Dosen Program Studi Ilmu Sejarah
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Fransiska Dewi Setiyowati Sunaryo,
berhasil meraih gelar Doktor pada Program Studi Doktor Kajian Budaya FIB Unud
setelah mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka yang berlangsung pada
Rabu, 11 Maret 2026 di kampus setempat. Dalam sidang tersebut, ia dinyatakan
lulus dengan predikat cumlaude dan tercatat sebagai Doktor ke-301. Ujian
terbuka dipimpin oleh Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., serta dihadiri
sembilan orang penguji, termasuk seorang penguji eksternal dari Universitas
Pendidikan Ganesha Singaraja, bersama sejumlah dosen, keluarga, dan perwakilan
komunitas Flobamora Bali. Tim penguji disertasi terdiri atas: Prof. Dr. Ni Luh
Nyoman Seri Malini, S.S., M.Hum. (Promotor), Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si.
(Kopromotor I), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (Kopromotor II) Prof.
Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., Prof. Dr. I
Nengah Punia, M.Si., Prof. Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum. (Penguji eksternal),
Dr. I Made Anom Wiranata, S.IP., M.A., dan Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.S.Hum.,
M.Hum.
Disertasi yang dipertahankan
berjudul “Integrasi dan Kontestasi Diaspora Sumba dalam Masyarakat
Multikultural di Bali.” Penelitian ini menelaah dinamika kehidupan diaspora
Sumba di Bali, khususnya dalam proses integrasi sosial sekaligus berbagai
bentuk kontestasi yang muncul dalam kehidupan masyarakat multikultural.
Fransiska menjelaskan bahwa meningkatnya arus migrasi internal dari Nusa
Tenggara Timur ke Bali memunculkan berbagai proses sosial, mulai dari adaptasi
dan negosiasi identitas hingga relasi kuasa serta pengalaman marginalisasi yang
dihadapi kelompok diaspora tersebut. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan etnografi kritis. Lokasi penelitian mencakup Kota
Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Gianyar, yang menjadi wilayah tujuan
utama diaspora Sumba untuk tinggal dan bekerja di Bali. Data diperoleh melalui
observasi lapangan, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (FGD), serta
studi dokumen. Informan penelitian melibatkan anggota diaspora Sumba di Bali,
pengurus organisasi diaspora NTT, tokoh etnis Sumba, serta tokoh agama, tokoh
adat, dan tokoh masyarakat Bali.
Dalam analisisnya, Fransiska Dewi
Setiyowati Sunaryo, S.S., M.Hum. memanfaatkan teori praktik, teori relasi kuasa
dan pengetahuan, serta teori multikulturalisme secara eklektik sesuai dengan temuan
di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses integrasi diaspora Sumba
di Bali dipengaruhi oleh kesamaan nilai dan identitas, kepentingan ekonomi,
serta solidaritas emosional di antara anggota komunitas diaspora. Integrasi
tersebut tercermin dalam berbagai praktik adaptasi sosial, pemanfaatan modal
sosial dan ekonomi, partisipasi dalam kehidupan masyarakat, hingga representasi
identitas di ruang publik. Penelitian ini juga menemukan adanya berbagai bentuk
kontestasi yang dihadapi diaspora Sumba. Kontestasi tersebut muncul akibat
ketimpangan modal, keterbatasan akses terhadap berbagai ruang sosial, serta
kebijakan negara yang turut memengaruhi posisi mereka dalam masyarakat. Kondisi
ini memunculkan fenomena persaingan ekonomi, marginalisasi, stigmatisasi,
hingga berbagai bentuk resistensi yang dilakukan diaspora Sumba untuk
mempertahankan identitas dan posisi mereka dalam kehidupan sosial. Fenomena ini
juga ditandai dengan munculnya istilah “Nak Sumba” sebagai bentuk pengakuan
simbolik terhadap identitas etnis Sumba dalam masyarakat Bali. Salah satu
temuan penting dari penelitian tersebut adalah konsep “Marapu modern”, yang
menggambarkan transformasi nilai-nilai kepercayaan Marapu dalam kehidupan
diaspora Sumba di Bali. Nilai-nilai kearifan lokal tersebut tidak hilang
meskipun masyarakat Sumba bermigrasi, melainkan mengalami penyesuaian dengan
konteks sosial yang baru.
Promotor Prof. Dr. Ni Luh Nyoman
Seri Malini, S.S., M.Hum. dalam sambutannya mengapresiasi keberanian Fransiska
dalam memilih topik penelitian serta keberhasilannya menyelesaikan studi
doktoral tepat waktu. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Paguyuban Flobamora
Bali, Herman Umbu Billy, juga menyampaikan apresiasi atas penelitian tersebut
yang dinilai mampu memberikan perspektif akademis terhadap isu dan stigma yang
kerap dihadapi komunitas diaspora.

No comments:
Post a Comment