Denpasar, 21 April 2026 –
Memasuki paruh kedua penyelenggaraan hari pertama The 27th IFSSO
International Conference, antusiasme delegasi global tidak surut. Usai
pemaparan dari para pembicara utama di Auditorium Widya Sabha Mandala, gelora
akademik berlanjut pada sesi diskusi panel paralel yang terpusat di Gedung
Poerbatjaraka, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Para delegasi membedah
berbagai kajian spesifik yang terbagi ke dalam tiga ruang utama, yakni Ruang
Dr. Ir. Soekarno, Ruang Prof. Dr. Priyono, dan Ruang Sidang Senat.
Di Ruang Dr. Ir. Soekarno,
dinamika diskusi berpusat pada penelusuran jejak peradaban dan diplomasi masa
lampau. Sesi yang dipandu secara bergantian oleh Prof. Dr. I Wayan Karja dan
Prof. Dr. Sudarman ini menghadirkan perdebatan tajam dengan hadirnya penanggap
(discussant) Prof. Dr. Nestor T. Castro, Dr. Nguyen Thi Hau, dan Dr. Cao Thu
Nga. Sorotan utama jatuh pada paparan Assoc. Prof. Dr. Phan Thi Hong Xuan yang
menjadikan Candi Borobudur dan situs Dong Duong sebagai fondasi diplomasi
akademik antara Indonesia dan Vietnam. Narasi ini diperkuat oleh kajian
kesejarahan Vo Thi Huynh Nhu mengenai kesinambungan Buddhisme Champa, ekskavasi
warisan Buddha di Sumatera Barat oleh Prof. Sudarman, hingga pelacakan jejak
Hindu-Buddha pada era pra-Hispanik di Filipina oleh Prof. Nestor T. Castro.
Beralih ke Ruang Prof. Dr.
Priyono, diskursus bergerak ke arah adaptasi sosiokultural dan kelangsungan
ritual di era modern. Dipandu oleh Assoc. Prof. Dicky Sofjan dan Dr. Duong
Hoang Loc, serta dibahas oleh penanggap Vo Phan My Tra dan Phan Hieu Nghia, ruangan
ini mengeksplorasi isu yang lekat dengan realitas hari ini. Assoc. Prof. Dicky
Sofjan membedah transformasi praktik ziarah di tengah arus globalisasi,
sementara Dr. Duong Hoang Loc memaparkan peran vital Buddhisme dalam menjaga
ketahanan spiritual masyarakat saat pandemi COVID-19. Isu toleransi maritim di
Selat Lombok oleh Putri Maya Masyitah serta kajian catur sebagai warisan budaya
oleh Võ Phan Mỹ Trà turut memperkaya diskusi di ruangan ini.
Sementara itu, Ruang Sidang Senat
menyajikan kekayaan kearifan lokal dan sistem kepercayaan tradisional
Nusantara. Dengan Budiana Setiawan dan Dr. Nguyen Thi Hau sebagai moderator,
sesi ini mengupas lapisan terdalam nilai spiritual masyarakat, mulai dari
ritual Kuk Kir Kna suku Doreri di Papua oleh George Mentansan hingga tradisi
Katoba pada masyarakat Muna oleh La Aso. Dinamika pariwisata religi di Makam
Troloyo turut dikaji oleh Rochtri Agung Bawono, melengkapi temuan I Kadek Surya
Jayadi mengenai pelestarian ajaran Buddha melalui arsip keluarga di Budakeling,
serta pemaparan Dr. Preeti Oza mengenai kosmopolis Hindu-Buddha abad ke-9.
Seluruh rangkaian diskusi paralel
ini membuktikan kuatnya benang merah sejarah dan budaya yang mengikat kawasan
Asia Tenggara. Setelah sesi yang intens ini berakhir, para delegasi bersiap
untuk agenda penutup hari pertama, yakni Gala Dinner yang akan diselenggarakan
pada malam hari.

No comments:
Post a Comment