Gianyar, 10 April 2026 — Kelompok 23 Bina Desa yang terdiri atas 15 anggota dari program studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, secara resmi melaksanakan pembukaan sebagai awal dari terlaksananya kegiatan Kampus Berdampak Bina Desa. Acara tersebut dilaksanakan pada Wantilan Pura Agung Gunung Raung dan dihadiri oleh Dr. Galuh Febri Putra, M.A. selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), I Wayan Warka selaku Kepala Desa Taro, Ketua Pengelola Desa Wisata Taro, Bendesa Adat Taro Kaja, Klian Banjar Dinas (KBD) se-desa Taro, perwakilan Bimas dan Babinsa, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perwakilan Karang Taruna, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), perwakilan puskesmas, serta anggota kelompok sekaligus panitia acara.
Acara diawali oleh sambutan dari
Fransiska Oktafian selaku Ketua Kelompok Bina Desa Taro sekaligus Koordinator
Desa. Beliau menyampaikan rasa terima kasih pada pihak-pihak desa yang telah
menyambut kehadiran mereka di Desa Taro dengan baik dan telah berkenan hadir
pada acara pembukaan. Beliau juga menjelaskan bahwa Bina Desa merupakan salah
satu program dari Kampus Berdampak yang berlangsung selama kurang lebih 4 bulan
dan berharap pihak-pihak desa ikut bekerja sama untuk membantu kelancaran
pelaksanaannya.
Dr. Galuh Febri Putra, M.A.
selaku DPL turut menyampaikan rasa terima kasih atas kerjasama pihak Desa Taro.
Beliau menjelaskan bahwa fokus dari kegiatan bina desa ini adalah meningkatkan
rekognisi global dari Desa Taro melalui program-program kerja yang akan
dilaksanakan nanti. Menurutnya, selain Ubud, masyarakat lokal maupun
internasional juga harus tahu bahwa ada Desa Taro sebagai bagian dari Gianyar.
Potensi Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia yang dimilikinya berlimpah
sehingga Desa Taro pantas untuk mendapat perhatian lebih dari publik.
Kepala Desa dari Desa Taro, I
Wayan Warka, menanggapi sambutan DPL dengan menyatakan bahwa memang Desa Taro
merupakan desa tertua di Bali yang secara historis sudah dihuni oleh kira-kira
11.000 penduduk. Sehingga, tatanan masyarakat, budaya kultural, pura-pura
sakral, hingga tempat-tempat wisata yang ada sudah sejak lama terbangun.
Sebagai awal dari tradisi subak atau irigasi di Bali, Desa Taro pun
dihuni oleh masyarakat yang hampir 70% profesinya petani. Beliau berharap
kehadiran mahasiswa dari Universitas Udayana dapat membantu lebih banyak orang
mengenal Desa Taro, juga dapat memberikan dampak yang tetap bermanfaat dan
dirasakan oleh Desa Taro meskipun program Bina Desa Taro ini selesai setelah
beberapa bulan.
Acara dilanjutkan dengan
pemaparan singkat program kerja Bina Desa Taro 2026 yang dipaparkan oleh Ketua
dan Wakil Ketua Kelompok. Judul dari proposal Bina Desa Taro adalah “Penguatan
Kapasitas SDM dan Media Promosi dalam Mendukung Pengembangan Desa Wisata Taro”
dengan 4 program yang akan dilaksanakan, yaitu; Digi-Taro (Digitalisasi Promosi
Desa Wisata Taro) yang dinaungi oleh Divisi Publikasi; Tour-Eng (Tourism
English) yang dinaungi oleh Divisi Akademik; WARSA (Warisan Sejarah) yang
dinaungi oleh Divisi Non-Akademik; dan SAPTA (Sarana Pariwisata Tertata Taro)
yang dinaungi oleh Divisi Sarana dan Prasarana. Ketua Pengelola Desa Taro pun
memberi saran untuk mencatat warisan-warisan sejarah dari setiap dusun atau
banjar yang ada di Desa Taro, karena bagian tersebut lah yang belum pernah
tercatat sebelumnya.
Pembukaan kemudian dilakukan
secara simbolis dan resmi dengan penyematan jas almamater oleh Kepala Desa Taro
kepada perwakilan kelompok Bina Desa Taro 2026. Acara kemudian diakhiri dengan
foto bersama antara kelompok bina desa, DPL, serta seluruh pihak-pihak desa
yang telah hadir.

No comments:
Post a Comment