Pada hari Senin, 29 Juni 2026,
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menyelenggarakan Sidang Ujian
Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Linguistik. Sidang ini berlangsung
di Ruang Sidang Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud. Promovenda,
Tu Na., mempresentasikan disertasi berjudul “A Study of Tourism Chinese
Teaching Strategy in Bali”. dan berhasil mempertahankan disertasinya dengan
predikat “Sangat Memuaskan” serta menjadi doktor ke-282 di FIB Unud dan doktor
ke-282 di Program Studi Linguistik Program Doktor FIB Unud.
Pada sidang promosi Doktor ini,
Ketua Tim Penguji Disertasi Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum., yang
didampingi oleh Anggota Tim Penguji yaitu Prof. Dr. Dra. Ni Luh Ketut Mas
Indrawati, TEFL., M.A. selaku Promotor, Prof. Dr. Dra. Luh Putu Laksminy, M.Hum.
selaku Kopromotor I, Putu Ayu Asty Senja Pratiwi,S.S., M.Hum, Ph.D. selaku
Kopromotor II, Adapun anggota tim penguji pada sidang terbuka kali ini Adalah
Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A., Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sukarini, M.Hum., Prof.
Dr. Dra. Ida Ayu Made Puspani, M.Hum., Prof. Dr. I Nengah Laba, M.Hum., Dr. I
Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M. Hum.
Disertasi ini mengungkapkan
strategi pengajaran Bahasa Mandarin Pariwisata yang terbukti efektif
meningkatkan kemampuan berbahasa pada dua kelompok pembelajar berbeda di Bali,
yaitu mahasiswa manajemen perhotelan dan staf kantor imigrasi. Penelitian ini menjadi
penting mengingat tingginya kebutuhan komunikasi berbahasa Mandarin di sektor
pariwisata Bali, seiring derasnya arus wisatawan dari negara-negara berbahasa
Mandarin. Menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas dengan metode
campuran, peneliti merancang strategi pengajaran yang memadukan Metode
Audiolingual, Pendekatan Budaya Pertunjukan, dan Pengajaran Bahasa Berbasis
Tugas, dengan prinsip Bahasa Mandarin untuk Tujuan Khusus sebagai landasan
utamanya.
Hasil pre-test awal menunjukkan
tantangan besar yang dihadapi kedua kelompok. Mahasiswa manajemen perhotelan
hanya mencatatkan nilai rata-rata 50,2 dengan tingkat kelulusan sebesar 24%,
sementara kondisi lebih memprihatinkan terjadi pada staf imigrasi, di mana 16
dari 18 peserta bahkan mendapat nilai nol. Namun setelah strategi pengajaran
diterapkan, hasil post-test memperlihatkan lonjakan yang signifikan. Nilai
rata-rata kelas perhotelan melonjak menjadi 74,44 dengan tingkat kelulusan naik
menjadi 68%, sedangkan kelas imigrasi mencatatkan hasil yang lebih mengesankan
dengan rata-rata 76 dan tingkat kelulusan mencapai 77,8%. Analisis N-Gain turut
mengonfirmasi keberhasilan ini, dengan efek sedang sebesar 0,53 pada kelas
perhotelan dan efek tinggi sebesar 0,74 pada kelas imigrasi menandakan bahwa
peserta didik yang sudah bekerja justru menunjukkan kemajuan belajar yang lebih
pesat.
Peneliti menyoroti bahwa
keberhasilan strategi ini tidak lepas dari pengelolaan waktu yang terstruktur
serta kemampuan pengajar beradaptasi dengan berbagai kendala lapangan, mulai
dari gangguan kebisingan konstruksi hingga ketidakhadiran peserta yang tidak
menentu. Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah keterbatasan,
seperti tingkat kemahiran peserta yang heterogen dan masih adanya kesenjangan
antara materi yang diajarkan di kelas dengan tuntutan aplikasi di dunia kerja
nyata. Terlepas dari tantangan tersebut, penelitian ini dinilai memberikan
kontribusi penting bagi pengembangan Bahasa Mandarin untuk Tujuan Khusus,
sekaligus menawarkan model penelitian tindakan metode campuran yang dapat
direplikasi di berbagai konteks. Para peneliti berharap, temuan dan rekomendasi
dari studi ini tidak hanya bermanfaat bagi penyempurnaan kurikulum dan strategi
pengajaran Bahasa Mandarin Pariwisata di Bali, tetapi juga dapat menjadi
referensi berharga bagi destinasi-destinasi wisata lain yang turut bergantung pada
sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi..
Menutup Sidang Ujian Terbuka,
Prof. Dr. Dra. Ni Luh Ketut Mas Indrawati, TEFL., M.A., selaku promotor,
mengungkapkan bahwa sepanjang masa studinya, Dr. Tu Na telah memperlihatkan
dedikasi tinggi lewat kerja keras, ketulusan, dan kedisiplinan dalam menyempurnakan
karya ilmiahnya. Hal tersebut tampak jelas dari kualitas disertasi yang terus
mengalami kemajuan berarti dari waktu ke waktu. Beliau menekankan bahwa gelar
doktor yang diraih bukanlah titik akhir perjalanan akademik, melainkan justru
menjadi permulaan bagi tanggung jawab yang lebih besar dalam dunia keilmuan.
Dalam kesempatan tersebut, beliau turut menyampaikan selamat kepada promovenda
beserta keluarga, sekaligus berharap agar promovenda senantiasa berkarya, terus
mengembangkan diri dan menimba ilmu, menjaga integritas serta etika akademik,
dan mampu memberikan sumbangsih yang berarti bagi kemajuan ilmu pengetahuan,
institusi, maupun masyarakat secara luas.












