DENPASAR – 8 Juli 2026
Dalam rangka memperingati
25 tahun berdirinya Program Doktor (S3) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Udayana (FIB Unud) yang dimulai pada Juli 2001, diadakan kuliah
tamu spesial secara online. Dalam acara ini, sejarawan dan akademisi dari
Australian National University (ANU), Dr. Wayan Jarrah Sastrawan, membahas topik
yang mendalam: "Kajian Budaya sebelum Kajian Budaya".
Acara dibuka oleh
Koordinator Program Studi S3 Kajian Budaya FIB Unud, Prof. I Nyoman Darma
Putra, Ph. D. Dalam sambutannya, Prof. Darma Putra menekankan pentingnya
memperluas ruang lingkup kajian budaya kritis agar tidak hanya terfokus pada fenomena
modern atau budaya populer saat ini. "Pendekatan kritis dengan cara
dekonstruktif dan analisis hubungan kekuasaan sudah ada sejak adanya tradisi
intelektual jaman dahulu. Pertanyaannya adalah bagaimana studi kritis ini bisa diterapkan
untuk bahan-bahan kuno seperti naskah kuno atau artefak arkeologi tanpa melakukan
kesalahan. Di sinilah pentingnya sudut pandang baru," ujar Prof. Darma
Putra. Mengatasi Kesenjangan dan Anachronisme Sejarah
Moderator Thiska Septa
Maiza mendampingi Dr. Wayan Jarrah Sastrawan yang memulai presentasinya dengan merenungkan
adanya kesenjangan antara pendekatan praktis dan teoritis dalam kajian budaya
kuno di Indonesia. Selama ini, studi masa lalu sering terjebak dalam disiplin
yang kaku seperti arkeologi, filologi, sejarah, dan linguistik.
Dr. Jarrah juga menggarisbawahi
tantangan anachronisme, di mana kategori sosial modern seperti konsep negara,
batas etnis, kodifikasi agama, hingga struktur bahasa modern—sering diterapkan secara
paksa untuk memahami kenyataan ribuan tahun yang lalu. Namun, ia membawa harapan
baru tentang kebangkitan (revival) humaniora digital dan partisipasi anak muda
saat ini. Budaya kuno sekarang bukan hanya milik negara, tetapi sudah menjadi
milik publik. Fenomena pemuda di Bali yang bersemangat belajar menulis, merawat
dan mendigitalisasi lontar adalah bukti nyata bahwa penelitian masa lalu saat ini
berbasis komunitas.
Ide Budaya Kawi sebagai
Kosmopolis Sebagai pemecahan teoretis, Dr. Jarrah memperkenalkan konsep baru yang
disebut "Budaya Kawi". Istilah Kawi, yang secara tradisional berarti
penyair atau pencipta, dalam konteks sastra Jawa Kuno berubah menjadi bahasa sastra
yang melintasi batas geografi dan etnis.
"Budaya Kawi harus
diangga sebagai budaya yang menyeluruh (holistik). Ini mencakup berbagai
bidang, seperti seni rupa, arsitektur, ritus, hingga hukum dan akta tanah yang praktis,
bukan hanya teks sastra elit dari lingkungan kerajaan," jelas lulusan
Asian History dari University of Sydney ini. Ia juga menambahkan bahwa Budaya
Kawi berfungsi sebagai penghubung (cosmopolitan vernacular) yang mengaitkan
peradaban global—seperti kosmopolis Sansekerta—dengan kebiasaan lokal. Jangkauannya
pun meluas, mencakup Pulau Jawa, Bali, Sunda, Madura, hingga Lombok, serta melanjutkan
keberadaannya dalam tradisi Hindu, Buddha, Islam (melalui interaksi dengan
aksara Pegon), hingga Kristen. Diskusi Hangat di Kalangan AhliKuliah tamu ini memicu
diskusi interaktif dari para peserta dari berbagai negara. Diane Butler membuka
sesi tanggapan dengan memberikan pujian atas usaha menempatkan pemikiran dan
teks Nusantara sebagai sumber teori filosofis dunia, bukan hanya sebagai objek studi
eksotis bagi akademisi Barat. Ini sejalan dengan cita-cita Mazhab Kajian Budaya
Udayana yang dipelopori oleh almarhum Prof. Ngurah Bagus.
Pandangan kritis lain disampaikan
oleh Dipa Nugraha, yang mengaitkan pembentukan sejarah yang megah dengan gagasan
tentang komunitas yang dibayangkan, yang digunakan oleh para pendiri bangsa
Indonesia dalam proses membangun negara. Di sisi lain, ahli filologi Putu Eka
Guna Yasa menimbulkan perdebatan mendalam tentang hubungan sejarah antara
Budaya Kawi dan Budaya Melayu. Ia mempertanyakan alasan mengapa pada abad
ke-19, bahasa Kawi semakin tidak digunakan dalam diplomasi dan digantikan oleh
bahasa Melayu yang akhirnya disetujui sebagai bahasa nasional. Sebagai tanggapan,
Dr. Jarrah menduga bahwa salah satu penyebab utamanya adalah berkurangnya
penutur asli bahasa Kawi secara lisan, sementara bahasa Melayu masih digunakan
sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.
Dari Korea Selatan, Ibu
Evelyn Yang dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) memberikan perbandingan
menarik tentang bagaimana kata-kata Sansekerta masuk ke dalam bahasa Korea
melalui pengaruh agama Buddha dan kanji dari China, berlawanan dengan proses penyerapan
di Indonesia yang jauh lebih alami, luas, dan menyentuh berbagai aspek
kehidupan sehari-hari serta hukum.
Sesi diskusi juga menyoroti posisi perempuan sebagai kontributor aktif dalam tradisi sastra, seperti sosok Dewa Agung Istri Kanya di Klungkung yang dibahas bersamaan dengan Ibu Yesi Candrika. Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat simbolis oleh moderator kepada Dr. Wayan Jarrah Sastrawan, dengan harapan besar agar pemahaman mengenai Budaya Kawi ini terus membuka peluang untuk penelitian multidisipliner yang lebih terbuka dan dinamis di masa depan.

No comments:
Post a Comment