Program Studi Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka yang dilaksanakan di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud pada Jumat, 21 Agustus 2026. Promovenda atas nama Ni Made Ari Dwijayanthi, S.S., M.Hum. berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Representasi Jiwanmukti Sebagai Sastra Pembebasan Dalam Kakawin Panca Dharma”. Sidang tersebut dihadiri oleh keluarga dan rekan sejawat Promovenda. Dengan keberhasilan tersebut. Promovenda menjadi Doktor ke-290 pada Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud.
Keberhasilan Promovenda dalam mempertahankan hasil penelitiannya tidak terlepas dari arahan, masukan, dan evaluasi yang diberikan oleh para anggota penguji. Sidang ujian terbuka ini diketuai oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum., dengan didampingi Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum. sebagai Promotor, Prof. Dr. Drs. I Ketut Sudewa, M.Hum. sebagai Kopromotor 1, dan Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. sebagai Kopromotor 2. Sementara itu, tim penguji yang turut mendampingi pimpinan sidang terdiri atas Prof. Dr. Dra. Luh Putu Puspawati, M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Dr. Drs. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum., Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., dan Dr. Drs. Ketut Yarsama, M.Hum.
Di hadapan para penguji, Promovenda memaparkan bahwa penelitian disertasinya dilatarbelakangi oleh krisis kesadaran diri manusia modern yang cenderung mencari kebahagiaan melalui hal-hal eksternal serta praktik spiritual yang bersifat simbolik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis wacana kritis, penelitian tersebut menunjukkan bahwa Kakawin Panca Dharma merupakan satu kesatuan ajaran yang menggambarkan perjalanan manusia menuju pembebasan batin.
Perjalanan tersebut berlangsung secara bertahap melalui kalepasan, kamoksan, kasunyatan, dan kaputusan. Kalepasan berkaitan dengan pengendalian diri, indra, ucapan, serta pelepasan berbagai keterikatan. Kamoksan merupakan proses penyatuan jiwa dengan kesadaran yang lebih tinggi. Kasunyatan menggambarkan kondisi keheningan dan kebebasan dari dualitas duniawi. Sementara itu, kaputusan menjadi tahap tertinggi ketika manusia terbebas dari keterikatan dan mencapai kesadaran tertinggi. Ajaran tersebut tidak hanya dipahami sebagai konsep mistis, tetapi juga sebagai proses psikologis yang mencakup penerimaan diri, pengendalian pikiran, keikhlasan, dan kontemplasi.
Penelitian ini juga menemukan adanya paralelitas antara ajaran pembebasan dalam Kakawin Panca Dharma dengan psikologi analitik Carl Gustav Jung, khususnya melalui konsep individuasi, shadow, anima-animus, dan Self. Dengan demikian, Kakawin Panca Dharma tidak hanya dapat dipandang sebagai warisan sastra Jawa Kuno, tetapi juga sebagai peta spiritual dan psikologis yang tetap relevan bagi manusia modern. Nilai-nilai seperti penerimaan diri, kesadaran batin, pengendalian ego, keikhlasan, dan dialog dengan diri sendiri dapat menjadi bahan refleksi dalam membangun kesehatan mental yang lebih holistik.
Pemaparan hasil penelitian tersebut kemudian memunculkan diskusi mendalam dalam sesi tanya jawab yang menyoroti dua poin utama. Promovenda menjelaskan bahwa Kakawin Dharma Sawita, Kakawin Dharma Wimala, Dharma Niskala, Dharma Sunya, dan Dharma Putus memiliki pertalian atau benang merah yang menunjukkan tahapan dari dasar hingga tingkat lanjut dalam mencapai pembebasan diri. Pembebasan diri yang dimaksud berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengendalikan diri sehingga seseorang mampu melihat serta menilai dirinya sendiri.
Promovenda berharap hasil penelitiannya dapat dibaca secara lebih luas oleh para stakeholders, khususnya pihak yang berkonsentrasi dalam bidang ilmu gizi. Dalam Kakawin Dharma Sawita, misalnya, dijelaskan mengenai cara mengolah rasa, termasuk mengendalikan makanan. Selanjutnya, dalam bidang psikologi, ketika seseorang mampu memahami dan mengendalikan apa yang masuk ke dalam tubuh, hal tersebut juga dapat membantu proses pengendalian diri. Dengan tubuh yang sehat, kesehatan jiwa juga diharapkan dapat terjaga.
Sebagai penutup, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum. selaku Promotor menyampaikan pesan dan harapannya kepada Promovenda. Sebagai seorang aktivis sekaligus dosen, gelar yang telah diperoleh harus dapat dipertanggungjawabkan melalui kontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia akademik. Lebih dari sekadar menjadi sebuah disertasi, kajian mengenai Kakawin Panca Dharma diharapkan dapat terus dihidupkan sebagai pengingat filosofis bagi setiap orang untuk senantiasa merefleksikan nilai-nilai kehidupan, kesadaran diri, dan pembebasan yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, karya ini tidak hanya berhenti sebagai pencapaian akademik, tetapi juga dapat memberikan makna dan manfaat bagi seluruh hadirin serta masyarakat luas.

No comments:
Post a Comment