Denpasar - Program Studi Ilmu
Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) melaksanakan Workshop
Kajian Wilayah bertajuk “Area Studies: Concepts, Strategies, and
Understanding International Relations for a Better Future” yang terlaksana
secara hybrid pada Senin, 3 Agustus 2026.. Bertempat di Ruang Sidang Dr.
Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, workshop ini
dihadiri oleh perwakilan dekanat, para dosen dan mahasiswa dari program studi
Ilmu Sejarah FIB Unud sebagai wujud komitmen proaktif program studi dalam
memperdalam pemahaman aspek kajian wilayah. Workshop ini mengundang
beberapa pakar lintas institusi, diantaranya Prof. Dr. Sudarman S.Hum., M.A.
dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Ekmel Geçer dari
Marmara University Türkiye, serta Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. dari
Universitas Udayana.
Mengawali acara, Koordinator
Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., berharap
agar lokakarya ini mampu memperkaya perspektif analitis sivitas akademika
melalui pendekatan komprehensif dan komparatif dalam merespons dinamika global.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S.,
M.A., Ph.D., yang hadir untuk membuka acara secara resmi, memberikan apresiasi
atas kehadiran para pakar internasional. Beliau menegaskan bahwa kajian wilayah
memiliki urgensi krusial karena menawarkan perspektif holistik yang mencakup
irisan sejarah, bahasa, budaya, hingga politik dan dapat menjadi wujud nyata
upaya peningkatan kapasitas (capacity building) bagi mahasiswa, dosen,
maupun institusi ke depannya.
Memasuki sesi presentasi utama,
kajian wilayah mula mula dibedah melalui kacamata sejarah kemaritiman
Nusantara. Melalui materi bertajuk "The Cradle of Malay Civilization: A
Historical-Anthropological Study of the Cultural Connectivity of Minangkabau
and the Malay Peninsula", Prof. Dr. Sudarman, S.Hum., M.A. membahas asal
usul peradaban Melayu dan hubungan erat antara Minangkabau dengan Semenanjung
Malaya. Beliau menjelaskan bahwa peradaban Nusantara dibentuk oleh gelombang
kedatangan Melayu Tua di pedalaman dan Melayu Muda di pesisir, yang kemudian
diperkaya oleh arus budaya India, Persia, Cina, dan Eropa. Persebaran budaya
ini didorong oleh tradisi merantau masyarakat Minangkabau sejak akhir abad ke
17. Dalam konteks ini, Selat Malaka berperan penting sebagai jalan raya
peradaban yang membuktikan bahwa identitas Melayu terbentuk dari sebuah
jaringan maritim yang dinamis.
Melengkapi tinjauan historis
tersebut, perbincangan bergeser pada pentingnya konektivitas sosial masyarakat
melalui pendekatan psikologi. Membawakan ulasan bertajuk "Finding
Flourishing in Community: Cultural Values, and Psycho-Social Well-Being in
Turkish Collectivism", Prof. Ekmel Geçer menyoroti urgensi
kesejahteraan psikologis kolektif. Beliau menegaskan bahwa kebahagiaan manusia
sangat bergantung pada kualitas hubungan sosialnya. Lingkungan yang suportif
dan aman secara psikologis sangat dibutuhkan mulai dari tingkat keluarga hingga
negara. Berbagai studi membuktikan bahwa ikatan sosial yang kuat serta
kebiasaan saling membantu dapat menurunkan stres dan memperpanjang usia. Untuk
menghadapi tantangan era digital saat ini, beliau juga menyarankan agar orang tua
membatasi penggunaan gawai pada anak dan lebih mengutamakan interaksi nyata
yang berlandaskan empati.
Pemahaman mengenai dinamika
masyarakat ini kemudian diperluas ke dalam konteks tata dunia global dengan
menilik perkembangan multikulturalisme di Eropa. Lewat presentasi berjudul
"European Area Studies: Understanding multicultural societies in the
context of enhancing human well-being and dignity", Prof. Dr. phil. I
Ketut Ardhana, M.A. memaparkan kembali pentingnya disiplin Kajian Wilayah untuk
memetakan situasi perpolitikan internasional. Berdasarkan hasil risetnya,
beliau menyoroti tantangan multikulturalisme di Jerman yang banyak dipengaruhi
oleh tingginya arus migrasi pekerja dari Turki sejak tahun 1961. Prof. Ardhana
lantas membandingkan karakteristik masyarakat multikultural di negara Eropa
tersebut dengan kondisi kerukunan di Asia Tenggara. Beliau menyimpulkan bahwa
pemahaman komprehensif mengenai sejarah Eropa merupakan kunci penting bagi
sivitas akademika untuk menganalisis berbagai persoalan sosial yang sedang
melanda dunia saat ini.
Rangkaian presentasi dari ketiga
narasumber sukses memantik antusiasme dari para peserta. Hal ini terlihat
secara nyata pada sesi diskusi interaktif, di mana perwakilan dosen dan
mahasiswa melontarkan beragam pertanyaan kritis terkait sejarah perdagangan
maritim Nusantara, tantangan pengasuhan anak di era digital, hingga relevansi
historis kajian Eropa dalam merespons konflik global kontemporer. Lokakarya
Kajian Wilayah ini kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat apresiasi
kepada ketiga pakar atas kontribusi keilmuan yang telah diberikan.
Melalui penyelenggaraan lokakarya ini, Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unud berharap agar diskursus mengenai Kajian Wilayah tidak sekadar berhenti pada tataran teoretis di ruang kelas. Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak cendekiawan muda yang tidak hanya kritis dalam membedah sejarah, tetapi juga memiliki kepekaan empati dan wawasan lintas budaya yang mumpuni dalam merespons dinamika perpolitikan global. Ke depannya, perspektif holistik ini diyakini akan menjadi bekal krusial bagi sivitas akademika dalam berkontribusi membangun peradaban dan tata masyarakat dunia yang lebih baik.

No comments:
Post a Comment