Tuesday, July 21, 2026

Dosen ISI Bali Meraih Gelar Doktor Membahas “Polusi Visual Media Luar Ruang”


Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sekali lagi menyambut doktor terbaru, Dr. I Putu Arya Janottama, S. Sn., M. Sn.. Promovendus merupakan doktor ke-286 di FIB Universitas Udayana dan ke-305 pada Program Studi S3 Kajian Budaya. Dalam meraih gelar doktor ini, FIB Universitas Udayana telah menyelenggarakan sidang terbuka promosi doktor yang bertempat di Ruang Sidang Soekarno, Gedung Poerbatjaraka pada Selasa, 21 Juli 2026. Promovendus berhasil meraih predikat sangat memuaskan melalui disertasi yang berjudul “Polusi Visual Media Luar Ruang di Denpasar sebagai Kota Budaya”.


Sidang promosi Doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. sebagai Ketua Sidang Ujian Terbuka. Sementara itu, Promotor dalam sidang ini adalah Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra  M.Litt. yang didampingi oleh Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A. sebagai Ko-Promotor I dan Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A. sebagai Ko-Promotor II. Anggota tim penguji diantaranya yaitu: Prof. Dr. I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa, M.Si., Prof. Dr. Drs. I Gede Mugi Raharja  M.Sn., Dr. I Wayan Nuriarta, S.Pd., M.Sn., Dr. Ni Luh Putu Ari Sulatri, S.S., M.Si., dan Dr. I Nyoman Winia, M.Si.


Disertasi yang dibawakan oleh promovendus membahas mengenai problematika polusi visual media luar ruang di Denpasar, utamanya dalam perannya sebagai kota budaya. Dalam disertasinya, promovendus menyebutkan media luar ruang sebagai suatu hal yang memiliki peranan penting dan berkontribusi nyata terhadap pendapatan asli daerah. Di lain sisi, hal ini justru dapat menjadi bumerang terhadap ruang publik dan menimbulkan polusi visual. Tak hanya dari sisi estetika, polusi visual ini memicu ancaman keselamatan hingga peningkatan budaya konsumtif. Promovendus kemudian mengkaji permasalahan ini dengan mengambil pendekatan kritis kajian budaya serta metode kualitatif. “Polusi visual adalah sebagai pencemaran ruang pandang kota akibat hadirnya elemen-elemen visual yang berlebihan, tidak teratur, tidak proporsional, serta mengabaikan regulasi setempat,” terang promovendus dalam disertasinya. 


Di Denpasar, polusi visual ini terdapat dalam beragam bentuk, mulai dari penggunaan bahan yang tidak dapat didaur ulang untuk membuat media luar ruang hingga pembiaran media luar ruang yang telah kedaluwarsa. Polusi ini berimbas pada identitas Kota Denpasar sebagai kota budaya, di mana identitas visual menjadi terkikis dan nilai-nilai luhur kebudayaan kian termarginalisasi. Selain itu, polusi visual dapat berdampak kepada pariwisata, dimana polusi visual dapat mengurangi pengalaman visual otentik yang diburu wisatawan. Sisi keamanan juga perlu diperhatikan ketika membahas polusi visual. Ketika suatu videotron dinyalakan terlalu terang, videotron tersebut dapat memberi efek silau, mengakibatkan distraksi serta memperlambat kecepatan kendaraan di luar titik henti. Bentuk media luar ruang lain seperti baliho semi permanen yang berbahan rapuh tidak luput dari penyebab ancaman keamanan, dikarenakan media tersebut rawan untuk roboh ketika terjadi cuaca ekstrem. Promovendus menegaskan bahwa segala sisi yang terlibat dalam adanya media luar ruang diharapkan untuk dapat lebih bertanggung jawab etis dan estetis terhadap ruang publik di Denpasar.


Setelah penetapan kelulusan, sidang dilanjutkan dengan pidato singkat oleh promotor, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra  M.Litt. Beliau menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu keberhasilan disertasi promovendus. Apresiasi turut diberikan kepada Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar, M.Hum. yang merupakan orang tua dari promovendus sekaligus mantan lulusan terbaik dari S3 Kajian Budaya FIB Universitas Udayana yang turut hadir dalam sidang terbuka pada Selasa (21/7) lalu. Menyinggung disertasi yang dihasilkan promovendus, beliau mengungkapkan bahwa satu fenomena (polusi visual media luar ruang) ternyata mengandung persoalan yang luas. Promovendus dianggap telah memilih dan mengkaji pembahasan ini dengan sangat baik. Promotor menyarankan disertasi ini dapat dikembangkan menjadi buku agar dapat dibaca lebih luas.


Pada penghujung acara, Promovendus menyampaikan terima kasih kepada tim promotor dan penguji, dosen-dosen S3 Kajian Budaya, Rektor ISI Bali, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, para staf administrasi S3 Kajian Budaya, rekan-rekan angkatan 2020, keluarga, rekan-rekan pada Program Studi Animasi, keluarga besar Program Studi Desain Komunikasi Visual, serta rekan-rekan LPMPP. Promovendus menyadari kekurangan dari penelitiannya, dan memohon bimbingan agar penelitian disertasi ini dapat lebih bermakna baik untuk membedah keilmuan desain komunikasi visual, animasi, maupun kajian budaya.





Monday, July 20, 2026

Melalui Disertasi “Konstruksi Resiprokal Bahasa Jawa”, Dosen Sastra Inggris FIB Unud Sukses Raih Gelar Doktor

 


Denpasar, 20 Juli 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan Doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka Program Studi Linguistik Program Doktor yang terlaksana di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud pada Senin (20/07). Promovenda atas nama Yana Qomariana, S.S., M.Ling berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Konstruksi Resiprokal Bahasa Jawa” dan meraih predikat “Sangat Memuaskan” serta menjadi doktor ke-285 di FIB Unud dan Program Studi Linguistik Program Doktor. Sidang Ujian Terbuka ini turut dihadiri oleh keluarga Promovenda dan para rekan dosen di lingkungan Program Studi Sastra Inggris FIB Unud.

Ujian Promosi Doktor ini dievaluasi oleh 10 (sepuluh) anggota Dewan Penguji yang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. selaku Ketua Sidang, bersama Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. sebagai Promotor. Adapun jajaran penguji lainnya terdiri dari Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S., Prof. Dr. Ni Ketut Widya Purnawati, S.S., M.Hum., Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Drs. I Wayan Simpen, M.Hum., Prof. Dr. Dra. Ni Luh Ketut Mas Indrawati, Dip.TEFL, M.A., dan Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. Dikarenakan Kopromotor 1, Drs. I Wayan Arka, M.S., M.Phil., Ph.D., dan Kopromotor 2, Prof. Dr. Drs. Agus Subiyanto, M.Hum., berhalangan hadir, hak dan kewenangan pengujian dari pihak pembimbing diambil alih oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. berdasarkan kapasitas beliau sebagai Koordinator Program Studi Linguistik Program Doktor.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh esensi konstruksi resiprokal dalam kajian sintaksis dan semantik, yang mencerminkan relasi timbal balik antarpartisipan dalam sebuah peristiwa linguistik. Meskipun relasi ini umumnya ditandai dengan berbagai strategi seperti penanda leksikal saling, afiksasi tertentu, dan konstruksi verbal bermakna kolektif, deskripsi komprehensif mengenai struktur argumen serta nuansa semantisnya belum banyak dibahas dalam literatur bahasa Jawa. Oleh karena itu, kajian ini hadir untuk mengisi celah teoretis dengan membedah sistem penandaan morfologis, sintaktis, dan implikasinya terhadap tipologi bahasa-bahasa Austronesia. 

Dalam proses membedah permasalahan tersebut, penelitian deskriptif kualitatif ini menerapkan metode simak yang didukung oleh teknik perekaman audiovisual. Pengumpulan data utama dilakukan melalui teknik elisitasi menggunakan video stimulus untuk memancing respons linguistik dari informan penutur asli dalam situasi yang terkontrol. Sebagai pelengkap agar analisis lebih komprehensif, penelitian ini juga memanfaatkan teknik pencatatan lapangan serta pengumpulan data sekunder tertulis yang diekstraksi dari majalah dan karya sastra berbahasa Jawa. Kombinasi pendekatan ini dirancang agar data yang diperoleh dapat merefleksikan intuisi gramatikal penutur sekaligus memperlihatkan fungsi resiprokal dalam konteks penggunaan nyata. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Jawa mengekspresikan makna resiprokal melalui tiga strategi utama, yakni secara leksikal, morfologis, dan sintaktis. Secara leksikal, bahasa Jawa memiliki verba yang secara inheren sudah bermakna resiprokal, sedangkan secara morfologis, makna ini dibentuk melalui proses afiksasi (seperti penggunaan sufiks polisemik “-an”) dan reduplikasi. Secara sintaktis, konstruksi ini memperlihatkan karakteristik resiprokal universal berupa penurunan valensi dari dua tempat menjadi satu tempat. Temuan historis juga mengungkap dinamika yang menarik; bahasa Jawa Kuno hingga Pertengahan sempat menggunakan prefiks “ma-”, yang merupakan ciri khas bahasa Austronesia, namun eksponen tersebut mengalami pelemahan dan akhirnya hilang pada bahasa Jawa Modern karena perubahan struktur kalimat dan kompetisi dengan bentuk reduplikasi.

Sidang Ujian Terbuka berlanjut sesi tanya jawab. Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. selaku promotor menguji Promovenda mengenai faktor penentu penciptaan makna resiprokal, yang kemudian dijawab dengan lugas oleh Promovenda bahwa makna tersebut lahir dari interaksi antara strategi morfologis dengan struktur argumen sintaktis yang menyatukan agen dan pasien. Selanjutnya, Prof. Dr. Drs. I Wayan Simpen, M.Hum. selaku penguji memberikan saran perbaikan terkait tata ejaan dan penggunaan istilah teknis keilmuan, serta meminta klarifikasi mengenai perbedaan makna iteratif dan resiprokal pada reduplikasi bentuk dasar. Menanggapi hal tersebut, Promovenda mengklarifikasi bahwa kekhasan resiprokal mutlak bertumpu pada kegiatan timbal balik di mana dua partisipan sama-sama menjadi pelaku dan target, sedangkan makna iteratif dapat muncul dalam resiprokal jika terdapat banyak sub-peristiwa di dalamnya. 

Menutup Sidang Ujian Terbuka, Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A., mewakili jajaran pembimbing di tengah ketidakhadiran Kopromotor 1 dan 2, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas kerja keras, ketekunan, serta ambisi tinggi Promovenda dalam menyediakan data metodologis yang sangat kaya. Beliau memuji usaha luar biasa Promovenda dalam mengungkap konstruksi diatesis medial bahasa Jawa secara tipologis. Pidato tersebut ditutup dengan ucapan selamat kepada doktor baru dan pihak keluarga yang hadir, disertai harapan agar gelar dan pencapaian akademik ini senantiasa membawa keberkahan serta kesuksesan di masa depan. 


Wednesday, July 15, 2026

Musyawarah Perencanaan Pembangunan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana: Forum Strategis Menyusun Arah Kebijakan, Program Kerja, dan Pengalokasian Anggaran Fakultas

 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menyelenggarakan acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) pada Kamis, 16 Juli 2026, bertempat di Ruang Soekarno. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WITA ini menjadi forum strategis dalam menyusun arah kebijakan, program kerja, dan pengalokasian anggaran fakultas untuk tahun 2027. Acara tersebut dipimpin oleh Dekan Fakutas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. dan didampingi oleh Wakil Dekan I yaitu  Dr. I Gede Oenada, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. selaku Wakil Dekan II Bidang Umum dan Keuangan. Selain itu, acara itu juga dihadiri oleh seluruh Koordinator Program Studi, KTU, Ketua Senat, Sub Koordinator dan Koordinator Unit di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya. Dalam rapat tersebut juga disampaikan bahwa pembagian pagu anggaran telah memperoleh persetujuan Senat sebagai dasar penyusunan program kerja di setiap unit.

Dalam pembahasan rencana strategis, Fakultas Ilmu Budaya menetapkan sejumlah program prioritas yang berfokus pada penguatan transformasi digital dan peningkatan tata kelola akademik. Pengembangan sistem informasi terus dilakukan secara berkelanjutan melalui implementasi SIPERJAKA pada tahun 2024, SIRERU pada tahun 2025 untuk mendukung pengaturan ujian, serta pengembangan SICAKI pada tahun 2026 sebagai upaya memperkuat sistem layanan dan manajemen fakultas dan rencana keberlanjutan peningkatan pengembangan system di tahun 2027. Selain itu, program internasionalisasi juga terus menjadi perhatian dengan penguatan tiga program studi yang diarahkan untuk meningkatkan daya saing di tingkat global seperti: Program Studi Sastra Indonesia, Program Studi Sastra Inggris dan Program Studi Sastra Jepang.

Rapat Musrenbang juga menyoroti berbagai capaian strategis Fakultas Ilmu Budaya. Diantaranya adalah keberhasilan pembangunan Zona Integritas (ZI) yang telah dinyatakan lolos di tingkat Kementerian Pendidikan Tinggi, serta perkembangan pembukaan Program Studi Bahasa Prancis yang telah memperoleh rekomendasi dari tim pusat dan telah diajukan dalam bentuk proposal. Berbagai capaian tersebut diharapkan semakin memperkuat kualitas tata kelola, layanan akademik, serta pengembangan kelembagaan fakultas.

Sebagai bagian dari perencanaan anggaran tahun 2027, dipaparkan alokasi pagu untuk berbagai bidang, meliputi: anggaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, operasional kegiatan, IPI, unit bisnis, kerja sama, dan pembagian Pagu untuk seluruh Program Studi di Fakultas Ilmu Budaya. Melalui Musrenbang ini, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menegaskan komitmennya untuk mewujudkan perencanaan yang partisipatif, akuntabel, dan selaras dengan visi pengembangan fakultas guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama di tingkat nasional maupun internasional.



Wednesday, July 8, 2026

Closing Ceremony BIPA FIB Unud Periode Maret–Juli 2026: Pelepasan 24 Karyasiswa Asing dari Berbagai Negara


Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (BIPA FIB Unud) melaksanakan kegiatan Closing Ceremony BIPA Periode Maret - Juli 2026 pada hari Kamis, 9 Juli 2026. Kegiatan yang terlaksana di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud ini merupakan acara pelepasan dan penanda berakhirnya masa pembelajaran Bahasa Indonesia bagi para karyasiswa di FIB Unud, serta dihadiri oleh 24 karyasiswa BIPA, koordinator program BIPA dan instruktur BIPA, dan perwakilan dekanat.

Dalam laporannya, Koordinator Program BIPA, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suparwa, M.Hum., memaparkan bahwa program BIPA semester genap tahun ajaran 2025/2026 telah berjalan dengan baik sejak Maret hingga Juni 2026 melalui 15 hingga 16 kali pertemuan perkuliahan. Proses pembelajaran yang difasilitasi oleh 22 tenaga pengajar dari berbagai program studi ini mencatatkan hasil evaluasi yang positif dengan rata-rata tingkat kehadiran mahasiswa mencapai 70 persen. Berdasarkan penilaian akhir, sebanyak 24 peserta yang berasal dari Jepang, Korea, Serbia, dan Rusia, yang terdiri atas 7 mahasiswa level 1, 12 mahasiswa level 2, dan 5 mahasiswa level 3, berhasil dinyatakan lulus secara keseluruhan.


Dekan FIB Unud, Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. selaku Wakil Dekan II Bidang Umum dan Keuangan dalam sambutannya mewakili memuji antusiasme para mahasiswa asing yang hadir memeriahkan acara dengan mengenakan busana tradisional kebaya. Lebih lanjut, Prof. Ratna berharap agar segala keunikan serta pengalaman budaya yang didapatkan selama menempuh pendidikan di BIPA FIB Unud dapat menjadi kenangan positif, sehingga para lulusan dapat turut mempromosikannya ke negara asal masing-masing. 


Acara penutupan ini juga diwarnai dengan penyampaian kesan dan pesan dari perwakilan mahasiswa setiap level yang menyoroti pengalaman mendalam mereka. Akira Shimizu, selaku perwakilan mahasiswa level 1, menuturkan bahwa selama empat bulan belajar, ia mengalami kemajuan pesat. Pada awalnya ia kesulitan membedakan kata ganti dasar, namun kini telah mampu berbicara menggunakan kalimat sederhana berkat kesabaran para pengajar BIPA yang menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.

Dari level 2, Kyoko Kazawa memaparkan apresiasinya terhadap lingkungan akademik yang suportif. Ia menekankan bahwa para mahasiswa tidak pernah dihakimi atas kesalahan berbahasa mereka, sehingga mahasiswa merasa termotivasi untuk menjadikan kesalahan tersebut sebagai ruang pembelajaran.

Puncak apresiasi disampaikan oleh tiga perwakilan dari level 3, yakni Mariia Andreevna Olenikova, Masako Iwata, dan Nanoha Suzuki. Mariia menyatakan bahwa program BIPA tidak sebatas memberikan kemampuan linguistik, tetapi juga memperkenalkan budaya, tradisi, dan keramahan masyarakat Indonesia. Sementara itu, Masako Iwata menceritakan bahwa karena ia merintis studinya langsung dari level 2, tantangan awal yang ia hadapi adalah memahami tempo bicara dosen yang cepat. Kendati demikian, bimbingan para dosen yang penuh kesabaran pada akhirnya memungkinkannya untuk memahami percakapan bahasa Indonesia secara fasih. Rangkaian testimoni ditutup oleh Nanoha Suzuki, yang menyampaikan rasa syukurnya setelah menghabiskan waktu selama satu tahun di Indonesia. Ia bertekad untuk terus mempelajari bahasa Indonesia meskipun nantinya telah kembali ke Jepang.

Setelah penyampaian kesan dan pesan, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi penyerahan sertifikat kelulusan kepada seluruh karyasiswa. Acara kemudian diisi dengan penayangan video yang berisi momen-momen kegiatan pembelajaran BIPA selama satu semester, dan ditutup secara resmi dengan sesi foto bersama. Melalui program ini, pihak lembaga berharap para mahasiswa yang akan kembali ke negara asalnya maupun yang akan melanjutkan ke tingkat selanjutnya dapat mengaplikasikan kemampuan bahasa Indonesia secara optimal dan turut mempromosikan nama baik BIPA Universitas Udayana di kancah internasional. 


Perayaan 25 Tahun Program Doktor Kajian Budaya FIB Unud: Dr. Jarrah Sastrawan Kenalkan "Budaya Kawi" sebagai Paradigma Baru dalam Studi Kuno

 


DENPASAR – 8 Juli 2026

Dalam rangka memperingati 25 tahun berdirinya Program Doktor (S3) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) yang dimulai pada Juli 2001, diadakan kuliah tamu spesial secara online. Dalam acara ini, sejarawan dan akademisi dari Australian National University (ANU), Dr. Wayan Jarrah Sastrawan, membahas topik yang mendalam: "Kajian Budaya sebelum Kajian Budaya".

Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi S3 Kajian Budaya FIB Unud, Prof. I Nyoman Darma Putra, Ph. D. Dalam sambutannya, Prof. Darma Putra menekankan pentingnya memperluas ruang lingkup kajian budaya kritis agar tidak hanya terfokus pada fenomena modern atau budaya populer saat ini. "Pendekatan kritis dengan cara dekonstruktif dan analisis hubungan kekuasaan sudah ada sejak adanya tradisi intelektual jaman dahulu. Pertanyaannya adalah bagaimana studi kritis ini bisa diterapkan untuk bahan-bahan kuno seperti naskah kuno atau artefak arkeologi tanpa melakukan kesalahan. Di sinilah pentingnya sudut pandang baru," ujar Prof. Darma Putra. Mengatasi Kesenjangan dan Anachronisme Sejarah

Moderator Thiska Septa Maiza mendampingi Dr. Wayan Jarrah Sastrawan yang memulai presentasinya dengan merenungkan adanya kesenjangan antara pendekatan praktis dan teoritis dalam kajian budaya kuno di Indonesia. Selama ini, studi masa lalu sering terjebak dalam disiplin yang kaku seperti arkeologi, filologi, sejarah, dan linguistik.

Dr. Jarrah juga menggarisbawahi tantangan anachronisme, di mana kategori sosial modern seperti konsep negara, batas etnis, kodifikasi agama, hingga struktur bahasa modern—sering diterapkan secara paksa untuk memahami kenyataan ribuan tahun yang lalu. Namun, ia membawa harapan baru tentang kebangkitan (revival) humaniora digital dan partisipasi anak muda saat ini. Budaya kuno sekarang bukan hanya milik negara, tetapi sudah menjadi milik publik. Fenomena pemuda di Bali yang bersemangat belajar menulis, merawat dan mendigitalisasi lontar adalah bukti nyata bahwa penelitian masa lalu saat ini berbasis komunitas.

Ide Budaya Kawi sebagai Kosmopolis Sebagai pemecahan teoretis, Dr. Jarrah memperkenalkan konsep baru yang disebut "Budaya Kawi". Istilah Kawi, yang secara tradisional berarti penyair atau pencipta, dalam konteks sastra Jawa Kuno berubah menjadi bahasa sastra yang melintasi batas geografi dan etnis.

"Budaya Kawi harus diangga sebagai budaya yang menyeluruh (holistik). Ini mencakup berbagai bidang, seperti seni rupa, arsitektur, ritus, hingga hukum dan akta tanah yang praktis, bukan hanya teks sastra elit dari lingkungan kerajaan," jelas lulusan Asian History dari University of Sydney ini. Ia juga menambahkan bahwa Budaya Kawi berfungsi sebagai penghubung (cosmopolitan vernacular) yang mengaitkan peradaban global—seperti kosmopolis Sansekerta—dengan kebiasaan lokal. Jangkauannya pun meluas, mencakup Pulau Jawa, Bali, Sunda, Madura, hingga Lombok, serta melanjutkan keberadaannya dalam tradisi Hindu, Buddha, Islam (melalui interaksi dengan aksara Pegon), hingga Kristen. Diskusi Hangat di Kalangan AhliKuliah tamu ini memicu diskusi interaktif dari para peserta dari berbagai negara. Diane Butler membuka sesi tanggapan dengan memberikan pujian atas usaha menempatkan pemikiran dan teks Nusantara sebagai sumber teori filosofis dunia, bukan hanya sebagai objek studi eksotis bagi akademisi Barat. Ini sejalan dengan cita-cita Mazhab Kajian Budaya Udayana yang dipelopori oleh almarhum Prof. Ngurah Bagus.

Pandangan kritis lain disampaikan oleh Dipa Nugraha, yang mengaitkan pembentukan sejarah yang megah dengan gagasan tentang komunitas yang dibayangkan, yang digunakan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam proses membangun negara. Di sisi lain, ahli filologi Putu Eka Guna Yasa menimbulkan perdebatan mendalam tentang hubungan sejarah antara Budaya Kawi dan Budaya Melayu. Ia mempertanyakan alasan mengapa pada abad ke-19, bahasa Kawi semakin tidak digunakan dalam diplomasi dan digantikan oleh bahasa Melayu yang akhirnya disetujui sebagai bahasa nasional. Sebagai tanggapan, Dr. Jarrah menduga bahwa salah satu penyebab utamanya adalah berkurangnya penutur asli bahasa Kawi secara lisan, sementara bahasa Melayu masih digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.

Dari Korea Selatan, Ibu Evelyn Yang dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) memberikan perbandingan menarik tentang bagaimana kata-kata Sansekerta masuk ke dalam bahasa Korea melalui pengaruh agama Buddha dan kanji dari China, berlawanan dengan proses penyerapan di Indonesia yang jauh lebih alami, luas, dan menyentuh berbagai aspek kehidupan sehari-hari serta hukum.

Sesi diskusi juga menyoroti posisi perempuan sebagai kontributor aktif dalam tradisi sastra, seperti sosok Dewa Agung Istri Kanya di Klungkung yang dibahas bersamaan dengan Ibu Yesi Candrika. Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat simbolis oleh moderator kepada Dr. Wayan Jarrah Sastrawan, dengan harapan besar agar pemahaman mengenai Budaya Kawi ini terus membuka peluang untuk penelitian multidisipliner yang lebih terbuka dan dinamis di masa depan.

Wednesday, July 1, 2026

FIB Unud Kukuhkan Doktor Baru: Mengupas Maksim Kesantunan Medis-Kontekstual di Kota Padang

 


Denpasar, 2 Juli 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali mengukuhkan doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka yang diselenggarakan di Ruang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV. Pada sidang ini, Dr. Widya Fhitri, S.S., M.Hum. berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Kesantunan Berbahasa Tenaga Kesehatan dengan Pasien di Rumah Sakit X di Kota Padang". Berdasarkan hasil penilaian, promovenda secara resmi dinyatakan lulus dengan predikat "Dengan Pujian" (Cumlaude). Dr. Widya Fhitri, S.S., M.Hum. tercatat sebagai Doktor ke-284 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, sekaligus lulusan Doktor ke-284 pada Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud.

Ujian terbuka ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. selaku Ketua Sidang. Bertindak sebagai Promotor adalah Prof. Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., didampingi oleh Prof. Dr. I Wayan Pastika, S.S., M.Hum. sebagai Kopromotor 1, dan Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. sebagai Kopromotor 2. Turut hadir jajaran dewan penguji yang memberikan evaluasi komprehensif, yaitu Prof Dr. Made Dhanawaty, M.S., Prof Dr. Dra. Ni Made Suryati, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Ketut Widya Purnawati, S.S., M.Hum., serta Dr. Silvia Damayanti, S.S., M.Hum.

Penelitian disertasi ini dilatarbelakangi oleh krusialnya keterampilan berkomunikasi dalam layanan kesehatan guna menciptakan pelayanan medis yang berkualitas. Komunikasi efektif yang terjalin antara tenaga kesehatan dengan pasien diyakini mampu membangun rasa saling percaya, yang pada akhirnya menunjang keberhasilan proses diagnosis dan pengobatan medis. Oleh karena itu, fenomena kesantunan berbahasa di lingkungan klinis, khususnya di rumah sakit X di Kota Padang, menjadi fokus kajian yang mendalam untuk melihat bagaimana strategi komunikasi tersebut diterapkan.

Secara metodologis, penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa tuturan langsung tenaga kesehatan kepada pasien di unit administrasi pusat, poli penyakit dalam, dan apotek. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode observasi non-partisipatif (Simak Bebas Libat Cakap) yang ditunjang oleh teknik rekam dan catat. Melalui metode analisis padan pragmatik, peneliti mengkorelasikan bentuk dan fungsi bahasa dengan konteks situasi sosial-budaya masyarakat setempat.

Hasil penelitian membuktikan bahwa tenaga kesehatan paling dominan menggunakan kalimat interogatif saat berinteraksi dengan pasien. Dari sisi pragmatik, strategi kesantunan negatif tercatat sebagai pendekatan yang paling sering diimplementasikan, dibuktikan dengan tingginya frekuensi penggunaan pemarkah kesantunan yang ditujukan untuk menjaga "muka" pasien. Sebagai bentuk kontribusi teoretis, promovenda mencetuskan model alternatif berupa Maksim Kesantunan Medis-Kontekstual (MKMK) yang mengakomodasi dimensi kultural Minangkabau, seperti prinsip Kato Nan Ampek dan Raso jo Pareso ke dalam praktik komunikasi medis fungsional.

Berlanjut ke sesi diskusi, dilema penggunaan istilah teknis medis versus istilah awam menjadi fokus, mengingat susahnya mencari hubungan pengetahuan antara tenaga kesehatan dan pasien. Menanggapi hal tersebut, promovenda memaparkan bahwa penggunaan kedua jenis istilah tersebut secara aktif disesuaikan dengan konteks dan demografi pasien. Istilah awam, seperti "tekanan darah tinggi" alih-alih "hipotensi", kerap dipilih untuk menyederhanakan penyampaian informasi kepada pasien lanjut usia agar lebih mudah dipahami. Sebaliknya, istilah teknis tetap dipertahankan untuk pasien yang dinilai memiliki kapasitas kognitif memadai guna menjaga akurasi informasi klinis. Hal ini membuktikan bahwa tenaga kesehatan secara sadar melakukan penyesuaian linguistik demi mencapai komunikasi terapeutik yang optimal.

Pada sesi akhir persidangan, Prof. Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum. selaku promotor menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus kebanggaannya, mengingat promovenda merupakan mahasiswa bimbingan Doktor pertamanya yang berhasil lulus. Beliau menekankan bahwa disertasi ini memiliki hasil signifikansi luar biasa karena tidak sekadar mengungkap fenomena linguistik murni, tetapi menawarkan luaran praktis untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di rumah sakit. Promotor menegaskan bahwa integrasi antara nilai luhur budaya lokal dengan teori pragmatik akan memperkuat hubungan terapeutik, di mana komunikasi yang berlandaskan kesantunan dapat secara tidak langsung meningkatkan imun dan motivasi pasien untuk sembuh.

Pelepasan Calon Wisudawan ke-176 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menggelar Pelepasan Calon Wisudawan (yudisium) ke-176 bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala pada Kamis, 2 Juli 2026. Acara ini melepas 32 calon wisudawan yang terdiri dari dua mahasiswa program studi S3 Linguistik, empat mahasiswa program studi S2 Linguistik, 10 mahasiswa program studi Sastra Indonesia, satu mahasiswa program studi Sastra Bali, dua mahasiswa program studi Sastra Jawa Kuno, empat mahasiswa program studi Sastra Inggris, dua mahasiswa program studi Arkeologi, satu mahasiswa program studi Ilmu Sejarah, tiga mahasiswa program studi Sastra Jepang, tiga mahasiswa program studi Antropologi Budaya, sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan I dalam laporannya.


Pelepasan Calon Wisuda ke-176 ini dilanjutkan oleh pengumuman lulusan terbaik yang disampaikan oleh Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M.Si. sebagai Wakil Dekan III. Calon wisudawan terbaik pada program sarjana diraih oleh mahasiswa Sastra Jepang, Ni Kadek Sakura Julia, S.S. dengan predikat dengan pujian. Pada program magister, calon wisudawan terbaik jatuh kepada Kadek Katarina Dewi Kurniawati, S.Pd., M.Hum. dari program studi S2 Linguistik dengan meraih predikat sangat memuaskan. Sementara itu, program S3 Linguistik diwakili oleh Dr. Komang Tri Sutrisna Agustia, S.S., M.Hum. dengan predikat dengan pujian.


Mewakili ketiga calon lulusan terbaik, Ni Kadek Sakura Julia, S.S. memaparkan kesan dan pesannya selama menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Menurutnya, pengalaman belajar di program studi Sastra Jepang merupakan sesuatu yang berharga. “Saya tidak hanya belajar mengenai Bahasa Jepang, tetapi juga memahami budaya, nilai-nilai kedisiplinan, dan cara berpikir yang lebih luas,” ungkapnya dalam menyampaikan kesan pesan alumni. Ia turut mengucapkan terima kasih kepada para dosen yang telah mengajar dan membimbing hingga dapat sampai pada titik yudisium. Beliau berpesan agar seluruh program studi di lingkungan FIB Universitas Udayana dapat terus mencetak lulusan yang berkualitas serta menjadi tempat yang nyaman bagi mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan meraih impian.


Pelepasan calon wisuda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana ke-176 ini ditutup oleh sambutan dekan yang disampaikan melalui Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan I. Beliau menyampaikan selamat kepada para calon wisudawan atas keberhasilannya. Tak luput, selamat turut diulurkan pada orang tua dan keluarga seluruh calon wisudawan yang senantiasa mendukung para calon wisudawan selama masa belajarnya. Atas berjalannya acara ini, beliau mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan dedikasi seluruh pihak untuk menyelenggarakan pelepasan pada 2 Juli 2026 lalu, serta menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya. Beliau menutup sambutan ini dengan berpesan pada seluruh calon wisudawan untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian tracer study, yang nantinya dapat menjadi target capaian IKU.



FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...