Wednesday, March 11, 2026

Made Narawati Raih Gelar Doktor meneliti “Model Counter Stigma Mantan Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan dalam Kehidupan Sosial di Kota Denpasar”


 

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menyelenggarakan Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Kajian Budaya. Sidang ini berlangsung di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud. Promovenda, Made Narawati, S.Th., M.Si., mempresentasikan disertasi berjudul “Model Counter Stigma Mantan Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan dalam Kehidupan Sosial di Kota Denpasar”. Dalam sidang tersebut, promovenda berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat “cumlaude”. Dengan kelulusan ini, beliau tercatat sebagai doktor ke-277  di Fakultas Ilmu Budaya dan doktor ke-303 pada Program Studi Doktor Kajian Budaya, Program Doktor, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Pada sidang promosi doktor ini, Ketua Tim Penguji Disertasi adalah Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., yang didampingi oleh Anggota Tim Penguji yaitu Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A., Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., Dr. A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, SH.,MM.MH., Dr. I Made Anom Wiranata, SIP., M.A., Dr. Nuning Indah Pratiwi, S.Sos., M.I.Kom., C.Med.

Disertasi ini dilatarbelakangi oleh pengamatan penulis terhadap Mantan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) perempuan yang sudah menjalankan masa hukuman idealnya diterima hidup kembali di masyarakat. Stigmatisasi masyarakat menyebabkan mantan WBP perempuan menghadapi kesulitan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Namun bagi mantan WBP perempuan, stigma justru mendorong mereka untuk bangkit dan berjuang merebut citra perempuan yang tangguh dan mandiri di tengah masyarakat. Penerimaan diri dan dukungan keluarga dari mantan WBP perempuan serta peran beberapa stakeholder sangat menentukan keberhasilan reintegrasi sosial. Untuk itu, fokus dari penelitian ini adalah mendesain model counter stigma mantan WBP perempuan. Dalam studi kajian budaya yang kritis dan emansipatoris, dikaji bentuk counter stigma, faktor penyebab dan model counter stigma mantan WBP perempuan di Kota Denpasar.

Ada dua temuan utama dalam disertasi, yaitu temuan empiris dan teoritis. Secara empiris, penelitian ini menyoroti praktik counter stigma terhadap mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) perempuan, berbeda dengan kajian sebelumnya yang umumnya hanya membahas stigmatisasi dalam kehidupan sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa mantan WBP perempuan mampu melakukan pemulihan citra diri melalui praktik sosial yang berlandaskan nilai kearifan lokal Bali, yaitu “jengah”, yang berfungsi sebagai habitus dalam kehidupan sosial. Proses pemulihan citra tersebut diperkuat melalui peran aktif mantan WBP perempuan sebagai subjek, dengan dukungan tujuh pemangku kepentingan yang dirumuskan dalam Model Heptahelix “PELITA MAS”, yaitu kolaborasi antara pemerintah, edukator, LSM, industri, tokoh masyarakat, keluarga, dan media massa.

Secara teoritis, penelitian ini mengembangkan konsep transformasi dari agent menjadi agency melalui sintesis teori Pierre Bourdieu dan Anthony Giddens. Konsep ini menjelaskan bahwa agen dapat membangun agency melalui proses habitus structuring, dengan memanfaatkan berbagai modal seperti modal sosial, pendidikan, keterampilan, ekonomi, dan simbolik yang berakar pada nilai “jengah”. Kolaborasi antarpelaku dalam model interactive forceful agent menunjukkan bahwa agen tidak selalu bersifat hegemonik, tetapi dapat berperan mendukung mantan WBP perempuan sebagai subjek perubahan. Temuan ini juga menunjukkan bahwa stigma yang biasanya dipahami sebagai sesuatu yang negatif dapat ditransformasikan menjadi motivasi konstruktif bagi mantan WBP perempuan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri dan tangguh dalam struktur sosial masyarakat.

Menutup Sidang Ujian Terbuka, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., selaku promotor, menyampaikan bahwa selama menjalani proses studi, promovenda menunjukkan dedikasi yang tinggi melalui kerja keras, ketulusan, dan kedisiplinan dalam menyempurnakan karya ilmiahnya, yang tercermin dari perkembangan disertasi yang semakin baik dan signifikan dari waktu ke waktu. Beliau menegaskan bahwa perolehan gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam dunia keilmuan. Pada kesempatan yang sama, beliau juga menyampaikan ucapan selamat kepada promovenda beserta keluarga, seraya berharap agar promovenda dapat terus berkarya, terus mengembangkan diri dan belajar, menjunjung tinggi etika akademik, serta memberikan kontribusi yang bermakna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, institusi, maupun masyarakat luas.

No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...