Thursday, August 6, 2026

Harmoni Awal Mahadayana: PKKMB FIB 2026 Selaraskan Ekosistem dan Ruang Aman Kampus

 


Denpasar, 6 Agustus 2026 – Lembaran baru para Mahadayana (Mahasiswa Ilmu Budaya Udayana) resmi dimulai melalui PKKMB FIB 2026 (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Budaya 2026). Rangkaian hari pertama orientasi ini bertujuan untuk mengakselerasi adaptasi mahasiswa baru terhadap ekosistem fakultas; yang mencakup pemahaman sistem akademik, pengenalan pimpinan dan lembaga kemahasiswaan, hingga edukasi pencegahan kekerasan di perguruan tinggi. Kegiatan terlaksana di Auditorium Widya Sabha Mandala dan Ruang Baca, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud serta diikuti oleh 460 mahasiswa baru dan 16 mahasiswa lama. Orientasi ini dihadiri oleh seluruh unsur pimpinan dari lingkungan FIB Unud.

Sebagai langkah awal pembukaan acara, Taufik Agus Purnomo, S.Pd., M.A. selaku Ketua Umum PKKMB FIB 2026 melaporkan bahwa masa pengenalan tahun ini diikuti oleh 460 mahasiswa baru dan 16 mahasiswa lama, dengan mengusung komitmen lingkungan yang positif. “Kegiatan ini mengedepankan nilai-nilai edukatif, humanis, inklusif, aman, bebas dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun perpeloncoan” ucap beliau. Semangat tersebut disambut dan diteruskan oleh Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (SMFIB Unud), I Putu Gede Lion Ojasvin Putra Barata, yang mengajak para Mahadayana 2026 untuk memaksimalkan masa orientasi ini sebagai ruang transisi untuk memahami ekosistem kampus dan membangun karakter sebagai insan akademis. 

Komitmen fakultas dalam membina mahasiswa baru semakin dipertegas melalui arahan Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau memberikan peringatan mutlak bahwa keikutsertaan dalam PKKMB merupakan sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar oleh setiap mahasiswa, bahkan menjadi prasyarat administratif yang krusial hingga tahap penyelesaian skripsi kelak, serta mendorong mahasiswa untuk menyeimbangkan tanggung jawab akademik dengan keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan guna mengasah kepemimpinan  Terkait keamanan lingkungan belajar, beliau juga memberikan penegasan absolut. 

“Fakultas Ilmu Budaya terikat dengan komitmen membangun zona integritas. Kami berkomitmen tidak ada bullying,” tegas beliau. Setelah sesi perkenalan jajaran pimpinan Dekanat, Koordinator Program Studi, Koordinator Unit, dan para Sub Koordinator, beliau resmi membuka acara secara simbolis melalui pemukulan gong dan dibarengi dengan pengalungan nametag kepada perwakilan Mahadayana 2026 dan diikuti oleh seluruh Mahadayana 2026. 

Usai peresmian tersebut, fokus mahasiswa langsung diarahkan pada pembedahan berbagai aspek operasional dan akademik fakultas. Sesi komprehensif yang dipandu oleh Putu Gede Suarya Natha, S.S., M.Hum. selaku moderator ini menghadirkan tiga wakil dekan sebagai narasumber utama.

Pemaparan pertama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Perencanaan, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., yang mengupas tuntas aturan dan kebijakan akademik di FIB Unud. Materi kemudian dilanjutkan oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. Beliau merinci kesiapan fasilitas sarana dan prasarana di kampus Jimbaran maupun Nias, sejalan dengan komitmen fakultas menuju Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI-WBK). Sebagai penutup sesi, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Informasi, Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M.Si., membedah ekosistem kemahasiswaan; memberikan wawasan mengenai lembaga eksekutif dan legislatif mahasiswa, himpunan program studi, hingga ragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan program Kampus Berdampak.

Beranjak dari kebijakan tingkat fakultas, orientasi kemudian dikerucutkan pada pengenalan lingkup akademik yang lebih spesifik. Para mahasiswa baru menerima penjelasan mendalam mengenai profil masing-masing program studi (Prodi) yang dinaungi FIB Unud beserta perkenalan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) sebagai wadah bernaung pertama mereka.

Suasana akademik yang padat tersebut kemudian dicairkan melalui sesi istirahat; di mana panitia menayangkan video interaktif dari gugus 1-5 sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas para Mahadayana. 

Memasuki paruh kedua acara, tensi kegiatan kembali difokuskan pada isu institusional yang krusial melalui pemaparan materi pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Sesi ini mengundang I Gusti Agung Ayu Yuliari, S.E.Ak., M.Si. selaku sekretaris Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Universitas Udayana (UPPK Unud) yang didampingi Putu Dyah Pradnya Paramitha, S.S., M.A. sebagai moderator, . Beliau menegaskan bahwa payung hukum terbaru melalui Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 telah memperluas cakupan perlindungan kampus; yang kini tidak hanya berfokus pada kekerasan seksual, tetapi juga menindak tegas kekerasan fisik, psikis, perundungan, intoleransi, hingga kebijakan yang melanggengkan kekerasan. 

Selanjutnya, beliau menekankan pentingnya keberanian mahasiswa untuk segera melapor apabila melihat, mendengar, atau mengalami tindak kekerasan, mengingat otoritas UPPK tidak dapat memproses penanganan tanpa adanya laporan resmi. Sebagai bentuk manifestasi komitmen dalam menjaga ruang aman, seluruh mahasiswa baru angkatan 2026 juga diwajibkan menyetujui Pakta Integritas, yang diiringi dengan peringatan tegas mengenai sanksi administratif berat, hingga ancaman pemberhentian tetap sebagai mahasiswa kepada siapa pun yang terbukti menjadi pelaku kekerasan. 

Rangkaian hari pertama PKKMB FIB 2026 kemudian ditutup secara resmi melalui perkenalan lembaga kemahasiswaan tingkat fakultas, diantaranya Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (SMFIB) sebagai motor eksekutif dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (BPMFIB) selaku pilar legislatif. Pada sesi pamungkas ini, para perwakilan fungsionaris membedah secara menyeluruh detail struktural organisasi beserta ragam aspek yang dinaungi oleh masing-masing lembaga guna memberikan gambaran utuh bagi para Mahadayana untuk kelak menyalurkan hak aspirasi maupun arah pergerakan mereka di lingkungan kampus. 


Perkuat Kompetensi Profesional: Mahasiswa FIB Unud Ikuti Program Magang Kampus Berdampak di Dinas Kebudayaan Denpasar

 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) resmi melepas 15 mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FIB Unud untuk melaksanakan program Magang Kampus Berdampak di Dinas Kebudayaan Kota Denpasar pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan langkah awal pelaksanaan Magang Kampus Berdampak yang bertujuan memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa melalui keterlibatan di instansi mitra. Pelepasan ini dihadiri oleh Dosen Pendamping dari FIB Unud serta jajaran Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar sebagai pihak penerima mahasiswa.

Rangkaian kegiatan pelepasan diawali dengan penyampaian sambutan oleh jajaran perwakilan Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar. Dalam kesempatan tersebut, pihak instansi mengapresiasi kerja sama yang terjalin erat dengan FIB Unud melalui pelaksanaan Program Magang Kampus Berdampak. Kehadiran para mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi secara nyata dalam mendukung berbagai program pelestarian, pengembangan, sekaligus pemajuan kebudayaan di lingkungan Kota Denpasar. Di samping itu, perwakilan dinas juga berpesan agar mahasiswa senantiasa tanggap beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru, menjunjung tinggi etika profesional, serta menuntaskan setiap penugasan dengan penuh tanggung jawab. 

Pada sesi selanjutnya, sambutan dan arahan turut diberikan oleh I Gusti Ngurah Mayun Susandhika, S.S., M.Hum., selaku Dosen Pendamping Program Magang Kampus Berdampak. Beliau memaparkan bahwa program Magang Kampus Berdampak adalah wujud implementasi kebijakan pembelajaran yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyerap pengalaman nyata di dunia kerja. Melalui penugasan ini, mahasiswa didorong untuk terus mengembangkan kompetensi akademik dan kemampuan profesional, memperluas wawasan, sekaligus mengaplikasikan keilmuan dari bangku perkuliahan secara langsung di lapangan kerja. 

Para mahasiswa program Magang Kampus Berdampak ini berasal dari berbagai program studi di FIB Unud. Keberagaman latar belakang akademik ini diharapkan mampu melahirkan kolaborasi multidisiplin yang solid dalam mendukung program kerja Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar. Pengalaman lintas disiplin ini tidak hanya akan meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga menjadi ajang krusial untuk mengasah kemampuan komunikasi, kerja sama tim, serta pemecahan masalah sebagai bekal karier mahasiswa ke depan. 

Sebagai penutup, pelepasan ini menjadi wujud nyata komitmen FIB Unud dalam menyelenggarakan sistem pembelajaran yang adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan tuntutan dunia kerja. Sinergi antara dunia akademis dan instansi pemerintah ini diharapkan dapat terus terjalin secara berkesinambungan, sehingga memberikan manfaat mutualisme sekaligus berkontribusi nyata pada upaya pelestarian kebudayaan di Kota Denpasar. 

Monday, August 3, 2026

Kupas Dinamika Internasional, Prodi Ilmu Sejarah FIB Unud Gelar Workshop Kajian Wilayah

 


Denpasar - Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) melaksanakan Workshop Kajian Wilayah bertajuk “Area Studies: Concepts, Strategies, and Understanding International Relations for a Better Future” yang terlaksana secara hybrid pada Senin, 3 Agustus 2026.. Bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, workshop ini dihadiri oleh perwakilan dekanat, para dosen dan mahasiswa dari program studi Ilmu Sejarah FIB Unud sebagai wujud komitmen proaktif program studi dalam memperdalam pemahaman aspek kajian wilayah. Workshop ini mengundang beberapa pakar lintas institusi, diantaranya Prof. Dr. Sudarman S.Hum., M.A. dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Ekmel Geçer dari Marmara University Türkiye, serta Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. dari Universitas Udayana.

Mengawali acara, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., berharap agar lokakarya ini mampu memperkaya perspektif analitis sivitas akademika melalui pendekatan komprehensif dan komparatif dalam merespons dinamika global. Senada dengan hal tersebut, Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., yang hadir untuk membuka acara secara resmi, memberikan apresiasi atas kehadiran para pakar internasional. Beliau menegaskan bahwa kajian wilayah memiliki urgensi krusial karena menawarkan perspektif holistik yang mencakup irisan sejarah, bahasa, budaya, hingga politik dan dapat menjadi wujud nyata upaya peningkatan kapasitas (capacity building) bagi mahasiswa, dosen, maupun institusi ke depannya.

Memasuki sesi presentasi utama, kajian wilayah mula mula dibedah melalui kacamata sejarah kemaritiman Nusantara. Melalui materi bertajuk "The Cradle of Malay Civilization: A Historical-Anthropological Study of the Cultural Connectivity of Minangkabau and the Malay Peninsula", Prof. Dr. Sudarman, S.Hum., M.A. membahas asal usul peradaban Melayu dan hubungan erat antara Minangkabau dengan Semenanjung Malaya. Beliau menjelaskan bahwa peradaban Nusantara dibentuk oleh gelombang kedatangan Melayu Tua di pedalaman dan Melayu Muda di pesisir, yang kemudian diperkaya oleh arus budaya India, Persia, Cina, dan Eropa. Persebaran budaya ini didorong oleh tradisi merantau masyarakat Minangkabau sejak akhir abad ke 17. Dalam konteks ini, Selat Malaka berperan penting sebagai jalan raya peradaban yang membuktikan bahwa identitas Melayu terbentuk dari sebuah jaringan maritim yang dinamis.  

Melengkapi tinjauan historis tersebut, perbincangan bergeser pada pentingnya konektivitas sosial masyarakat melalui pendekatan psikologi. Membawakan ulasan bertajuk "Finding Flourishing in Community: Cultural Values, and Psycho-Social Well-Being in Turkish Collectivism", Prof. Ekmel Geçer menyoroti urgensi kesejahteraan psikologis kolektif. Beliau menegaskan bahwa kebahagiaan manusia sangat bergantung pada kualitas hubungan sosialnya. Lingkungan yang suportif dan aman secara psikologis sangat dibutuhkan mulai dari tingkat keluarga hingga negara. Berbagai studi membuktikan bahwa ikatan sosial yang kuat serta kebiasaan saling membantu dapat menurunkan stres dan memperpanjang usia. Untuk menghadapi tantangan era digital saat ini, beliau juga menyarankan agar orang tua membatasi penggunaan gawai pada anak dan lebih mengutamakan interaksi nyata yang berlandaskan empati. 

Pemahaman mengenai dinamika masyarakat ini kemudian diperluas ke dalam konteks tata dunia global dengan menilik perkembangan multikulturalisme di Eropa. Lewat presentasi berjudul "European Area Studies: Understanding multicultural societies in the context of enhancing human well-being and dignity", Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A. memaparkan kembali pentingnya disiplin Kajian Wilayah untuk memetakan situasi perpolitikan internasional. Berdasarkan hasil risetnya, beliau menyoroti tantangan multikulturalisme di Jerman yang banyak dipengaruhi oleh tingginya arus migrasi pekerja dari Turki sejak tahun 1961. Prof. Ardhana lantas membandingkan karakteristik masyarakat multikultural di negara Eropa tersebut dengan kondisi kerukunan di Asia Tenggara. Beliau menyimpulkan bahwa pemahaman komprehensif mengenai sejarah Eropa merupakan kunci penting bagi sivitas akademika untuk menganalisis berbagai persoalan sosial yang sedang melanda dunia saat ini. 

Rangkaian presentasi dari ketiga narasumber sukses memantik antusiasme dari para peserta. Hal ini terlihat secara nyata pada sesi diskusi interaktif, di mana perwakilan dosen dan mahasiswa melontarkan beragam pertanyaan kritis terkait sejarah perdagangan maritim Nusantara, tantangan pengasuhan anak di era digital, hingga relevansi historis kajian Eropa dalam merespons konflik global kontemporer. Lokakarya Kajian Wilayah ini kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat apresiasi kepada ketiga pakar atas kontribusi keilmuan yang telah diberikan. 

Melalui penyelenggaraan lokakarya ini, Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unud berharap agar diskursus mengenai Kajian Wilayah tidak sekadar berhenti pada tataran teoretis di ruang kelas. Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak cendekiawan muda yang tidak hanya kritis dalam membedah sejarah, tetapi juga memiliki kepekaan empati dan wawasan lintas budaya yang mumpuni dalam merespons dinamika perpolitikan global. Ke depannya, perspektif holistik ini diyakini akan menjadi bekal krusial bagi sivitas akademika dalam berkontribusi membangun peradaban dan tata masyarakat dunia yang lebih baik.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Menerima Siswa dan Tim Kanto International Senior High School dalam Pembukaan Cultural Visit Program


 Senin, 3 Agustus 2025, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menggelar Pembukaan Cultural Visit Program Kanto International Senior High School yang bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Denpasar. Kegiatan ini sekaligus menyambut tiga siswa yang berpartisipasi, pendamping, serta segenap panitia.

Pada program cultural visit ini, para siswa akan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari budaya Bali dan Indonesia secara langsung dan berdampingan dengan masing-masing host family. Melalui sambutannya, koordinator program studi Sastra Indonesia, Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. mengungkapkan bahwa bagi program studi Sastra Indonesia sendiri,  kegiatan ini merupakan upaya untuk mempererat kerja sama internasional sekaligus memperkenalkan budaya Bali dan Indonesia kepada mitra dari luar negeri. Beliau menambahkan, pertukaran budaya semacam ini merupakan hal yang memiliki manfaat yang besar, di mana persahabatan serta perasaan saling memahami dan menghormati dapat tumbuh di antara generasi muda Jepang dan Indonesia. Diharapkan melalui acara ini, para siswa dapat belajar tentang Indonesia secara langsung dan merasakan suasana akademik dan keramahannya, bukan melalui buku dan layar gawai semata.


Acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Kanto International Senior High School, Ibu Yumiko Cecilia Horas. Dalam pidatonya, beliau menyatakan keberhasilannya dalam memenuhi janji untuk kembali membawa siswa melalui program ini, yang memungkinkan dengan dukungan dari Dekan dan kerja sama FIB Universitas Udayana. Kanto International Senior High School merupakan sekolah menengah atas swasta di Jepang yang membuka jurusan Bahasa Indonesia pada tahun 2007. Sejak pendiriannya, jurusan ini menyelenggarakan program latihan lapangan di Indonesia, khususnya di Bali, di mana para siswa akan berkegiatan di dalam dan luar kampus. Salah satu keistimewaan dari program ini adalah di mana para siswa dapat tinggal bersama dengan keluarga dari SMA Santo Yoseph untuk mengenal lebih dekat keseharian masyarakat Indonesia. Beliau menyampaikan terima kasih kepada Universitas Udayana dan keluarga yang telah menerima para siswa dari Jepang. Sambutan ditutup dengan harapan bahwa hubungan harmonis yang telah terjalin tidak berhenti, dan program ini dapat berjalan lancar serta membawa kebahagiaan.


Sambutan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. menyampaikan terima kasih atas kehadiran beliau, para siswa, pendamping, dan segenap tim. Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Beliau. menyampaikan bahwa program ini merupakan kegiatan yang penting tidak hanya bagi Kanto International Senior High School, namun juga bagi Program Studi Sastra Indonesia. Program studi Sastra Indonesia terakreditasi internasional serta memiliki sumber daya yang bagus. Program Cultural Visit akan membantu visibilitas bagi program studi tersebut karena bekerja sama dengan Kanto International Senior High School. Hal ini tentu akan berdampak bagi para siswa, karena akan berada di antara para pengajar yang mumpuni. Menurut beliau, kendati Bali dan Jepang memiliki kemiripan nilai-nilai yang dianut, namun terdapat beberapa perbedaan. Para siswa akan mempelajari secara langsung budaya Bali dan Indonesia dengan tinggal bersama host family, serta mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia dari FIB Universitas Udayana. Di penghujung sambutan, beliau secara resmi membuka program cultural visit ini. Kegiatan pembukaan ini ditutup dengan sesi pengenalan, dimana para siswa bertemu dengan masing-masing host family, dilanjutkan dengan campus tour di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.


Friday, July 24, 2026

Promosi Doktor FIB Unud Ungkap Dinamika Identitas Gender dalam Fotografi Kontemporer di Bali

 


Dr. Cokorda Istri Puspawati Nindhia, S.E., S.Sn., M.Sn. bergabung sebagai Doktor terbaru dari Program Studi S3 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana pada Jumat, 24 Juli 2026 lalu usai melalui sidang terbuka promosi Doktor yang bertempat di Ruang Sidang Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, FIB Unud. Promovenda berhasil menjadi Doktor ke-288 di FIB Universitas Udayana serta ke-307 dengan predikat sangat memuaskan pada Program Studi S3 Kajian Budaya dengan judul disertasi Manipulasi Identitas Gender dalam Dunia Fotografi Kontemporer di Bali. Dalam disertasinya, Promovenda mengangkat isu fotografi kontemporer di Bali yang menampilkan objek potret yang menentang tatanan tradisional gender.


Dalam sidang Ujian Terbuka ini, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. berperan sebagai Ketua. Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. merupakan Promotor, dan didampingi oleh Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A. sebagai Ko-Promotor I dan Prof. Dr. Dra. Luh Putu Puspawati, M.Hum. sebagai Ko-Promotor II. Jajaran tim penilai sekaligus penguji adalah Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A., Dr. I Gusti Agung Ayu Mas Triadnyani, S.S., M.Hum., Dr. I Wayan Nuriarta, S.Pd., M.Sn., dan Dr. I Made Marajaya, SSP., M.Si..


Promovenda mengartikan manipulasi identitas gender bukan sebagai manipulasi dalam makna sesungguhnya, namun sebagai sesuatu yang mengubah kode-kode gender dalam masyarakat. Dalam hal fotografi, manipulasi ini secara sengaja dilakukan guna kepentingan seni dan komoditas komersial. Gender dalam fotografi telah mengalami pergeseran dari sesuatu yang ditampilkan secara tetap di hadapan lensa menjadi suatu hal yang dapat ditata ulang melalui alat lensa tersebut. Manipulasi dalam fotografi ini memiliki cakupan yang melampaui proses teknis. Turut terjadi pula manipulasi simbolik, yang merujuk kepada bagaimana identitas gender ini ditampilkan dan diartikan. Lebih lanjut, Promovenda membagi bentuk manipulasi identitas gender dalam fotografi kontemporer di Bali ini menjadi tiga bagian, dimulai dari konstruksi identitas wajah yang berfokus pada bagaimana wajah asli mendapat tampilan yang baru melalui teknik masquerade. Bentuk kedua ialah konstruksi identitas pose. Bentuk ini menitikberatkan pada gestur feminim yang diperankan oleh laki-laki. Konstruksi identitas fashion merupakan bentuk terakhir di mana jenis pakaian yang identik dengan perempuan dikenakan oleh laki-laki. Promovenda dalam disertasinya mengungkapkan ketiga bentuk tersebut sebagai pemahaman bahwa identitas gender merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dan ditampilkan secara berbeda dari pemahaman yang lumrah beredar.


Pada  karya fotografi, manipulasi identitas gender  ini dianggap menarik perhatian publik dan bernilai ekonomi, yang kemudian menjadi salah satu faktor pendorong praktik tersebut. Faktor selanjutnya adalah hegemoni heteronormatif. Dalam faktor ini, batas-batas representasi gender dipertanyakan melalui representasi yang memisahkan tubuh dan identitas gender. Kemudian, muncul resistensi kultural yang menjadi faktor ketiga dalam praktik manipulasi identitas gender ini dalam fotografi kontemporer di Bali.


Kendati dianggap bernilai komersial dan dapat menjadi sebuah resistensi, praktik ini berimbas pada marginalisasi keberadaan perempuan yang disebabkan pergantian peran yang dimilikinya oleh laki-laki. Selain itu, promovenda dalam disertasinya menyebutkan bahwa reproduksi visual yang berulang berkontribusi dalam lahirnya mitos akan tubuh ideal dan standar kecantikan. Hal ini menjadikan standar tersebut semakin bersifat artifisial. Atas kontradiksi ini, promovenda menilai praktik manipulasi identitas gender dalam fotografi kontemporer di Bali sebagai sesuatu yang ambivalen.


Promovenda mengungkapkan dua temuan dalam studinya. Pertama, manipulasi identitas gender di Bali ini tidak serta merta muncul dengan sendirinya, namun merupakan lanjutan performatif intermedial dari tradisi seni pertunjukan di Bali. Temuan kedua, promovenda mengemukakan bahwa manipulasi identitas gender dapat terjadi di Bali disebabkan oleh habitus keterbukaan budaya. Bali yang mengalami interaksi dengan budaya asing, pertumbuhan industri kreatif, serta perkembangan pariwisata menumbuhkan penerimaan akan keberagaman sebagai bentuk seni. 


Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai manipulasi identitas gender ini belum pernah diangkat dalam disertasi pada Program Studi S3 Kajian Budaya FIB Universitas Udayana. Atas keberhasilan Promovenda dalam menyelesaikan studinya, beliau menyampaikan sukacita dan selamat. Menutup sidang Ujian Terbuka pada Jumat 24 Juli 2026, Promovenda mengucapkan terima kasih kepada segenap keluarga, tim promotor, ketua sidang, tim penguji dan penilai, serta rekan-rekan yang turut hadir dalam sidang tersebut.



Thursday, July 23, 2026

Fakultas Ilmu Budaya Unud Gelar FReTalk: Dorong Diseminasi Riset Dosen Melalui Kajian Etnisitas NTT dan Metafora Konseptual

 


DENPASAR – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan iklim akademik secara konsisten dengan menggelar forum ilmiah bertajuk FIB Research Talk (FReTalk) yang bertujuan memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas penelitian dosen, serta memperluas ruang diskusi lintas disiplin di lingkungan FIB Universitas Udayana. Kegiatan pemaparan hasil riset ini diselenggarakan pada hari Kamis, 23 Juli 2026, pukul 10.00 - selesai, dan mengambil tempat di Ruang Priyono, FIB Universitas Udayana. Rangkaian acara ini diselenggarakan oleh UP2M Fakultas Ilmu Budaya dengan Koordinator Unit UP2M Fakultas Ilmu Budaya yaitu Dr. Ngurah Indra Pradhana, S.S., M.A. Kegiatan FReTalk ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Acara ini dihadiri pula oleh para pimpinan fakultas, Ketua Senat, Koordinator Program Studi, Guru Besar, dan dosen di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Dalam kata sambutannya, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. menekankan pentingnya inisiatif fakultas dalam memfasilitasi percepatan diseminasi hasil penelitian doktoral (S3) para staf pengajarnya. Beliau menegaskan bahwa acara ini didesain secara khusus agar murni berbasis riset (research-based). Lebih lanjut, Dekan FIB Unud sangat mendorong para akademisi muda di lingkungan kampus untuk terus proaktif mengisi ruang ilmiah serupa. Dekan FIB menegaskan bahwa forum ilmiah seperti FReTalk menjadi wadah strategis untuk membangun atmosfer akademik yang produktif, memperkuat kolaborasi antar disiplin ilmu, serta meningkatkan kualitas luaran penelitian yang memiliki dampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun masyarakat.

Memasuki sesi inti, materi pada sesi pertama dibawakan oleh Dr. Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo, S.S., M.Hum. dengan mengusung topik "Identitas dan Etnisitas di Nusa Tenggara Timur dalam Konteks Keindonesiaan". Dr. Fransiska memaparkan bahwa konsep identitas masyarakat NTT sangat dinamis, yang dibentuk oleh perjalanan sejarah panjang mulai dari era kerajaan-kerajaan lokal, dominasi Portugis dan Belanda, hingga misi penyebaran agama Kristen dan Katolik. Salah satu sorotan menarik dari riset beliau adalah kuatnya pertahanan adat etnis Sumba saat bermigrasi ke Bali. Tidak seperti beberapa etnis pendatang lainnya, sebagian besar masyarakat Sumba yang meninggal dunia di Bali tidak dimakamkan di perantauan, melainkan jenazahnya secara wajib akan dibawa pulang ke tanah kelahirannya demi mematuhi tradisi adat. Diskusi menyoroti pentingnya pendekatan humaniora dalam memahami keberagaman budaya sebagai fondasi penguatan persatuan nasional. Sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif mengupas sejarah berdirinya Ikatan Keluarga Besar (IKB) Flobamora di Bali. Organisasi paguyuban yang awalnya dirintis dari sebuah kegiatan arisan silang antar etnis tersebut, kini telah bertransformasi menjadi sistem pendukung yang vital dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi masyarakat perantauan NTT.

Sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan analisis linguistik kognitif oleh Dr. Ni Made Ayu Widiastuti, S.S., M.Hum. bertajuk "Metafora Konseptual: Konsep, Teori dan Metode". Dr. Ayu meluruskan pandangan umum dengan menjelaskan bahwa metafora konseptual tidak sekadar terbatas pada gaya bahasa semata. Berpegang teguh pada teori dasar Lakoff dan Johnson (1980), ia menjabarkan bahwa metafora adalah mekanisme kognitif manusia dalam memahami konsep-konsep abstrak (ranah target) melalui hal-hal yang lebih nyata dan konkret (ranah sumber). Dalam menjabarkan hasil penelitiannya, Dr. Ayu menggunakan metode campuran (kualitatif dan kuantitatif) berskala besar dengan mengekstraksi data korpus bahasa Indonesia. Menggunakan bantuan program statistik serta package heavier, riset ini berhasil memetakan ribuan data ungkapan linguistik untuk menganalisis bagaimana para penutur mengonseptualisasikan ragam emosi mereka, seperti kata "ketakutan", "kepanikan", hingga "keresahan". Hasil olah data statistik tersebut kemudian melahirkan prototipe metafora konseptual mengenai tahapan emosi seseorang.

Hadirnya forum FIB Research Talk ini membuktikan bahwa diskursus akademik lintas bidang keilmuan dapat disajikan secara menarik dan berbobot, sekaligus mempertegas langkah Universitas Udayana sebagai institusi riset yang unggul. Melalui penyelenggaraan FIB Research Talk (FReTalk), Dekan FIB Universitas Udayana berharap forum ini dapat menjadi agenda akademik yang berkelanjutan untuk mendorong lahirnya penelitian berkualitas, memperkuat jejaring kolaborasi antar peneliti, serta meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi. Kegiatan ini juga diharapkan mendukung pencapaian visi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dalam pengembangan ilmu-ilmu humaniora, bahasa, sastra, dan budaya di tingkat nasional maupun internasional.


Wednesday, July 22, 2026

Paradoks Moralitas di Jalan Raya: Dosen ISI Bali Sukses Raih Gelar Doktor Kajian Budaya FIB Unud


Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) kembali melahirkan doktor baru melalui Sidang Ujian Terbuka yang terlaksana pada hari Kamis 23 Juli 2026 dan bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud. Momen perayaan akademik yang berlangsung khidmat ini turut disaksikan secara langsung oleh pihak keluarga, kolega sejawat dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, serta rekan-rekan mahasiswa seangkatan S3 yang hadir untuk memberikan dukungan penuh.  Promovenda atas nama Ida Ayu Dwita Krisna Ari, S.Sn., M.Sn. yang sekaligus merupakan dosen program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Bali berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Representasi Perempuan dalam Wacana Lukisan Bak Truk di Bali”. Promovenda meraih predikat “Sangat Memuaskan” serta menjadi Doktor ke-287 di FIB Unud dan doktor ke-306 di program studi Doktor Kajian Budaya FIB Unud.

Sidang Ujian Terbuka ini dipimpin oleh Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. Beliau didampingi oleh Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A. selaku promotor, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. selaku kopromotor 1, dan Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum. selaku kopromotor 2. Adapun penguji pada Sidang Ujian Terbuka kali ini diantaranya Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., dan Dr. Ni Luh Putu Ari Sulatri, S.S., M.Hum. Guna menguji kebaruan riset secara objektif, sidang ujian terbuka ini turut menghadirkan dua penguji eksternal dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, yakni Dr. Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun, S.Sn., S.H., M.Hum. dan Dr. Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi, S.Sn., M.Erg.

Latar belakang penyusunan disertasi ini didasarkan pada fenomena lukisan bak truk di Bali yang cenderung dipandang oleh masyarakat umum sekadar sebagai hiburan jalanan yang lucu dan spontan. Padahal, di balik bentuk visual yang tampak sederhana, praktik wacana budaya tersebut sesungguhnya menyimpan makna mendalam mengenai representasi identitas, kelas sosial, humor, hingga ideologi yang dinegosiasikan. Secara akademis, terdapat kesenjangan kajian yang selama ini kerap mengabaikan dimensi ideologis dan relasi kuasa di balik praktik estetika jalanan tersebut. Teks verbal maupun teks visual yang dihadirkan pada bak truk pada dasarnya tidak pernah bersifat netral, melainkan beroperasi aktif sebagai ruang diskursif bergerak yang memproduksi, menaturalisasi, serta menyebarkan wacana bias gender terkait tubuh perempuan.  

Untuk membedah persoalan tersebut secara komprehensif, penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan mengintegrasikan landasan teoretis Kajian Budaya secara eklektik. Kerangka teori yang diaplikasikan meliputi teori representasi Stuart Hall, semiotika Roland Barthes, feminisme Julia Kristeva, analisis wacana kritis Norman Fairclough, hingga teori praktik sosial Pierre Bourdieu. Proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, studi dokumen, serta wawancara mendalam terhadap informan kunci yang dipilih secara purposif, yang terdiri atas sopir truk, pemilik truk, dan seniman lukis yang beroperasi di wilayah Bali pada periode 2021 sampai 2025. 

Hasil analisis memperlihatkan bahwa representasi perempuan dalam wacana lukisan bak truk hadir melalui perpaduan teks verbal, teks visual, dan narasi yang saling berkelindan untuk mereproduksi objektifikasi tubuh, pelabelan stereotip, dan dominasi ideologi patriarki. Konstruksi makna ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme parodi paradoks yang menertawakan krisis maskulinitas, normalisasi wacana kekerasan seksual lewat lelucon seksis, serta apresiasi semu yang otoritas maknanya tetap berada di bawah kendali laki-laki. Implikasi Sosio Kultural dari praktik ini menunjukkan bahwa mobilitas truk telah mentransformasi jalan raya menjadi sirkulasi ideologi patriarki yang berpotensi menimbulkan nalar kritis publik terhadap ketimpangan gender. 

Sidang ujian terbuka ini berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dari dewan penguji. Sorotan utama tertuju pada pertanyaan penguji eksternal yang menukik pada inti argumentasi kultural disertasi. Dr. Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi, S.Sn., M.Erg. menyoroti konsep "katarsis psikososial bias gender" dan relevansinya ke depan. Menjawab hal tersebut, Promovends memaparkan bahwa kelas pekerja seringkali melampiaskan tekanan ekonomi mereka kepada perempuan melalui reproduksi humor seksis; sebuah temuan yang ia tegaskan krusial bagi keilmuan desain komunikasi visual (DKV). Di sisi lain, Dr. Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun, S.Sn., S.H., M.Hum. menyoal paradoks moralitas dalam teks "Lihat jalanmu, jangan lihat celana dalamku" serta menantang Promovenda apakah ia pernah secara empiris naik ke atas bak truk guna merasakan langsung tatapan masyarakat. Promovenda secara lugas menguraikan bahwa teks tersebut menciptakan paradoks: visual perempuan sengaja ditampilkan erotis untuk memancing tatapan, namun justru perempuan dijadikan kambing hitam atas ketidakmampuan laki-laki menjaga pandangannya, seraya mengakui dirinya belum pernah melakukan observasi langsung di atas bak truk tersebut.

Menutup sidang ujian terbuka, Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A. selaku promotor menegaskan bahwa setiap karya akademik pasti memiliki keterbatasan, namun hal tersebut sama sekali bukan merupakan sebuah kelemahan yang bermakna negatif. Sebaliknya, di dalam keretakan atau celah batasan itulah justru terdapat ruang positif yang menantang para sarjana lain untuk turun gunung dan melahirkan kajian-kajian baru. Beliau menekankan bahwa dalam kacamata filsafat ilmu, sebuah disertasi yang unggul bukanlah karya yang mengklaim kesempurnaan mutlak dan menutup perdebatan. Karya yang baik adalah karya yang mampu memantik dialektika dan memberikan ruang bagi terciptanya disertasi-disertasi lanjutan di masa depan untuk terus menguliti wacana yang belum tersentuh. 


FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...