Bali International Program on Asian Studies Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (BIPAS FIB Unud) melaksanakan kegiatan Opening Ceremony and Orientation Day Autumn Program 2026 yang terlaksana pada Selasa, 1 September 2026. Orientasi yang dilaksanakan di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Ida Bagus Mantra FIB Unud ini merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh para mahasiswa sebelum memulai periode perkuliahan BIPAS guna mempercepat masa adaptasi dengan sistem perkuliahan di Indonesia. Orientasi ini turut dihadiri oleh perwakilan Dekanat, perwakilan Asia Exchange, pihak Kantor Urusan Internasional Universitas Udayana, dan perwakilan pengajar.
Mengawali rangkaian orientasi, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. selaku Koordinator BIPAS menyampaikan sambutan hangat kepada 78 mahasiswa internasional yang berasal dari lima negara, yakni Republik Ceko, Finlandia, Prancis, Jerman, dan Belanda. Ia memaparkan bahwa program perkuliahan Autumn Semester 2026 ini secara resmi dimulai pada 1 September hingga 18 Desember 2026. Selama satu semester ke depan, para mahasiswa ditawarkan 14 mata kuliah pilihan serta satu mata kuliah wajib, yang juga akan dilengkapi dengan berbagai lokakarya (workshop) dan ekskursi budaya.
Sementara itu, Ibu Prima selaku perwakilan dari Asia Exchange dalam sambutannya menekankan pentingnya nilai pendidikan global bagi para mahasiswa. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Universitas Udayana dan seluruh tim BIPAS atas kolaborasi jangka panjang yang terus memfasilitasi mahasiswa dari berbagai belahan dunia untuk mendapatkan pengalaman akademik dan budaya di Bali. Ia berharap perpaduan antara pembelajaran di ruang kelas dan interaksi langsung dengan masyarakat lokal dapat memberikan wawasan baru serta kenangan tak terlupakan bagi para peserta program.
Orientasi ini resmi dibuka dengan serah terima tanggung jawab secara simbolis dari pihak Asia Exchange kepada pihak FIB Unud. Mewakili Dekan FIB Unud, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama turut memberikan sambutan hangat sekaligus memperkenalkan profil fakultas kepada para peserta. Dalam pidatonya, beliau memaparkan bahwa FIB Unud merupakan fakultas tertua sekaligus cikal bakal berdirinya Universitas Udayana pada tahun 1958, yang kini menaungi delapan program studi sarjana serta empat program pascasarjana. Di samping menekankan pentingnya kelancaran proses akademik di kelas, Dr. Oeinada juga sangat mendorong para mahasiswa internasional untuk meluangkan waktu mengeksplorasi keindahan alam serta kekayaan tradisi Bali guna menyempurnakan pengalaman studi mereka.
Memasuki agenda inti, perwakilan dari Kantor Urusan Internasional (KUI) Universitas Udayana, Putu Eka Ariady Putra, S.P., memberikan perkenalan singkat mengenai profil universitas, mencakup keragaman program studi, fasilitas akademik, serta berbagai program dukungan yang disediakan khusus bagi mahasiswa internasional selama masa studi mereka. Setelah mengenalkan lingkungan kampus, pemaparan dilanjutkan dengan pengarahan komprehensif terkait regulasi keimigrasian. Ia menegaskan kewajiban bagi seluruh mahasiswa pemegang Visa Izin Tinggal Terbatas (ITAS) E30 untuk fokus secara eksklusif pada kegiatan akademik, serta melarang keras segala bentuk pekerjaan atau keterlibatan bisnis selama berada di Indonesia. Lebih lanjut, ia juga mewajibkan mahasiswa BIPAS untuk secara rutin melaporkan setiap rencana perjalanan, perubahan alamat tempat tinggal beserta dokumen pendukung, dan memahami prosedur pelaporan jika terjadi kehilangan paspor.
Pemaparan materi dilanjutkan oleh Dr. Ni Ketut Sri Rahayuni, S.S., M.Hum. selaku perwakilan tenaga pengajar BIPAS, yang menguraikan esensi kearifan lokal Bali berlandaskan filosofi Tri Hita Karana dan keharmonisan toleransi beragama. Para mahasiswa BIPAS diinstruksikan secara tegas untuk menerapkan etika dasar, termasuk mengucapkan salam tradisional, berpakaian sopan dengan mengenakan selendang saat mengunjungi pura, serta mematuhi peraturan lalu lintas secara ketat. Lebih lanjut, mereka diberikan peringatan keras agar tidak melanggar pantangan budaya yang krusial di Bali, seperti menyentuh kepala orang lain, menginjak sesajen canang sari, menunjuk menggunakan kaki, hingga memasuki area suci pura saat sedang menstruasi.
Rangkaian orientasi berlanjut dengan perkenalan para dosen BIPAS yang berasal dari lintas fakultas dan berpengalaman dalam bidangnya. Dilanjut dengan pemaparan panduan akademik oleh Koordinator BIPAS, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. Ia memberikan arahan teknis yang wajib dipatuhi oleh seluruh mahasiswa, mulai dari prosedur pemilihan mata kuliah pilihan maupun wajib (Bahasa Indonesia), metode pembelajaran offline di Kampus Bukit Jimbaran, hingga syarat minimal kehadiran 75% sebagai prasyarat mengikuti ujian akhir. Tak hanya soal akademik, ia juga menekankan etika komunikasi saat menghubungi Dosen serta menegakkan aturan berpakaian yang ketat di lingkungan kampus, di mana mahasiswa dilarang keras mengenakan pakaian tanpa lengan (tank top), celana pendek, rok mini, maupun sandal.
Di samping urusan akademik, Bali Study Guide selaku partner dari Asia Exchange turut memfasilitasi kebutuhan logistik para mahasiswa melalui layanan penyewaan akomodasi dan skuter, serta pengurusan surat izin mengemudi (SIM). Selain itu, mereka juga mengoordinasikan berbagai pilihan aktivitas rekreasi guna memperkaya pengalaman budaya para mahasiswa selama menetap di Bali.






