Friday, July 24, 2026

Promosi Doktor FIB Unud Ungkap Dinamika Identitas Gender dalam Fotografi Kontemporer di Bali

 


Dr. Cokorda Istri Puspawati Nindhia, S.E., S.Sn., M.Sn. bergabung sebagai Doktor terbaru dari Program Studi S3 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana pada Jumat, 24 Juli 2026 lalu usai melalui sidang terbuka promosi Doktor yang bertempat di Ruang Sidang Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, FIB Unud. Promovenda berhasil menjadi Doktor ke-288 di FIB Universitas Udayana serta ke-307 dengan predikat sangat memuaskan pada Program Studi S3 Kajian Budaya dengan judul disertasi Manipulasi Identitas Gender dalam Dunia Fotografi Kontemporer di Bali. Dalam disertasinya, Promovenda mengangkat isu fotografi kontemporer di Bali yang menampilkan objek potret yang menentang tatanan tradisional gender.


Dalam sidang Ujian Terbuka ini, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. berperan sebagai Ketua. Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. merupakan Promotor, dan didampingi oleh Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A. sebagai Ko-Promotor I dan Prof. Dr. Dra. Luh Putu Puspawati, M.Hum. sebagai Ko-Promotor II. Jajaran tim penilai sekaligus penguji adalah Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A., Dr. I Gusti Agung Ayu Mas Triadnyani, S.S., M.Hum., Dr. I Wayan Nuriarta, S.Pd., M.Sn., dan Dr. I Made Marajaya, SSP., M.Si..


Promovenda mengartikan manipulasi identitas gender bukan sebagai manipulasi dalam makna sesungguhnya, namun sebagai sesuatu yang mengubah kode-kode gender dalam masyarakat. Dalam hal fotografi, manipulasi ini secara sengaja dilakukan guna kepentingan seni dan komoditas komersial. Gender dalam fotografi telah mengalami pergeseran dari sesuatu yang ditampilkan secara tetap di hadapan lensa menjadi suatu hal yang dapat ditata ulang melalui alat lensa tersebut. Manipulasi dalam fotografi ini memiliki cakupan yang melampaui proses teknis. Turut terjadi pula manipulasi simbolik, yang merujuk kepada bagaimana identitas gender ini ditampilkan dan diartikan. Lebih lanjut, Promovenda membagi bentuk manipulasi identitas gender dalam fotografi kontemporer di Bali ini menjadi tiga bagian, dimulai dari konstruksi identitas wajah yang berfokus pada bagaimana wajah asli mendapat tampilan yang baru melalui teknik masquerade. Bentuk kedua ialah konstruksi identitas pose. Bentuk ini menitikberatkan pada gestur feminim yang diperankan oleh laki-laki. Konstruksi identitas fashion merupakan bentuk terakhir di mana jenis pakaian yang identik dengan perempuan dikenakan oleh laki-laki. Promovenda dalam disertasinya mengungkapkan ketiga bentuk tersebut sebagai pemahaman bahwa identitas gender merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dan ditampilkan secara berbeda dari pemahaman yang lumrah beredar.


Pada  karya fotografi, manipulasi identitas gender  ini dianggap menarik perhatian publik dan bernilai ekonomi, yang kemudian menjadi salah satu faktor pendorong praktik tersebut. Faktor selanjutnya adalah hegemoni heteronormatif. Dalam faktor ini, batas-batas representasi gender dipertanyakan melalui representasi yang memisahkan tubuh dan identitas gender. Kemudian, muncul resistensi kultural yang menjadi faktor ketiga dalam praktik manipulasi identitas gender ini dalam fotografi kontemporer di Bali.


Kendati dianggap bernilai komersial dan dapat menjadi sebuah resistensi, praktik ini berimbas pada marginalisasi keberadaan perempuan yang disebabkan pergantian peran yang dimilikinya oleh laki-laki. Selain itu, promovenda dalam disertasinya menyebutkan bahwa reproduksi visual yang berulang berkontribusi dalam lahirnya mitos akan tubuh ideal dan standar kecantikan. Hal ini menjadikan standar tersebut semakin bersifat artifisial. Atas kontradiksi ini, promovenda menilai praktik manipulasi identitas gender dalam fotografi kontemporer di Bali sebagai sesuatu yang ambivalen.


Promovenda mengungkapkan dua temuan dalam studinya. Pertama, manipulasi identitas gender di Bali ini tidak serta merta muncul dengan sendirinya, namun merupakan lanjutan performatif intermedial dari tradisi seni pertunjukan di Bali. Temuan kedua, promovenda mengemukakan bahwa manipulasi identitas gender dapat terjadi di Bali disebabkan oleh habitus keterbukaan budaya. Bali yang mengalami interaksi dengan budaya asing, pertumbuhan industri kreatif, serta perkembangan pariwisata menumbuhkan penerimaan akan keberagaman sebagai bentuk seni. 


Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai manipulasi identitas gender ini belum pernah diangkat dalam disertasi pada Program Studi S3 Kajian Budaya FIB Universitas Udayana. Atas keberhasilan Promovenda dalam menyelesaikan studinya, beliau menyampaikan sukacita dan selamat. Menutup sidang Ujian Terbuka pada Jumat 24 Juli 2026, Promovenda mengucapkan terima kasih kepada segenap keluarga, tim promotor, ketua sidang, tim penguji dan penilai, serta rekan-rekan yang turut hadir dalam sidang tersebut.



Thursday, July 23, 2026

Fakultas Ilmu Budaya Unud Gelar FReTalk: Dorong Diseminasi Riset Dosen Melalui Kajian Etnisitas NTT dan Metafora Konseptual

 


DENPASAR – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan iklim akademik secara konsisten dengan menggelar forum ilmiah bertajuk FIB Research Talk (FReTalk) yang bertujuan memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas penelitian dosen, serta memperluas ruang diskusi lintas disiplin di lingkungan FIB Universitas Udayana. Kegiatan pemaparan hasil riset ini diselenggarakan pada hari Kamis, 23 Juli 2026, pukul 10.00 - selesai, dan mengambil tempat di Ruang Priyono, FIB Universitas Udayana. Rangkaian acara ini diselenggarakan oleh UP2M Fakultas Ilmu Budaya dengan Koordinator Unit UP2M Fakultas Ilmu Budaya yaitu Dr. Ngurah Indra Pradhana, S.S., M.A. Kegiatan FReTalk ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Acara ini dihadiri pula oleh para pimpinan fakultas, Ketua Senat, Koordinator Program Studi, Guru Besar, dan dosen di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Dalam kata sambutannya, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. menekankan pentingnya inisiatif fakultas dalam memfasilitasi percepatan diseminasi hasil penelitian doktoral (S3) para staf pengajarnya. Beliau menegaskan bahwa acara ini didesain secara khusus agar murni berbasis riset (research-based). Lebih lanjut, Dekan FIB Unud sangat mendorong para akademisi muda di lingkungan kampus untuk terus proaktif mengisi ruang ilmiah serupa. Dekan FIB menegaskan bahwa forum ilmiah seperti FReTalk menjadi wadah strategis untuk membangun atmosfer akademik yang produktif, memperkuat kolaborasi antar disiplin ilmu, serta meningkatkan kualitas luaran penelitian yang memiliki dampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun masyarakat.

Memasuki sesi inti, materi pada sesi pertama dibawakan oleh Dr. Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo, S.S., M.Hum. dengan mengusung topik "Identitas dan Etnisitas di Nusa Tenggara Timur dalam Konteks Keindonesiaan". Dr. Fransiska memaparkan bahwa konsep identitas masyarakat NTT sangat dinamis, yang dibentuk oleh perjalanan sejarah panjang mulai dari era kerajaan-kerajaan lokal, dominasi Portugis dan Belanda, hingga misi penyebaran agama Kristen dan Katolik. Salah satu sorotan menarik dari riset beliau adalah kuatnya pertahanan adat etnis Sumba saat bermigrasi ke Bali. Tidak seperti beberapa etnis pendatang lainnya, sebagian besar masyarakat Sumba yang meninggal dunia di Bali tidak dimakamkan di perantauan, melainkan jenazahnya secara wajib akan dibawa pulang ke tanah kelahirannya demi mematuhi tradisi adat. Diskusi menyoroti pentingnya pendekatan humaniora dalam memahami keberagaman budaya sebagai fondasi penguatan persatuan nasional. Sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif mengupas sejarah berdirinya Ikatan Keluarga Besar (IKB) Flobamora di Bali. Organisasi paguyuban yang awalnya dirintis dari sebuah kegiatan arisan silang antar etnis tersebut, kini telah bertransformasi menjadi sistem pendukung yang vital dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi masyarakat perantauan NTT.

Sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan analisis linguistik kognitif oleh Dr. Ni Made Ayu Widiastuti, S.S., M.Hum. bertajuk "Metafora Konseptual: Konsep, Teori dan Metode". Dr. Ayu meluruskan pandangan umum dengan menjelaskan bahwa metafora konseptual tidak sekadar terbatas pada gaya bahasa semata. Berpegang teguh pada teori dasar Lakoff dan Johnson (1980), ia menjabarkan bahwa metafora adalah mekanisme kognitif manusia dalam memahami konsep-konsep abstrak (ranah target) melalui hal-hal yang lebih nyata dan konkret (ranah sumber). Dalam menjabarkan hasil penelitiannya, Dr. Ayu menggunakan metode campuran (kualitatif dan kuantitatif) berskala besar dengan mengekstraksi data korpus bahasa Indonesia. Menggunakan bantuan program statistik serta package heavier, riset ini berhasil memetakan ribuan data ungkapan linguistik untuk menganalisis bagaimana para penutur mengonseptualisasikan ragam emosi mereka, seperti kata "ketakutan", "kepanikan", hingga "keresahan". Hasil olah data statistik tersebut kemudian melahirkan prototipe metafora konseptual mengenai tahapan emosi seseorang.

Hadirnya forum FIB Research Talk ini membuktikan bahwa diskursus akademik lintas bidang keilmuan dapat disajikan secara menarik dan berbobot, sekaligus mempertegas langkah Universitas Udayana sebagai institusi riset yang unggul. Melalui penyelenggaraan FIB Research Talk (FReTalk), Dekan FIB Universitas Udayana berharap forum ini dapat menjadi agenda akademik yang berkelanjutan untuk mendorong lahirnya penelitian berkualitas, memperkuat jejaring kolaborasi antar peneliti, serta meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi. Kegiatan ini juga diharapkan mendukung pencapaian visi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dalam pengembangan ilmu-ilmu humaniora, bahasa, sastra, dan budaya di tingkat nasional maupun internasional.


Wednesday, July 22, 2026

Paradoks Moralitas di Jalan Raya: Dosen ISI Bali Sukses Raih Gelar Doktor Kajian Budaya FIB Unud


Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka yang terlaksana pada hari Kamis 23 Juli 2026 dan bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud. Momen perayaan akademik yang berlangsung khidmat ini turut disaksikan secara langsung oleh pihak keluarga, kolega sejawat dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, serta rekan-rekan mahasiswa seangkatan S3 yang hadir untuk memberikan dukungan penuh.  Promovenda atas nama Ida Ayu Dwita Krisna Ari, S.Sn., M.Sn. yang sekaligus merupakan dosen program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Bali berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Representasi Perempuan dalam Wacana Lukisan Bak Truk di Bali”. Promovenda meraih predikat “Sangat Memuaskan” serta menjadi Doktor ke-287 di FIB Unud dan doktor ke-306 di program studi Doktor Kajian Budaya FIB Unud.

Sidang Ujian Terbuka ini dipimpin oleh Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. Beliau didampingi oleh Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A. selaku promotor, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. selaku kopromotor 1, dan Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum. selaku kopromotor 2. Adapun penguji pada Sidang Ujian Terbuka kali ini diantaranya Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., dan Dr. Ni Luh Putu Ari Sulatri, S.S., M.Hum. Guna menguji kebaruan riset secara objektif, sidang ujian terbuka ini turut menghadirkan dua penguji eksternal dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, yakni Dr. Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun, S.Sn., S.H., M.Hum. dan Dr. Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi, S.Sn., M.Erg.

Latar belakang penyusunan disertasi ini didasarkan pada fenomena lukisan bak truk di Bali yang cenderung dipandang oleh masyarakat umum sekadar sebagai hiburan jalanan yang lucu dan spontan. Padahal, di balik bentuk visual yang tampak sederhana, praktik wacana budaya tersebut sesungguhnya menyimpan makna mendalam mengenai representasi identitas, kelas sosial, humor, hingga ideologi yang dinegosiasikan. Secara akademis, terdapat kesenjangan kajian yang selama ini kerap mengabaikan dimensi ideologis dan relasi kuasa di balik praktik estetika jalanan tersebut. Teks verbal maupun teks visual yang dihadirkan pada bak truk pada dasarnya tidak pernah bersifat netral, melainkan beroperasi aktif sebagai ruang diskursif bergerak yang memproduksi, menaturalisasi, serta menyebarkan wacana bias gender terkait tubuh perempuan.  

Untuk membedah persoalan tersebut secara komprehensif, penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan mengintegrasikan landasan teoretis Kajian Budaya secara eklektik. Kerangka teori yang diaplikasikan meliputi teori representasi Stuart Hall, semiotika Roland Barthes, feminisme Julia Kristeva, analisis wacana kritis Norman Fairclough, hingga teori praktik sosial Pierre Bourdieu. Proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, studi dokumen, serta wawancara mendalam terhadap informan kunci yang dipilih secara purposif, yang terdiri atas sopir truk, pemilik truk, dan seniman lukis yang beroperasi di wilayah Bali pada periode 2021 sampai 2025. 

Hasil analisis memperlihatkan bahwa representasi perempuan dalam wacana lukisan bak truk hadir melalui perpaduan teks verbal, teks visual, dan narasi yang saling berkelindan untuk mereproduksi objektifikasi tubuh, pelabelan stereotip, dan dominasi ideologi patriarki. Konstruksi makna ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme parodi paradoks yang menertawakan krisis maskulinitas, normalisasi wacana kekerasan seksual lewat lelucon seksis, serta apresiasi semu yang otoritas maknanya tetap berada di bawah kendali laki-laki. Implikasi Sosio Kultural dari praktik ini menunjukkan bahwa mobilitas truk telah mentransformasi jalan raya menjadi sirkulasi ideologi patriarki yang berpotensi menimbulkan nalar kritis publik terhadap ketimpangan gender. 

Sidang ujian terbuka ini berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dari dewan penguji. Sorotan utama tertuju pada pertanyaan penguji eksternal yang menukik pada inti argumentasi kultural disertasi. Dr. Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi, S.Sn., M.Erg. menyoroti konsep "katarsis psikososial bias gender" dan relevansinya ke depan. Menjawab hal tersebut, Promovends memaparkan bahwa kelas pekerja seringkali melampiaskan tekanan ekonomi mereka kepada perempuan melalui reproduksi humor seksis; sebuah temuan yang ia tegaskan krusial bagi keilmuan desain komunikasi visual (DKV). Di sisi lain, Dr. Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun, S.Sn., S.H., M.Hum. menyoal paradoks moralitas dalam teks "Lihat jalanmu, jangan lihat celana dalamku" serta menantang Promovenda apakah ia pernah secara empiris naik ke atas bak truk guna merasakan langsung tatapan masyarakat. Promovenda secara lugas menguraikan bahwa teks tersebut menciptakan paradoks: visual perempuan sengaja ditampilkan erotis untuk memancing tatapan, namun justru perempuan dijadikan kambing hitam atas ketidakmampuan laki-laki menjaga pandangannya, seraya mengakui dirinya belum pernah melakukan observasi langsung di atas bak truk tersebut.

Menutup sidang ujian terbuka, Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A. selaku promotor menegaskan bahwa setiap karya akademik pasti memiliki keterbatasan, namun hal tersebut sama sekali bukan merupakan sebuah kelemahan yang bermakna negatif. Sebaliknya, di dalam keretakan atau celah batasan itulah justru terdapat ruang positif yang menantang para sarjana lain untuk turun gunung dan melahirkan kajian-kajian baru. Beliau menekankan bahwa dalam kacamata filsafat ilmu, sebuah disertasi yang unggul bukanlah karya yang mengklaim kesempurnaan mutlak dan menutup perdebatan. Karya yang baik adalah karya yang mampu memantik dialektika dan memberikan ruang bagi terciptanya disertasi-disertasi lanjutan di masa depan untuk terus menguliti wacana yang belum tersentuh. 


Tuesday, July 21, 2026

Dosen ISI Bali Meraih Gelar Doktor Membahas “Polusi Visual Media Luar Ruang”


Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sekali lagi menyambut doktor terbaru, Dr. I Putu Arya Janottama, S. Sn., M. Sn.. Promovendus merupakan doktor ke-286 di FIB Universitas Udayana dan ke-305 pada Program Studi S3 Kajian Budaya. Dalam meraih gelar doktor ini, FIB Universitas Udayana telah menyelenggarakan sidang terbuka promosi doktor yang bertempat di Ruang Sidang Soekarno, Gedung Poerbatjaraka pada Selasa, 21 Juli 2026. Promovendus berhasil meraih predikat sangat memuaskan melalui disertasi yang berjudul “Polusi Visual Media Luar Ruang di Denpasar sebagai Kota Budaya”.


Sidang promosi Doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. sebagai Ketua Sidang Ujian Terbuka. Sementara itu, Promotor dalam sidang ini adalah Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra  M.Litt. yang didampingi oleh Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A. sebagai Ko-Promotor I dan Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A. sebagai Ko-Promotor II. Anggota tim penguji diantaranya yaitu: Prof. Dr. I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa, M.Si., Prof. Dr. Drs. I Gede Mugi Raharja  M.Sn., Dr. I Wayan Nuriarta, S.Pd., M.Sn., Dr. Ni Luh Putu Ari Sulatri, S.S., M.Si., dan Dr. I Nyoman Winia, M.Si.


Disertasi yang dibawakan oleh promovendus membahas mengenai problematika polusi visual media luar ruang di Denpasar, utamanya dalam perannya sebagai kota budaya. Dalam disertasinya, promovendus menyebutkan media luar ruang sebagai suatu hal yang memiliki peranan penting dan berkontribusi nyata terhadap pendapatan asli daerah. Di lain sisi, hal ini justru dapat menjadi bumerang terhadap ruang publik dan menimbulkan polusi visual. Tak hanya dari sisi estetika, polusi visual ini memicu ancaman keselamatan hingga peningkatan budaya konsumtif. Promovendus kemudian mengkaji permasalahan ini dengan mengambil pendekatan kritis kajian budaya serta metode kualitatif. “Polusi visual adalah sebagai pencemaran ruang pandang kota akibat hadirnya elemen-elemen visual yang berlebihan, tidak teratur, tidak proporsional, serta mengabaikan regulasi setempat,” terang promovendus dalam disertasinya. 


Di Denpasar, polusi visual ini terdapat dalam beragam bentuk, mulai dari penggunaan bahan yang tidak dapat didaur ulang untuk membuat media luar ruang hingga pembiaran media luar ruang yang telah kedaluwarsa. Polusi ini berimbas pada identitas Kota Denpasar sebagai kota budaya, di mana identitas visual menjadi terkikis dan nilai-nilai luhur kebudayaan kian termarginalisasi. Selain itu, polusi visual dapat berdampak kepada pariwisata, dimana polusi visual dapat mengurangi pengalaman visual otentik yang diburu wisatawan. Sisi keamanan juga perlu diperhatikan ketika membahas polusi visual. Ketika suatu videotron dinyalakan terlalu terang, videotron tersebut dapat memberi efek silau, mengakibatkan distraksi serta memperlambat kecepatan kendaraan di luar titik henti. Bentuk media luar ruang lain seperti baliho semi permanen yang berbahan rapuh tidak luput dari penyebab ancaman keamanan, dikarenakan media tersebut rawan untuk roboh ketika terjadi cuaca ekstrem. Promovendus menegaskan bahwa segala sisi yang terlibat dalam adanya media luar ruang diharapkan untuk dapat lebih bertanggung jawab etis dan estetis terhadap ruang publik di Denpasar.


Setelah penetapan kelulusan, sidang dilanjutkan dengan pidato singkat oleh promotor, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra  M.Litt. Beliau menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu keberhasilan disertasi promovendus. Apresiasi turut diberikan kepada Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar, M.Hum. yang merupakan orang tua dari promovendus sekaligus mantan lulusan terbaik dari S3 Kajian Budaya FIB Universitas Udayana yang turut hadir dalam sidang terbuka pada Selasa (21/7) lalu. Menyinggung disertasi yang dihasilkan promovendus, beliau mengungkapkan bahwa satu fenomena (polusi visual media luar ruang) ternyata mengandung persoalan yang luas. Promovendus dianggap telah memilih dan mengkaji pembahasan ini dengan sangat baik. Promotor menyarankan disertasi ini dapat dikembangkan menjadi buku agar dapat dibaca lebih luas.


Pada penghujung acara, Promovendus menyampaikan terima kasih kepada tim promotor dan penguji, dosen-dosen S3 Kajian Budaya, Rektor ISI Bali, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, para staf administrasi S3 Kajian Budaya, rekan-rekan angkatan 2020, keluarga, rekan-rekan pada Program Studi Animasi, keluarga besar Program Studi Desain Komunikasi Visual, serta rekan-rekan LPMPP. Promovendus menyadari kekurangan dari penelitiannya, dan memohon bimbingan agar penelitian disertasi ini dapat lebih bermakna baik untuk membedah keilmuan desain komunikasi visual, animasi, maupun kajian budaya.





Monday, July 20, 2026

Melalui Disertasi “Konstruksi Resiprokal Bahasa Jawa”, Dosen Sastra Inggris FIB Unud Sukses Raih Gelar Doktor

 


Denpasar, 20 Juli 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan Doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka Program Studi Linguistik Program Doktor yang terlaksana di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud pada Senin (20/07). Promovenda atas nama Yana Qomariana, S.S., M.Ling berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Konstruksi Resiprokal Bahasa Jawa” dan meraih predikat “Sangat Memuaskan” serta menjadi doktor ke-285 di FIB Unud dan Program Studi Linguistik Program Doktor. Sidang Ujian Terbuka ini turut dihadiri oleh keluarga Promovenda dan para rekan dosen di lingkungan Program Studi Sastra Inggris FIB Unud.

Ujian Promosi Doktor ini dievaluasi oleh 10 (sepuluh) anggota Dewan Penguji yang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. selaku Ketua Sidang, bersama Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. sebagai Promotor. Adapun jajaran penguji lainnya terdiri dari Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S., Prof. Dr. Ni Ketut Widya Purnawati, S.S., M.Hum., Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Drs. I Wayan Simpen, M.Hum., Prof. Dr. Dra. Ni Luh Ketut Mas Indrawati, Dip.TEFL, M.A., dan Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. Dikarenakan Kopromotor 1, Drs. I Wayan Arka, M.S., M.Phil., Ph.D., dan Kopromotor 2, Prof. Dr. Drs. Agus Subiyanto, M.Hum., berhalangan hadir, hak dan kewenangan pengujian dari pihak pembimbing diambil alih oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. berdasarkan kapasitas beliau sebagai Koordinator Program Studi Linguistik Program Doktor.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh esensi konstruksi resiprokal dalam kajian sintaksis dan semantik, yang mencerminkan relasi timbal balik antarpartisipan dalam sebuah peristiwa linguistik. Meskipun relasi ini umumnya ditandai dengan berbagai strategi seperti penanda leksikal saling, afiksasi tertentu, dan konstruksi verbal bermakna kolektif, deskripsi komprehensif mengenai struktur argumen serta nuansa semantisnya belum banyak dibahas dalam literatur bahasa Jawa. Oleh karena itu, kajian ini hadir untuk mengisi celah teoretis dengan membedah sistem penandaan morfologis, sintaktis, dan implikasinya terhadap tipologi bahasa-bahasa Austronesia. 

Dalam proses membedah permasalahan tersebut, penelitian deskriptif kualitatif ini menerapkan metode simak yang didukung oleh teknik perekaman audiovisual. Pengumpulan data utama dilakukan melalui teknik elisitasi menggunakan video stimulus untuk memancing respons linguistik dari informan penutur asli dalam situasi yang terkontrol. Sebagai pelengkap agar analisis lebih komprehensif, penelitian ini juga memanfaatkan teknik pencatatan lapangan serta pengumpulan data sekunder tertulis yang diekstraksi dari majalah dan karya sastra berbahasa Jawa. Kombinasi pendekatan ini dirancang agar data yang diperoleh dapat merefleksikan intuisi gramatikal penutur sekaligus memperlihatkan fungsi resiprokal dalam konteks penggunaan nyata. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Jawa mengekspresikan makna resiprokal melalui tiga strategi utama, yakni secara leksikal, morfologis, dan sintaktis. Secara leksikal, bahasa Jawa memiliki verba yang secara inheren sudah bermakna resiprokal, sedangkan secara morfologis, makna ini dibentuk melalui proses afiksasi (seperti penggunaan sufiks polisemik “-an”) dan reduplikasi. Secara sintaktis, konstruksi ini memperlihatkan karakteristik resiprokal universal berupa penurunan valensi dari dua tempat menjadi satu tempat. Temuan historis juga mengungkap dinamika yang menarik; bahasa Jawa Kuno hingga Pertengahan sempat menggunakan prefiks “ma-”, yang merupakan ciri khas bahasa Austronesia, namun eksponen tersebut mengalami pelemahan dan akhirnya hilang pada bahasa Jawa Modern karena perubahan struktur kalimat dan kompetisi dengan bentuk reduplikasi.

Sidang Ujian Terbuka berlanjut sesi tanya jawab. Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. selaku promotor menguji Promovenda mengenai faktor penentu penciptaan makna resiprokal, yang kemudian dijawab dengan lugas oleh Promovenda bahwa makna tersebut lahir dari interaksi antara strategi morfologis dengan struktur argumen sintaktis yang menyatukan agen dan pasien. Selanjutnya, Prof. Dr. Drs. I Wayan Simpen, M.Hum. selaku penguji memberikan saran perbaikan terkait tata ejaan dan penggunaan istilah teknis keilmuan, serta meminta klarifikasi mengenai perbedaan makna iteratif dan resiprokal pada reduplikasi bentuk dasar. Menanggapi hal tersebut, Promovenda mengklarifikasi bahwa kekhasan resiprokal mutlak bertumpu pada kegiatan timbal balik di mana dua partisipan sama-sama menjadi pelaku dan target, sedangkan makna iteratif dapat muncul dalam resiprokal jika terdapat banyak sub-peristiwa di dalamnya. 

Menutup Sidang Ujian Terbuka, Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A., mewakili jajaran pembimbing di tengah ketidakhadiran Kopromotor 1 dan 2, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas kerja keras, ketekunan, serta ambisi tinggi Promovenda dalam menyediakan data metodologis yang sangat kaya. Beliau memuji usaha luar biasa Promovenda dalam mengungkap konstruksi diatesis medial bahasa Jawa secara tipologis. Pidato tersebut ditutup dengan ucapan selamat kepada doktor baru dan pihak keluarga yang hadir, disertai harapan agar gelar dan pencapaian akademik ini senantiasa membawa keberkahan serta kesuksesan di masa depan. 


Wednesday, July 15, 2026

Musyawarah Perencanaan Pembangunan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana: Forum Strategis Menyusun Arah Kebijakan, Program Kerja, dan Pengalokasian Anggaran Fakultas

 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menyelenggarakan acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) pada Kamis, 16 Juli 2026, bertempat di Ruang Soekarno. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WITA ini menjadi forum strategis dalam menyusun arah kebijakan, program kerja, dan pengalokasian anggaran fakultas untuk tahun 2027. Acara tersebut dipimpin oleh Dekan Fakutas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. dan didampingi oleh Wakil Dekan I yaitu  Dr. I Gede Oenada, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. selaku Wakil Dekan II Bidang Umum dan Keuangan. Selain itu, acara itu juga dihadiri oleh seluruh Koordinator Program Studi, KTU, Ketua Senat, Sub Koordinator dan Koordinator Unit di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya. Dalam rapat tersebut juga disampaikan bahwa pembagian pagu anggaran telah memperoleh persetujuan Senat sebagai dasar penyusunan program kerja di setiap unit.

Dalam pembahasan rencana strategis, Fakultas Ilmu Budaya menetapkan sejumlah program prioritas yang berfokus pada penguatan transformasi digital dan peningkatan tata kelola akademik. Pengembangan sistem informasi terus dilakukan secara berkelanjutan melalui implementasi SIPERJAKA pada tahun 2024, SIRERU pada tahun 2025 untuk mendukung pengaturan ujian, serta pengembangan SICAKI pada tahun 2026 sebagai upaya memperkuat sistem layanan dan manajemen fakultas dan rencana keberlanjutan peningkatan pengembangan system di tahun 2027. Selain itu, program internasionalisasi juga terus menjadi perhatian dengan penguatan tiga program studi yang diarahkan untuk meningkatkan daya saing di tingkat global seperti: Program Studi Sastra Indonesia, Program Studi Sastra Inggris dan Program Studi Sastra Jepang.

Rapat Musrenbang juga menyoroti berbagai capaian strategis Fakultas Ilmu Budaya. Diantaranya adalah keberhasilan pembangunan Zona Integritas (ZI) yang telah dinyatakan lolos di tingkat Kementerian Pendidikan Tinggi, serta perkembangan pembukaan Program Studi Bahasa Prancis yang telah memperoleh rekomendasi dari tim pusat dan telah diajukan dalam bentuk proposal. Berbagai capaian tersebut diharapkan semakin memperkuat kualitas tata kelola, layanan akademik, serta pengembangan kelembagaan fakultas.

Sebagai bagian dari perencanaan anggaran tahun 2027, dipaparkan alokasi pagu untuk berbagai bidang, meliputi: anggaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, operasional kegiatan, IPI, unit bisnis, kerja sama, dan pembagian Pagu untuk seluruh Program Studi di Fakultas Ilmu Budaya. Melalui Musrenbang ini, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menegaskan komitmennya untuk mewujudkan perencanaan yang partisipatif, akuntabel, dan selaras dengan visi pengembangan fakultas guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama di tingkat nasional maupun internasional.



Wednesday, July 8, 2026

Closing Ceremony BIPA FIB Unud Periode Maret–Juli 2026: Pelepasan 24 Karyasiswa Asing dari Berbagai Negara


Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (BIPA FIB Unud) melaksanakan kegiatan Closing Ceremony BIPA Periode Maret - Juli 2026 pada hari Kamis, 9 Juli 2026. Kegiatan yang terlaksana di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud ini merupakan acara pelepasan dan penanda berakhirnya masa pembelajaran Bahasa Indonesia bagi para karyasiswa di FIB Unud, serta dihadiri oleh 24 karyasiswa BIPA, koordinator program BIPA dan instruktur BIPA, dan perwakilan dekanat.

Dalam laporannya, Koordinator Program BIPA, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suparwa, M.Hum., memaparkan bahwa program BIPA semester genap tahun ajaran 2025/2026 telah berjalan dengan baik sejak Maret hingga Juni 2026 melalui 15 hingga 16 kali pertemuan perkuliahan. Proses pembelajaran yang difasilitasi oleh 22 tenaga pengajar dari berbagai program studi ini mencatatkan hasil evaluasi yang positif dengan rata-rata tingkat kehadiran mahasiswa mencapai 70 persen. Berdasarkan penilaian akhir, sebanyak 24 peserta yang berasal dari Jepang, Korea, Serbia, dan Rusia, yang terdiri atas 7 mahasiswa level 1, 12 mahasiswa level 2, dan 5 mahasiswa level 3, berhasil dinyatakan lulus secara keseluruhan.


Dekan FIB Unud, Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. selaku Wakil Dekan II Bidang Umum dan Keuangan dalam sambutannya mewakili memuji antusiasme para mahasiswa asing yang hadir memeriahkan acara dengan mengenakan busana tradisional kebaya. Lebih lanjut, Prof. Ratna berharap agar segala keunikan serta pengalaman budaya yang didapatkan selama menempuh pendidikan di BIPA FIB Unud dapat menjadi kenangan positif, sehingga para lulusan dapat turut mempromosikannya ke negara asal masing-masing. 


Acara penutupan ini juga diwarnai dengan penyampaian kesan dan pesan dari perwakilan mahasiswa setiap level yang menyoroti pengalaman mendalam mereka. Akira Shimizu, selaku perwakilan mahasiswa level 1, menuturkan bahwa selama empat bulan belajar, ia mengalami kemajuan pesat. Pada awalnya ia kesulitan membedakan kata ganti dasar, namun kini telah mampu berbicara menggunakan kalimat sederhana berkat kesabaran para pengajar BIPA yang menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.

Dari level 2, Kyoko Kazawa memaparkan apresiasinya terhadap lingkungan akademik yang suportif. Ia menekankan bahwa para mahasiswa tidak pernah dihakimi atas kesalahan berbahasa mereka, sehingga mahasiswa merasa termotivasi untuk menjadikan kesalahan tersebut sebagai ruang pembelajaran.

Puncak apresiasi disampaikan oleh tiga perwakilan dari level 3, yakni Mariia Andreevna Olenikova, Masako Iwata, dan Nanoha Suzuki. Mariia menyatakan bahwa program BIPA tidak sebatas memberikan kemampuan linguistik, tetapi juga memperkenalkan budaya, tradisi, dan keramahan masyarakat Indonesia. Sementara itu, Masako Iwata menceritakan bahwa karena ia merintis studinya langsung dari level 2, tantangan awal yang ia hadapi adalah memahami tempo bicara dosen yang cepat. Kendati demikian, bimbingan para dosen yang penuh kesabaran pada akhirnya memungkinkannya untuk memahami percakapan bahasa Indonesia secara fasih. Rangkaian testimoni ditutup oleh Nanoha Suzuki, yang menyampaikan rasa syukurnya setelah menghabiskan waktu selama satu tahun di Indonesia. Ia bertekad untuk terus mempelajari bahasa Indonesia meskipun nantinya telah kembali ke Jepang.

Setelah penyampaian kesan dan pesan, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi penyerahan sertifikat kelulusan kepada seluruh karyasiswa. Acara kemudian diisi dengan penayangan video yang berisi momen-momen kegiatan pembelajaran BIPA selama satu semester, dan ditutup secara resmi dengan sesi foto bersama. Melalui program ini, pihak lembaga berharap para mahasiswa yang akan kembali ke negara asalnya maupun yang akan melanjutkan ke tingkat selanjutnya dapat mengaplikasikan kemampuan bahasa Indonesia secara optimal dan turut mempromosikan nama baik BIPA Universitas Udayana di kancah internasional. 


FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...