Thursday, July 23, 2026

Fakultas Ilmu Budaya Unud Gelar FReTalk: Dorong Diseminasi Riset Dosen Melalui Kajian Etnisitas NTT dan Metafora Konseptual

 


DENPASAR – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan iklim akademik secara konsisten dengan menggelar forum ilmiah bertajuk FIB Research Talk (FReTalk) yang bertujuan memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas penelitian dosen, serta memperluas ruang diskusi lintas disiplin di lingkungan FIB Universitas Udayana. Kegiatan pemaparan hasil riset ini diselenggarakan pada hari Kamis, 23 Juli 2026, pukul 10.00 - selesai, dan mengambil tempat di Ruang Priyono, FIB Universitas Udayana. Rangkaian acara ini diselenggarakan oleh UP2M Fakultas Ilmu Budaya dengan Koordinator Unit UP2M Fakultas Ilmu Budaya yaitu Dr. Ngurah Indra Pradhana, S.S., M.A. Kegiatan FReTalk ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Acara ini dihadiri pula oleh para pimpinan fakultas, Ketua Senat, Koordinator Program Studi, Guru Besar, dan dosen di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Dalam kata sambutannya, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. menekankan pentingnya inisiatif fakultas dalam memfasilitasi percepatan diseminasi hasil penelitian doktoral (S3) para staf pengajarnya. Beliau menegaskan bahwa acara ini didesain secara khusus agar murni berbasis riset (research-based). Lebih lanjut, Dekan FIB Unud sangat mendorong para akademisi muda di lingkungan kampus untuk terus proaktif mengisi ruang ilmiah serupa. Dekan FIB menegaskan bahwa forum ilmiah seperti FReTalk menjadi wadah strategis untuk membangun atmosfer akademik yang produktif, memperkuat kolaborasi antar disiplin ilmu, serta meningkatkan kualitas luaran penelitian yang memiliki dampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun masyarakat.

Memasuki sesi inti, materi pada sesi pertama dibawakan oleh Dr. Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo, S.S., M.Hum. dengan mengusung topik "Identitas dan Etnisitas di Nusa Tenggara Timur dalam Konteks Keindonesiaan". Dr. Fransiska memaparkan bahwa konsep identitas masyarakat NTT sangat dinamis, yang dibentuk oleh perjalanan sejarah panjang mulai dari era kerajaan-kerajaan lokal, dominasi Portugis dan Belanda, hingga misi penyebaran agama Kristen dan Katolik. Salah satu sorotan menarik dari riset beliau adalah kuatnya pertahanan adat etnis Sumba saat bermigrasi ke Bali. Tidak seperti beberapa etnis pendatang lainnya, sebagian besar masyarakat Sumba yang meninggal dunia di Bali tidak dimakamkan di perantauan, melainkan jenazahnya secara wajib akan dibawa pulang ke tanah kelahirannya demi mematuhi tradisi adat. Diskusi menyoroti pentingnya pendekatan humaniora dalam memahami keberagaman budaya sebagai fondasi penguatan persatuan nasional. Sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif mengupas sejarah berdirinya Ikatan Keluarga Besar (IKB) Flobamora di Bali. Organisasi paguyuban yang awalnya dirintis dari sebuah kegiatan arisan silang antar etnis tersebut, kini telah bertransformasi menjadi sistem pendukung yang vital dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi masyarakat perantauan NTT.

Sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan analisis linguistik kognitif oleh Dr. Ni Made Ayu Widiastuti, S.S., M.Hum. bertajuk "Metafora Konseptual: Konsep, Teori dan Metode". Dr. Ayu meluruskan pandangan umum dengan menjelaskan bahwa metafora konseptual tidak sekadar terbatas pada gaya bahasa semata. Berpegang teguh pada teori dasar Lakoff dan Johnson (1980), ia menjabarkan bahwa metafora adalah mekanisme kognitif manusia dalam memahami konsep-konsep abstrak (ranah target) melalui hal-hal yang lebih nyata dan konkret (ranah sumber). Dalam menjabarkan hasil penelitiannya, Dr. Ayu menggunakan metode campuran (kualitatif dan kuantitatif) berskala besar dengan mengekstraksi data korpus bahasa Indonesia. Menggunakan bantuan program statistik serta package heavier, riset ini berhasil memetakan ribuan data ungkapan linguistik untuk menganalisis bagaimana para penutur mengonseptualisasikan ragam emosi mereka, seperti kata "ketakutan", "kepanikan", hingga "keresahan". Hasil olah data statistik tersebut kemudian melahirkan prototipe metafora konseptual mengenai tahapan emosi seseorang.

Hadirnya forum FIB Research Talk ini membuktikan bahwa diskursus akademik lintas bidang keilmuan dapat disajikan secara menarik dan berbobot, sekaligus mempertegas langkah Universitas Udayana sebagai institusi riset yang unggul. Melalui penyelenggaraan FIB Research Talk (FReTalk), Dekan FIB Universitas Udayana berharap forum ini dapat menjadi agenda akademik yang berkelanjutan untuk mendorong lahirnya penelitian berkualitas, memperkuat jejaring kolaborasi antar peneliti, serta meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi. Kegiatan ini juga diharapkan mendukung pencapaian visi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dalam pengembangan ilmu-ilmu humaniora, bahasa, sastra, dan budaya di tingkat nasional maupun internasional.


No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...