Denpasar, 24 April 2026 – Program
Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Unud)
kembali bekerjasama dengan Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Sebelas Maret (FIB UNS) dalam melaksanakan Seminar Nasional
Mahasiswa Kajian Budaya: Narasi Budaya Seri 11. Seminar yang diselenggarakan
secara daring melalui Zoom Meeting ini dihadiri oleh lebih dari 80
peserta serta membahas mengenai dua isu kultural yang relevan, diantaranya
kompleksitas posmodernisme dalam sastra kontemporer dan dinamika diaspora
internal di Indonesia.
Seminar ini dibuka secara resmi
oleh Koordinator Program Studi Doktor Kajian Budaya Unud, Prof. I Nyoman Darma
Putra, M.Litt., Ph.D. Beliau mengapresiasi antusiasme yang tinggi dari para
peserta serta mengemukakan sebuah korelasi yang menarik dari kedua topik
bahasan tersebut, yaitu kesamaan tema 'petualangan'. Tema ini terepresentasikan
melalui perjalanan imajinatif tokoh fiktif ciptaan pengarang, sekaligus
pengalaman nyata perpindahan masyarakat sub-etnis Sumba menuju Bali.
Acara ini dimoderatori oleh Agus
Putra Mahendra, mahasiswa S3 Kajian Budaya FIB Unud. Pemaparan sesi pertama
dilakukan oleh Dra. Susilorini, M.A. (perwakilan Doktor Kajian Budaya FIB UNS)
yang mengkaji novel Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu
karya Intan Paramadita. Karya ini merespons posmodernisme dengan
mendekonstruksi alur linear menjadi literatur ergodik bernarasi bercabang,
memberikan otonomi penuh kepada pembaca sebagai karakter "Kau" untuk
menavigasi jalannya cerita.
Lebih lanjut, beliau menekankan
dimensi transnasional novel ini. Melalui pendekatan intertekstual, dongeng Rumpelstiltskin
dan Faust dimanfaatkan sebagai kiasan kritis terhadap eksploitasi buruh
perempuan di tengah kapitalisme global. Teks ini juga mengilustrasikan transisi
dari ranah epistemologis menuju ontologis, di mana eksistensi perempuan
pascamodern menempati ruang liminal yang dinamis dan terus
bertransformasi secara rhizomatic (menyebar tanpa hierarki).
Dr. Fransiska Dewi Setiowati
Sunaryo, S.S., M.Hum. selaku perwakilan dari Program Doktor Kajian Budaya Unud
mengkaji dinamika integrasi dan kontestasi diaspora Sumba di Bali, menyoroti
eksistensi mereka sebagai subjek aktif yang terus menegosiasikan identitas di
ruang multikultural. Manifestasi keluwesan budaya ini terlihat pada fenomena
"Marapu Modern", yakni adaptasi nilai leluhur agar selaras dengan
spiritualitas Bali, serta penguatan kohesi sosial melalui wadah paguyuban
seperti Ikatan Warga Sumba dan Flobamora.
Menanggapi eskalasi stigmatisasi
media sosial yang diperparah oleh algoritma kapitalisasi konflik, Fransiska
memaparkan bahwa pelabelan "Nak Sumba" justru memicu resistensi
kultural. Stigma negatif tersebut kini direbut dan dimanfaatkan oleh komunitas
diaspora sebagai wujud representasi identitas demi mendapatkan pengakuan sosial
yang setara.
Rangkaian seminar ini ditutup
oleh Koprodi S3 Kajian Budaya UNS, Prof. Dra. S.K. Habsari, M.Hum., Ph.D.,
melalui apresiasi tinggi yang diberikan terhadap tajamnya pisau analisis pada
kedua pemaparan tersebut. Ditegaskan pula oleh beliau bahwa kapasitas Kajian
Budaya dalam membaca perubahan, negosiasi identitas, dan dinamika kuasa telah
dibuktikan melalui kebaruan topik fiksi digital maupun diaspora etnik yang
dikaji. Pada akhirnya, keberlanjutan kerja sama antara Unud dan UNS yang telah
terjalin selama dua tahun ini sangat diharapkan, agar nalar kritis peneliti
dalam merespons lanskap budaya yang dinamis dapat senantiasa dirawat melalui
mimbar akademis tersebut.






