Monday, July 20, 2026

Melalui Disertasi “Konstruksi Resiprokal Bahasa Jawa”, Dosen Sastra Inggris FIB Unud Sukses Raih Gelar Doktor

 


Denpasar, 20 Juli 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan Doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka Program Studi Linguistik Program Doktor yang terlaksana di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud pada Senin (20/07). Promovenda atas nama Yana Qomariana, S.S., M.Ling berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Konstruksi Resiprokal Bahasa Jawa” dan meraih predikat “Sangat Memuaskan” serta menjadi doktor ke-285 di FIB Unud dan Program Studi Linguistik Program Doktor. Sidang Ujian Terbuka ini turut dihadiri oleh keluarga Promovenda dan para rekan dosen di lingkungan Program Studi Sastra Inggris FIB Unud.

Ujian Promosi Doktor ini dievaluasi oleh 10 (sepuluh) anggota Dewan Penguji yang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. selaku Ketua Sidang, bersama Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. sebagai Promotor. Adapun jajaran penguji lainnya terdiri dari Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S., Prof. Dr. Ni Ketut Widya Purnawati, S.S., M.Hum., Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Drs. I Wayan Simpen, M.Hum., Prof. Dr. Dra. Ni Luh Ketut Mas Indrawati, Dip.TEFL, M.A., dan Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. Dikarenakan Kopromotor 1, Drs. I Wayan Arka, M.S., M.Phil., Ph.D., dan Kopromotor 2, Prof. Dr. Drs. Agus Subiyanto, M.Hum., berhalangan hadir, hak dan kewenangan pengujian dari pihak pembimbing diambil alih oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. berdasarkan kapasitas beliau sebagai Koordinator Program Studi Linguistik Program Doktor.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh esensi konstruksi resiprokal dalam kajian sintaksis dan semantik, yang mencerminkan relasi timbal balik antarpartisipan dalam sebuah peristiwa linguistik. Meskipun relasi ini umumnya ditandai dengan berbagai strategi seperti penanda leksikal saling, afiksasi tertentu, dan konstruksi verbal bermakna kolektif, deskripsi komprehensif mengenai struktur argumen serta nuansa semantisnya belum banyak dibahas dalam literatur bahasa Jawa. Oleh karena itu, kajian ini hadir untuk mengisi celah teoretis dengan membedah sistem penandaan morfologis, sintaktis, dan implikasinya terhadap tipologi bahasa-bahasa Austronesia. 

Dalam proses membedah permasalahan tersebut, penelitian deskriptif kualitatif ini menerapkan metode simak yang didukung oleh teknik perekaman audiovisual. Pengumpulan data utama dilakukan melalui teknik elisitasi menggunakan video stimulus untuk memancing respons linguistik dari informan penutur asli dalam situasi yang terkontrol. Sebagai pelengkap agar analisis lebih komprehensif, penelitian ini juga memanfaatkan teknik pencatatan lapangan serta pengumpulan data sekunder tertulis yang diekstraksi dari majalah dan karya sastra berbahasa Jawa. Kombinasi pendekatan ini dirancang agar data yang diperoleh dapat merefleksikan intuisi gramatikal penutur sekaligus memperlihatkan fungsi resiprokal dalam konteks penggunaan nyata. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Jawa mengekspresikan makna resiprokal melalui tiga strategi utama, yakni secara leksikal, morfologis, dan sintaktis. Secara leksikal, bahasa Jawa memiliki verba yang secara inheren sudah bermakna resiprokal, sedangkan secara morfologis, makna ini dibentuk melalui proses afiksasi (seperti penggunaan sufiks polisemik “-an”) dan reduplikasi. Secara sintaktis, konstruksi ini memperlihatkan karakteristik resiprokal universal berupa penurunan valensi dari dua tempat menjadi satu tempat. Temuan historis juga mengungkap dinamika yang menarik; bahasa Jawa Kuno hingga Pertengahan sempat menggunakan prefiks “ma-”, yang merupakan ciri khas bahasa Austronesia, namun eksponen tersebut mengalami pelemahan dan akhirnya hilang pada bahasa Jawa Modern karena perubahan struktur kalimat dan kompetisi dengan bentuk reduplikasi.

Sidang Ujian Terbuka berlanjut sesi tanya jawab. Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. selaku promotor menguji Promovenda mengenai faktor penentu penciptaan makna resiprokal, yang kemudian dijawab dengan lugas oleh Promovenda bahwa makna tersebut lahir dari interaksi antara strategi morfologis dengan struktur argumen sintaktis yang menyatukan agen dan pasien. Selanjutnya, Prof. Dr. Drs. I Wayan Simpen, M.Hum. selaku penguji memberikan saran perbaikan terkait tata ejaan dan penggunaan istilah teknis keilmuan, serta meminta klarifikasi mengenai perbedaan makna iteratif dan resiprokal pada reduplikasi bentuk dasar. Menanggapi hal tersebut, Promovenda mengklarifikasi bahwa kekhasan resiprokal mutlak bertumpu pada kegiatan timbal balik di mana dua partisipan sama-sama menjadi pelaku dan target, sedangkan makna iteratif dapat muncul dalam resiprokal jika terdapat banyak sub-peristiwa di dalamnya. 

Menutup Sidang Ujian Terbuka, Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A., mewakili jajaran pembimbing di tengah ketidakhadiran Kopromotor 1 dan 2, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas kerja keras, ketekunan, serta ambisi tinggi Promovenda dalam menyediakan data metodologis yang sangat kaya. Beliau memuji usaha luar biasa Promovenda dalam mengungkap konstruksi diatesis medial bahasa Jawa secara tipologis. Pidato tersebut ditutup dengan ucapan selamat kepada doktor baru dan pihak keluarga yang hadir, disertai harapan agar gelar dan pencapaian akademik ini senantiasa membawa keberkahan serta kesuksesan di masa depan. 


No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...