Thursday, April 23, 2026

Tingkatkan Visibilitas Riset Global, FIB Unud Resmi Luncurkan Ekosistem Humaniora Digital "DUMILAH”

 

Denpasar, 23 April 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) melaksanakan launching DUMILAH (Digital Humanities Landscape at the Faculty of Humanities Udayana University). Bertempat di Ruang Dr. Ir. Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, kegiatan ini dihadiri oleh jajaran dekanat, ketua Senat FIB Unud, para koordinator program studi dan  ketua Unit di lingkungan FIB Unud, pimpinan CIRHSS (Centre for Interdisciplinary Research on the Humanities and Social Science), dan ketua Media FIB Unud.

Mengawali kegiatan, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan FIB Unud menegaskan bahwa peluncuran DUMILAH merupakan langkah strategis guna meningkatkan visibilitas fakultas di tingkat nasional dan internasional. Inovasi yang mewujudkan amanat pendiri Fakultas Sastra sekaligus penjabaran Rencana Strategis FIB ini, dikembangkan sejak 2025 dengan melibatkan pakar humaniora digital dunia dari Oxford dan Melbourne. Kehadiran DUMILAH diproyeksikan menjadi wadah interaktif bagi peneliti dan mahasiswa dalam mengelola data penelitian untuk mendongkrak produktivitas akademik, selaras dengan komitmen pimpinan dalam menaikkan peringkat global Universitas Udayana.

Melanjutkan kegiatan, Gede Primahadi Wijaya Rajeg, S.S., M.Hum., Ph.D. selaku Ketua tim peluncuran DUMILAH memaparkan bahwa inisiasi pengembangan platform ini dimotivasi oleh fakta bahwa para kolega peneliti di lingkungan FIB Unud sejatinya telah banyak melaksanakan riset terkait Humaniora Digital. Rangkaian riset tersebut di antaranya mencakup penyusunan basis data pada bidang arkeologi dan antropologi, hingga upaya pemetaan dan pelestarian teks lontar. Oleh karena itu, DUMILAH hadir secara spesifik untuk memfasilitasi visibilitas dan diseminasi riset bernuansa sains terbuka, memastikan pengakuan yang tepat bagi peneliti melalui sitasi karya (citeability), serta menjamin kelestarian arsip riset digital dalam jangka panjang (long-term preservation).

Secara teknis, DUMILAH memanfaatkan Zenodo, yakni sebuah repositori riset terbuka tak berbayar yang berskala global. Platform ini dipilih karena integritasnya yang telah dipercaya oleh berbagai lembaga riset dunia dan dikelola langsung oleh CERN. Keunggulan utama pengarsipan melalui Zenodo ini adalah setiap materi yang diunggah akan secara otomatis mendapatkan Digital Object Identifier (DOI) sehingga terekam secara global dan mudah dikutip, serta materi tersebut memiliki kapabilitas untuk terus diperbarui ke versi-versi lanjutannya (versioning).

Mendampingi Ketua tim DUMILAH, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. mendemonstrasikan lebih detail mengenai cara menggunakan DUMILAH, diantaranya cara mengakses DUMILAH melalui Zenodo yang dapat dilakukan melalui berbagai opsi browser, Setelah berhasil login, pengguna dapat langsung mencari komunitas dengan mengetikkan "DUMILAH" pada kolom pencarian di menu Communities. Di dalam laman komunitas tersebut, pengguna akan mendapati tombol New Upload yang berfungsi untuk mengunggah berbagai data penelitian mentah, seperti basis data atau dataset. Pengguna diwajibkan untuk mengisi sejumlah metadata esensial, utamanya mencentang opsi permintaan Digital Object Identifier (DOI) untuk memastikan visibilitas dan kemudahan sitasi karya secara global. Selain itu, fitur penting seperti Save Draft sangat disarankan untuk ditekan secara berkala guna mencegah hilangnya data saat proses pengunggahan berlangsung. Setelah seluruh metadata wajib yang ditandai dengan asteris merah serta pengaturan visibilitas publik dilengkapi, pengguna dapat menekan tombol Submit for Review. Karya yang telah diunggah akan melalui proses kurasi terlebih dahulu oleh tim pengelola (reviewer) sebelum akhirnya disetujui, dipublikasikan secara resmi di laman DUMILAH, dan mendapatkan DOI serta format sitasi yang dapat disesuaikan (misalnya format Vancouver).  

Dalam sesi tanya jawab, isu krusial mengenai pelindungan hak cipta kekayaan intelektual dan kebijakan kurasi data menjadi sorotan utama. Menanggapi kekhawatiran terkait hak cipta, tim DUMILAH menjelaskan bahwa platform Zenodo telah dilengkapi dengan fitur opsi lisensi yang fleksibel. Peneliti dapat menerapkan hak cipta penuh, membatasi akses data (restricted), atau sekadar menampilkan rekaman metadata (record) beserta tautan luar tanpa harus mengunggah data mentahnya secara terbuka. Sementara itu, terkait kebijakan pengunggahan, ditegaskan bahwa komunitas DUMILAH diprioritaskan untuk mewadahi karya sivitas akademika FIB Unud. Pihak luar atau kolaborator eksternal hanya diizinkan untuk menyumbangkan data ke dalam repositori tersebut apabila menyertakan sivitas akademika FIB sebagai salah satu penulis atau mitra kolaborasi dalam karyanya. Guna menjamin mutu dan relevansi konten yang dipublikasikan, pengelola DUMILAH juga akan memberdayakan perwakilan dari masing-masing grup riset program studi untuk bertindak sebagai kurator yang bertugas menyeleksi serta memverifikasi karya yang masuk sesuai dengan disiplin keilmuannya.

Turut mengapresiasi peluncuran ini, Ketua Senat FIB Unud, Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., menaruh harapan besar pada generasi muda untuk menjadi motor penggerak pemanfaatan DUMILAH. Beliau menekankan pentingnya sosialisasi berkelanjutan agar inovasi ini dapat dimaksimalkan oleh seluruh sivitas akademika. Prof. Weda optimis bahwa program ini akan terus berkembang dan berkontribusi signifikan terhadap kemajuan serta reputasi FIB Unud.


Tuesday, April 21, 2026

Fakultas Ilmu Budaya menjadi lokasi pelaksanaan SNPMB SNBT UTBK 2026

 


Selasa, 21 April 2026 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana yang berlokasi di Jalan Pulau Nias 13, Denpasar berlangsung kegiatan Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) yaitu Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Kegiatan tersebut dilaksanakan tanggal 21 April hingga 23 April 2026 di ruang Laboratorium 19 dan Laboratorium 20. Pelaksanaan SNBT di FIB ini diikuti sebanyak 240 orang peserta yang terdiri dari siswa lulusan tingkat SMA/SMK/MA. Ujian yang dilaksanakan kali ini diikuti oleh peserta dari wilayah Bali dan sekitarnya.

Pelaksanaan ujian dilakukan dalam 2 kali sesi yaitu sesi Pagi dari pukul 07.45 WITA – 11.30 WITA, sedangkan sesi siang dilaksanakan pada pukul 13.30 WITA -17.15 WITA. Ruang ujian lab 19 dan lab 20 masing-masing dapat menampung 20 orang peserta untuk setiap sesinya. Pada ujian kali ini, sebelum memasuki ruang ujian calon mahasiswa diperiksa setiap peserta diperiksa ketat barang bawaannya, selama ujian diawasi gerak-geriknya, hingga ujian berakhir pun dipastikan bahwa semua berjalan dengan baik.

Setiap peserta disediakan ruangan khusus menyimpan barang bawaannya. Kemudian, sebelum memasuki ruangan ujian dilakukan pemeriksaan fisik menggunakan metal detektor yang dilakukan sesuai prosedur. Selanjutnya, pemeriksaan dokumen dan juga pencocokan identitas peserta dilakukan oleh Pengawas Ujian. Selain itu, peserta ujian juga diberikan kesempatan melakukan tutorial ujian pada layar komputer agar peserta dapat memiliki gambaran tentang penggunaan sistem ujian dan langkah-langkahnya.

Pada ujian kali ini,  Fakultas Ilmu Budaya juga dipantau oleh Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. yang sekaligus memeriksa kesiapan dan kelancaran pelaksanaan ujian. Pada sesi akhir pelaksanaan ujian peserta dipersilahkan memberikan kritik dan masukan melalui monev pelaksanaan ujian dengan mengakses barcode  yang telah disediakan oleh panitia.

Malam Keakraban di Nari Graha: Puncak Hari Pertama Konferensi Internasional IFSSO 2026

 


Denpasar, 21 April 2026 – Sebagai penutup dari rangkaian hari pertama The 27th IFSSO International Conference and General Assembly 2026, para delegasi dan tamu kehormatan dijamu dalam acara Gala Dinner yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bali. Bertempat di Gedung Wanita Nari Graha, malam keakraban ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Universitas Udayana, pimpinan di lingkungan FIB Unud, pengurus IFSSO, serta para pakar dari berbagai institusi kolaborator global.

Suasana khidmat menyelimuti ruangan sesaat sebelum rangkaian sambutan dimulai dengan penampilan apik Tari Sekar Jagat. Tarian penyambutan khas Bali ini berhasil memukau para delegasi mancanegara, memberikan impresi pertama yang kuat tentang kekayaan seni Pulau Dewata di tengah agenda akademik yang padat.

Mengawali malam keakraban tersebut, Presiden IFSSO, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Provinsi Bali atas dukungannya dalam memfasilitasi jamuan istimewa ini. Beliau melaporkan bahwa konferensi tahun ini berjalan sangat sukses dengan kehadiran lebih dari 100 peserta dan sekitar 35 makalah penelitian yang telah dipresentasikan. Sebagai wujud komitmen akademik, hasil pemikiran dari perhelatan ini akan diterbitkan secara resmi melalui kolaborasi penerbitan antara pihak Vietnam dan Udayana Press. Lebih lanjut, Prof. Ardhana yang juga secara aklamasi terpilih kembali untuk memimpin IFSSO, turut mengumumkan bahwa konferensi internasional tahun depan direncanakan akan diselenggarakan di Vietnam.

Menyambung sambutan hangat tersebut, Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., menekankan bahwa gala dinner ini dirancang untuk mempererat hubungan antar-delegasi dalam suasana yang lebih santai namun tetap sarat akan nilai kolaborasi. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi harus senantiasa hadir sebagai jembatan penghubung pengetahuan global. Prof. Sudarsana juga merefleksikan filosofi Bhinneka Tunggal Ika serta keharmonisan budaya Bali yang diharapkan mampu menjadi sumber inspirasi bagi para akademisi mancanegara untuk terus memperkaya pemahaman kolektif dalam merespons dinamika sosial.


Dari Borobudur hingga Ritual Modern: Panel IFSSO Eksplorasi Warisan Budaya

 


Denpasar, 21 April 2026 – Memasuki paruh kedua penyelenggaraan hari pertama The 27th IFSSO International Conference, antusiasme delegasi global tidak surut. Usai pemaparan dari para pembicara utama di Auditorium Widya Sabha Mandala, gelora akademik berlanjut pada sesi diskusi panel paralel yang terpusat di Gedung Poerbatjaraka, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Para delegasi membedah berbagai kajian spesifik yang terbagi ke dalam tiga ruang utama, yakni Ruang Dr. Ir. Soekarno, Ruang Prof. Dr. Priyono, dan Ruang Sidang Senat.

Di Ruang Dr. Ir. Soekarno, dinamika diskusi berpusat pada penelusuran jejak peradaban dan diplomasi masa lampau. Sesi yang dipandu secara bergantian oleh Prof. Dr. I Wayan Karja dan Prof. Dr. Sudarman ini menghadirkan perdebatan tajam dengan hadirnya penanggap (discussant) Prof. Dr. Nestor T. Castro, Dr. Nguyen Thi Hau, dan Dr. Cao Thu Nga. Sorotan utama jatuh pada paparan Assoc. Prof. Dr. Phan Thi Hong Xuan yang menjadikan Candi Borobudur dan situs Dong Duong sebagai fondasi diplomasi akademik antara Indonesia dan Vietnam. Narasi ini diperkuat oleh kajian kesejarahan Vo Thi Huynh Nhu mengenai kesinambungan Buddhisme Champa, ekskavasi warisan Buddha di Sumatera Barat oleh Prof. Sudarman, hingga pelacakan jejak Hindu-Buddha pada era pra-Hispanik di Filipina oleh Prof. Nestor T. Castro.

Beralih ke Ruang Prof. Dr. Priyono, diskursus bergerak ke arah adaptasi sosiokultural dan kelangsungan ritual di era modern. Dipandu oleh Assoc. Prof. Dicky Sofjan dan Dr. Duong Hoang Loc, serta dibahas oleh penanggap Vo Phan My Tra dan Phan Hieu Nghia, ruangan ini mengeksplorasi isu yang lekat dengan realitas hari ini. Assoc. Prof. Dicky Sofjan membedah transformasi praktik ziarah di tengah arus globalisasi, sementara Dr. Duong Hoang Loc memaparkan peran vital Buddhisme dalam menjaga ketahanan spiritual masyarakat saat pandemi COVID-19. Isu toleransi maritim di Selat Lombok oleh Putri Maya Masyitah serta kajian catur sebagai warisan budaya oleh Võ Phan Mỹ Trà turut memperkaya diskusi di ruangan ini.

Sementara itu, Ruang Sidang Senat menyajikan kekayaan kearifan lokal dan sistem kepercayaan tradisional Nusantara. Dengan Budiana Setiawan dan Dr. Nguyen Thi Hau sebagai moderator, sesi ini mengupas lapisan terdalam nilai spiritual masyarakat, mulai dari ritual Kuk Kir Kna suku Doreri di Papua oleh George Mentansan hingga tradisi Katoba pada masyarakat Muna oleh La Aso. Dinamika pariwisata religi di Makam Troloyo turut dikaji oleh Rochtri Agung Bawono, melengkapi temuan I Kadek Surya Jayadi mengenai pelestarian ajaran Buddha melalui arsip keluarga di Budakeling, serta pemaparan Dr. Preeti Oza mengenai kosmopolis Hindu-Buddha abad ke-9.

Seluruh rangkaian diskusi paralel ini membuktikan kuatnya benang merah sejarah dan budaya yang mengikat kawasan Asia Tenggara. Setelah sesi yang intens ini berakhir, para delegasi bersiap untuk agenda penutup hari pertama, yakni Gala Dinner yang akan diselenggarakan pada malam hari.


Konferensi Internasional IFSSO ke-27 Resmi Dibuka di FIB Unud, Bahas Dinamika Agama, Modernisasi, dan Sekularisasi

 


Denpasar, 21 April 2026 - Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sukses menyelenggarakan kegiatan akademik bergengsi bertajuk “The 27th IFSSO International Conference and General Assembly 2026”. Konferensi yang terlaksana secara luring di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud ini, merupakan wujud kolaborasi masif dengan berbagai institusi global, yaitu University of the Philippines, The Institute for Social Sciences and Humanities Research (ISSH) VNU-HCM Vietnam, University of Mumbai, Gujarat University, serta International Federation of Social Science Organizations (IFSSO). Acara prestisius ini turut dihadiri oleh Duta Besar Turki untuk Indonesia, Rektor Universitas Udayana, jajaran pimpinan di lingkungan FIB Unud, beserta para pakar dari institusi kolaborator.

Pada sesi sambutan, Presiden IFSSO, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., mengapresiasi antusiasme delegasi global yang berhasil menyumbangkan lebih dari 35 abstrak penelitian. Menandai akhir masa jabatannya setelah mengawal IFSSO sejak 2003, beliau memastikan bahwa seluruh gagasan dalam perhelatan ini tidak hanya berakhir di ruang diskusi. Luaran akademik dari konferensi ini akan bermuara pada publikasi resmi melalui kolaborasi penerbitan antara pihak Vietnam dan Universitas Udayana.

Selanjutnya, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. mengungkapkan rasa bangganya atas penunjukan fakultas sebagai tuan rumah perhelatan ini. Merespons tema besar konferensi, Prof. Aryawibawa merefleksikan kembali nilai historis FIB Unud yang pada tahun 1959 silam menjadi lokasi cikal bakal lahirnya majelis agama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Lebih lanjut, sebagai wujud diplomasi budaya dan literasi, beliau secara khusus mengundang para delegasi global untuk mengeksplorasi kekayaan intelektual Nusantara dengan mengunjungi Perpustakaan Lontar FIB yang saat ini menyimpan 898 koleksi naskah kuno.

Puncak seremonial pembukaan secara resmi ditandai dengan pemukulan gong oleh Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. Dalam pidatonya, Prof. Sudarsana menegaskan bahwa Bali merupakan representasi hidup dari harmonisasi antara nilai spiritual dan arus modernisasi, sebuah keseimbangan yang berakar kuat pada visi filosofis lokal Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Melalui momentum peresmian The 27th IFSSO International Conference ini, Rektor kembali menekankan komitmen Universitas Udayana sebagai pendorong utama kolaborasi riset lintas disiplin di kancah global, sekaligus mengajak para delegasi internasional untuk menyelami secara langsung keindahan budaya Pulau Dewata.

Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Anggota Dewan IFSSO, Prof. Nestor T. Castro, Ph.D., turut memaparkan rekam jejak kiprah International Federation of Social Science Organizations (IFSSO). Berdiri resmi sejak 1977, organisasi lintas benua ini konsisten mendorong kolaborasi ilmu sosial global untuk merespons berbagai problem kemasyarakatan kontemporer, khususnya di negara berkembang. Menariknya, Prof. Castro secara khusus menyoroti peran sentral Indonesia bagi kemajuan organisasi, mengingat sejak tahun 2019, sekretariat pusat IFSSO telah resmi dipindahkan dan berkedudukan di Jakarta.

Pemaparan  materi dari Prof. Dr. Talip Küçükcan selaku Duta Besar Turki untuk Indonesia dan keynote speaker membawakan kajian berjudul “Managing State-Religion Relations in the Context of Modernization and Secularization” Beliau membantah teori lama dari ilmuwan Barat yang menyebutkan bahwa kemajuan zaman akan membuat masyarakat meninggalkan agama. Menurutnya, agama tidak mati tergerus modernisasi, melainkan tetap hidup dan beradaptasi. Hal ini terbukti dari fenomena global, seperti munculnya gereja-gereja besar di Amerika Serikat hingga kuatnya tradisi spiritual di Bali. Di hadapan peserta internasional, Prof. Talip secara khusus memuji Indonesia sebagai contoh negara modern yang sukses. Ia kagum melihat bagaimana negara menghargai berbagai agama secara setara, salah satunya dengan memberikan hari libur nasional untuk perayaan suci masing-masing agama yang merupakan sebuah keharmonisan yang menurutnya sering kali sulit dipahami oleh negara-negara Barat. 

Berikutnya, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. memaparkan kajian "Reinterpretation of Buddhism in the Context of State and Statecraft in Early Udayana". Beliau menyoroti peran Kerajaan Sriwijaya dan era awal Udayana sebagai jembatan penyebaran nilai spiritual di Asia Tenggara. Prof. Ardhana menekankan bahwa hubungan harmonis antara tradisi Hindu dan Buddha di masa lampau berhasil melahirkan sinkretisme damai tanpa memicu konflik. Nilai toleransi inilah yang kemudian menjadi akar sejarah bagi lahirnya semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Pada sesi akhir, narasumber Assoc. Prof. Dr. Phan Thi Hong Xuan dari VNU-HCM memaparkan kajian "Religious Urbanism as 'Soft Infrastructure' The Role of Buddhist Spaces in Shaping Identity and Community Connectivity in Contemporary Southeast Asian Cities". Ia menegaskan bahwa kuil atau pagoda di Asia Tenggara bukan sekadar tempat ibadah pasif, melainkan infrastruktur sosial yang aktif menopang kehidupan kota modern. Lewat contoh nyata di Vietnam dan Thailand, Prof. Phan menunjukkan peran vital kuil dalam menyatukan warga; mulai dari menjadi pusat bantuan sosial hingga menggerakkan daur ulang plastik menjadi jubah biksu. Karenanya, ia mendesak agar tata kota masa depan turut mengintegrasikan institusi agama sebagai fondasi ketahanan masyarakat kota.

Usai pemaparan mendalam dari para pembicara utama, rangkaian hari pertama The 27th IFSSO International Conference ini langsung dilanjutkan dengan sesi diskusi panel. Pada sesi paralel ini, para delegasi dari berbagai negara dibagi ke dalam beberapa ruang diskusi untuk membedah kajian yang lebih spesifik.


Monday, April 20, 2026

Mendukung Mahasiswa Semester Akhir: Prodi Sastra Jepang Laksanakan Bimbingan dan Konseling dengan Psikolog



Denpasar, 20 April 2026 — Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana menyelenggarakan workshop bimbingan dan konseling yang berlangsung secara hybrid di Ruang Ir. Soekarno pada Senin, 20 April 2026. Acara yang berlangsung selama lima hari ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa prodi Sastra Jepang, dengan moderator Dr. Silvia Damayanti, S.S., M.Hum. selaku Koordinator Program Studi Sastra Jepang. Workshop ini menghadirkan narasumber Ni Putu Adelia Kesumaningsari, S.Psi., M.Sc. yang memberikan materinya secara online, sementara sekitar setengah peserta hadir secara offline dan setengahnya lagi mengikuti dari jarak jauh.

Dr. Silvia Damayanti selaku moderator menjelaskan latar belakang diselenggarakannya workshop ini, yaitu karena hampir 50 persen mahasiswa angkatan 2019 hingga 2023 belum menyelesaikan skripsi. Selain itu, ditemukan pula adanya gangguan psikologis yang mempengaruhi pengerjaan skripsi di kalangan mahasiswa. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., yang mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kehadiran narasumber. Dalam sambutannya, beliau menyatakan bahwa tantangan penyelesaian tugas akhir bukan hanya masalah teknis tetapi juga masalah mental dan ketahanan mental. Bagi mahasiswa, menurutnya, skripsi merupakan uji kemandirian untuk melihat apakah mereka mau bekerja keras, sementara bagi dosen, membimbing skripsi adalah sebuah seni. Beliau berharap melalui workshop ini dapat tercapai kerjasama yang positif antara dosen dan mahasiswa, serta mahasiswa dapat menyerap ilmu mengenai cara tidak burnout dan menjaga kesehatan mental dalam menyelesaikan tugas akhir. Pembukaan ditandai dengan kegiatan mengetuk mikrofon sebanyak tiga kali.

Pada sesi pertama yang diperuntukkan bagi dosen, narasumber Ni Putu Adelia Kesumaningsari, S.Psi., M.Sc. memaparkan berbagai hambatan psikologis yang sering dialami mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa saat ini cenderung lebih mengapresiasi diri sendiri, namun skripsi sering terasa seperti beban mental karena dianggap sebagai gerbang terakhir sebelum kelulusan. Beberapa faktor yang mempengaruhi penyelesaian skripsi meliputi faktor kognitif, sikap kerja, kepribadian, dan faktor sosial seperti tekanan atau dukungan dari keluarga serta konflik di rumah. Narasumber juga mengidentifikasi empat tipe mahasiswa berdasarkan kombinasi motivasi dan kemampuan, yaitu Tipe A dengan kemampuan dan motivasi tinggi, Tipe B dengan motivasi kuat namun kemampuan kurang, Tipe C dengan kemampuan tinggi namun motivasi rendah, dan Tipe D dengan kemampuan dan motivasi sama-sama rendah. Menurutnya, tipe C dan tipe D adalah yang paling perlu diperhatikan agar tidak hilang dalam proses pengerjaan skripsi. Strategi yang disarankan antara lain weekly meeting, pendekatan personal, menyediakan tools dan resource, mendorong peer support atau dukungan antar teman, serta intervensi struktural institusional seperti retreat penulisan, workshop metodologi, bimbingan terstruktur, dan forum diskusi secara rutin.

Dalam sesi tanya jawab, seorang dosen mengajukan pertanyaan mengenai keterbatasan pembimbing dalam memberikan dukungan di luar hal teknis, misalnya ketika mahasiswa memiliki masalah keluarga. Dosen tersebut mengungkapkan kekhawatirannya bahwa empati yang diberikan tanpa aksi nyata dapat menjadi toxic positivity. Menjawab pertanyaan ini, narasumber menjelaskan bahwa memang sebagai pembimbing tidak bisa masuk ke ranah personal mahasiswa. Namun, pembimbing dapat mengakui permasalahan tersebut dengan mengingatkan mahasiswa bahwa jika skripsi tidak diselesaikan, hal itu hanya akan menambah masalah baru. Narasumber menyarankan agar dosen menyampaikan kepada mahasiswa bahwa ia ingin membantu menyelesaikan masalah skripsi tersebut sambil tetap menemani mahasiswa dalam prosesnya. Pertanyaan lain muncul mengenai mahasiswa yang tidak mau bertemu sama sekali karena berada di luar pulau dan tidak mau mengikuti bimbingan online. Narasumber menyarankan agar pihak kampus melibatkan orang tua jika permasalahan sudah lebih lanjut, terutama dalam bentuk surat peringatan.

Sesi kedua workshop ini diperuntukkan bagi mahasiswa dengan topik menyelesaikan skripsi tanpa burn-out, yang disampaikan oleh narasumber yang sama secara online. Materi dalam sesi ini disajikan lengkap melalui file presentasi yang dibagikan kepada peserta. Narasumber memberikan berbagai tips dan strategi bagi mahasiswa untuk menjaga kesehatan mental selama proses pengerjaan skripsi, menghindari rasa lelah berlebihan, serta tetap produktif tanpa mengorbankan kesejahteraan psikologis. Sesi ini juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab di mana mahasiswa dapat berkonsultasi langsung mengenai kendala yang mereka hadapi.

Workshop ditutup dengan acara penyerahan sertifikat apresiasi kepada narasumber sebagai tanda terima kasih atas partisipasi dan ilmu yang telah dibagikan. Secara keseluruhan, workshop bimbingan dan konseling yang berlangsung selama lima hari ini diharapkan dapat membantu dosen dan mahasiswa Program Studi Sastra Jepang dalam menghadapi tantangan penyelesaian skripsi, baik dari sisi teknis maupun psikologis, serta memperkuat kerjasama positif antara kedua hal tersebut.


Thursday, April 16, 2026

FIB Unud Sosialisasikan Program Fast Track: Dorong Mahasiswa Raih Dua Gelar dalam Lima Tahun

 


Denpasar, 17 April 2026 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melaksanakan sosialisasi yang membahas mengenai pengenalan program akselerasi S1 ke S2 yang terlaksana secara daring melalui Zoom Meeting. Sosialisasi ini dihadiri oleh jajaran dekanat, para koordinator program studi S1dan dosen di lingkungan FIB Unud, serta mahasiswa semester 2, 4, dan 6 di lingkungan FIB Unud.

Mengawali sosialisasi, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan FIB Unud memaparkan bahwa lahirnya program ini bukan sekadar tawaran pemotongan masa studi. Secara institusional, Fast Track merupakan mandat dari Peraturan Rektor (Pertor) untuk mendongkrak pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 1 Universitas Udayana, yakni persentase lulusan sarjana yang langsung melanjutkan studi. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa mahasiswa yang akan mengikuti program fast track harus berusaha ekstra keras, mengingat mahasiswa yang mengikuti program ini akan menjalankan kuliah paralel dengan menghabiskan sisa SKS di semester 7 dan 8 sekaligus mengikuti kuliah magister.

Melanjutkan sosialisasi, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. menjelaskan mengenai detail dari program fast track ini. Dalam program akselerasi ini mahasiswa dituntut untuk memenuhi serangkaian persyaratan yang sangat ketat. Syarat mutlak yang tidak dapat ditawar adalah asas linieritas keilmuan; mahasiswa Program Studi Sastra diwajibkan melanjutkan ke Magister Linguistik, sedangkan mahasiswa Prodi Non-Sastra diarahkan ke Magister Kajian Budaya. 

Secara spesifik, pendaftaran yang dibuka pada 11 Mei hingga 5 Juni 2026 ini ditujukan bagi mahasiswa aktif Semester 6 yang telah menempuh dan lulus minimal 110 SKS dengan nilai sekurang-kurangnya B pada akhir Semester 5. Pendaftar juga diwajibkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,25, mengantongi skor kemampuan Bahasa Inggris dari UPT Bahasa Unud minimal 475, serta melampirkan surat rekomendasi dari dua dosen bergelar Doktor. Dari segi administrasi, mahasiswa harus menyertakan surat persetujuan finansial dari orang tua atau wali, menandatangani pakta kesanggupan menyelesaikan program tepat waktu, dan melunasi biaya seleksi pada saat pendaftaran.

Dekan FIB Unud menekankan bahwa setelah mahasiswa resmi lulus ujian skripsi dan mendapatkan gelar Sarjana, mereka akan memasuki semester sembilan dan sepuluh untuk berfokus penuh pada penyusunan tesis dengan kewajiban membayar UKT S2 sebesar 100 persen yang sebelumnya membayar UKT S1 secara full dan 50% UKT S2 selama kuliah paralel (semester 7 dan 8) . Untuk menunjang percepatan studi ini, pihak fakultas sangat menyarankan agar topik skripsi S1 diangkat dari fondasi penelitian yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi tesis di jenjang Magister.

Sesi tanya jawab menyoroti tiga polemik utama. Pertama, dekanat menolak keras wacana lintas fakultas karena asas linieritas adalah syarat mutlak; lulusan rumpun sastra wajib ke Magister Linguistik dan non-sastra ke Kajian Budaya. Kedua, terkait keluhan sulitnya memenuhi syarat minimal 110 SKS untuk kurikulum prodi tertentu. Fakultas menyatakan aturan tersebut merujuk kaku pada draf rektorat sehingga mahasiswa dihimbau mengakali dengan mengambil 24 SKS sejak semester awal. Terakhir, terkait kepastian potensi beasiswa maupun tagihan IPI, pihak fakultas belum bisa memberikan jawaban pasti karena masih menunggu pengesahan Peraturan Rektor.


FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...