Tuesday, September 1, 2026

BIPAS FIB Unud Sambut 78 Mahasiswa Asing pada Opening Ceremony and Orientation Day Autumn Program 2026


Bali International Program on Asian Studies Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (BIPAS FIB Unud) melaksanakan kegiatan Opening Ceremony and Orientation Day Autumn Program 2026 yang terlaksana pada Selasa, 1 September 2026. Orientasi yang dilaksanakan di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Ida Bagus Mantra FIB Unud ini merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh para mahasiswa sebelum memulai periode perkuliahan BIPAS guna mempercepat masa adaptasi dengan sistem perkuliahan di Indonesia. Orientasi ini turut dihadiri oleh perwakilan Dekanat, perwakilan Asia Exchange, pihak Kantor Urusan Internasional Universitas Udayana, dan perwakilan pengajar.


Mengawali rangkaian orientasi, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. selaku Koordinator BIPAS menyampaikan sambutan hangat kepada 78 mahasiswa internasional yang berasal dari lima negara, yakni Republik Ceko, Finlandia, Prancis, Jerman, dan Belanda. Ia memaparkan bahwa program perkuliahan Autumn Semester 2026 ini secara resmi dimulai pada 1 September hingga 18 Desember 2026. Selama satu semester ke depan, para mahasiswa ditawarkan 14 mata kuliah pilihan serta satu mata kuliah wajib, yang juga akan dilengkapi dengan berbagai lokakarya (workshop) dan ekskursi budaya. 


Sementara itu, Ibu Prima selaku perwakilan dari Asia Exchange dalam sambutannya menekankan pentingnya nilai pendidikan global bagi para mahasiswa. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Universitas Udayana dan seluruh tim BIPAS atas kolaborasi jangka panjang yang terus memfasilitasi mahasiswa dari berbagai belahan dunia untuk mendapatkan pengalaman akademik dan budaya di Bali. Ia berharap perpaduan antara pembelajaran di ruang kelas dan interaksi langsung dengan masyarakat lokal dapat memberikan wawasan baru serta kenangan tak terlupakan bagi para peserta program.


Orientasi ini resmi dibuka dengan serah terima tanggung jawab secara simbolis dari pihak Asia Exchange kepada pihak FIB Unud. Mewakili Dekan FIB Unud, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama turut memberikan sambutan hangat sekaligus memperkenalkan profil fakultas kepada para peserta. Dalam pidatonya, beliau memaparkan bahwa FIB Unud merupakan fakultas tertua sekaligus cikal bakal berdirinya Universitas Udayana pada tahun 1958, yang kini menaungi delapan program studi sarjana serta empat program pascasarjana. Di samping menekankan pentingnya kelancaran proses akademik di kelas, Dr. Oeinada juga sangat mendorong para mahasiswa internasional untuk meluangkan waktu mengeksplorasi keindahan alam serta kekayaan tradisi Bali guna menyempurnakan pengalaman studi mereka.

Memasuki agenda inti, perwakilan dari Kantor Urusan Internasional (KUI) Universitas Udayana, Putu Eka Ariady Putra, S.P., memberikan perkenalan singkat mengenai profil universitas, mencakup keragaman program studi, fasilitas akademik, serta berbagai program dukungan yang disediakan khusus bagi mahasiswa internasional selama masa studi mereka. Setelah mengenalkan lingkungan kampus, pemaparan dilanjutkan dengan pengarahan komprehensif terkait regulasi keimigrasian. Ia menegaskan kewajiban bagi seluruh mahasiswa pemegang Visa Izin Tinggal Terbatas (ITAS) E30 untuk fokus secara eksklusif pada kegiatan akademik, serta melarang keras segala bentuk pekerjaan atau keterlibatan bisnis selama berada di Indonesia. Lebih lanjut, ia juga mewajibkan mahasiswa BIPAS untuk secara rutin melaporkan setiap rencana perjalanan, perubahan alamat tempat tinggal beserta dokumen pendukung, dan memahami prosedur pelaporan jika terjadi kehilangan paspor. 


Pemaparan materi dilanjutkan oleh Dr. Ni Ketut Sri Rahayuni, S.S., M.Hum. selaku perwakilan tenaga pengajar BIPAS, yang menguraikan esensi kearifan lokal Bali berlandaskan filosofi Tri Hita Karana dan keharmonisan toleransi beragama. Para mahasiswa BIPAS diinstruksikan secara tegas untuk menerapkan etika dasar, termasuk mengucapkan salam tradisional, berpakaian sopan dengan mengenakan selendang saat mengunjungi pura, serta mematuhi peraturan lalu lintas secara ketat. Lebih lanjut, mereka diberikan peringatan keras agar tidak melanggar pantangan budaya yang krusial di Bali, seperti menyentuh kepala orang lain, menginjak sesajen canang sari, menunjuk menggunakan kaki, hingga memasuki area suci pura saat sedang menstruasi. 


Rangkaian orientasi berlanjut dengan perkenalan para dosen BIPAS yang berasal dari lintas fakultas dan berpengalaman dalam bidangnya. Dilanjut dengan pemaparan panduan akademik oleh Koordinator BIPAS, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. Ia memberikan arahan teknis yang wajib dipatuhi oleh seluruh mahasiswa, mulai dari prosedur pemilihan mata kuliah pilihan maupun wajib (Bahasa Indonesia), metode pembelajaran offline di Kampus Bukit Jimbaran, hingga syarat minimal kehadiran 75% sebagai prasyarat mengikuti ujian akhir. Tak hanya soal akademik, ia juga menekankan etika komunikasi saat menghubungi Dosen serta menegakkan aturan berpakaian yang ketat di lingkungan kampus, di mana mahasiswa dilarang keras mengenakan pakaian tanpa lengan (tank top), celana pendek, rok mini, maupun sandal. 


Di samping urusan akademik, Bali Study Guide selaku partner dari Asia Exchange turut memfasilitasi kebutuhan logistik para mahasiswa melalui layanan penyewaan akomodasi dan skuter, serta pengurusan surat izin mengemudi (SIM). Selain itu, mereka juga mengoordinasikan berbagai pilihan aktivitas rekreasi guna memperkaya pengalaman budaya para mahasiswa selama menetap di Bali. 

Monday, August 31, 2026

FIB Unud Gelar Evaluasi Kinerja Triwulan II 2026,:Rumuskan Langkah Strategis Pencapaian IKU

 

Pada Senin, 31 Agustus 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) menyelenggarakan Rapat Evaluasi Capaian Kinerja Fakultas dan Program Studi Periode Triwulan II Tahun 2026. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang Senat, Gedung Poerbatjaraka ini dipimpin oleh Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan I FIB Unud. Kegiatan ini dihadiri oleh para Koordinator Program Studi (S1, S2, S3, BIPA, dan BIPAS), Ketua Unit Pengelola Informasi dan Kerja Sama (UPIKS), Koordinator Tata Usaha, para Sub Koordinator, Tim PIC Capaian Kinerja dari masing-masing program studi, serta Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UP2M). Rapat dilaksanakan untuk meninjau realisasi target Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Perguruan (IKP) hingga Triwulan II, sekaligus merumuskan langkah strategis penanggulangan sebelum berakhirnya Triwulan III pada September mendatang. 

Dalam pemaparannya, perwakilan Tim Perencanaan Fakultas, I Nyoman Agesta Amandayana, S.Kom., menyampaikan rekapitulasi capaian kinerja fakultas dan prodi. Berdasarkan evaluasi awal, sejumlah indikator kinerja masih membutuhkan dorongan signifikan karena belum mencapai target persentase tahunan yang disepakati bersama Dekan. Pada aspek angka efisiensi edukasi dan persentase mahasiswa aktif, rata-rata pencapaian masih berada di bawah target.

Selain itu, dibahas pula kendala administratif mahasiswa, seperti pemenuhan sertifikat PKKMB maupun Satuan Kredit Partisipasi (SKP) yang berpotensi menghambat kelulusan tepat waktu. Terkait persentase alumni yang bekerja atau melanjutkan studi, fakultas terus mendorong optimalisasi penelusuran alumni melalui kerja sama dengan Career Development Center (CDC) serta pemberian bimbingan bagi lulusan yang belum bekerja. 

Pembahasan juga mencakup aspek kualifikasi dosen dan luaran akademik. Mengenai rekognisi internasional serta persentase dosen berpendidikan S3, publikasi jurnal internasional pada tingkat program sarjana tercatat menunjukkan kemajuan yang signifikan. Sementara itu, pelaporan data pada jenjang pascasarjana masih terus dirapikan melalui sistem IMISSU. Pada aspek luaran kerja sama dan publikasi bereputasi, fakultas menyoroti pentingnya pencatatan luaran berbasis riset dan kolaborasi internasional. Contoh luaran yang telah dipublikasikan di antaranya adalah kerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Bali pada Prosiding Seminar Nasional Bahasa Ibu, serta penuangan laporan kerja sama ke dalam bentuk buku atau repositori yang dapat diakses publik. 

Di samping itu, kontribusi program studi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) serta keterlibatan dosen sebagai pakar dalam penyusunan kebijakan juga didorong untuk terus didokumentasikan secara resmi melalui surat tugas. 

Menanggapi hasil capaian tersebut, pimpinan fakultas menekankan pentingnya efisiensi anggaran dan akselerasi tindakan oleh seluruh unit kerja. Mengingat pentingnya pemenuhan kontrak kinerja dengan Rektorat maupun Kementerian, para koordinator program studi dan unit terkait diminta segera menyusun Rencana Aksi untuk memitigasi indikator yang masih di bawah target. Selain pencapaian IKU, rapat tersebut turut membahas pemetaan dan digitalisasi proses bisnis fakultas. Alur kerja administrasi, mulai dari pendaftaran yudisium hingga penyusunan rencana kerja, diarahkan untuk terintegrasi dalam sistem digital guna meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan akademik. 

Rapat evaluasi ini menjadi pijakan strategis bagi FIB Unud untuk mengidentifikasi tantangan dan mengoptimalkan kinerja di pertengahan tahun anggaran 2026. Sebagai tindak lanjut, seluruh Koordinator Program Studi dan PIC Kinerja diinstruksikan untuk melengkapi pendataan mahasiswa yang terlibat dalam penelitian dan MBKM, memperbarui pelaporan luaran kerja sama, serta segera merampungkan pelaporan Rencana Aksi Triwulan III melalui sistem integrasi fakultas. Dengan komitmen bersama, FIB Unud optimistis dapat memenuhi target kinerja yang telah ditetapkan pada periode mendatang. 


Friday, August 21, 2026

Jiwanmukti sebagai Sastra Pembebasan dalam Kakawin Panca Dharma, Bahasan dalam Sidang Doktor ke-290 FIB Unud


Program Studi Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka yang dilaksanakan di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud pada Jumat, 21 Agustus 2026. Promovenda atas nama Ni Made Ari Dwijayanthi, S.S., M.Hum. berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Representasi Jiwanmukti Sebagai Sastra Pembebasan Dalam Kakawin Panca Dharma”. Sidang tersebut dihadiri oleh keluarga dan rekan sejawat Promovenda. Dengan keberhasilan tersebut. Promovenda menjadi Doktor ke-290 pada Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud.

Keberhasilan Promovenda dalam mempertahankan hasil penelitiannya tidak terlepas dari arahan, masukan, dan evaluasi yang diberikan oleh para anggota penguji. Sidang ujian terbuka ini diketuai oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum., dengan didampingi Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum. sebagai Promotor, Prof. Dr. Drs. I Ketut Sudewa, M.Hum. sebagai Kopromotor 1, dan Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. sebagai Kopromotor 2. Sementara itu, tim penguji yang turut mendampingi pimpinan sidang terdiri atas Prof. Dr. Dra. Luh Putu Puspawati, M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Dr. Drs. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum., Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., dan Dr. Drs. Ketut Yarsama, M.Hum.

Di hadapan para penguji, Promovenda memaparkan bahwa penelitian disertasinya dilatarbelakangi oleh krisis kesadaran diri manusia modern yang cenderung mencari kebahagiaan melalui hal-hal eksternal serta praktik spiritual yang bersifat simbolik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis wacana kritis, penelitian tersebut menunjukkan bahwa Kakawin Panca Dharma merupakan satu kesatuan ajaran yang menggambarkan perjalanan manusia menuju pembebasan batin.

Perjalanan tersebut berlangsung secara bertahap melalui kalepasan, kamoksan, kasunyatan, dan kaputusan. Kalepasan berkaitan dengan pengendalian diri, indra, ucapan, serta pelepasan berbagai keterikatan. Kamoksan merupakan proses penyatuan jiwa dengan kesadaran yang lebih tinggi. Kasunyatan menggambarkan kondisi keheningan dan kebebasan dari dualitas duniawi. Sementara itu, kaputusan menjadi tahap tertinggi ketika manusia terbebas dari keterikatan dan mencapai kesadaran tertinggi. Ajaran tersebut tidak hanya dipahami sebagai konsep mistis, tetapi juga sebagai proses psikologis yang mencakup penerimaan diri, pengendalian pikiran, keikhlasan, dan kontemplasi.

Penelitian ini juga menemukan adanya paralelitas antara ajaran pembebasan dalam Kakawin Panca Dharma dengan psikologi analitik Carl Gustav Jung, khususnya melalui konsep individuasi, shadow, anima-animus, dan Self. Dengan demikian, Kakawin Panca Dharma tidak hanya dapat dipandang sebagai warisan sastra Jawa Kuno, tetapi juga sebagai peta spiritual dan psikologis yang tetap relevan bagi manusia modern. Nilai-nilai seperti penerimaan diri, kesadaran batin, pengendalian ego, keikhlasan, dan dialog dengan diri sendiri dapat menjadi bahan refleksi dalam membangun kesehatan mental yang lebih holistik.

Pemaparan hasil penelitian tersebut kemudian memunculkan diskusi mendalam dalam sesi tanya jawab yang menyoroti dua poin utama. Promovenda menjelaskan bahwa Kakawin Dharma Sawita, Kakawin Dharma Wimala, Dharma Niskala, Dharma Sunya, dan Dharma Putus memiliki pertalian atau benang merah yang menunjukkan tahapan dari dasar hingga tingkat lanjut dalam mencapai pembebasan diri. Pembebasan diri yang dimaksud berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengendalikan diri sehingga seseorang mampu melihat serta menilai dirinya sendiri.

Promovenda berharap hasil penelitiannya dapat dibaca secara lebih luas oleh para stakeholders, khususnya pihak yang berkonsentrasi dalam bidang ilmu gizi. Dalam Kakawin Dharma Sawita, misalnya, dijelaskan mengenai cara mengolah rasa, termasuk mengendalikan makanan. Selanjutnya, dalam bidang psikologi, ketika seseorang mampu memahami dan mengendalikan apa yang masuk ke dalam tubuh, hal tersebut juga dapat membantu proses pengendalian diri. Dengan tubuh yang sehat, kesehatan jiwa juga diharapkan dapat terjaga.

Sebagai penutup, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum. selaku Promotor menyampaikan pesan dan harapannya kepada Promovenda. Sebagai seorang aktivis sekaligus dosen, gelar yang telah diperoleh harus dapat dipertanggungjawabkan melalui kontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia akademik. Lebih dari sekadar menjadi sebuah disertasi, kajian mengenai Kakawin Panca Dharma diharapkan dapat terus dihidupkan sebagai pengingat filosofis bagi setiap orang untuk senantiasa merefleksikan nilai-nilai kehidupan, kesadaran diri, dan pembebasan yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, karya ini tidak hanya berhenti sebagai pencapaian akademik, tetapi juga dapat memberikan makna dan manfaat bagi seluruh hadirin serta masyarakat luas.


Thursday, August 20, 2026

Luluskan 309 Mahasiswa, Yudisium FIB Unud Catatkan Peningkatan Capaian Akademik yang Gemilang

 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi melepas 309 mahasiswanya dalam acara Yudisium Calon Wisudawan Periode ke-177 dan 178 yang digelar pada Kamis, 20 Agustus 2026. Upacara akademik yang berlangsung di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud ini turut dihadiri oleh jajaran dekanat, senat fakultas, para koordinator program studi, pimpinan unit kerja, tenaga kependidikan, serta perwakilan lembaga kemahasiswaan di lingkungan FIB Unud. 

Pelaksanaan yudisium menjadi prasyarat mutlak yang menandai berakhirnya masa studi mahasiswa secara administratif dan akademik di fakultas. Melalui prosesi ini, 309 mahasiswa tersebut resmi dikukuhkan sebagai alumni FIB Unud untuk kemudian dilepas ke tingkat universitas. Berdasarkan laporan akademik dari Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama, lulusan pada yudisium periode ini menunjukkan kualitas akademik dan efisiensi studi yang sangat baik. Pada jenjang Sarjana (S1) yang menjadi kelompok mayoritas, tercatat  rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,87 dengan masa studi 51 bulan. Sementara itu, lulusan program pascasarjana (Magister dan Doktoral) turut menorehkan prestasi impresif dengan rata-rata IPK pada rentang 3,80 hingga 3,93, serta waktu penyelesaian studi antara 30 hingga 49 bulan. Dari sisi sebaran peserta, Program Studi Sastra Inggris mendominasi pelepasan kali ini dengan menyumbang 103 calon wisudawan, sedangkan Program Studi Sastra Jawa Kuna melepas sejumlah 10 mahasiswa. 

Calon wisudawan terbaik dipaparkan oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Informasi, Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M. Si. Calon wisudawan terbaik untuk periode ke-177 dari program Sarjana diraih oleh Ni Kadek Febriyati Wulandari, S.S. dari Program Studi Sastra Inggris. Calon wisudawan terbaik dari program Magister diraih oleh Ni Putu Dian Angga Melani, S.S., M.Hum. dari Magister Linguistik, dan calon wisudawan terbaik dari program Doktoral diraih oleh Dr. Asridayani, S.S., M.Hum. dari Doktor Linguistik.

Periode ke-178, calon wisudawan terbaik dari program Sarjana diraih oleh Rafi Nazmi Ghifari, S.S. dari program studi Sastra Inggris, Calon wisudawan terbaik dari program Magister diraih oleh Ni Nyoman Tri Gitayani, S.S., M.Hum. dari Magister Linguistik, dan calon wisudawan terbaik dari program Doktoral diraih oleh Dr. Yana Qomariana, S.S., M.Ling. dari Doktor Linguistik.

Puncak kehidmatan acara ditandai dengan prosesi pengalungan gordon kepada seluruh 309 calon wisudawan oleh Dekan FIB Unud dan penyerahan sertifikat kelulusan oleh masing-masing Koordinator Program Studi. Suasana haru dan penuh kebanggaan yang menyelimuti Auditorium Widya Sabha Mandala ini turut disemarakkan oleh persembahan hiburan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Symphony FIB Unud. 

Sesudah sesi pengalungan gordon kepada seluruh calon wisudawan, Ni Kadek Febriyati Wulandari, S.S. yang didapuk sebagai perwakilan wisudawan terbaik memberikan kesan pesan selama studi yang reflektif. Ia menekankan bahwa kelulusan ini bukanlah sebuah garis akhir, melainkan titik awal yang membawa ketidakpastian sekaligus peluang baru untuk terus belajar. Mewakili rekan-rekannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada jajaran sivitas akademika, tenaga kependidikan, serta keluarga yang terus memberikan dukungan.   

Mengakhiri rangkaian kegiatan, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. menekankan bahwa kegagalan adalah bahan baku utama menuju kesuksesan. Mengambil inspirasi dari perjalanan tokoh dunia seperti J.K. Rowling, Thomas Alva Edison, hingga pesepakbola Lionel Messi, Dekan mengingatkan para lulusan agar tidak takut menghadapi penolakan di dunia nyata. Lebih lanjut, beliau juga membagikan pengalaman pribadinya saat menghadapi penolakan jurnal internasional semasa studi doktoralnya, yang justru menjadi batu loncatan menuju publikasi bereputasi tinggi.

Berakhirnya prosesi yudisium ini sekaligus menjadi penanda dimulainya babak baru bagi ke-309 lulusan. Berbekal ilmu kebudayaan dan gelar yang kini disandang, para calon wisudawan diharapkan tidak hanya siap menghadapi tantangan global, tetapi juga mampu mengukir jejak kesuksesan dan membawa nama baik almamater di tengah masyarakat.


Wednesday, August 19, 2026

LPK Zenith Jajaki Kerja Sama dengan FIB Unud untuk Memperkuat Pembelajaran Bahasa Jepang dan Peluang Karier

 


Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) menerima kunjungan dari LPK Zenith yang diwakili oleh Direktur LPK Zenith, Dr. Catrini Pratihari K. Pertemuan tersebut membahas potensi kerja sama antara LPK Zenith dan FIB Unud, khususnya dalam pengembangan pengajar Bahasa Jepang, program magang mahasiswa, serta peluang pengembangan kompetensi dan karier mahasiswa di Jepang. Kunjungan tersebut disambut oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., bersama Ketua Unit Pengelola Informasi dan Kerja Sama (UPIKS) FIB Unud, Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M. Hum., dan berlangsung dalam suasana konstruktif dengan fokus pada penjajakan peluang kerja sama di masa mendatang.

Dalam pertemuan yang terlaksana di Ruang Dekan tersebut, Dr. Catrini menyampaikan bahwa LPK Zenith melihat adanya keterbatasan tenaga pengajar Bahasa Jepang di Bali. Di sisi lain, terdapat potensi kerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki program studi Bahasa Jepang dan mahasiswa yang memiliki ketertarikan untuk menjadi pengajar. Berdasarkan kondisi tersebut, LPK Zenith mengusulkan adanya kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia, salah satunya melalui program Training of Trainers (TOT) untuk mempersiapkan calon pengajar Bahasa Jepang. Selain itu, LPK Zenith juga melihat adanya peluang bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman profesional di Jepang. Peluang tersebut didukung dengan adanya kerja sama baru LPK Zenith bersama Japan Airlines yang mencakup bidang ground handling, kargo, dan administrasi, dengan beberapa posisi yang membutuhkan kemampuan Bahasa Jepang pada tingkat N2 dan N3.

Menanggapi usulan tersebut, Prof. Aryawibawa menyambut baik potensi kerja sama yang ditawarkan dengan menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap kegiatan yang dikembangkan tetap selaras dengan misi akademik dan kurikulum FIB Unud. Ia menjelaskan bahwa dalam pengembangan kerja sama dengan pihak Jepang, FIB Unud perlu berhati-hati dalam memosisikan program agar peran universitas sebagai institusi pendidikan tinggi tetap berfokus pada pengembangan akademik dan tidak dipersepsikan sebagai lembaga vokasi untuk penempatan tenaga kerja. Oleh karena itu, peluang kerja sama dapat dikembangkan melalui skema akademik seperti mobilitas mahasiswa, magang, atau bentuk pembelajaran berbasis pengalaman lainnya yang relevan dengan program studi.

Prof. Aryawibawa juga menilai bahwa program TOT dapat menjadi salah satu bentuk kerja sama yang potensial, khususnya bagi mahasiswa yang memiliki ketertarikan untuk menjadi guru atau dosen Bahasa Jepang. Mahasiswa yang memilih jalur tersebut nantinya dapat memperoleh pelatihan khusus yang mendukung kompetensinya. Selain bidang pendidikan, peluang pengembangan karier juga dapat diarahkan pada bidang administrasi, pemerintahan, maupun bidang profesional lainnya yang sesuai dengan profil lulusan masing-masing program studi. Ia juga menyampaikan bahwa peluang magang dapat dikembangkan tidak hanya untuk mahasiswa Sastra Jepang, tetapi juga mahasiswa dari program studi lain yang memiliki kompetensi relevan, dengan tetap menyesuaikan kegiatan magang terhadap kurikulum dan kompetensi utama masing-masing program studi.

Dari sisi kelembagaan, Ketua UPIKS FIB Unud, Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa kegiatan magang dalam skema Kampus Berdampak dapat dikonversikan ke dalam satuan kredit semester, dengan mahasiswa berpotensi memperoleh hingga 20 SKS untuk kegiatan yang memenuhi ketentuan. Ia menjelaskan bahwa kerja sama yang melibatkan kegiatan mahasiswa perlu didukung oleh kerangka kelembagaan yang sesuai, seperti Memorandum of Understanding (MoU) dan/atau Perjanjian Kerja Sama (PKS), bergantung pada bentuk dan tingkat kerja sama yang dikembangkan. Pelaksanaan kerja sama juga perlu disertai kegiatan dan luaran yang jelas, seperti laporan mahasiswa, buku, artikel, maupun bentuk luaran lain yang disepakati. Dengan adanya kerangka tersebut, bentuk kegiatan yang akan dikembangkan bersama dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan ketentuan akademik yang berlaku di FIB Unud.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam menjajaki potensi kerja sama antara FIB Unud dan LPK Zenith. Berbagai peluang, mulai dari pengembangan pengajar Bahasa Jepang melalui program TOT hingga kegiatan magang dan pengembangan kompetensi mahasiswa, menjadi bagian dari pembahasan yang dapat dikembangkan lebih lanjut. FIB Unud dan LPK Zenith selanjutnya akan mempertimbangkan bentuk kegiatan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan masing-masing pihak sebelum menentukan bentuk kerja sama yang akan dikembangkan.

Tuesday, August 18, 2026

Jejak Kolonial di Layar Kaca: Bedah Film De Oost Warnai HUT ke-62 Ilmu Sejarah Unud



Rangkaian puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) menyajikan ruang diskursus yang beragam. Berjalan secara paralel dengan sesi Bedah Buku, antusiasme belasan sivitas akademika juga terlihat memadati Ruang Guru Besar, Gedung Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Lantai II FIB Unud untuk mengikuti agenda Bedah Film pada Selasa (18/8/2026). Sesi yang dimoderatori oleh I Dewa Made Adnyana Setiarsa ini secara eksklusif membedah film The East atau De Oost (2020) arahan sutradara Jim Taihuttu.

Film De Oost berlatar masa Agresi Militer pasca-Kemerdekaan Indonesia. Film ini mengikuti kisah Johan de Vries, seorang prajurit muda Belanda yang dikerahkan ke Nusantara untuk meredam pergerakan kemerdekaan. Dalam penugasannya, ia bergabung dengan pasukan elite di bawah komando Raymond Westerling. Konflik batin dan krisis moral mulai mendera Johan tatkala ia menyaksikan langsung kebrutalan serta taktik pembantaian keji yang dilakukan oleh komandannya sendiri terhadap rakyat setempat. Bertindak sebagai pembedah utama dalam sesi ini adalah Mikael Yohanes Pradana Yapari, seorang akademisi muda yang secara khusus menjadikan film De Oost sebagai subjek penelitian skripsinya. Pada awal pemaparannya, Mikael menceritakan tantangan akademis yang sempat dihadapinya ketika meyakinkan pihak program studi bahwa sebuah karya sinematik layak diangkat menjadi objek penelitian Sejarah.Argumentasi ilmiahnya ditegaskan bahwa subjek sejarah kini tidak lagi sempit dan terpaku pada wujud manusianya saja. Definisi tersebut dinilai telah melebar pada berbagai jejak peninggalan manusia, mulai dari prasasti, buku, hingga karya visual. Oleh karena itu, film De Oost diposisikan sebagai subjek sejarah yang valid, terlebih pendekatan serupa terhadap sebuah film juga telah banyak diaplikasikan dalam berbagai penelitian Sejarah lainnya.

Motif di balik layar pembuatan De Oost turut dibedah dalam sesi ini. Diungkapkan bahwa film ini menjadi unik karena diproduksi oleh "pihak penjajah" (Belanda), namun disutradarai oleh Jim Taihuttu, seorang sineas Belanda keturunan Maluku. Film ini lahir dari krisis identitas sang sutradara yang mempertanyakan mengapa asal-usul kakek buyutnya di Maluku seolah ditutupi dan tidak pernah diceritakan, baik dalam lingkup keluarga maupun kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah Belanda. Sesi diskusi bergulir hangat menyoroti posisi film sejarah di tengah masyarakat. Audiens dan pembedah saling bertukar pandangan mengenai batasan antara fakta riil dan fiksi di dalam film, serta bagaimana mengubah stigma masyarakat terhadap sinema berlatar sejarah yang kerap kali hanya dipandang sebagai instrumen narasi politik semata.

Sesi Bedah Film ini pun sukses membuka wawasan para peserta bahwa sebuah karya sinema bukan sekadar produk hiburan visual, melainkan sebuah jejak peninggalan manusia yang menyimpan pergulatan identitas, memori kolektif, dan narasi sejarah yang patut dikaji secara kritis. 

Bedah Buku HUT ke-62 Ilmu Sejarah Unud: Dari Kosmopolis Hindu-Buddha Hingga Kritik Sumber Sejarah

Selasa 18 Agustus 2026 - Semarak puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dilanjutkan dengan dua agenda akademik yang berjalan secara paralel. Belasan peserta mengikuti sesi Bedah Film di Ruang Guru Besar, denyut dialektika yang tak kalah kritis juga sangat terasa pada sesi Bedah Buku yang dilangsungkan di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno. Dipandu oleh mahasiswi Ilmu Sejarah angkatan 2024, Salsabila Dinaristi sebagai moderator, sesi di Ruang Soekarno ini mengupas tuntas dua karya kesejarahan melalui kacamata pakar internasional hingga akademisi senior. 

Sesi ini mengupas tuntas dua karya penting, yakni "Hindu-Buddhist Cosmopolis Interfaith Studies in Comparative Perspective" dan "Merawat Memori Kolektif dalam Konteks Kajian Budaya dan Sejarah: Kusumanjali Dr. Drs. Ida Bagus Gde Putra, M.Hum." 

Sesi pembedahan diawali pemaparan Dr. Preeti Oza, akademisi dari St. Andrew College, Mumbai, India hadir secara daring. Mengupas buku "Hindu-Buddhist Cosmopolis Interfaith Studies in Comparative Perspective”, Dr. Preeti menyoroti jejak kosmopolis Hindu-Buddha pada abad ke-9 di Asia Tenggara. Ia membedah Candi Borobudur sebagai sebuah stone mandala (mandala batu) yang tidak hanya merepresentasikan kosmologi agama terdiri dari Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, melainkan juga merupakan wujud dari Teologi Politik serta legitimasi kekuasaan raja di masa lampau. 

Perspektif lainnya juga disampaikan oleh Naufal Azhar Romadhoni, mahasiswa Ilmu Sejarah Unud angkatan 2023. Ia memberikan sorotan tajam terhadap pentingnya menulis sejarah pedesaan. Mengambil contoh risetnya mengenai Desa Budakeling dan Buahan Kaja, Naufal menekankan bahwa desa memiliki narasi kesejarahannya sendiri yang kaya. Ia mengajak para akademisi muda untuk melepaskan pandangan bernuansa kolonial yang sering kali hanya mengerdilkan desa sebagai penopang atau sekadar latar belakang sejarah perkotaan. 

Diskursus semakin menghangat ketika akademisi dan pakar sejarah kesenian, Dr. Drs. I Gusti Ngurah Seramasara, M.Hum., mengambil alih mimbar untuk membedah buku Merawat Memori Kolektif dalam Konteks Kajian Budaya dan Sejarah: Kusumanjali Dr. Drs. Ida Bagus Gde Putra, M.Hum.". Sebelum memaparkan telaahnya, Dr. Seramasara memberikan apresiasi luar biasa terhadap tradisi Prodi Ilmu Sejarah Unud yang selalu menerbitkan buku dedikasi bagi para dosen yang memasuki masa purnabakti (pensiun) sebagai sebuah tradisi intelektual yang menurutnya sangat langka dan patut dicontoh oleh program studi lainnya.

Dalam telaahnya, beliau memberikan pembedahan yang konstruktif terkait metodologi sejarah. Beliau menyoroti pentingnya peran seorang editor untuk merangkai "benang merah" antar-bab agar buku tidak sekadar menjadi kumpulan naskah. Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya kritik sumber, terutama dalam menganalisis arsip foto historis dan arsitektur bangunan Indis. Menurutnya, sebuah foto peninggalan kolonial atau foto jurnalistik masa revolusi tidak boleh ditelan mentah-mentah, karena di balik lensa seorang fotografer, selalu terdapat struktur, dominasi, hegemonik, serta orientasi politik yang perlu dikritisi oleh seorang sejarawan. 

Menanggapi dinamika diskusi tersebut, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., menyambut baik kritik dan pandangan mendalam dari Dr. Seramasara. Prof. Ardhana menegaskan bahwa perdebatan akademis yang lugas ini adalah "kuliah berharga" bagi para mahasiswa untuk memahami perbedaan mendasar antara sejarah sebagai seni (History as Art) dan sejarah sebagai ilmu pasti (History as Science). 

"Ketika sejarah dipelajari sebagai ilmu (science), ia harus bisa diuji, divalidasi, dan dianalisis melalui tahapan metode sejarah kritis, bukan sekadar peminatan belaka," pungkas Prof. Ardhana.

Sesi Bedah Buku ini ditutup dengan antusiasme tinggi dari para peserta, membuktikan bahwa pada usianya yang ke-62, Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unud terus konsisten mencetak ruang dialektika yang tajam, progresif, dan relevan dengan tantangan zaman.


FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...