Denpasar, 3 Juni 2026 – Program
Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud)
bekerjasama dengan Monash University Australia menyelenggarakan lokakarya
bertajuk "Monash/Udayana Semiotics and Multimodality Workshop" yang
berlangsung dari tanggal 3-4 Juni 2026; kegiatan ini sepenuhnya didanai oleh
Monash University, Australia melalui Academy
of Korean Studies Laboratory Grant. Lokakarya yang dilaksanakan di Ruang
Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud dan secara
hybrid melalui Zoom Meeting ini menghadirkan para ahli bahasa dari Indonesia
dan Australia untuk membongkar cara manusia menciptakan dan memaknai pesan;
menyoroti bagaimana bahasa, kebiasaan budaya, hingga saluran komunikasi yang
dipilih saling berjalin dalam membentuk sebuah makna. Lokakarya ini turut
dihadiri oleh jajaran dekanat FIB Unud, Koordinator dan dosen Program Studi
Sastra Inggris hingga mahasiswa S3 Linguistik.
Mengawali kegiatan, Assoc.
Prof. Lucien Brown, mewakili tim delegasi Australia menyampaikan rasa
terima kasihnya atas keramahan dan kesiapan profesional dari FIB Unud. Ia
berharap lokakarya yang menghadirkan tim dari latar belakang internasional yang
beragam ini dapat menjadi pembuka jalan untuk memperkuat kerjasama antar
institusi di masa mendatang.
Di pihak lain, Prof. I Nyoman
Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan FIB Unud menyambut hangat kedatangan
para ahli linguistik dari Australia dan secara resmi membuka acara tersebut. Ia
menggarisbawahi pentingnya memahami komunikasi secara utuh tidak hanya dari
bahasa verbal, melainkan melalui berbagai ragam moda (multimodal) yang saling
melengkapi serta menekankan lokakarya ini sebagai manifestasi nyata dari
komitmen fakultas dalam membangun dan mengembangkan kapasitas akademik bagi
mahasiswa dan dosen di lingkungan FIB Unud.
Pembicara utama dari lokakarya
ini adalah Assoc. Prof. Lucien Brown serta Dr. Daniel Pieper dari Monash
University, Dr. Eldin Milak dari Curtin University, serta Dr. Jessica Kruk dari
The University of Western Australia.
Pada sesi panel utama, benang
merah diskusi langsung berfokus pada fenomena ekspansi bahasa dan budaya pop
Korea Selatan di Asia Pasifik melalui kacamata semiotika transnasional. Assoc.
Prof. Lucien Brown menyoroti pergeseran makna (resemiotisasi) pada kata
"Oppa". Ia membedah bagaimana panggilan yang awalnya bermakna
kekerabatan tersebut kini dikomodifikasi menjadi standar maskulinitas ideal,
bahkan kerap berkelindan dengan praktik eksploitasi dan penipuan romansa daring
di luar Korea. Selaras dengan temuan tersebut, Dr. Jessica Kruk mengeksplorasi
gestur finger heart yang marak di media massa Indonesia. Rekontekstualisasi
gestur ini membuktikan bahwa finger heart telah berevolusi dari sekadar tren
budaya pop menjadi simbol identitas modern bagi anak muda lintas negara.
Diskusi berlanjut pada tatanan
linguistik dan ortografi yang dibawakan oleh Dr. Daniel Pieper. Melalui studi
kasus penerapan aksara Han'gŭl pada bahasa suku Cia-Cia di Sulawesi Tenggara,
ia mengupas kompleksitas antara nasionalisme bahasa Korea dan adaptasinya oleh
masyarakat di luar batas teritorial negara tersebut. Melengkapi eksplorasi
identitas "Ke-Korea-an" global ini, Dr. Eldin Milak menutup sesi
utama dengan membedah fenomena prefiksasi, yang menyoroti bagaimana penggunaan
awalan "K-" (seperti pada K-Pop atau K-Drama) dan "Han-"
mendikte pembentukan makna baru di tengah masyarakat dunia.
Melanjutkan materi dari pemateri
utama sebelumnya, lokakarya berlanjut dengan sesi presentasi yang
menyoroti penerapan semiotika dari ruang fisik tradisional hingga lanskap
digital. Eksplorasi lokalitas timur Indonesia dibawakan oleh Polce Aryanto
Bessie yang membedah makna kognitif baliho di Kota Kupang, bersanding dengan
riset Agnes Odiyanti Manek terkait "malak noni" sebagai representasi
semiotik kepemilikan hewan dan identitas kultural Suku Dawan. Beralih ke ranah
digital, Rabiatul Adawiah menyajikan analisis multimodal pada tata letak studio
podcast YouTube "LOGIN" yang secara visual membangun otoritas dalam
dialog antaragama, sementara kajian Matthew Skidmore dan Levi Dubridge
membongkar konstruksi afektif identitas kultural Korea-Australia melalui narasi
visual di Instagram. Melengkapi keragaman diskursus tersebut, Marc Yeo
memaparkan polemik papan nama beraksara Jawi di Malaysia dalam kacamata politik
identitas etnis dan religiositas.
Memasuki hari kedua, lokakarya
berganti fokus pada penguatan research skills partisipan melalui dua sesi
praktik yang interaktif. Pada sesi pertama bertajuk “Linguistic Landscapes”
yang dipandu oleh Dr. Jessica Kruk dan Dr. Eldin Milak, peserta dibekali
kerangka metodologis untuk membedah bagaimana makna diproduksi melalui teks
visual di ruang publik. Teori ini langsung diaplikasikan dalam diskusi
kelompok, di mana peserta ditantang untuk menebak negara asal sebuah kafe murni
dengan menganalisis elemen semiotik keruangan, seperti warna cat dan penataan
objek di dalamnya.
Penguatan research skills ini
berlanjut pada sesi “Pragmatic and Social meanings of gesture and
multimodality” bersama Assoc. Prof. Lucien Brown dan Dr. Daniel Pieper. Pada
sesi yang melatih kemampuan mengidentifikasi dan mengodekan praktik visual
tubuh ini, peserta diajak membedah makna berlapis di balik ragam cuplikan
interaksi, mulai dari taktik gerakan tangan dalam diskusi presidensial untuk
menekankan poin krusial, hingga analisis gestur tubuh dalam drama Korea yang
secara implisit menunjukkan superioritas dan disparitas hubungan antar
karakternya.
Penyelenggaraan lokakarya ini
diharapkan menjadi batu loncatan yang solid dalam mengukuhkan kerja sama
internasional FIB Unud. Kedepannya, keterampilan riset yang diperoleh para
peserta diharapkan mampu diaktualisasikan ke dalam karya-karya penelitian linguistik
yang kritis, inovatif, dan relevan dengan tantangan zaman.
Kolaborasi Internasional FIB dan Monash

No comments:
Post a Comment