Monday, June 15, 2026

Upaya Konservasi Bahasa Mawes: FIB Unud Gelar Seminar Hasil Penelitian Lapangan dan Pelibatan Masyarakat di Papua Barat

 


Denpasar, 15 Juni 2026 - Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana bekerjasama dengan Palacký University Olomouc menyelenggarakan seminar bertajuk “The Mawes Language: A Fieldwork Report of a Language of West Papua” guna memperkenalkan seluk beluk mengenai proyek penelitian dan perlindungan bahasa Mawes. Bertempat di Ruang Sidang Prof. Dr. Prijono, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, seminar ini dihadiri oleh berbagai dosen dan mahasiswa dari program studi Sastra Inggris FIB Unud.

Penelitian ini dilaksanakan oleh George Saad, ahli bahasa dari Republik Ceko, I Komang Sumaryana Putra, S.S., M.Hum., I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hun., Ph.D., Aldila Tania Agatha, dan Ni Putu Cintya Wartini Putri dari Universitas Udayana.

Proyek dokumentasi bahasa ini memiliki urgensi yang tinggi mengingat status kebahasaan di Indonesia. Berdasarkan pemaparan dalam seminar, Indonesia merupakan rumah bagi 10% bahasa di dunia, dengan total pencatatan mencapai 707 bahasa. Namun, tingkat vitalitas bahasa di Indonesia cukup memprihatinkan karena 65% dari bahasa tersebut tergolong terancam punah atau sudah punah sepenuhnya. Secara global, Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah bahasa terancam punah terbanyak di dunia, yakni mencapai 425 bahasa. Pemilihan wilayah Papua Barat sebagai lokasi penelitian didasari oleh keragaman bahasanya yang sangat luas, mencakup afiliasi rumpun bahasa Austronesia dan Papua, serta memiliki sekitar 19 bahasa isolat. Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk menyediakan deskripsi komprehensif pertama mengenai bahasa Mawes sekaligus melakukan peningkatan kapasitas peneliti lokal.

Dalam pelaksanaannya, penelitian ini memadukan linguistik eksperimental dan observasi lapangan. Tim peneliti merancang video stimulus tanpa suara untuk menguji sintaksis dan morfologi bahasa Mawes, yang digabungkan dengan kuesioner sosiolinguistik. Eksperimen ini membandingkan data pemerolehan bahasa dari kelompok penutur tua yang dijadikan standar dasar (baseline) dengan kelompok penutur muda. Dari eksperimen tersebut, terungkap bahwa penutur muda sering kali mengalami kesulitan dalam menggunakan sistem angka bahasa Mawes yang kompleks (mencakup bentuk tunggal, ganda, dan jamak), sehingga mereka cenderung menyederhanakan tata bahasa tersebut. Pengambilan data ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, di mana tim peneliti harus memberikan pengertian kepada tetua adat agar tidak menginterupsi penutur muda yang sedang direkam, karena justru data kesalahan itulah yang krusial untuk memperbaiki metode pembelajaran bahasa di masa mendatang.

Selain pendekatan Linguistik, proyek ini juga menyoroti aspek antropologis dan pelibatan masyarakat (community engagement) yang mengungkap akar penyebab terancam punahnya bahasa Mawes. Komunitas Mawes yang awalnya merupakan masyarakat pesisir terpaksa harus bermigrasi sejauh 4,5 kilometer menembus hutan dari desa asli mereka (Kampung Lama/Maui) menuju desa yang baru. Relokasi ini dipicu oleh dampak pemanasan global, kenaikan air laut, erosi, serta hantaman tsunami yang tidak tercatat pada tahun 1996.

Lebih lanjut, kepunahan bahasa Mawes sangat erat kaitannya dengan trauma lintas generasi yang dipicu oleh kebijakan masa lalu. Berdasarkan temuan di lapangan, pada era 1970-an hingga 1980-an yang bertepatan dengan kampanye Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan program transmigrasi nasional, para siswa di Papua kerap mendapat hukuman fisik dari guru di sekolah apabila mereka ketahuan menggunakan bahasa daerah. Trauma inilah yang menyebabkan generasi tua enggan mengajarkan bahasa Mawes kepada anak-anak mereka, yang pada akhirnya memutus rantai pewarisan bahasa dan menjauhkan komunitas dari akar budaya, alam, serta leluhur mereka.

Untuk memutus siklus kepunahan ini, tim peneliti melaksanakan berbagai inisiatif pelibatan masyarakat yang berkelanjutan. Mereka mengadakan lokakarya mingguan yang berhasil mengumpulkan warga dari berbagai rentang usia, dimulai dari remaja hingga lansia untuk belajar menggunakan laptop dan melakukan transkripsi data bahasa mereka sendiri. Di samping itu, tim peneliti juga menggandeng seniman dan anak-anak sekolah dasar setempat untuk menggambar ilustrasi desa mereka. Karya seni ini kemudian dikembangkan menjadi cinderamata (merchandise) dan stiker edukatif untuk mempromosikan kembali kosakata bahasa Mawes secara menarik. Melalui inisiatif ini, masyarakat diajak untuk kembali bangga menggunakan bahasa mereka, misalnya dengan mempelajari ragam sebutan lokal untuk kanguru seperti sefe, mambe, dan was. Penjualan cenderamata tersebut juga diarahkan untuk mendanai kebutuhan komunitas secara mandiri, menjadikan proyek pelestarian bahasa ini berjangka panjang dan berpusat pada masyarakat.

No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...