Pada hari Kamis, 12 Maret 2026,
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menyelenggarakan Sidang Ujian
Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Kajian Budaya. Sidang ini
berlangsung di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai
III FIB Unud. Promovenda, Made Narawati, S.Th., M.Si., mempresentasikan
disertasi berjudul “Model Counter Stigma Mantan Warga Binaan
Pemasyarakatan Perempuan dalam Kehidupan Sosial di Kota Denpasar”. Dalam sidang
tersebut, promovenda berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus
dengan predikat “cumlaude”. Dengan kelulusan ini, beliau tercatat
sebagai doktor ke-277 di Fakultas Ilmu Budaya dan
doktor ke-303 pada Program Studi Doktor Kajian Budaya,
Program Doktor, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
Pada sidang promosi doktor ini,
Ketua Tim Penguji Disertasi adalah Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt.,
yang didampingi oleh Anggota Tim Penguji yaitu Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati
Beratha, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Weda
Kusuma, M.S., Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A., Dr. I Wayan Suardiana,
M.Hum., Dr. A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, SH.,MM.MH., Dr. I Made Anom
Wiranata, SIP., M.A., Dr. Nuning Indah Pratiwi, S.Sos., M.I.Kom., C.Med.
Disertasi ini dilatarbelakangi
oleh pengamatan penulis terhadap Mantan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP)
perempuan yang sudah menjalankan masa hukuman idealnya diterima hidup kembali
di masyarakat. Stigmatisasi masyarakat menyebabkan mantan WBP perempuan
menghadapi kesulitan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan
sosialnya. Namun bagi mantan WBP perempuan, stigma justru mendorong mereka
untuk bangkit dan berjuang merebut citra perempuan yang tangguh dan mandiri di
tengah masyarakat. Penerimaan diri dan dukungan keluarga dari mantan WBP
perempuan serta peran beberapa stakeholder sangat menentukan keberhasilan
reintegrasi sosial. Untuk itu, fokus dari penelitian ini adalah mendesain model
counter stigma mantan WBP perempuan. Dalam studi kajian budaya yang kritis dan
emansipatoris, dikaji bentuk counter stigma, faktor penyebab dan model counter
stigma mantan WBP perempuan di Kota Denpasar.
Ada dua temuan utama dalam
disertasi, yaitu temuan empiris dan teoritis. Secara empiris, penelitian ini
menyoroti praktik counter stigma terhadap mantan warga binaan
pemasyarakatan (WBP) perempuan, berbeda dengan kajian sebelumnya yang umumnya
hanya membahas stigmatisasi dalam kehidupan sosial. Penelitian ini menunjukkan
bahwa mantan WBP perempuan mampu melakukan pemulihan citra diri melalui praktik
sosial yang berlandaskan nilai kearifan lokal Bali, yaitu “jengah”, yang
berfungsi sebagai habitus dalam kehidupan sosial. Proses pemulihan citra
tersebut diperkuat melalui peran aktif mantan WBP perempuan sebagai subjek,
dengan dukungan tujuh pemangku kepentingan yang dirumuskan dalam Model
Heptahelix “PELITA MAS”, yaitu kolaborasi antara pemerintah, edukator, LSM,
industri, tokoh masyarakat, keluarga, dan media massa.
Secara teoritis, penelitian ini
mengembangkan konsep transformasi dari agent menjadi agency
melalui sintesis teori Pierre Bourdieu dan Anthony Giddens. Konsep ini
menjelaskan bahwa agen dapat membangun agency melalui proses habitus
structuring, dengan memanfaatkan berbagai modal seperti modal sosial,
pendidikan, keterampilan, ekonomi, dan simbolik yang berakar pada nilai “jengah”.
Kolaborasi antarpelaku dalam model interactive forceful agent
menunjukkan bahwa agen tidak selalu bersifat hegemonik, tetapi dapat berperan
mendukung mantan WBP perempuan sebagai subjek perubahan. Temuan ini juga
menunjukkan bahwa stigma yang biasanya dipahami sebagai sesuatu yang negatif
dapat ditransformasikan menjadi motivasi konstruktif bagi mantan WBP perempuan
untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri dan tangguh dalam struktur sosial
masyarakat.
Menutup Sidang Ujian Terbuka, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., selaku promotor, menyampaikan bahwa selama menjalani proses studi, promovenda menunjukkan dedikasi yang tinggi melalui kerja keras, ketulusan, dan kedisiplinan dalam menyempurnakan karya ilmiahnya, yang tercermin dari perkembangan disertasi yang semakin baik dan signifikan dari waktu ke waktu. Beliau menegaskan bahwa perolehan gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam dunia keilmuan. Pada kesempatan yang sama, beliau juga menyampaikan ucapan selamat kepada promovenda beserta keluarga, seraya berharap agar promovenda dapat terus berkarya, terus mengembangkan diri dan belajar, menjunjung tinggi etika akademik, serta memberikan kontribusi yang bermakna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, institusi, maupun masyarakat luas.

No comments:
Post a Comment