Tuesday, August 18, 2026

Merawat Ingatan Bangsa: Kesaksian Veteran di HUT ke-62 Ilmu Sejarah Unud

 


Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Udayana pada Selasa (18/8/2026) diwarnai dengan momen reflektif yang mendalam. Melalui sesi Talkshow Veteran yang dimoderatori oleh I Kadek Surya Jayadi, M.A., sivitas akademika diajak menyelami langsung memori kolektif masa revolusi fisik bersama Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bali, I Gusti Bagus Saputera. Pria berusia 96 tahun tersebut membagikan kesaksian otentiknya sebagai mantan prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang pernah berjuang di bawah komando Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai. 

Saputera mengenang sosok I Gusti Ngurah Rai sebagai pemimpin yang religius, demokratis, berwawasan luas, dan pantang menyerah. Ia bersaksi bagaimana Ngurah Rai selalu menyempatkan diri bersembahyang sebelum bertempur dan konsisten antara perkataan dan perbuatan. Secara lugas, Saputera melafalkan ulang isi surat balasan Ngurah Rai yang menolak tegas ajakan perundingan dari Belanda, sebagai sebuah korespondensi historis yang menegaskan bahwa urusan keamanan Bali adalah tanggung jawab pejuang, dan penyelesaian diplomatik diserahkan sepenuhnya kepada para pemimpin Republik di Jawa.

Tidak hanya bernostalgia, Saputera juga memanfaatkan forum tersebut untuk meluruskan narasi sejarah yang simpang siur. Menjawab pertanyaan akademisi terkait desas-desus bahwa Puri Pemecutan berniat membunuh Ngurah Rai pada masa revolusi, Saputera dengan tegas membantahnya. Ia meyakini klaim tersebut mustahil terjadi dan murni merupakan taktik divide et impera (adu domba) dari pihak kolonial untuk memecah belah kekuatan perjuangan rakyat Bali.

Sebagai saksi hidup yang merasakan pahit getirnya masa penjajahan, sang veteran menitipkan pesan mendalam bagi para generasi penerus yang memadati Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno. Ia mendesak generasi muda untuk terus mempertahankan nilai-nilai dasar Pancasila dan UUD 1945, serta merawat semangat patriotisme, solidaritas, dan kerelaan berkorban demi memajukan bangsa. 

Ketika ditanya mengenai rahasia kebugarannya di usia yang hampir mencapai satu abad, Saputera membagikan prinsip hidup yang sederhana namun sarat makna. "Rajin berdoa, selalu berlaku jujur, dan hiduplah agar bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya.

Kehadiran I Gusti Bagus Saputera menjadi pengingat yang berharga bagi sivitas akademika Universitas Udayana. Dari sekitar 25.000 pejuang kemerdekaan di Bali pada masa awal revolusi, saat ini hanya tersisa 1.236 veteran di bawah naungan LVRI Bali, dengan banyak di antaranya yang sudah mengalami penurunan kondisi kesehatan. Hal ini semakin menegaskan pentingnya upaya mendokumentasikan sejarah lisan agar memori kolektif bangsa tidak ikut pudar ditelan zaman.


Semarak HUT ke-62 Ilmu Sejarah FIB Unud: Padukan Seremonial dan Penguatan Metodologi Sejarah Lisan

Pada rangkaian Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) merayakan ulang tahun ke-62 pada Selasa, 18 Agustus 2026 dan bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lanai IV FIB Unud. Perayaan yang mengangkat tema "Belajar Sejarah, Memaknai Indonesia" ini menjadi momentum refleksi kritis untuk mempererat tali silaturahmi antargenerasi sivitas akademika, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga purnabakti. Dengan mengusung tema tersebut, perayaan ini sekaligus menjadi wadah bagi seluruh keluarga besar Ilmu Sejarah untuk meneguhkan peran akademisi dalam menggali nilai kebangsaan, serta membangun semangat harmoni dalam memaknai realitas sejarah Indonesia sebagai fondasi identitas bangsa. Selain melibatkan seluruh sivitas akademika Ilmu Sejarah, perayaan ini juga mengundang para siswa dari berbagai SMA di Denpasar dan Tabanan.

Ketua Panitia, I Kadek Surya Jayadi, M.A., melaporkan bahwa peringatan berbalut nuansa busana Nusantara ini berfokus pada penguatan akademik. Sorotan utama acara adalah Workshop Oral History bersama pakar sejarah UGM, yang dirangkai dengan gelar wicara bersama veteran LVRI Bali, bedah buku, serta bedah film. Seluruh agenda ini dirancang untuk menginspirasi pengembangan digital humanities dan kajian sejarah di Universitas Udayana.

Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., memaknai usia ke-62 tahun ini dengan rasa syukur atas tren positif peningkatan jumlah mahasiswa baru. Sebagai proyeksi strategis ke depan, prodi akan menggarap kajian kolaboratif bersama Antropologi dan Arkeologi yang berfokus pada kawasan Indonesia Timur. Langkah ini ditargetkan untuk melahirkan buku monumental sekaligus memangkas kesenjangan referensi historiografi antara kawasan Barat dan Timur Indonesia.

Membuka acara secara resmi, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., sangat mengapresiasi konsep edukatif acara ini, khususnya penerapan post-test pada Workshop Oral History sehingga mahasiswa benar-benar mendapatkan hasil pembelajaran yang konkret. Mendukung penuh inisiatif riset Indonesia Timur dari Koprodi, Dekan FIB kembali mengingatkan prinsip Historia Magistra Vitae bahwa sejarah adalah guru kehidupan yang menjadi fondasi penting untuk menentukan arah masa depan bangsa. 

Acara resmi dibuka melalui prosesi penyerahan bunga dari Koprodi Ilmu Sejarah kepada Dekan FIB Unud. Momen ini kemudian dirangkai dengan penyerahan bunga anggrek oleh perwakilan Keluarga Mahasiswa Ilmu Sejarah (Kemas) kepada pihak program studi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Workshop Oral History dengan mengundang Dr. Abdul Wahid, pakar sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) dan dimoderatori oleh I Kadek Surya Jayadi, M.A. Sebelum pemaparan dimulai, para mahasiswa diminta untuk mengikuti pre-test dengan menuliskan definisi singkat dari sejarah lisan. 

Dalam pemaparannya, Dr. Abdul Wahid menguraikan bahwa sejarah lisan merupakan metode pengumpulan memori serta pandangan personal mengenai peristiwa sejarah penting melalui wawancara mendalam yang kemudian direkam dan ditranskripsi. Ia menekankan bahwa sejarah lisan tidak sekadar menjadi instrumen atau alat penelitian, tetapi juga telah berkembang menjadi bentuk konstruksi sejarah itu sendiri. Mengingat objek utamanya adalah manusia beserta ingatannya yang bersifat sangat cair, retrospektif, dan emosional, pewawancara diwajibkan untuk membangun rasa saling percaya (mutual trust) dengan narasumber. Selain itu, pewawancara harus murni bertindak sebagai pendengar dan penyambung lidah tanpa melakukan intervensi apa pun terhadap hasil wawancara.

Lebih lanjut, materi lokakarya tersebut membedah lima tahapan krusial dalam mengeksekusi penelitian sejarah lisan, yakni tahap persiapan, pelaksanaan, pembuatan transkrip, pengarsipan, dan pemanfaatannya. Metode pelacakan ingatan ini dinilai memiliki manfaat filosofis dan metodologis yang kuat untuk menghasilkan konstruksi sejarah yang lebih berimbang (fair), terutama dengan memberikan ruang bagi suara kelompok kelas bawah, pihak yang kurang beruntung, maupun kaum yang dikalahkan. Di ranah praktis, sejarah lisan juga menawarkan berbagai kegunaan strategis, mulai dari menciptakan sumber sejarah baru untuk menambal kekurangan dokumen tertulis, mewariskan memori antargenerasi, hingga menjadi medium penyembuhan trauma (trauma healing) di masyarakat.

Teori dan metodologi Sejarah lLsan yang telah dibedah tuntas kemudian langsung direlevansikan ke dalam forum diskusi nyata. Memasuki agenda selanjutnya, para peserta diajak untuk menyelami langsung memori kolektif seorang saksi sejarah melalui sesi Talkshow Veteran bersama Ketua LVRI Bali, I Gusti Bagus Saputera.


Thursday, August 13, 2026

Meneliti Terjemahan Istilah Teknologi Informasi , Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud Luluskan Doktor ke-289


Program Studi Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan Doktor baru pada Sidang Ujian Terbuka yang terlaksana di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud pada Jumat, 14 Agustus 2026. Promovenda atas nama Sri Widiastutik, S.S., M.Hum. berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Terjemahan Terminologi Teknologi Informasi dalam Buku Teks Electronics A First Course” serta meraih predikat “Sangat Memuaskan”. Melalui sidang yang dihadiri oleh keluarga dan para rekan sejawat Promovenda. Promovenda menjadi Doktor ke-289 di Program Studi Doktor Linguistik FIB Unud.

Keberhasilan Promovenda dalam mempertahankan risetnya tentu tidak lepas dari arahan dan evaluasi dewan penguji. Sidang ujian terbuka ini diketuai oleh Prof. Dr. I Made Netra, S.S., M.Hum. dan didampingi oleh Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. sebagai Promotor, Prof. Dr. Drs. I Made Rajeg, M.Hum. sebagai Kopromotor 1, dan Dr. I Gusti Agung Istri Aryani, S.S., M.Hum. sebagai Kopromotor 2. Adapun tim penguji yang menemani para pimpinan sidang diantaranya :Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sukarini, M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Dra. Luh Putu Laksminy, M.Hum., Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., dan Prof. Dr. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, S.S., M.Hum. sebagai penguji eksternal dari Uniiversitas Mahasaraswati Denpasar.

Di hadapan para anggota penguji, Promovenda memaparkan bahwa penelitian disertasinya dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi global yang kerap memicu inkonsistensi penggunaan istilah di Indonesia, dan berujung pada maraknya adopsi langsung dan transferensi istilah asing akibat belum tersedianya padanan kata yang akurat. Oleh karena itu, penelitian ini hadir menyoroti urgensi untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan bahasa formal, yakni pedoman pembentukan istilah dari Badan Bahasa dengan dinamika dan realitas komunikasi praktis yang digunakan oleh masyarakat dalam ekosistem digital.

Menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memadukan berbagai sumber data (triangulasi) guna memastikan keakuratan hasilnya. Fokus utamanya adalah mengkaji berbagai bentuk kata teknis TI dari buku teks, mulai dari kata dasar, kata turunan, nama merek, hingga singkatan. Untuk memastikan bahwa hasil analisis tersebut teruji di dunia nyata, peneliti mengujinya kembali menggunakan pangkalan data bahasa digital atau korpus. Langkah ini dilakukan agar peneliti dapat melihat dan mengukur secara langsung seberapa sering sebuah istilah benar-benar dipakai dan seberapa jauh masyarakat bisa menerimanya dalam komunikasi sehari-hari. 

Melalui serangkaian pengujian, temuan penelitian ini membuktikan bahwa masyarakat luas tidak serta-merta menggunakan sebuah istilah TI hanya karena istilah tersebut sudah patuh pada aturan baku tata bahasa. Faktor yang justru lebih menentukan adalah seberapa sepadan istilah tersebut terhadap pemahaman masyarakat terhadap fungsi asli teknologinya. Sebagai bukti, kata baru seperti "daring", "luring", dan "ponsel" berhasil populer di tengah masyarakat. Hal ini berbanding terbalik dengan istilah yang sangat baku seperti "tetikus" (untuk mouse) atau "waring wera wanua" (untuk world wide web) yang justru jarang dipakai. Sebagai jalan keluar, penelitian ini menawarkan cara penerjemahan baru, yakni dengan menyandingkan istilah asing dan padanannya secara bersamaan, misalnya melalui penggunaan tanda kurung. Cara ini dinilai paling efektif untuk menjaga keutuhan makna aslinya sekaligus membuatnya lebih mudah dipahami oleh pengguna di Indonesia. 

Pemaparan hasil tersebut kemudian memantik diskusi mendalam pada sesi tanya jawab yang menyoroti tiga poin utama. Pertama, Promovenda menjelaskan bahwa kata kerja (verba) tidak diteliti karena masyarakat lebih sering menggunakan kata benda (nomina) dalam komunikasi digital sehari-hari, sehingga pemaksaan istilah asing menjadi kata kerja bahasa Indonesia (misalnya "dicampur") justru membuat kata tersebut menjadi panjang dan tidak efisien. Kedua, terkait kebaruan penelitian (research gap), disertasi ini dinilai lebih unggul dari kajian sebelumnya karena tidak sekadar mengandalkan kuesioner dari responden, melainkan telah menggunakan pangkalan data bahasa digital (korpus) yang lebih luas dan akurat. 

Terakhir, untuk cara mengukur kualitas terjemahan, Promovenda memaparkan bahwa ia membandingkan Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) dengan data pemakaian nyata di masyarakat. Hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa meskipun kata baku seperti "tetikus" atau "hipertaut" sudah benar secara aturan resmi, istilah tersebut nyatanya tidak laku dan jarang dipakai oleh masyarakat dibandingkan istilah bahasa Inggrisnya. 

Sebagai penutup, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., selaku Promotor, menyampaikan pesan dan harapan besarnya kepada Promovenda. Ia menitipkan mandat agar sebagai Doktor baru segera menjalin kerja sama strategis dengan instansi terkait, khususnya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Langkah sinergis ini didorong agar hasil penelitian disertasi yang telah dikerjakan dengan penuh dedikasi tersebut dapat memberikan masukan praktis bagi standardisasi bahasa Indonesia. 


Thursday, August 6, 2026

Harmoni Awal Mahadayana: PKKMB FIB 2026 Selaraskan Ekosistem dan Ruang Aman Kampus

 


Denpasar, 6 Agustus 2026 – Lembaran baru para Mahadayana (Mahasiswa Ilmu Budaya Udayana) resmi dimulai melalui PKKMB FIB 2026 (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Budaya 2026). Rangkaian hari pertama orientasi ini bertujuan untuk mengakselerasi adaptasi mahasiswa baru terhadap ekosistem fakultas; yang mencakup pemahaman sistem akademik, pengenalan pimpinan dan lembaga kemahasiswaan, hingga edukasi pencegahan kekerasan di perguruan tinggi. Kegiatan terlaksana di Auditorium Widya Sabha Mandala dan Ruang Baca, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud serta diikuti oleh 460 mahasiswa baru dan 16 mahasiswa lama. Orientasi ini dihadiri oleh seluruh unsur pimpinan dari lingkungan FIB Unud.

Sebagai langkah awal pembukaan acara, Taufik Agus Purnomo, S.Pd., M.A. selaku Ketua Umum PKKMB FIB 2026 melaporkan bahwa masa pengenalan tahun ini diikuti oleh 460 mahasiswa baru dan 16 mahasiswa lama, dengan mengusung komitmen lingkungan yang positif. “Kegiatan ini mengedepankan nilai-nilai edukatif, humanis, inklusif, aman, bebas dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun perpeloncoan” ucap beliau. Semangat tersebut disambut dan diteruskan oleh Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (SMFIB Unud), I Putu Gede Lion Ojasvin Putra Barata, yang mengajak para Mahadayana 2026 untuk memaksimalkan masa orientasi ini sebagai ruang transisi untuk memahami ekosistem kampus dan membangun karakter sebagai insan akademis. 

Komitmen fakultas dalam membina mahasiswa baru semakin dipertegas melalui arahan Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau memberikan peringatan mutlak bahwa keikutsertaan dalam PKKMB merupakan sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar oleh setiap mahasiswa, bahkan menjadi prasyarat administratif yang krusial hingga tahap penyelesaian skripsi kelak, serta mendorong mahasiswa untuk menyeimbangkan tanggung jawab akademik dengan keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan guna mengasah kepemimpinan  Terkait keamanan lingkungan belajar, beliau juga memberikan penegasan absolut. 

“Fakultas Ilmu Budaya terikat dengan komitmen membangun zona integritas. Kami berkomitmen tidak ada bullying,” tegas beliau. Setelah sesi perkenalan jajaran pimpinan Dekanat, Koordinator Program Studi, Koordinator Unit, dan para Sub Koordinator, beliau resmi membuka acara secara simbolis melalui pemukulan gong dan dibarengi dengan pengalungan nametag kepada perwakilan Mahadayana 2026 dan diikuti oleh seluruh Mahadayana 2026. 

Usai peresmian tersebut, fokus mahasiswa langsung diarahkan pada pembedahan berbagai aspek operasional dan akademik fakultas. Sesi komprehensif yang dipandu oleh Putu Gede Suarya Natha, S.S., M.Hum. selaku moderator ini menghadirkan tiga wakil dekan sebagai narasumber utama.

Pemaparan pertama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Perencanaan, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., yang mengupas tuntas aturan dan kebijakan akademik di FIB Unud. Materi kemudian dilanjutkan oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. Beliau merinci kesiapan fasilitas sarana dan prasarana di kampus Jimbaran maupun Nias, sejalan dengan komitmen fakultas menuju Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI-WBK). Sebagai penutup sesi, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Informasi, Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M.Si., membedah ekosistem kemahasiswaan; memberikan wawasan mengenai lembaga eksekutif dan legislatif mahasiswa, himpunan program studi, hingga ragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan program Kampus Berdampak.

Beranjak dari kebijakan tingkat fakultas, orientasi kemudian dikerucutkan pada pengenalan lingkup akademik yang lebih spesifik. Para mahasiswa baru menerima penjelasan mendalam mengenai profil masing-masing program studi (Prodi) yang dinaungi FIB Unud beserta perkenalan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) sebagai wadah bernaung pertama mereka.

Suasana akademik yang padat tersebut kemudian dicairkan melalui sesi istirahat; di mana panitia menayangkan video interaktif dari gugus 1-5 sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas para Mahadayana. 

Memasuki paruh kedua acara, tensi kegiatan kembali difokuskan pada isu institusional yang krusial melalui pemaparan materi pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Sesi ini mengundang I Gusti Agung Ayu Yuliari, S.E.Ak., M.Si. selaku sekretaris Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Universitas Udayana (UPPK Unud) yang didampingi Putu Dyah Pradnya Paramitha, S.S., M.A. sebagai moderator, . Beliau menegaskan bahwa payung hukum terbaru melalui Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 telah memperluas cakupan perlindungan kampus; yang kini tidak hanya berfokus pada kekerasan seksual, tetapi juga menindak tegas kekerasan fisik, psikis, perundungan, intoleransi, hingga kebijakan yang melanggengkan kekerasan. 

Selanjutnya, beliau menekankan pentingnya keberanian mahasiswa untuk segera melapor apabila melihat, mendengar, atau mengalami tindak kekerasan, mengingat otoritas UPPK tidak dapat memproses penanganan tanpa adanya laporan resmi. Sebagai bentuk manifestasi komitmen dalam menjaga ruang aman, seluruh mahasiswa baru angkatan 2026 juga diwajibkan menyetujui Pakta Integritas, yang diiringi dengan peringatan tegas mengenai sanksi administratif berat, hingga ancaman pemberhentian tetap sebagai mahasiswa kepada siapa pun yang terbukti menjadi pelaku kekerasan. 

Rangkaian hari pertama PKKMB FIB 2026 kemudian ditutup secara resmi melalui perkenalan lembaga kemahasiswaan tingkat fakultas, diantaranya Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (SMFIB) sebagai motor eksekutif dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (BPMFIB) selaku pilar legislatif. Pada sesi pamungkas ini, para perwakilan fungsionaris membedah secara menyeluruh detail struktural organisasi beserta ragam aspek yang dinaungi oleh masing-masing lembaga guna memberikan gambaran utuh bagi para Mahadayana untuk kelak menyalurkan hak aspirasi maupun arah pergerakan mereka di lingkungan kampus. 


Perkuat Kompetensi Profesional: Mahasiswa FIB Unud Ikuti Program Magang Kampus Berdampak di Dinas Kebudayaan Denpasar

 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) resmi melepas 15 mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FIB Unud untuk melaksanakan program Magang Kampus Berdampak di Dinas Kebudayaan Kota Denpasar pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan langkah awal pelaksanaan Magang Kampus Berdampak yang bertujuan memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa melalui keterlibatan di instansi mitra. Pelepasan ini dihadiri oleh Dosen Pendamping dari FIB Unud serta jajaran Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar sebagai pihak penerima mahasiswa.

Rangkaian kegiatan pelepasan diawali dengan penyampaian sambutan oleh jajaran perwakilan Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar. Dalam kesempatan tersebut, pihak instansi mengapresiasi kerja sama yang terjalin erat dengan FIB Unud melalui pelaksanaan Program Magang Kampus Berdampak. Kehadiran para mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi secara nyata dalam mendukung berbagai program pelestarian, pengembangan, sekaligus pemajuan kebudayaan di lingkungan Kota Denpasar. Di samping itu, perwakilan dinas juga berpesan agar mahasiswa senantiasa tanggap beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru, menjunjung tinggi etika profesional, serta menuntaskan setiap penugasan dengan penuh tanggung jawab. 

Pada sesi selanjutnya, sambutan dan arahan turut diberikan oleh I Gusti Ngurah Mayun Susandhika, S.S., M.Hum., selaku Dosen Pendamping Program Magang Kampus Berdampak. Beliau memaparkan bahwa program Magang Kampus Berdampak adalah wujud implementasi kebijakan pembelajaran yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyerap pengalaman nyata di dunia kerja. Melalui penugasan ini, mahasiswa didorong untuk terus mengembangkan kompetensi akademik dan kemampuan profesional, memperluas wawasan, sekaligus mengaplikasikan keilmuan dari bangku perkuliahan secara langsung di lapangan kerja. 

Para mahasiswa program Magang Kampus Berdampak ini berasal dari berbagai program studi di FIB Unud. Keberagaman latar belakang akademik ini diharapkan mampu melahirkan kolaborasi multidisiplin yang solid dalam mendukung program kerja Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar. Pengalaman lintas disiplin ini tidak hanya akan meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga menjadi ajang krusial untuk mengasah kemampuan komunikasi, kerja sama tim, serta pemecahan masalah sebagai bekal karier mahasiswa ke depan. 

Sebagai penutup, pelepasan ini menjadi wujud nyata komitmen FIB Unud dalam menyelenggarakan sistem pembelajaran yang adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan tuntutan dunia kerja. Sinergi antara dunia akademis dan instansi pemerintah ini diharapkan dapat terus terjalin secara berkesinambungan, sehingga memberikan manfaat mutualisme sekaligus berkontribusi nyata pada upaya pelestarian kebudayaan di Kota Denpasar. 

Monday, August 3, 2026

Kupas Dinamika Internasional, Prodi Ilmu Sejarah FIB Unud Gelar Workshop Kajian Wilayah

 


Denpasar - Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) melaksanakan Workshop Kajian Wilayah bertajuk “Area Studies: Concepts, Strategies, and Understanding International Relations for a Better Future” yang terlaksana secara hybrid pada Senin, 3 Agustus 2026.. Bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, workshop ini dihadiri oleh perwakilan dekanat, para dosen dan mahasiswa dari program studi Ilmu Sejarah FIB Unud sebagai wujud komitmen proaktif program studi dalam memperdalam pemahaman aspek kajian wilayah. Workshop ini mengundang beberapa pakar lintas institusi, diantaranya Prof. Dr. Sudarman S.Hum., M.A. dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Ekmel Geçer dari Marmara University Türkiye, serta Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. dari Universitas Udayana.

Mengawali acara, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., berharap agar lokakarya ini mampu memperkaya perspektif analitis sivitas akademika melalui pendekatan komprehensif dan komparatif dalam merespons dinamika global. Senada dengan hal tersebut, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., yang hadir untuk membuka acara secara resmi, memberikan apresiasi atas kehadiran para pakar internasional. Beliau menegaskan bahwa kajian wilayah memiliki urgensi krusial karena menawarkan perspektif holistik yang mencakup irisan sejarah, bahasa, budaya, hingga politik dan dapat menjadi wujud nyata upaya peningkatan kapasitas (capacity building) bagi mahasiswa, dosen, maupun institusi ke depannya.

Memasuki sesi presentasi utama, kajian wilayah mula mula dibedah melalui kacamata sejarah kemaritiman Nusantara. Melalui materi bertajuk "The Cradle of Malay Civilization: A Historical-Anthropological Study of the Cultural Connectivity of Minangkabau and the Malay Peninsula", Prof. Dr. Sudarman, S.Hum., M.A. membahas asal usul peradaban Melayu dan hubungan erat antara Minangkabau dengan Semenanjung Malaya. Beliau menjelaskan bahwa peradaban Nusantara dibentuk oleh gelombang kedatangan Melayu Tua di pedalaman dan Melayu Muda di pesisir, yang kemudian diperkaya oleh arus budaya India, Persia, Cina, dan Eropa. Persebaran budaya ini didorong oleh tradisi merantau masyarakat Minangkabau sejak akhir abad ke 17. Dalam konteks ini, Selat Malaka berperan penting sebagai jalan raya peradaban yang membuktikan bahwa identitas Melayu terbentuk dari sebuah jaringan maritim yang dinamis.  

Melengkapi tinjauan historis tersebut, perbincangan bergeser pada pentingnya konektivitas sosial masyarakat melalui pendekatan psikologi. Membawakan ulasan bertajuk "Finding Flourishing in Community: Cultural Values, and Psycho-Social Well-Being in Turkish Collectivism", Prof. Ekmel Geçer menyoroti urgensi kesejahteraan psikologis kolektif. Beliau menegaskan bahwa kebahagiaan manusia sangat bergantung pada kualitas hubungan sosialnya. Lingkungan yang suportif dan aman secara psikologis sangat dibutuhkan mulai dari tingkat keluarga hingga negara. Berbagai studi membuktikan bahwa ikatan sosial yang kuat serta kebiasaan saling membantu dapat menurunkan stres dan memperpanjang usia. Untuk menghadapi tantangan era digital saat ini, beliau juga menyarankan agar orang tua membatasi penggunaan gawai pada anak dan lebih mengutamakan interaksi nyata yang berlandaskan empati. 

Pemahaman mengenai dinamika masyarakat ini kemudian diperluas ke dalam konteks tata dunia global dengan menilik perkembangan multikulturalisme di Eropa. Lewat presentasi berjudul "European Area Studies: Understanding multicultural societies in the context of enhancing human well-being and dignity", Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. memaparkan kembali pentingnya disiplin Kajian Wilayah untuk memetakan situasi perpolitikan internasional. Berdasarkan hasil risetnya, beliau menyoroti tantangan multikulturalisme di Jerman yang banyak dipengaruhi oleh tingginya arus migrasi pekerja dari Turki sejak tahun 1961. Prof. Ardhana lantas membandingkan karakteristik masyarakat multikultural di negara Eropa tersebut dengan kondisi kerukunan di Asia Tenggara. Beliau menyimpulkan bahwa pemahaman komprehensif mengenai sejarah Eropa merupakan kunci penting bagi sivitas akademika untuk menganalisis berbagai persoalan sosial yang sedang melanda dunia saat ini. 

Rangkaian presentasi dari ketiga narasumber sukses memantik antusiasme dari para peserta. Hal ini terlihat secara nyata pada sesi diskusi interaktif, di mana perwakilan dosen dan mahasiswa melontarkan beragam pertanyaan kritis terkait sejarah perdagangan maritim Nusantara, tantangan pengasuhan anak di era digital, hingga relevansi historis kajian Eropa dalam merespons konflik global kontemporer. Lokakarya Kajian Wilayah ini kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat apresiasi kepada ketiga pakar atas kontribusi keilmuan yang telah diberikan. 

Melalui penyelenggaraan lokakarya ini, Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unud berharap agar diskursus mengenai Kajian Wilayah tidak sekadar berhenti pada tataran teoretis di ruang kelas. Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak cendekiawan muda yang tidak hanya kritis dalam membedah sejarah, tetapi juga memiliki kepekaan empati dan wawasan lintas budaya yang mumpuni dalam merespons dinamika perpolitikan global. Ke depannya, perspektif holistik ini diyakini akan menjadi bekal krusial bagi sivitas akademika dalam berkontribusi membangun peradaban dan tata masyarakat dunia yang lebih baik.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Menerima Siswa dan Tim Kanto International Senior High School dalam Pembukaan Cultural Visit Program


 Senin, 3 Agustus 2025, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menggelar Pembukaan Cultural Visit Program Kanto International Senior High School yang bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Denpasar. Kegiatan ini sekaligus menyambut tiga siswa yang berpartisipasi, pendamping, serta segenap panitia.

Pada program cultural visit ini, para siswa akan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari budaya Bali dan Indonesia secara langsung dan berdampingan dengan masing-masing host family. Melalui sambutannya, koordinator program studi Sastra Indonesia, Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. mengungkapkan bahwa bagi program studi Sastra Indonesia sendiri,  kegiatan ini merupakan upaya untuk mempererat kerja sama internasional sekaligus memperkenalkan budaya Bali dan Indonesia kepada mitra dari luar negeri. Beliau menambahkan, pertukaran budaya semacam ini merupakan hal yang memiliki manfaat yang besar, di mana persahabatan serta perasaan saling memahami dan menghormati dapat tumbuh di antara generasi muda Jepang dan Indonesia. Diharapkan melalui acara ini, para siswa dapat belajar tentang Indonesia secara langsung dan merasakan suasana akademik dan keramahannya, bukan melalui buku dan layar gawai semata.


Acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Kanto International Senior High School, Ibu Yumiko Cecilia Horas. Dalam pidatonya, beliau menyatakan keberhasilannya dalam memenuhi janji untuk kembali membawa siswa melalui program ini, yang memungkinkan dengan dukungan dari Dekan dan kerja sama FIB Universitas Udayana. Kanto International Senior High School merupakan sekolah menengah atas swasta di Jepang yang membuka jurusan Bahasa Indonesia pada tahun 2007. Sejak pendiriannya, jurusan ini menyelenggarakan program latihan lapangan di Indonesia, khususnya di Bali, di mana para siswa akan berkegiatan di dalam dan luar kampus. Salah satu keistimewaan dari program ini adalah di mana para siswa dapat tinggal bersama dengan keluarga dari SMA Santo Yoseph untuk mengenal lebih dekat keseharian masyarakat Indonesia. Beliau menyampaikan terima kasih kepada Universitas Udayana dan keluarga yang telah menerima para siswa dari Jepang. Sambutan ditutup dengan harapan bahwa hubungan harmonis yang telah terjalin tidak berhenti, dan program ini dapat berjalan lancar serta membawa kebahagiaan.


Sambutan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. menyampaikan terima kasih atas kehadiran beliau, para siswa, pendamping, dan segenap tim. Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Beliau. menyampaikan bahwa program ini merupakan kegiatan yang penting tidak hanya bagi Kanto International Senior High School, namun juga bagi Program Studi Sastra Indonesia. Program studi Sastra Indonesia terakreditasi internasional serta memiliki sumber daya yang bagus. Program Cultural Visit akan membantu visibilitas bagi program studi tersebut karena bekerja sama dengan Kanto International Senior High School. Hal ini tentu akan berdampak bagi para siswa, karena akan berada di antara para pengajar yang mumpuni. Menurut beliau, kendati Bali dan Jepang memiliki kemiripan nilai-nilai yang dianut, namun terdapat beberapa perbedaan. Para siswa akan mempelajari secara langsung budaya Bali dan Indonesia dengan tinggal bersama host family, serta mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia dari FIB Universitas Udayana. Di penghujung sambutan, beliau secara resmi membuka program cultural visit ini. Kegiatan pembukaan ini ditutup dengan sesi pengenalan, dimana para siswa bertemu dengan masing-masing host family, dilanjutkan dengan campus tour di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.


FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...