Friday, September 4, 2026

SNBSB FIB Unud 2026: Menggali Peran Bahasa, Sastra, dan Budaya di Era Digital

 


Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Budaya (SNBSB) merupakan sebuah agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun dalam rangkaian acara HUT ke-68 dan Badan Kekeluargaan (BK) ke-45 Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Pada tahun ini, SNBSB diselenggarakan pada Jumat, 4 September 2026 di Auditorium Widya Sabha Mandala Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana dengan Tema “Bahasa, Sastra, dan Budaya Sebagai Penguatan Identitas Yang Berkelanjutan.” Seminar ini dihadiri oleh Dekan FIB Unud beserta jajaran, pada koordinator program studi, para dosen, dan peserta seminar..


Eirenne Pridari Sinsya Dewi, S.S.,M.ED., selaku Ketua Panitia BKFIB 2026 melaporkan bahwa tema dari kegiatan BKFIB 2026 ialah “Gema Kampus Kuning: Merawat Tradisi Merespon Bumi”. Tema ini menjadi sebuah ajakan bagi generasi muda untuk bisa merenungkan apa peran ilmu budaya dalam menghadapi tantangan melalui pelestarian bahasa dan budaya lokal. Lalu dilanjut dengan adanya BKFIB yang memasuki usia 45 tahun, ini menunjukkan komitmen untuk mempererat persaudaraan seluruh keluarga besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.


Ketua Panitia SNBSB 2026, Putu Dyah Pradnya Paramitha, S.S., M.A., menyampaikan bahwa acara tahun ini mengusung tema “Bahasa, Sastra, dan Budaya Sebagai Penguatan Identitas Yang Berkelanjutan” karena ketiga elemen tersebut melekat erat dalam kehidupan sehari-hari serta berperan krusial dalam pembentukan identitas manusia. Dalam laporan penyelenggaraannya, tercatat bahwa panitia menerima 73 abstrak yang kemudian melalui tahap Blind Pre-review, dengan hasil 57 abstrak dinyatakan lolos dan 16 lainnya belum dapat diterima. Keunggulan utama dari pelaksanaan SNBSB 2026 ini juga terlihat pada tingginya keberagaman pemakalah yang turut berpartisipasi dari berbagai institusi, baik dari dalam maupun luar Bali.


Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasinya kepada jajaran panitia sekaligus meresmikan kick-off rangkaian HUT FIB Unud pada Jumat, 1 September 2026. Dalam sambutannya, beliau menyoroti urgensi pelaksanaan SNBSB 2026 melalui paparan studi kasus mengenai kemunduran penggunaan bahasa Melayu di Singapura. Berbeda dengan situasi tersebut, Indonesia dinilai sangat beruntung karena memiliki landasan hukum yang kuat untuk melindungi entitas bahasa dan budayanya. Melalui perbandingan fenomena ini, Prof. Aryawibawa menegaskan bahwa pelaksanaan SNBSB menjadi wadah yang sangat relevan dan krusial untuk terus menyuarakan pentingnya pelestarian bahasa dan budaya sebagai pilar utama dalam mempertahankan identitas bangsa.


Kegiatan SNBSB ini juga mengundang satu pembicara kunci dan tiga pembicara utama. Keempat pembicara tersebut, antara lain Prof. Dr. Suhandano, M.A. dari Universitas Gadjah Mada, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. dari Universitas Udayana, Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.Hum., M.Hum. dari Universitas Udayana, dan Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si. dari Universitas Udayana. 


Sesi selanjutnya yaitu penyampaian materi yang dimoderatori oleh Dr. Ni Ketut Widhiarcani Matradewi, S.S., M.Hum., dan pembicara kunci, Prof. Dr. Suhandano, M.A. yang membawakan topik “Bahasa Pengetahuan Lokal dan Identitas”. Beliau juga menyampaikan kalau setiap kita harus bisa melestarikan bahasa, menjaga pengetahuan, dan identitas. lanjut beliau mengatakan, bahwa bahasa berasal dari pengetahuan, pengetahuan bertumbuh dari pengalaman dan budaya, pengalaman dan budaya membentuk realitas. Maka dari itu, jika bahasa tetap dijaga, maka pengetahuan dan budaya akan tetap hidup dan berkembang. 


Melanjutkan ke materi pertama yang disampaikan oleh I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. Beliau memaparkan topik “Psikolinguistik dan Eksperimen Bahasa”. Beliau mengkaji irisan psikologi dan linguistik melalui tahapan proses berbahasa serta konsep mental lexicon yang berkaitan dengan penyimpanan memori manusia. Terkait metodologi, beliau menekankan bahwa penelitian eksperimental bahasa menuntut pemahaman terminologi, statistik dasar, dan yang paling krusial adalah kontrol penelitian yang ketat guna menghasilkan data yang valid. “Semakin tinggi kontrol  maka semakin bagus hasilnya,” ujarnya.


Narasumber kedua, Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.Hum., M.Hum., mengkaji “Peran Budaya Populer dalam Penguatan Bahasa, Sastra, dan Identitas Masyarakat Ainu di Jepang”. Beliau menyoroti bagaimana media edutainment seperti anime "Golden Kamuy" berhasil mengangkat eksistensi dan mendobrak stereotip masyarakat adat Ainu yang terpinggirkan melalui representasi positif karakter Asirpa. Meskipun memiliki keterbatasan dalam menciptakan penutur bahasa yang fasih, beliau menegaskan bahwa budaya populer terbukti sangat efektif untuk memantik kesadaran dan ketertarikan publik terhadap pelestarian identitas Ainu. 


Pada sesi ketiga, Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si., membawakan materi “Makna Kebudayaan di Era Digital: Dari Otoritas Tradisional Menuju Logika Algoritmik” yang mengkritisi fenomena deteritorialisasi akibat globalisasi. Beliau menyoroti problematika adaptasi budaya yang berisiko menggerus nilai-nilai kolektif, sekaligus menantang audiens untuk mengubah ruang digital menjadi arena sosial yang produktif untuk internalisasi nilai budaya. Beliau menegaskan pentingnya mengedepankan konteks dan refleksi dibandingkan sekadar mengejar konten serta viralitas, sehingga ruang digital dapat berfungsi sebagai medium pembentukan identitas yang bermakna. 


Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif antara mahasiswa dan dosen yang menyoroti literasi digital Generasi Z, fungsi edutainment anime Golden Kamuy, serta tantangan adaptasi nilai budaya di era modern. Rangkaian acara kemudian beralih pada dua sesi presentasi paralel di Gedung Goris yang memfasilitasi para pemakalah untuk mempresentasikan beragam riset seputar kebahasaan, sastra, budaya, dan dinamika identitas masyarakat digital. Keberagaman topik dalam sesi paralel ini menjadi wadah strategis bagi para akademisi untuk saling bertukar temuan penelitian sekaligus memperluas cakrawala perspektif dalam kajian humaniora.




No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...