Tuesday, April 21, 2026

Konferensi Internasional IFSSO ke-27 Resmi Dibuka di FIB Unud, Bahas Dinamika Agama, Modernisasi, dan Sekularisasi

 


Denpasar, 21 April 2026 - Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sukses menyelenggarakan kegiatan akademik bergengsi bertajuk “The 27th IFSSO International Conference and General Assembly 2026”. Konferensi yang terlaksana secara luring di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud ini, merupakan wujud kolaborasi masif dengan berbagai institusi global, yaitu University of the Philippines, The Institute for Social Sciences and Humanities Research (ISSH) VNU-HCM Vietnam, University of Mumbai, Gujarat University, serta International Federation of Social Science Organizations (IFSSO). Acara prestisius ini turut dihadiri oleh Duta Besar Turki untuk Indonesia, Rektor Universitas Udayana, jajaran pimpinan di lingkungan FIB Unud, beserta para pakar dari institusi kolaborator.

Pada sesi sambutan, Presiden IFSSO, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., mengapresiasi antusiasme delegasi global yang berhasil menyumbangkan lebih dari 35 abstrak penelitian. Menandai akhir masa jabatannya setelah mengawal IFSSO sejak 2003, beliau memastikan bahwa seluruh gagasan dalam perhelatan ini tidak hanya berakhir di ruang diskusi. Luaran akademik dari konferensi ini akan bermuara pada publikasi resmi melalui kolaborasi penerbitan antara pihak Vietnam dan Universitas Udayana.

Selanjutnya, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. mengungkapkan rasa bangganya atas penunjukan fakultas sebagai tuan rumah perhelatan ini. Merespons tema besar konferensi, Prof. Aryawibawa merefleksikan kembali nilai historis FIB Unud yang pada tahun 1959 silam menjadi lokasi cikal bakal lahirnya majelis agama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Lebih lanjut, sebagai wujud diplomasi budaya dan literasi, beliau secara khusus mengundang para delegasi global untuk mengeksplorasi kekayaan intelektual Nusantara dengan mengunjungi Perpustakaan Lontar FIB yang saat ini menyimpan 898 koleksi naskah kuno.

Puncak seremonial pembukaan secara resmi ditandai dengan pemukulan gong oleh Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. Dalam pidatonya, Prof. Sudarsana menegaskan bahwa Bali merupakan representasi hidup dari harmonisasi antara nilai spiritual dan arus modernisasi, sebuah keseimbangan yang berakar kuat pada visi filosofis lokal Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Melalui momentum peresmian The 27th IFSSO International Conference ini, Rektor kembali menekankan komitmen Universitas Udayana sebagai pendorong utama kolaborasi riset lintas disiplin di kancah global, sekaligus mengajak para delegasi internasional untuk menyelami secara langsung keindahan budaya Pulau Dewata.

Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Anggota Dewan IFSSO, Prof. Nestor T. Castro, Ph.D., turut memaparkan rekam jejak kiprah International Federation of Social Science Organizations (IFSSO). Berdiri resmi sejak 1977, organisasi lintas benua ini konsisten mendorong kolaborasi ilmu sosial global untuk merespons berbagai problem kemasyarakatan kontemporer, khususnya di negara berkembang. Menariknya, Prof. Castro secara khusus menyoroti peran sentral Indonesia bagi kemajuan organisasi, mengingat sejak tahun 2019, sekretariat pusat IFSSO telah resmi dipindahkan dan berkedudukan di Jakarta.

Pemaparan  materi dari Prof. Dr. Talip Küçükcan selaku Duta Besar Turki untuk Indonesia dan keynote speaker membawakan kajian berjudul “Managing State-Religion Relations in the Context of Modernization and Secularization” Beliau membantah teori lama dari ilmuwan Barat yang menyebutkan bahwa kemajuan zaman akan membuat masyarakat meninggalkan agama. Menurutnya, agama tidak mati tergerus modernisasi, melainkan tetap hidup dan beradaptasi. Hal ini terbukti dari fenomena global, seperti munculnya gereja-gereja besar di Amerika Serikat hingga kuatnya tradisi spiritual di Bali. Di hadapan peserta internasional, Prof. Talip secara khusus memuji Indonesia sebagai contoh negara modern yang sukses. Ia kagum melihat bagaimana negara menghargai berbagai agama secara setara, salah satunya dengan memberikan hari libur nasional untuk perayaan suci masing-masing agama yang merupakan sebuah keharmonisan yang menurutnya sering kali sulit dipahami oleh negara-negara Barat. 

Berikutnya, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. memaparkan kajian "Reinterpretation of Buddhism in the Context of State and Statecraft in Early Udayana". Beliau menyoroti peran Kerajaan Sriwijaya dan era awal Udayana sebagai jembatan penyebaran nilai spiritual di Asia Tenggara. Prof. Ardhana menekankan bahwa hubungan harmonis antara tradisi Hindu dan Buddha di masa lampau berhasil melahirkan sinkretisme damai tanpa memicu konflik. Nilai toleransi inilah yang kemudian menjadi akar sejarah bagi lahirnya semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Pada sesi akhir, narasumber Assoc. Prof. Dr. Phan Thi Hong Xuan dari VNU-HCM memaparkan kajian "Religious Urbanism as 'Soft Infrastructure' The Role of Buddhist Spaces in Shaping Identity and Community Connectivity in Contemporary Southeast Asian Cities". Ia menegaskan bahwa kuil atau pagoda di Asia Tenggara bukan sekadar tempat ibadah pasif, melainkan infrastruktur sosial yang aktif menopang kehidupan kota modern. Lewat contoh nyata di Vietnam dan Thailand, Prof. Phan menunjukkan peran vital kuil dalam menyatukan warga; mulai dari menjadi pusat bantuan sosial hingga menggerakkan daur ulang plastik menjadi jubah biksu. Karenanya, ia mendesak agar tata kota masa depan turut mengintegrasikan institusi agama sebagai fondasi ketahanan masyarakat kota.

Usai pemaparan mendalam dari para pembicara utama, rangkaian hari pertama The 27th IFSSO International Conference ini langsung dilanjutkan dengan sesi diskusi panel. Pada sesi paralel ini, para delegasi dari berbagai negara dibagi ke dalam beberapa ruang diskusi untuk membedah kajian yang lebih spesifik.


No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...