memiliki hak untuk menarik persetujuan kapan saja. Selain itu, peserta dibekali dengan pemahaman mengenai metadata, yaitu informasi pendukung yang mencakup data penutur, bahasa, serta kondisi perekaman, yang berfungsi untuk memastikan data dapat dipahami dan digunakan secara optimal oleh peneliti lain.

Selanjutnya, peserta seminar berkesempatan untuk berlatih menjadi seorang peneliti bahasa dan penutur bahasa dengan mempraktekkan bagaimana penelitian bahasa dilakukan dengan dokumentasi. Peserta juga diperkenalkan pada berbagai sumber daya linguistik daring serta teknik praktis seperti penggunaan perangkat rekam, penamaan file yang sistematis, dan proses transkripsi. Selain itu, pelatihan ini memberikan panduan teknis dalam melakukan perekaman data bahasa secara efektif, baik menggunakan ponsel maupun peralatan profesional, dengan memperhatikan kualitas audio-visual dan kondisi lingkungan. Peserta seminar juga diajarkan mengenai teknik pengumpulan wordlist, yang melibatkan proses pencatatan langsung bersama penutur dan pelafalan ulang untuk memastikan akurasi. 

Kegiatan ini diharapkan mampu melatih peserta untuk melakukan perekaman data linguistik, serta mengumpulkan metadata yang komprehensif terkait bahasa dan narasumber yang terlibat. Selain aspek teknis, kegiatan ini juga menekankan pentingnya etika penelitian melalui perolehan informed consent atau persetujuan atas penggunaan data sehingga hasil yang diperoleh berkontribusi pada pengembangan ilmu linguistik serta upaya pelestarian bahasa di berbagai daerah.


Friday, March 13, 2026

Tsinghua Southeast Asia Centre UID Bali dan FIB Unud Siapkan Konferensi Internasional tentang Kearifan Lokal dan AI

 


Tsinghua Southeast Asia Centre UID Campus Bali bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana akan menyelenggarakan konferensi internasional bertajuk “Reimagining Intelligence: Indigenous Wisdom and the Future of Inclusive AI” pada 4 September 2026. Konferensi ini menjadi kelanjutan kolaborasi kedua lembaga dalam membahas hubungan antara kearifan lokal dan perkembangan kecerdasan buatan. Kegiatan tersebut juga akan menjadi bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis Universitas Udayana dan Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya yang diperingati pada akhir September.

Tahap awal persiapan konferensi digelar Kick-Off Event of the 2nd International Conference on Indigenous Wisdom in the Contemporary World (CIWCW 2026) pada Jumat, 13 Maret 2026, di Tsinghua Southeast Asia Centre UID Campus Bali. Kegiatan berlangsung secara hibrida di Auditorium UID Bali Campus, Kura-Kura Special Economic Zone (SEZ), Serangan, serta melalui platform Zoom. Kick-off event ini diikuti oleh 113 peserta yang hadir secara langsung dan 128 peserta yang bergabung secara daring.

Mewakili Dekan FIB Universitas Udayana, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., yang juga tergabung dalam Steering Committee konferensi, menjelaskan bahwa penyelenggaraan konferensi kedua ini merupakan respons atas antusiasme peserta pada kegiatan sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan konferensi tahun lalu mendorong banyak pihak agar forum tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun. Menurutnya, tema yang mengaitkan kearifan lokal dengan kecerdasan buatan memiliki relevansi tinggi di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Dalam sambutannya, Academic Director Tsinghua Southeast Asia Center, Michael Tuori, menekankan pentingnya dialog global mengenai hubungan antara teknologi AI dan pengetahuan tradisional masyarakat. Ia menyampaikan bahwa forum ini bertujuan mempertemukan akademisi, pemegang pengetahuan lokal, pembuat kebijakan, serta praktisi teknologi untuk mendiskusikan bagaimana kearifan lokal dapat memperkaya pengembangan teknologi yang lebih etis, inklusif, dan berkelanjutan.

Kick-off event ini juga menghadirkan sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri, antara lain Prof. Thea Pitman dari University of Leeds, Karlina Octaviany dari program Fair Forward GIZ, Prof. I Ketut Ardhana dari Universitas Udayana, serta Dr. Dewa Made Sri Arsa dari AI Center Universitas Udayana. Selain diskusi panel dan sesi tanya jawab, kegiatan ini juga meluncurkan secara resmi Call for Papers dan Call for Partners serta dilanjutkan dengan sesi research matchmaking untuk mendorong kolaborasi penelitian menjelang konferensi utama pada September mendatang.


Kajian Diskursus KB Krama Bali pada Masyarakat Multikultur di Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng Mengantar Dewa Nyoman Dalem Meraih Gelar Doktor

 


Pada hari Jumat, 13 Maret 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menyelenggarakan Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi Linguistik, Program Doktor. Sidang ini berlangsung di Ruang Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, Lantai IV, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Promovendus, Dewa Nyoman Dalem, S.Pd., M.Si., mempresentasikan disertasi berjudul “Pergulatan Diskursus KB Krama Bali pada Masyarakat Multikultur di Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng”. Dalam sidang tersebut, promovenda berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat “cumlaude” Dengan kelulusan ini, beliau tercatat sebagai doktor ke-278 (dua ratus tujuh puluh delapan) di Fakultas Ilmu Budaya dan doktor ke-304 (tiga ratus empat) pada Program Studi Doktor S3 Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Pada sidang promosi doktor ini, Ketua Tim Penguji Disertasi adalah Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., yang didampingi oleh Anggota Tim Penguji yaitu Prof. Dr. A.A.Ngh. Anom Kumbara, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si., Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., Dr. Ni Nyoman Dewi Pascarani, S.S., M.Si., Dr. Pande Wayan Renawati, S.H., M.Si., C.Ed., Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum

Disertasi ini dilatarbelakangi oleh pengamatan penulis terhadap diskursus tentang Keluarga Berencana (KB) krama Bali di Sukasada, Buleleng, yang menunjukkan adanya dinamika sosial dalam masyarakat multikultur. Penerimaan dan penolakan terhadap KB muncul di tengah keberagaman etnis dan agama, seperti Bali, Bugis, dan Jawa atau Blambangan yang hidup berdampingan. Sikap tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kesehatan dan ekonomi, tetapi juga oleh nilai budaya, ajaran agama, dan posisi sosial masing-masing kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menelusuri, mengungkap, dan menganalisis relasi kuasa-pengetahuan yang bekerja dibalik proses penerimaan dan penolakan terhadap diskursus KB krama Bali, oleh masyarakat multikultur di Kecamatan Sukasada.

Penyebab terjadinya pergulatan diskursus KB krama Bali dikarenakan adanya pluralitas Ideologi, disposisi rasionalitas, hibriditas kultural dan negosiasi identitas, serta kinerja struktural. Adapun bentuk-bentuk pergulatan diskursus KB krama Bali berupa ketegangan antara nilai tradisional dan modern, paradoks otoritas simbolik antaraparatus, negosiasi agama dan identitas sosial, serta kontestasi wacana reproduksi antargenerasi. Implikasi yang muncul dari pergulatan diskursus KB krama Bali vii tersebut antara lain, fragmentasi makna keluarga ideal dalam konteks multikultur, dinamika politik tubuh perempuan dan resistensi diam diam, dislokasi makna tradisi dan terbentuknya tradisi baru yang simulatif, serta politik reproduksi dan pemosisian anak sebagai representasi proyek kebudayaan dalam masyarakat multikultur.

Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika sikap masyarakat terhadap program Keluarga Berencana (KB). Secara empiris, sebagian informan menyatakan penolakan terhadap KB pada tingkat pandangan atau keyakinan, namun dalam praktik tetap melakukan pengaturan kelahiran melalui jarak kelahiran alami atau penggunaan kontrasepsi secara tersembunyi. Sebaliknya, ada pula masyarakat yang secara lisan menyatakan menerima program KB, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tetap mempertahankan pola memiliki banyak anak karena pertimbangan adat, agama, maupun tuntutan sosial keluarga besar. Secara teoretis, temuan ini menunjukkan adanya penerimaan yang bersifat simbolik namun tidak selalu diikuti oleh praktik nyata. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pengembangan kerangka Encoding–Decoding Stuart Hall dengan memasukkan unsur ambivalensi dan paradoks dalam proses pemaknaan, yaitu kondisi ketika terjadi penerimaan simbolik tetapi penolakan dalam praktik, serta penerimaan secara pragmatis meskipun secara ideologis tidak sepenuhnya disetujui.

Dalam penelitian ini, penulis menyadari bahwa kajian mengenai pergulatan diskursus KB krama Bali pada masyarakat multikultur di Sukasada, Kabupaten Buleleng, masih terbatas pada ruang sosial dan konteks waktu tertentu serta lebih berfokus pada produksi wacana, otoritas simbolik, dan negosiasi identitas di tingkat lokal. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar penelitian selanjutnya mengembangkan pendekatan yang lebih genealogis dan lintas institusional guna menelusuri relasi antara negara, kebijakan kependudukan, institusi adat, dan otoritas keagamaan dalam proses produksi, legitimasi, serta normalisasi wacana KB krama Bali dalam jaringan kuasa yang lebih luas.


Thursday, March 12, 2026

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional Berhasil Raih Gelar Doktor Kajian Budaya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

 


Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang Kajian Budaya di Fakultas Ilmu Budaya  Universitas Udayana setelah sukses mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka yang dilaksanakan pada Kamis, 12 Maret 2026, di kampus setempat. Keberhasilan tersebut menandai pencapaian akademik penting bagi peneliti yang selama ini aktif dalam kegiatan riset kebudayaan.

Promovendus, Ida Bagus Putu Prajna Yogi, mempresentasikan disertasi berjudul Artikulasi dan Disartikulasi Hidup Baadat dan Mati Bapati pada Komunitas Dayak Tomun Kristen di Kalimantan Tengah. Dalam ujian terbuka tersebut, ia dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Dengan capaian itu, ia tercatat sebagai Doktor ke-302 yang diluluskan oleh Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana yang telah berdiri sejak 11 Juli 2001 dan kini memasuki usia ke-25 tahun.

Ujian terbuka dihadiri oleh mahasiswa, para dosen, senat Fakultas Ilmu Budaya, dan kolega promovendus dari lingkungan BRIN. Sidang dipimpin oleh Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. dan Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. I Nyoman Wijaya, M.Hum. sebagai promotor; Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. sebagai Ko-Promotor I; Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum. sebagai Ko-Promotor II; serta anggota penguji Prof. Dr. I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa, M.Si., Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., Prof. Dr. I Nengah Punia, M.Si., Dr. Ni Luh Putu Agustini Kerta, S.E., M.M., dan Dr. I Wayan Nuriarta, S.Pd., M.Sn.

Dalam penelitiannya, Ida Bagus Putu Prajna Yogi mengkaji dinamika budaya Hidup Baadat dan Mati Bapati yang berkembang di kalangan masyarakat Dayak Tomun Kristen di Kalimantan Tengah. Secara normatif, tradisi tersebut diperkirakan akan mengalami kemunduran seiring dengan konversi masyarakat kepada agama Kristen serta pengaruh doktrin religius yang menekankan konsep “Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan”. Namun, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa praktik budaya tersebut justru tetap bertahan dan muncul dalam bentuk-bentuk kultural kontemporer seperti Babukunk dan Bebantan Laman. Ia menjelaskan bahwa keberlanjutan tradisi tersebut tidak sekadar menunjukkan daya tahan adat, tetapi juga mencerminkan proses negosiasi dalam ruang sosial yang dipengaruhi berbagai relasi kekuasaan. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana kekuasaan berperan dalam proses artikulasi maupun disartikulasi budaya Hidup Baadat dan Mati Bapati, sekaligus menelusuri bagaimana relasi kuasa dan pengetahuan bekerja melalui praktik sosial, habitus, serta modal dalam kehidupan masyarakat Dayak Tomun Kristen.

Secara teoretis, penelitian ini memanfaatkan pendekatan arkeologi pengetahuan dan genealogi kekuasaan dari Michel Foucault, yang diperkaya dengan konsep habitus dari Pierre Bourdieu serta teori strukturasi Anthony Giddens. Melalui kerangka tersebut, penelitian menemukan bahwa budaya Hidup Baadat dan Mati Bapati menjadi arena kontestasi antara tiga kekuatan utama, yaitu gereja, adat, dan negara. Gereja berperan mendisiplinkan praktik religius melalui doktrin dan moralitas, adat memperkuat solidaritas sosial melalui ritus leluhur, sementara negara memaknai adat sebagai potensi ekonomi melalui kebijakan kebudayaan dan pariwisata. Ketiganya membentuk jaringan kuasa yang melahirkan identitas ganda dalam diri masyarakat—sebagai penganut Kristen, anggota komunitas adat, sekaligus warga negara.
Pada akhir sidang, promotor Prof. Dr. I Nyoman Wijaya, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas keberanian dan ketekunan promovendus selama menjalani proses akademik. Ia menilai disertasi tersebut berhasil menerapkan teori kritis dalam kerangka kajian budaya secara kuat dan berbasis riset lapangan. Ida Bagus Putu Prajna Yogi juga menyampaikan terima kasih kepada Promotor dan para Ko-Promotor serta penguji yang telah membimbing serta memberi masukan selama proses penyusunan disertasi. Selain itu, pihak keluarga yang turut hadir menyampaikan harapan agar capaian akademik tersebut dapat menjadi awal pengabdian dan kontribusi ilmiah yang lebih luas bagi masyarakat.


Wednesday, March 11, 2026

Made Narawati Raih Gelar Doktor meneliti “Model Counter Stigma Mantan Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan dalam Kehidupan Sosial di Kota Denpasar”


 

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menyelenggarakan Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Kajian Budaya. Sidang ini berlangsung di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud. Promovenda, Made Narawati, S.Th., M.Si., mempresentasikan disertasi berjudul “Model Counter Stigma Mantan Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan dalam Kehidupan Sosial di Kota Denpasar”. Dalam sidang tersebut, promovenda berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat “cumlaude”. Dengan kelulusan ini, beliau tercatat sebagai doktor ke-277  di Fakultas Ilmu Budaya dan doktor ke-303 pada Program Studi Doktor Kajian Budaya, Program Doktor, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Pada sidang promosi doktor ini, Ketua Tim Penguji Disertasi adalah Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., yang didampingi oleh Anggota Tim Penguji yaitu Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A., Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., Dr. A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, SH.,MM.MH., Dr. I Made Anom Wiranata, SIP., M.A., Dr. Nuning Indah Pratiwi, S.Sos., M.I.Kom., C.Med.

Disertasi ini dilatarbelakangi oleh pengamatan penulis terhadap Mantan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) perempuan yang sudah menjalankan masa hukuman idealnya diterima hidup kembali di masyarakat. Stigmatisasi masyarakat menyebabkan mantan WBP perempuan menghadapi kesulitan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Namun bagi mantan WBP perempuan, stigma justru mendorong mereka untuk bangkit dan berjuang merebut citra perempuan yang tangguh dan mandiri di tengah masyarakat. Penerimaan diri dan dukungan keluarga dari mantan WBP perempuan serta peran beberapa stakeholder sangat menentukan keberhasilan reintegrasi sosial. Untuk itu, fokus dari penelitian ini adalah mendesain model counter stigma mantan WBP perempuan. Dalam studi kajian budaya yang kritis dan emansipatoris, dikaji bentuk counter stigma, faktor penyebab dan model counter stigma mantan WBP perempuan di Kota Denpasar.

Ada dua temuan utama dalam disertasi, yaitu temuan empiris dan teoritis. Secara empiris, penelitian ini menyoroti praktik counter stigma terhadap mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) perempuan, berbeda dengan kajian sebelumnya yang umumnya hanya membahas stigmatisasi dalam kehidupan sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa mantan WBP perempuan mampu melakukan pemulihan citra diri melalui praktik sosial yang berlandaskan nilai kearifan lokal Bali, yaitu “jengah”, yang berfungsi sebagai habitus dalam kehidupan sosial. Proses pemulihan citra tersebut diperkuat melalui peran aktif mantan WBP perempuan sebagai subjek, dengan dukungan tujuh pemangku kepentingan yang dirumuskan dalam Model Heptahelix “PELITA MAS”, yaitu kolaborasi antara pemerintah, edukator, LSM, industri, tokoh masyarakat, keluarga, dan media massa.

Secara teoritis, penelitian ini mengembangkan konsep transformasi dari agent menjadi agency melalui sintesis teori Pierre Bourdieu dan Anthony Giddens. Konsep ini menjelaskan bahwa agen dapat membangun agency melalui proses habitus structuring, dengan memanfaatkan berbagai modal seperti modal sosial, pendidikan, keterampilan, ekonomi, dan simbolik yang berakar pada nilai “jengah”. Kolaborasi antarpelaku dalam model interactive forceful agent menunjukkan bahwa agen tidak selalu bersifat hegemonik, tetapi dapat berperan mendukung mantan WBP perempuan sebagai subjek perubahan. Temuan ini juga menunjukkan bahwa stigma yang biasanya dipahami sebagai sesuatu yang negatif dapat ditransformasikan menjadi motivasi konstruktif bagi mantan WBP perempuan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri dan tangguh dalam struktur sosial masyarakat.

Menutup Sidang Ujian Terbuka, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., selaku promotor, menyampaikan bahwa selama menjalani proses studi, promovenda menunjukkan dedikasi yang tinggi melalui kerja keras, ketulusan, dan kedisiplinan dalam menyempurnakan karya ilmiahnya, yang tercermin dari perkembangan disertasi yang semakin baik dan signifikan dari waktu ke waktu. Beliau menegaskan bahwa perolehan gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam dunia keilmuan. Pada kesempatan yang sama, beliau juga menyampaikan ucapan selamat kepada promovenda beserta keluarga, seraya berharap agar promovenda dapat terus berkarya, terus mengembangkan diri dan belajar, menjunjung tinggi etika akademik, serta memberikan kontribusi yang bermakna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, institusi, maupun masyarakat luas.

Workshop Belanja dan Busana Adat Bali Perkenalkan Budaya Lokal kepada Mahasiswa Program BIPAS

 


Kegiatan Workshop on Shopping and Balinese Attire diselenggarakan pada Kamis, 12 Maret 2026, di Auditorium Kampus Nias. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program BIPAS yang bertujuan memperkenalkan budaya Bali kepada para peserta melalui pengalaman langsung mengenai tradisi berpakaian serta praktik berbelanja di pasar tradisional. Workshop ini menjadi salah satu kegiatan wajib yang harus diikuti oleh seluruh peserta program.

Acara diawali pada pukul 09.00 WITA dengan sambutan pembuka dari Koordinator Program BIPAS, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pemahaman budaya lokal bagi para peserta agar dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Bali. Kegiatan ini juga dirancang sebagai pengalaman pembelajaran interaktif yang menggabungkan pengetahuan budaya dan praktik langsung di lapangan.

Sesi utama workshop disampaikan oleh Dr. Ni Ketut Sri Rahayuni, S.S., M.Hum. yang memberikan penjelasan mengenai busana tradisional Bali. Dalam pemaparannya, peserta diperkenalkan pada berbagai jenis pakaian adat Bali, fungsi setiap bagian busana, serta makna budaya yang terkandung di dalamnya. Pengetahuan ini menjadi dasar bagi peserta sebelum mereka mempraktikkan penggunaan busana adat tersebut. Selanjutnya, peserta memperoleh materi mengenai teknik tawar-menawar di pasar tradisional. Dalam sesi ini, Ni Ketut Sri Rahayuni menjelaskan etika serta strategi negosiasi yang umum dilakukan masyarakat Bali saat berbelanja. Setelah menerima penjelasan, peserta diajak mempraktikkan langsung keterampilan tersebut melalui kegiatan belanja di Pasar Sanglah.

Kegiatan belanja berlangsung selama sekitar satu jam, di mana peserta dapat membeli berbagai perlengkapan yang diperlukan untuk busana tradisional Bali. Walaupun pembelian bersifat opsional, praktik tawar-menawar menjadi bagian penting dari pengalaman pembelajaran. Dalam kegiatan ini, beberapa mahasiswa lokal turut mendampingi peserta untuk memastikan kegiatan berjalan lancar dan seluruh peserta dapat mengikuti aktivitas dengan aman. Workshop kemudian dilanjutkan dengan praktik mengenakan busana tradisional Bali yang dipandu langsung oleh narasumber. Para peserta mempelajari cara memakai setiap bagian pakaian secara benar sesuai dengan tradisi setempat. Kegiatan ditutup dengan sambutan penutup dari Koordinator Program serta sesi foto bersama, sekaligus menandai berakhirnya workshop yang memberikan pengalaman budaya autentik bagi para peserta program.


Workshop Finalisasi RPS & Monev CPL Prodi Sastra Jepang Unud Siapkan Akreditasi IAPS 5.1


 

Denpasar, 11-12 Maret 2026 – Program Studi Sastra Jepang menggelar Workshop Penyusunan Dokumen RPS (Rencana Pembelajaran Semester) dan Monev CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan)  Program Studi sebagai kelengkapan menyusun lampiran untuk  akreditasi IAPS 5.1 BAN-PT. Kegiatan dua hari bertempat di Ruang Priyono Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan mengundang narasumber yaitu seorang asesor BAN-PT dari Universitas Jenderal Soedirman yaitu Dr. Haryono, S.S., M.Pd. yang hadir secara hybrid. Workshop ini menargetkan dokumen kurikulum dan evaluasi pembelajaran siap lampirkan ke LKPS dan LED. Workshop ini bertujuan memastikan RPS seluruh mata kuliah dan Monev CPL Prodi lengkap, konsisten, dan sesuai standar BAN-PT, khususnya kriteria pembelajaran dan kurikulum. Kegiatan juga memperkuat pemahaman dosen mengenai format RPS berbasis OBE dan mekanisme monitoring capaian pembelajaran lulusan setara JLPT N3.

Pada hari pertama kegiatan, Rabu, 11 Maret 2026, workshop diawali dengan sesi pembukaan oleh Wakil Dekan I yaitu Dr. I Gede Oenada, S.S., M.Hum. Narasumber Dr. Haryono, S.S., M.Pd. memaparkan secara rinci komponen penting dalam penyusunan dokumen RPS, terutama yang berkaitan dengan keselarasan antara CPL, bahan kajian, metode pembelajaran, serta sistem penilaian untuk penyamaan persepsi mengenai instrumen akreditasi IAPS 5.1. Dalam sesi ini para dosen juga melakukan diskusi intensif untuk memastikan setiap mata kuliah wajib telah memiliki RPS yang terstruktur dan sesuai dengan pendekatan Outcome Based Education (OBE). Selanjutnya, pada hari kedua, Kamis, 12 Maret 2026, kegiatan difokuskan pada penyusunan dan evaluasi dokumen Monitoring dan Evaluasi (Monev) Capaian Pembelajaran Lulusan Prodi Sastra Jepang. Melalui pendampingan narasumber, peserta workshop meninjau kembali mekanisme pengukuran ketercapaian CPL yang terintegrasi dengan standar kompetensi lulusan, termasuk target kemampuan bahasa Jepang yang setara dengan Japanese Language Proficiency Test (JLPT) tingkat N3. Proses ini dilakukan melalui diskusi kelompok serta peninjauan dokumen yang telah disusun sebelumnya.

Melalui workshop ini, Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana berharap seluruh dokumen pendukung kurikulum, RPS, dan Monev CPL dapat tersusun secara sistematis dan memenuhi standar akreditasi nasional. Hasil finalisasi dokumen tersebut nantinya akan dilampirkan dalam Laporan Kinerja Program Studi (LKPS) dan Laporan Evaluasi Diri (LED) sebagai bagian dari proses pengajuan akreditasi IAPS 5.1 ke BAN-PT. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan semakin memperkuat komitmen Program Studi Sastra Jepang dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan tata kelola akademik secara berkelanjutan.

Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Berhasil Raih Gelar Doktor

 


Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Fransiska Dewi Setiyowati Sunaryo, berhasil meraih gelar Doktor pada Program Studi Doktor Kajian Budaya FIB Unud setelah mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka yang berlangsung pada Rabu, 11 Maret 2026 di kampus setempat. Dalam sidang tersebut, ia dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan tercatat sebagai Doktor ke-301. Ujian terbuka dipimpin oleh Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., serta dihadiri sembilan orang penguji, termasuk seorang penguji eksternal dari Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, bersama sejumlah dosen, keluarga, dan perwakilan komunitas Flobamora Bali. Tim penguji disertasi terdiri atas: Prof. Dr. Ni Luh Nyoman Seri Malini, S.S., M.Hum. (Promotor), Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si. (Kopromotor I), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (Kopromotor II) Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., Prof. Dr. I Nengah Punia, M.Si., Prof. Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum. (Penguji eksternal), Dr. I Made Anom Wiranata, S.IP., M.A., dan Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.S.Hum., M.Hum. 

Disertasi yang dipertahankan berjudul “Integrasi dan Kontestasi Diaspora Sumba dalam Masyarakat Multikultural di Bali.” Penelitian ini menelaah dinamika kehidupan diaspora Sumba di Bali, khususnya dalam proses integrasi sosial sekaligus berbagai bentuk kontestasi yang muncul dalam kehidupan masyarakat multikultural. Fransiska menjelaskan bahwa meningkatnya arus migrasi internal dari Nusa Tenggara Timur ke Bali memunculkan berbagai proses sosial, mulai dari adaptasi dan negosiasi identitas hingga relasi kuasa serta pengalaman marginalisasi yang dihadapi kelompok diaspora tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi kritis. Lokasi penelitian mencakup Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Gianyar, yang menjadi wilayah tujuan utama diaspora Sumba untuk tinggal dan bekerja di Bali. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (FGD), serta studi dokumen. Informan penelitian melibatkan anggota diaspora Sumba di Bali, pengurus organisasi diaspora NTT, tokoh etnis Sumba, serta tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat Bali.

Dalam analisisnya, Fransiska Dewi Setiyowati Sunaryo, S.S., M.Hum. memanfaatkan teori praktik, teori relasi kuasa dan pengetahuan, serta teori multikulturalisme secara eklektik sesuai dengan temuan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses integrasi diaspora Sumba di Bali dipengaruhi oleh kesamaan nilai dan identitas, kepentingan ekonomi, serta solidaritas emosional di antara anggota komunitas diaspora. Integrasi tersebut tercermin dalam berbagai praktik adaptasi sosial, pemanfaatan modal sosial dan ekonomi, partisipasi dalam kehidupan masyarakat, hingga representasi identitas di ruang publik. Penelitian ini juga menemukan adanya berbagai bentuk kontestasi yang dihadapi diaspora Sumba. Kontestasi tersebut muncul akibat ketimpangan modal, keterbatasan akses terhadap berbagai ruang sosial, serta kebijakan negara yang turut memengaruhi posisi mereka dalam masyarakat. Kondisi ini memunculkan fenomena persaingan ekonomi, marginalisasi, stigmatisasi, hingga berbagai bentuk resistensi yang dilakukan diaspora Sumba untuk mempertahankan identitas dan posisi mereka dalam kehidupan sosial. Fenomena ini juga ditandai dengan munculnya istilah “Nak Sumba” sebagai bentuk pengakuan simbolik terhadap identitas etnis Sumba dalam masyarakat Bali. Salah satu temuan penting dari penelitian tersebut adalah konsep “Marapu modern”, yang menggambarkan transformasi nilai-nilai kepercayaan Marapu dalam kehidupan diaspora Sumba di Bali. Nilai-nilai kearifan lokal tersebut tidak hilang meskipun masyarakat Sumba bermigrasi, melainkan mengalami penyesuaian dengan konteks sosial yang baru.

Promotor Prof. Dr. Ni Luh Nyoman Seri Malini, S.S., M.Hum. dalam sambutannya mengapresiasi keberanian Fransiska dalam memilih topik penelitian serta keberhasilannya menyelesaikan studi doktoral tepat waktu. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Paguyuban Flobamora Bali, Herman Umbu Billy, juga menyampaikan apresiasi atas penelitian tersebut yang dinilai mampu memberikan perspektif akademis terhadap isu dan stigma yang kerap dihadapi komunitas diaspora.

Monday, March 9, 2026

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Menjajaki Kerja Sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bali





Denpasar, 09 Maret 2026 — Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, M.A., Ph.D., menerima kunjungan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Bali, Kementerian Kebudayaan, Bapak Iskandar Eko Priyotomo dan sejumlah staf BPK di Kampus Fakultas Ilmu Budaya, Jalan Nias, Denpasar.

Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut membahas penjajakan kerja sama pengembangan kebudayaan antara Balai Pelestarian Kebudayaan dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Fokus kerja sama untuk memfasilitasi kegiatan mahasiswa dalam program magang, penelitian, kebudayaan, dan kegiatan seminar baik nasional maupun internasional. Dalam pertemuan tersebut, Prof. Aryawibawa didampingi oleh Wakil Dekan III yaitu Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Informas,i Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M.Si. serta dosen-dosen dari Program Studi Ilmu Arkeologi.

Prof. Aryawibawa menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik rencana kerja sama ini. Beliau mengungkapkan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan kepada FIB dalam merespons pengembangan dan pemanfaatan baik untuk Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dan Cagar Budaya.  “Kami sangat menyambut baik kerja sama ini. Selain penting bagi kebudayaan Bali juga meningkatkan visibilitas FIB dan Universitas Udayana di forum yang lebih luas,” ujar Prof. Aryawibawa. Dalam kesempatan itu, beliau juga memaparkan sejumlah kerja sama bidang kebudayaan dengan sejumlah instansi pemerintah, seperti :Dinas Kebudayaan di Provinsi Bali, dan universitas lainnya seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang telah dilakukan FIB dalam penelitian, kajian, dan publikasi hasil landasan  pembangunan berkelanjutan di Bali.

Sementara itu, Bapak Iskandar menyampaikan antusiasmenya atas sambutan positif terhadap rencana kolaborasi ini. Ia menekankan pentingnya melibatkan akademisi, baik dosen maupun mahasiswa dalam berbagai kegiatan program promosi kebudayaan. Beliau menekankan publikasi dalam aspek ilmiah populer agar kinerja BPK terlihat oleh publik di tingkat nasional dan internasional. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam berbagai program BPK memungkinkan mereka memperoleh pengalaman langsung di lapangan, “Hub kebudayaan dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus menjadi capaian kinerja untuk kantor BPK. Ini akan menjadi langkah strategis dalam keberlanjutan kerja sama yang selama ini sudah terjalin. Tidak hanya di bidang material tapi juga non-material seperti bahasa dan ide-ide karya lainnya,” ujarnya. Budaya menjadi core value di Bali, sehingga sudah sepantasnya mendapatkan perhatian utama, Ilmu Budaya juga memberikan peluang mendekatkan hasil penelitian dan kajian yang menumpuk tanpa manfaat besar kepada masyarakat sebagai pemilik dan penerima aset budaya.

Kerja sama ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dalam bentuk program hub kebudayaan dan diseminasi hasil kajian untuk suatu kelompok budaya, menjadi langkah konkret untuk memberikan kontribusi bagi pelestarian kebudayaan sekaligus penguatan jejaring antar instansi kebudayaan.


 

Friday, March 6, 2026

Tingkatkan Kualitas Lulusan, Program Studi Sastra Indonesia FIB Unud Gelar Workshop Penyusunan Buku Ajar Berbasis CPL

 




Pada hari Sabtu, 7 Maret 2026, Program Studi S1 Sastra Indonesia FIB Unud melaksanakan Workshop Penyusunan Buku Ajar Berbasis Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) secara hybrid yang bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud dan Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh para dosen Sastra Indonesia FIB Unud beserta tamu undangan dari berbagai universitas di Bali, seperti Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas PGRI Mahadewa, dan Universitas Warmadewa. 

Dalam sambutannya, Koordinator Program Studi S1 Sastra Indonesia FIB Unud, Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. memaparkan tema workshop kali ini yaitu “Transformasi Materi Pembelajaran menjadi Buku Ajar yang Relevan dan Berbasis CPL" guna merespons tuntutan pendidikan tinggi terhadap kualitas pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE). Kegiatan ini merupakan wujud komitmen program studi dalam mendorong para dosen untuk secara aktif berdiskusi dan mentransformasikan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) atau materi perkuliahan yang telah dimiliki menjadi draf buku ajar yang terstruktur.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Beliau mengapresiasi inisiatif tersebut karena transformasi materi perkuliahan menjadi buku ajar akan sangat mempermudah program studi dalam memonitor pemenuhan CPL sekaligus menyempurnakan kurikulum. Hal ini sejalan dengan tuntutan penerapan Outcome-Based Education (OBE) yang menggeser fokus pengajaran dari sekadar penyampaian materi menuju pencapaian kompetensi nyata yang relevan dengan dinamika dunia kerja. Kegiatan ini dinilai memiliki urgensi tinggi karena secara langsung menunjang pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) institusi, khususnya dalam meningkatkan kualitas lulusan. 

Narasumber pada workshop kali ini adalah Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A. dari Universitas Pendidikan Ganesha. Beliau memaparkan pentingnya penyesuaian kurikulum berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Peraturan ini mengamanatkan bahwa standar luaran pendidikan merupakan standar kompetensi lulusan yang wajib dirumuskan ke dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Untuk merealisasikan hal tersebut, perguruan tinggi harus mengadopsi sistem Outcome-Based Education (OBE), yakni pendekatan pendidikan yang berfokus penuh pada pencapaian hasil belajar mahasiswa yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Prinsip utama dari OBE ini ditekankan pada kejelasan hasil pembelajaran, metode pengajaran serta penilaian yang fleksibel, dan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

Dalam tataran praktisnya, pengembangan materi dan buku ajar harus terintegrasi dengan hierarki kurikulum OBE yang terdiri atas Program Educational Objectives (PEO), Program Learning Outcomes (PLO/CPL), dan Course Outcomes (CO/CPMK). Saat merancang bahan ajar berbasis OBE, dosen diharapkan untuk melakukan evaluasi mandiri melalui tiga aspek krusial. Aspek pertama adalah keselarasan (Alignment), guna memastikan tujuan pembelajaran dan tingkat kognitif terhubung langsung dengan CO. Aspek kedua adalah berpusat pada mahasiswa (Student-Centered), yang mengharuskan penyajian konteks dunia nyata serta mendorong partisipasi aktif mahasiswa dibandingkan sekadar membaca materi secara pasif. Terakhir, aspek pengukuran & bukti (Assessment) wajib dihadirkan melalui latihan soal atau tugas yang mengukur ketercapaian kompetensi secara langsung dan spesifik.

Usai pemaparan materi, workshop dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang secara khusus membedah langkah-langkah praktis dalam penyusunan materi ajar. Rangkaian kegiatan ini kemudian ditutup secara resmi dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada narasumber. Ke depannya, penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan mampu memantik motivasi tenaga pendidik untuk terus memperkuat kinerja akademik melalui inovasi bahan ajar yang selaras dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Dengan demikian, institusi dapat terus mencetak lulusan unggul yang adaptif dan siap bersaing menghadapi tantangan zaman.

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...