Pada Jumat, 04 September 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana bersama Tsinghua Southeast Asia Center dan School of Cybernetics, The Australian National University menyelenggarakan International Conference on Indigenous Knowledges, Systems, Wisdom & Technology (CIKSWT) 2026 di Tsinghua Southeast Asia Center – Kura Kura Bali SEZ sebagai bagian dari rangkaian agenda Badan Kekeluargaan (BK) FIB Unud 2026. Mengusung tema “The Future in Balance: AI, Humanity, and Sustainability”, konferensi ini mempertemukan 23 peneliti dari 7 negara untuk membahas keterkaitan antara AI, pengetahuan masyarakat adat, sistem pengetahuan, tata kelola, serta keberlanjutan lingkungan.
Sesi pembukaan konferensi diawali oleh Michael Tuori selaku Chair of Conference dan Academic Director Tsinghua Southeast Asia Center yang menyampaikan bahwa konferensi ini merupakan pengembangan dari Conference on Indigenous Wisdom in the Contemporary World dengan fokus yang lebih luas pada pengetahuan, sistem, kebijaksanaan, dan teknologi masyarakat adat. Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan berbagai cara memahami, menjalani, dan menerapkan pengetahuan lokal dalam menghadapi tantangan modern, termasuk perkembangan AI dan keberlanjutan.
Selanjutnya, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. selaku Rektor Universitas Udayana menyampaikan bahwa tema “The Future in Balance: AI, Humanity, and Sustainability” sangat relevan dengan perkembangan teknologi saat ini. Beliau menjelaskan bahwa AI memberikan peluang besar dalam mempercepat inovasi, penelitian, dan penyelesaian tantangan global, namun penggunaannya harus tetap berlandaskan etika, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan. Beliau juga menekankan pentingnya memastikan perkembangan AI tetap berpusat pada manusia, inklusif terhadap budaya, dan berkelanjutan bagi lingkungan. Selain itu, beliau menyampaikan bahwa inovasi perlu berjalan berdampingan dengan kearifan lokal, seperti filosofi Tri Hita Karana yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual. Menurut beliau, pengetahuan masyarakat adat bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat memberikan inspirasi bagi solusi masa kini melalui kolaborasi antara ilmu pengetahuan modern dan kebijaksanaan lokal.
Sesi keynote speech disampaikan oleh Hokky Situngkir selaku Founder Bandung Fe Institute yang membahas hubungan antara kecerdasan buatan (AI) dan pelestarian budaya Indonesia. Ia memperkenalkan konsep digital symbiosis, yaitu hubungan timbal balik antara budaya dan AI, di mana budaya dapat menjadi sumber pengembangan teknologi, sementara AI dapat membantu mendokumentasikan dan memperluas pengetahuan budaya. Hokky menjelaskan bahwa pengembangan AI perlu mempertimbangkan bahasa, data, dan nilai budaya lokal, salah satunya melalui pengembangan Toba.LM yang dirancang untuk memahami struktur bahasa Indonesia dan Austronesia. Ia menekankan bahwa keberagaman bahasa dan budaya Indonesia tidak hanya menjadi warisan yang harus dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi inspirasi dalam membangun teknologi AI yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Keynote speech selanjutnya disampaikan oleh Prof. Angie Abdilla dari School of Cybernetics, The Australian National University yang membahas hubungan antara kecerdasan buatan (AI), budaya, dan pengetahuan masyarakat adat. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa teknologi dan AI tidak terlepas dari budaya karena muncul dari cerita, nilai, dan cara pandang tertentu. Beliau menjelaskan bahwa pengetahuan masyarakat adat dapat memberikan perspektif dalam menghadapi perkembangan AI, terutama melalui prinsip hubungan (relationality), timbal balik (reciprocity), dan regenerasi (regeneration). Prof. Angie juga memberikan contoh sistem Subak di Bali sebagai bentuk sistem pengelolaan air yang berlandaskan hubungan antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Beliau menekankan pentingnya memahami asal-usul, nilai, dan pihak yang membentuk AI agar teknologi tersebut dapat dikembangkan dengan tetap mempertimbangkan keberagaman budaya dan hubungan dengan dunia kehidupan.
Selain menghadirkan para peneliti sebagai pembicara, konferensi ini juga melibatkan dosen FIB UNUD sebagai moderator dalam beberapa sesi diskusi. Dr. Sang Ayu Isnu Maharani, S.S., M.Hum. berpartisipasi sebagai moderator pada sesi presentasi di ruang Saraswati yang membahas topik “Relationality Between Living Systems and AI”. Sementara itu, Gede Primahadi Wijaya Rajeg, Ph.D. berperan sebagai moderator pada 2 sesi. Sesi pertama yaitu membahas “Plurality in AI” dan yang kedua membahas “Indigenous Governance in AI” berlangsung di ruang Auditorium. Keterlibatan keduanya menunjukkan peran aktif akademisi FIB UNUD dalam mendukung jalannya diskusi mengenai hubungan antara kecerdasan buatan, budaya, dan pengetahuan lokal dalam konferensi ini.
Konferensi ditutup dengan sambutan dari Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. yang menyampaikan bahwa konferensi ini menjadi ruang untuk membahas dua hal yang berbeda, yaitu solidaritas masyarakat adat yang telah berkembang sejak masa lalu dengan kecerdasan buatan (AI) sebagai teknologi modern. Beliau menyampaikan bahwa berbagai gagasan menarik telah muncul dalam forum ini, seperti bagaimana sistem pembelajaran konvensional dapat diterapkan untuk mengajarkan AI kepada anak-anak. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya menjaga identitas lokal dalam pemanfaatan teknologi serta bagaimana budaya dapat digunakan dalam pengembangan AI dan AI dapat mendukung masa depan budaya. Beliau berharap berbagai ide yang muncul dalam konferensi ini dapat menjadi pertimbangan dalam memperdalam pemanfaatan AI dalam perkembangan budaya di masa depan.

No comments:
Post a Comment