Denpasar, 6 Agustus 2026 – Lembaran baru para Mahadayana (Mahasiswa Ilmu Budaya Udayana) resmi dimulai melalui PKKMB FIB 2026 (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Budaya 2026). Rangkaian hari pertama orientasi ini bertujuan untuk mengakselerasi adaptasi mahasiswa baru terhadap ekosistem fakultas; yang mencakup pemahaman sistem akademik, pengenalan pimpinan dan lembaga kemahasiswaan, hingga edukasi pencegahan kekerasan di perguruan tinggi. Kegiatan terlaksana di Auditorium Widya Sabha Mandala dan Ruang Baca, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud serta diikuti oleh 460 mahasiswa baru dan 16 mahasiswa lama. Orientasi ini dihadiri oleh seluruh unsur pimpinan dari lingkungan FIB Unud.
Sebagai langkah awal pembukaan acara, Taufik Agus Purnomo, S.Pd., M.A. selaku Ketua Umum PKKMB FIB 2026 melaporkan bahwa masa pengenalan tahun ini diikuti oleh 460 mahasiswa baru dan 16 mahasiswa lama, dengan mengusung komitmen lingkungan yang positif. “Kegiatan ini mengedepankan nilai-nilai edukatif, humanis, inklusif, aman, bebas dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun perpeloncoan” ucap beliau. Semangat tersebut disambut dan diteruskan oleh Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (SMFIB Unud), I Putu Gede Lion Ojasvin Putra Barata, yang mengajak para Mahadayana 2026 untuk memaksimalkan masa orientasi ini sebagai ruang transisi untuk memahami ekosistem kampus dan membangun karakter sebagai insan akademis.
Komitmen fakultas dalam membina mahasiswa baru semakin dipertegas melalui arahan Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau memberikan peringatan mutlak bahwa keikutsertaan dalam PKKMB merupakan sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar oleh setiap mahasiswa, bahkan menjadi prasyarat administratif yang krusial hingga tahap penyelesaian skripsi kelak, serta mendorong mahasiswa untuk menyeimbangkan tanggung jawab akademik dengan keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan guna mengasah kepemimpinan Terkait keamanan lingkungan belajar, beliau juga memberikan penegasan absolut.
“Fakultas Ilmu Budaya terikat dengan komitmen membangun zona integritas. Kami berkomitmen tidak ada bullying,” tegas beliau. Setelah sesi perkenalan jajaran pimpinan Dekanat, Koordinator Program Studi, Koordinator Unit, dan para Sub Koordinator, beliau resmi membuka acara secara simbolis melalui pemukulan gong dan dibarengi dengan pengalungan nametag kepada perwakilan Mahadayana 2026 dan diikuti oleh seluruh Mahadayana 2026.
Usai peresmian tersebut, fokus mahasiswa langsung diarahkan pada pembedahan berbagai aspek operasional dan akademik fakultas. Sesi komprehensif yang dipandu oleh Putu Gede Suarya Natha, S.S., M.Hum. selaku moderator ini menghadirkan tiga wakil dekan sebagai narasumber utama.
Pemaparan pertama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Perencanaan, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., yang mengupas tuntas aturan dan kebijakan akademik di FIB Unud. Materi kemudian dilanjutkan oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum. Beliau merinci kesiapan fasilitas sarana dan prasarana di kampus Jimbaran maupun Nias, sejalan dengan komitmen fakultas menuju Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI-WBK). Sebagai penutup sesi, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Informasi, Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M.Si., membedah ekosistem kemahasiswaan; memberikan wawasan mengenai lembaga eksekutif dan legislatif mahasiswa, himpunan program studi, hingga ragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan program Kampus Berdampak.
Beranjak dari kebijakan tingkat fakultas, orientasi kemudian dikerucutkan pada pengenalan lingkup akademik yang lebih spesifik. Para mahasiswa baru menerima penjelasan mendalam mengenai profil masing-masing program studi (Prodi) yang dinaungi FIB Unud beserta perkenalan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) sebagai wadah bernaung pertama mereka.
Suasana akademik yang padat tersebut kemudian dicairkan melalui sesi istirahat; di mana panitia menayangkan video interaktif dari gugus 1-5 sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas para Mahadayana.
Memasuki paruh kedua acara, tensi kegiatan kembali difokuskan pada isu institusional yang krusial melalui pemaparan materi pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Sesi ini mengundang I Gusti Agung Ayu Yuliari, S.E.Ak., M.Si. selaku sekretaris Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Universitas Udayana (UPPK Unud) yang didampingi Putu Dyah Pradnya Paramitha, S.S., M.A. sebagai moderator, . Beliau menegaskan bahwa payung hukum terbaru melalui Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 telah memperluas cakupan perlindungan kampus; yang kini tidak hanya berfokus pada kekerasan seksual, tetapi juga menindak tegas kekerasan fisik, psikis, perundungan, intoleransi, hingga kebijakan yang melanggengkan kekerasan.
Selanjutnya, beliau menekankan pentingnya keberanian mahasiswa untuk segera melapor apabila melihat, mendengar, atau mengalami tindak kekerasan, mengingat otoritas UPPK tidak dapat memproses penanganan tanpa adanya laporan resmi. Sebagai bentuk manifestasi komitmen dalam menjaga ruang aman, seluruh mahasiswa baru angkatan 2026 juga diwajibkan menyetujui Pakta Integritas, yang diiringi dengan peringatan tegas mengenai sanksi administratif berat, hingga ancaman pemberhentian tetap sebagai mahasiswa kepada siapa pun yang terbukti menjadi pelaku kekerasan.
Rangkaian hari pertama PKKMB FIB 2026 kemudian ditutup secara resmi melalui perkenalan lembaga kemahasiswaan tingkat fakultas, diantaranya Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (SMFIB) sebagai motor eksekutif dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (BPMFIB) selaku pilar legislatif. Pada sesi pamungkas ini, para perwakilan fungsionaris membedah secara menyeluruh detail struktural organisasi beserta ragam aspek yang dinaungi oleh masing-masing lembaga guna memberikan gambaran utuh bagi para Mahadayana untuk kelak menyalurkan hak aspirasi maupun arah pergerakan mereka di lingkungan kampus.






