Monday, August 3, 2026

Kupas Dinamika Internasional, Prodi Ilmu Sejarah FIB Unud Gelar Workshop Kajian Wilayah

 


Denpasar - Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) melaksanakan Workshop Kajian Wilayah bertajuk “Area Studies: Concepts, Strategies, and Understanding International Relations for a Better Future” yang terlaksana secara hybrid pada Senin, 3 Agustus 2026.. Bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, workshop ini dihadiri oleh perwakilan dekanat, para dosen dan mahasiswa dari program studi Ilmu Sejarah FIB Unud sebagai wujud komitmen proaktif program studi dalam memperdalam pemahaman aspek kajian wilayah. Workshop ini mengundang beberapa pakar lintas institusi, diantaranya Prof. Dr. Sudarman S.Hum., M.A. dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Ekmel Geçer dari Marmara University Türkiye, serta Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. dari Universitas Udayana.

Mengawali acara, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., berharap agar lokakarya ini mampu memperkaya perspektif analitis sivitas akademika melalui pendekatan komprehensif dan komparatif dalam merespons dinamika global. Senada dengan hal tersebut, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., yang hadir untuk membuka acara secara resmi, memberikan apresiasi atas kehadiran para pakar internasional. Beliau menegaskan bahwa kajian wilayah memiliki urgensi krusial karena menawarkan perspektif holistik yang mencakup irisan sejarah, bahasa, budaya, hingga politik dan dapat menjadi wujud nyata upaya peningkatan kapasitas (capacity building) bagi mahasiswa, dosen, maupun institusi ke depannya.

Memasuki sesi presentasi utama, kajian wilayah mula mula dibedah melalui kacamata sejarah kemaritiman Nusantara. Melalui materi bertajuk "The Cradle of Malay Civilization: A Historical-Anthropological Study of the Cultural Connectivity of Minangkabau and the Malay Peninsula", Prof. Dr. Sudarman, S.Hum., M.A. membahas asal usul peradaban Melayu dan hubungan erat antara Minangkabau dengan Semenanjung Malaya. Beliau menjelaskan bahwa peradaban Nusantara dibentuk oleh gelombang kedatangan Melayu Tua di pedalaman dan Melayu Muda di pesisir, yang kemudian diperkaya oleh arus budaya India, Persia, Cina, dan Eropa. Persebaran budaya ini didorong oleh tradisi merantau masyarakat Minangkabau sejak akhir abad ke 17. Dalam konteks ini, Selat Malaka berperan penting sebagai jalan raya peradaban yang membuktikan bahwa identitas Melayu terbentuk dari sebuah jaringan maritim yang dinamis.  

Melengkapi tinjauan historis tersebut, perbincangan bergeser pada pentingnya konektivitas sosial masyarakat melalui pendekatan psikologi. Membawakan ulasan bertajuk "Finding Flourishing in Community: Cultural Values, and Psycho-Social Well-Being in Turkish Collectivism", Prof. Ekmel Geçer menyoroti urgensi kesejahteraan psikologis kolektif. Beliau menegaskan bahwa kebahagiaan manusia sangat bergantung pada kualitas hubungan sosialnya. Lingkungan yang suportif dan aman secara psikologis sangat dibutuhkan mulai dari tingkat keluarga hingga negara. Berbagai studi membuktikan bahwa ikatan sosial yang kuat serta kebiasaan saling membantu dapat menurunkan stres dan memperpanjang usia. Untuk menghadapi tantangan era digital saat ini, beliau juga menyarankan agar orang tua membatasi penggunaan gawai pada anak dan lebih mengutamakan interaksi nyata yang berlandaskan empati. 

Pemahaman mengenai dinamika masyarakat ini kemudian diperluas ke dalam konteks tata dunia global dengan menilik perkembangan multikulturalisme di Eropa. Lewat presentasi berjudul "European Area Studies: Understanding multicultural societies in the context of enhancing human well-being and dignity", Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. memaparkan kembali pentingnya disiplin Kajian Wilayah untuk memetakan situasi perpolitikan internasional. Berdasarkan hasil risetnya, beliau menyoroti tantangan multikulturalisme di Jerman yang banyak dipengaruhi oleh tingginya arus migrasi pekerja dari Turki sejak tahun 1961. Prof. Ardhana lantas membandingkan karakteristik masyarakat multikultural di negara Eropa tersebut dengan kondisi kerukunan di Asia Tenggara. Beliau menyimpulkan bahwa pemahaman komprehensif mengenai sejarah Eropa merupakan kunci penting bagi sivitas akademika untuk menganalisis berbagai persoalan sosial yang sedang melanda dunia saat ini. 

Rangkaian presentasi dari ketiga narasumber sukses memantik antusiasme dari para peserta. Hal ini terlihat secara nyata pada sesi diskusi interaktif, di mana perwakilan dosen dan mahasiswa melontarkan beragam pertanyaan kritis terkait sejarah perdagangan maritim Nusantara, tantangan pengasuhan anak di era digital, hingga relevansi historis kajian Eropa dalam merespons konflik global kontemporer. Lokakarya Kajian Wilayah ini kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat apresiasi kepada ketiga pakar atas kontribusi keilmuan yang telah diberikan. 

Melalui penyelenggaraan lokakarya ini, Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unud berharap agar diskursus mengenai Kajian Wilayah tidak sekadar berhenti pada tataran teoretis di ruang kelas. Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak cendekiawan muda yang tidak hanya kritis dalam membedah sejarah, tetapi juga memiliki kepekaan empati dan wawasan lintas budaya yang mumpuni dalam merespons dinamika perpolitikan global. Ke depannya, perspektif holistik ini diyakini akan menjadi bekal krusial bagi sivitas akademika dalam berkontribusi membangun peradaban dan tata masyarakat dunia yang lebih baik.

No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...