Tuesday, September 8, 2026

Kuliah Tamu Sastra Indonesia FIB Unud Bahas Pemerolehan Bahasa Anak dalam Konteks Multilingual





Denpasar—Selasa (08/09/2026), Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana,  menggelar kuliah tamu yang membahas topik pemerolehan bahasa anak dalam konteks multilingual. Kuliah tamu ini turut dihadiri oleh para mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia. Acara yang berlangsung di gedung Poerbatjaraka, ruang Soekarno, Kampus FIB Unud, Denpasar ini menghadirkan Dr. Bernadette Kushartanti, M.hum. dosen sekaligus Kepala Program Studi Sastra Indonesia Universitas Indonesia sebagai narasumber yang  didampingi oleh moderator Ni Komang Diah Restu Swari, S.Pd., M.A. dari Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Udayana.


Dalam paparannya, Bernadette mengangkat isu pemerolehan bahasa anak dari sudut pandang psikolinguistik sekaligus sosiolinguistik. Beliau mengawali materi dengan menjelaskan perbedaan mendasar antara tiga istilah yang kerap tertukar dalam kajian bahasa, yaitu bahasa, dialek, dan variasi. "Bahasa merupakan sistem komunikasi yang luas dengan tata bahasa, kosakata, dan pelafalan tersendiri. Suatu bentuk tutur biasanya diakui sebagai bahasa tersendiri apabila tidak dapat dipahami secara timbal balik dengan bahasa lain, meski faktor politik dan budaya turut memengaruhi status tersebut. Dialek, di sisi lain, adalah bentuk bahasa yang bersifat regional atau sosial, yang berbeda dalam hal pengucapan, kosakata, dan kadang tata bahasa, namun tetap berakar pada bahasa yang sama. Sementara itu, variasi merupakan istilah paling luas yang mencakup segala bentuk linguistik, termasuk bahasa, dialek, aksen, sosiolek, hingga ragam bicara formal maupun informal. Ketiga konsep ini menjadi pembahasan utama dalam kajian sosiolinguistik." ujar Bu Kiki, panggilan Bernadette yang kerap disapa. Beliau juga mengulas konsep hierarki dalam pemerolehan bahasa. Menurutnya, anggapan bahwa pemerolehan bahasa semata-mata bersifat hierarkis perlu diluruskan. Seorang anak yang belajar berbahasa, jelasnya, tidak hanya dituntut menguasai kecakapan komunikatif atau kemampuan membedakan tuturan yang benar dan salah, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kecakapan mengenai kapan suatu bahasa layak dituturkan.


Bernadette menekankan bahwa lingkungan sosial berperan penting dalam pemerolehan bahasa anak, karena cara suatu tuturan diucapkan atau disingkat dipengaruhi faktor sosial. Karena itu, kajian pemerolehan bahasa tidak bisa hanya mengandalkan psikolinguistik, tetapi juga perlu pendekatan sosiolinguistik dan antropolinguistik. Sebagai contoh, pelafalan anak biasanya baik untuk satu suku kata, tetapi menjadi tidak beraturan saat merangkai dua suku kata. Meski begitu, anak merasa ucapannya sudah benar, sehingga orang tua sering mengulanginya untuk mengoreksi. Menurut Bernadette, ini menunjukkan bahwa tuturan anak tidak semata mencerminkan kesempurnaan alat ucapnya.


Memasuki topik kedua, Bernadette memaparkan bahwa pemerolehan bahasa tidak selalu terjadi dalam satu variasi tunggal. Merujuk pandangan seorang ahli psikolinguistik, ia menguraikan tiga kondisi pemerolehan bahasa pertama, yaitu Pemerolehan bahasa pertama monolingual (Monolingual First Language Acquisition/MFLA), Pemerolehan bahasa pertama awal (Early Second Language Acquisition/ESLA), Pemerolehan bahasa pertama bilingual atau dalam lingkungan rumah (Bilingual First Language Acquisition/BFLA). 

"Ada kalanya seorang anak memperoleh bahasa pertama terlebih dahulu sebelum disusul bahasa berikutnya, namun ada pula anak yang menerima lebih dari satu bahasa sejak awal". papar Bernadette.

Beliau juga menjelaskan tiga bentuk pembedaan bahasa yang dilakukan anak ketika terpapar lebih dari satu bahasa. Pertama, anak menciptakan satu sistem gabungan dari dua bahasa yang didengarnya. Kedua, anak mampu membedakan kedua bahasa tersebut dan memperolehnya tanpa saling memengaruhi satu sama lain. Ketiga, anak membedakan kedua bahasa, tetapi perkembangan keduanya tetap saling memengaruhi.


Bernadette turut memaparkan efek bilingualisme terhadap perkembangan bahasa anak, yang mencakup pengaruh terhadap arah perkembangan bahasa dan laju perkembangannya. Ia menyebutkan bahwa perkembangan bilingual dapat berdampak berbeda pada tiap anak: sebagian anak mampu mengembangkan kompetensi kedua bahasanya dengan mudah, sementara sebagian lain mengalami kesulitan dalam mempelajari kedua bahasa tersebut. Kondisi ini, menurutnya, sangat bergantung pada nilai sosial dan budaya yang berlaku, termasuk nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga.


Sebagai penutup, ia menyoroti pengaruh budaya terhadap perkembangan bilingualisme anak. Menurutnya, jika bi- atau multilingualisme dianggap penting dalam suatu budaya, anak yang tumbuh bilingual cenderung memperoleh kemampuan berbahasa lebih banyak dibandingkan anak monolingual. Kuliah tamu ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Udayana untuk memperdalam wawasan tentang pemerolehan bahasa anak, khususnya dalam masyarakat multilingual seperti Indonesia, sekaligus memperkaya perspektif akademik mereka dalam mengkaji fenomena kebahasaan di sekitarnya.



No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...