Wednesday, July 1, 2026

FIB Unud Kukuhkan Doktor Baru: Mengupas Maksim Kesantunan Medis-Kontekstual di Kota Padang

 


Denpasar, 2 Juli 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali mengukuhkan doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka yang diselenggarakan di Ruang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV. Pada sidang ini, Dr. Widya Fhitri, S.S., M.Hum. berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Kesantunan Berbahasa Tenaga Kesehatan dengan Pasien di Rumah Sakit X di Kota Padang". Berdasarkan hasil penilaian, promovenda secara resmi dinyatakan lulus dengan predikat "Dengan Pujian" (Cumlaude). Dr. Widya Fhitri, S.S., M.Hum. tercatat sebagai Doktor ke-284 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, sekaligus lulusan Doktor ke-284 pada Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud.

Ujian terbuka ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. selaku Ketua Sidang. Bertindak sebagai Promotor adalah Prof. Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., didampingi oleh Prof. Dr. I Wayan Pastika, S.S., M.Hum. sebagai Kopromotor 1, dan Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. sebagai Kopromotor 2. Turut hadir jajaran dewan penguji yang memberikan evaluasi komprehensif, yaitu Prof Dr. Made Dhanawaty, M.S., Prof Dr. Dra. Ni Made Suryati, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Ketut Widya Purnawati, S.S., M.Hum., serta Dr. Silvia Damayanti, S.S., M.Hum.

Penelitian disertasi ini dilatarbelakangi oleh krusialnya keterampilan berkomunikasi dalam layanan kesehatan guna menciptakan pelayanan medis yang berkualitas. Komunikasi efektif yang terjalin antara tenaga kesehatan dengan pasien diyakini mampu membangun rasa saling percaya, yang pada akhirnya menunjang keberhasilan proses diagnosis dan pengobatan medis. Oleh karena itu, fenomena kesantunan berbahasa di lingkungan klinis, khususnya di rumah sakit X di Kota Padang, menjadi fokus kajian yang mendalam untuk melihat bagaimana strategi komunikasi tersebut diterapkan.

Secara metodologis, penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa tuturan langsung tenaga kesehatan kepada pasien di unit administrasi pusat, poli penyakit dalam, dan apotek. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode observasi non-partisipatif (Simak Bebas Libat Cakap) yang ditunjang oleh teknik rekam dan catat. Melalui metode analisis padan pragmatik, peneliti mengkorelasikan bentuk dan fungsi bahasa dengan konteks situasi sosial-budaya masyarakat setempat.

Hasil penelitian membuktikan bahwa tenaga kesehatan paling dominan menggunakan kalimat interogatif saat berinteraksi dengan pasien. Dari sisi pragmatik, strategi kesantunan negatif tercatat sebagai pendekatan yang paling sering diimplementasikan, dibuktikan dengan tingginya frekuensi penggunaan pemarkah kesantunan yang ditujukan untuk menjaga "muka" pasien. Sebagai bentuk kontribusi teoretis, promovenda mencetuskan model alternatif berupa Maksim Kesantunan Medis-Kontekstual (MKMK) yang mengakomodasi dimensi kultural Minangkabau, seperti prinsip Kato Nan Ampek dan Raso jo Pareso ke dalam praktik komunikasi medis fungsional.

Berlanjut ke sesi diskusi, dilema penggunaan istilah teknis medis versus istilah awam menjadi fokus, mengingat susahnya mencari hubungan pengetahuan antara tenaga kesehatan dan pasien. Menanggapi hal tersebut, promovenda memaparkan bahwa penggunaan kedua jenis istilah tersebut secara aktif disesuaikan dengan konteks dan demografi pasien. Istilah awam, seperti "tekanan darah tinggi" alih-alih "hipotensi", kerap dipilih untuk menyederhanakan penyampaian informasi kepada pasien lanjut usia agar lebih mudah dipahami. Sebaliknya, istilah teknis tetap dipertahankan untuk pasien yang dinilai memiliki kapasitas kognitif memadai guna menjaga akurasi informasi klinis. Hal ini membuktikan bahwa tenaga kesehatan secara sadar melakukan penyesuaian linguistik demi mencapai komunikasi terapeutik yang optimal.

Pada sesi akhir persidangan, Prof. Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum. selaku promotor menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus kebanggaannya, mengingat promovenda merupakan mahasiswa bimbingan Doktor pertamanya yang berhasil lulus. Beliau menekankan bahwa disertasi ini memiliki hasil signifikansi luar biasa karena tidak sekadar mengungkap fenomena linguistik murni, tetapi menawarkan luaran praktis untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di rumah sakit. Promotor menegaskan bahwa integrasi antara nilai luhur budaya lokal dengan teori pragmatik akan memperkuat hubungan terapeutik, di mana komunikasi yang berlandaskan kesantunan dapat secara tidak langsung meningkatkan imun dan motivasi pasien untuk sembuh.

No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...