DENPASAR – Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Udayana kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan iklim
akademik secara konsisten dengan menggelar forum ilmiah bertajuk FIB Research
Talk (FReTalk) yang bertujuan memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas
penelitian dosen, serta memperluas ruang diskusi lintas disiplin di lingkungan
FIB Universitas Udayana. Kegiatan pemaparan hasil riset ini diselenggarakan
pada hari Kamis, 23 Juli 2026, pukul 10.00 - selesai, dan mengambil tempat di
Ruang Priyono, FIB Universitas Udayana. Rangkaian acara ini diselenggarakan
oleh UP2M Fakultas Ilmu Budaya dengan Koordinator Unit UP2M Fakultas Ilmu
Budaya yaitu Dr. Ngurah Indra Pradhana, S.S., M.A. Kegiatan FReTalk ini dibuka
secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I
Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Acara ini dihadiri pula oleh para pimpinan
fakultas, Ketua Senat, Koordinator Program Studi, Guru Besar, dan dosen di
lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.
Dalam kata sambutannya, Prof. I
Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. menekankan pentingnya inisiatif fakultas
dalam memfasilitasi percepatan diseminasi hasil penelitian doktoral (S3) para
staf pengajarnya. Beliau menegaskan bahwa acara ini didesain secara khusus agar
murni berbasis riset (research-based). Lebih lanjut, Dekan FIB Unud
sangat mendorong para akademisi muda di lingkungan kampus untuk terus proaktif
mengisi ruang ilmiah serupa. Dekan FIB menegaskan bahwa forum ilmiah seperti
FReTalk menjadi wadah strategis untuk membangun atmosfer akademik yang
produktif, memperkuat kolaborasi antar disiplin ilmu, serta meningkatkan
kualitas luaran penelitian yang memiliki dampak bagi pengembangan ilmu
pengetahuan maupun masyarakat.
Memasuki sesi inti, materi pada
sesi pertama dibawakan oleh Dr. Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo, S.S., M.Hum.
dengan mengusung topik "Identitas dan Etnisitas di Nusa Tenggara Timur
dalam Konteks Keindonesiaan". Dr. Fransiska memaparkan bahwa konsep
identitas masyarakat NTT sangat dinamis, yang dibentuk oleh perjalanan sejarah
panjang mulai dari era kerajaan-kerajaan lokal, dominasi Portugis dan Belanda,
hingga misi penyebaran agama Kristen dan Katolik. Salah satu sorotan menarik
dari riset beliau adalah kuatnya pertahanan adat etnis Sumba saat bermigrasi ke
Bali. Tidak seperti beberapa etnis pendatang lainnya, sebagian besar masyarakat
Sumba yang meninggal dunia di Bali tidak dimakamkan di perantauan, melainkan
jenazahnya secara wajib akan dibawa pulang ke tanah kelahirannya demi mematuhi
tradisi adat. Diskusi menyoroti pentingnya pendekatan humaniora dalam memahami
keberagaman budaya sebagai fondasi penguatan persatuan nasional. Sesi tanya
jawab yang berlangsung interaktif mengupas sejarah berdirinya Ikatan Keluarga
Besar (IKB) Flobamora di Bali. Organisasi paguyuban yang awalnya dirintis dari
sebuah kegiatan arisan silang antar etnis tersebut, kini telah bertransformasi
menjadi sistem pendukung yang vital dalam memberikan perlindungan dan rasa aman
bagi masyarakat perantauan NTT.
Sesi kedua dilanjutkan dengan
pemaparan analisis linguistik kognitif oleh Dr. Ni Made Ayu Widiastuti, S.S.,
M.Hum. bertajuk "Metafora Konseptual: Konsep, Teori dan Metode". Dr.
Ayu meluruskan pandangan umum dengan menjelaskan bahwa metafora konseptual
tidak sekadar terbatas pada gaya bahasa semata. Berpegang teguh pada teori
dasar Lakoff dan Johnson (1980), ia menjabarkan bahwa metafora adalah mekanisme
kognitif manusia dalam memahami konsep-konsep abstrak (ranah target) melalui
hal-hal yang lebih nyata dan konkret (ranah sumber). Dalam menjabarkan hasil
penelitiannya, Dr. Ayu menggunakan metode campuran (kualitatif dan kuantitatif)
berskala besar dengan mengekstraksi data korpus bahasa Indonesia. Menggunakan
bantuan program statistik serta package heavier, riset ini berhasil
memetakan ribuan data ungkapan linguistik untuk menganalisis bagaimana para
penutur mengonseptualisasikan ragam emosi mereka, seperti kata
"ketakutan", "kepanikan", hingga "keresahan".
Hasil olah data statistik tersebut kemudian melahirkan prototipe metafora
konseptual mengenai tahapan emosi seseorang.
Hadirnya forum FIB Research
Talk ini membuktikan bahwa diskursus akademik lintas bidang keilmuan dapat
disajikan secara menarik dan berbobot, sekaligus mempertegas langkah
Universitas Udayana sebagai institusi riset yang unggul. Melalui
penyelenggaraan FIB Research Talk (FReTalk), Dekan FIB Universitas Udayana
berharap forum ini dapat menjadi agenda akademik yang berkelanjutan untuk
mendorong lahirnya penelitian berkualitas, memperkuat jejaring kolaborasi antar
peneliti, serta meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi. Kegiatan ini juga diharapkan
mendukung pencapaian visi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sebagai
institusi pendidikan tinggi yang unggul dalam pengembangan ilmu-ilmu humaniora,
bahasa, sastra, dan budaya di tingkat nasional maupun internasional.

No comments:
Post a Comment