Friday, July 24, 2026

Promosi Doktor FIB Unud Ungkap Dinamika Identitas Gender dalam Fotografi Kontemporer di Bali

 


Dr. Cokorda Istri Puspawati Nindhia, S.E., S.Sn., M.Sn. bergabung sebagai Doktor terbaru dari Program Studi S3 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana pada Jumat, 24 Juli 2026 lalu usai melalui sidang terbuka promosi Doktor yang bertempat di Ruang Sidang Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, FIB Unud. Promovenda berhasil menjadi Doktor ke-288 di FIB Universitas Udayana serta ke-307 dengan predikat sangat memuaskan pada Program Studi S3 Kajian Budaya dengan judul disertasi Manipulasi Identitas Gender dalam Dunia Fotografi Kontemporer di Bali. Dalam disertasinya, Promovenda mengangkat isu fotografi kontemporer di Bali yang menampilkan objek potret yang menentang tatanan tradisional gender.


Dalam sidang Ujian Terbuka ini, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. berperan sebagai Ketua. Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. merupakan Promotor, dan didampingi oleh Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A. sebagai Ko-Promotor I dan Prof. Dr. Dra. Luh Putu Puspawati, M.Hum. sebagai Ko-Promotor II. Jajaran tim penilai sekaligus penguji adalah Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A., Dr. I Gusti Agung Ayu Mas Triadnyani, S.S., M.Hum., Dr. I Wayan Nuriarta, S.Pd., M.Sn., dan Dr. I Made Marajaya, SSP., M.Si..


Promovenda mengartikan manipulasi identitas gender bukan sebagai manipulasi dalam makna sesungguhnya, namun sebagai sesuatu yang mengubah kode-kode gender dalam masyarakat. Dalam hal fotografi, manipulasi ini secara sengaja dilakukan guna kepentingan seni dan komoditas komersial. Gender dalam fotografi telah mengalami pergeseran dari sesuatu yang ditampilkan secara tetap di hadapan lensa menjadi suatu hal yang dapat ditata ulang melalui alat lensa tersebut. Manipulasi dalam fotografi ini memiliki cakupan yang melampaui proses teknis. Turut terjadi pula manipulasi simbolik, yang merujuk kepada bagaimana identitas gender ini ditampilkan dan diartikan. Lebih lanjut, Promovenda membagi bentuk manipulasi identitas gender dalam fotografi kontemporer di Bali ini menjadi tiga bagian, dimulai dari konstruksi identitas wajah yang berfokus pada bagaimana wajah asli mendapat tampilan yang baru melalui teknik masquerade. Bentuk kedua ialah konstruksi identitas pose. Bentuk ini menitikberatkan pada gestur feminim yang diperankan oleh laki-laki. Konstruksi identitas fashion merupakan bentuk terakhir di mana jenis pakaian yang identik dengan perempuan dikenakan oleh laki-laki. Promovenda dalam disertasinya mengungkapkan ketiga bentuk tersebut sebagai pemahaman bahwa identitas gender merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dan ditampilkan secara berbeda dari pemahaman yang lumrah beredar.


Pada  karya fotografi, manipulasi identitas gender  ini dianggap menarik perhatian publik dan bernilai ekonomi, yang kemudian menjadi salah satu faktor pendorong praktik tersebut. Faktor selanjutnya adalah hegemoni heteronormatif. Dalam faktor ini, batas-batas representasi gender dipertanyakan melalui representasi yang memisahkan tubuh dan identitas gender. Kemudian, muncul resistensi kultural yang menjadi faktor ketiga dalam praktik manipulasi identitas gender ini dalam fotografi kontemporer di Bali.


Kendati dianggap bernilai komersial dan dapat menjadi sebuah resistensi, praktik ini berimbas pada marginalisasi keberadaan perempuan yang disebabkan pergantian peran yang dimilikinya oleh laki-laki. Selain itu, promovenda dalam disertasinya menyebutkan bahwa reproduksi visual yang berulang berkontribusi dalam lahirnya mitos akan tubuh ideal dan standar kecantikan. Hal ini menjadikan standar tersebut semakin bersifat artifisial. Atas kontradiksi ini, promovenda menilai praktik manipulasi identitas gender dalam fotografi kontemporer di Bali sebagai sesuatu yang ambivalen.


Promovenda mengungkapkan dua temuan dalam studinya. Pertama, manipulasi identitas gender di Bali ini tidak serta merta muncul dengan sendirinya, namun merupakan lanjutan performatif intermedial dari tradisi seni pertunjukan di Bali. Temuan kedua, promovenda mengemukakan bahwa manipulasi identitas gender dapat terjadi di Bali disebabkan oleh habitus keterbukaan budaya. Bali yang mengalami interaksi dengan budaya asing, pertumbuhan industri kreatif, serta perkembangan pariwisata menumbuhkan penerimaan akan keberagaman sebagai bentuk seni. 


Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai manipulasi identitas gender ini belum pernah diangkat dalam disertasi pada Program Studi S3 Kajian Budaya FIB Universitas Udayana. Atas keberhasilan Promovenda dalam menyelesaikan studinya, beliau menyampaikan sukacita dan selamat. Menutup sidang Ujian Terbuka pada Jumat 24 Juli 2026, Promovenda mengucapkan terima kasih kepada segenap keluarga, tim promotor, ketua sidang, tim penguji dan penilai, serta rekan-rekan yang turut hadir dalam sidang tersebut.



No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...