Friday, March 6, 2026

Tingkatkan Kualitas Lulusan, Program Studi Sastra Indonesia FIB Unud Gelar Workshop Penyusunan Buku Ajar Berbasis CPL

 




Pada hari Sabtu, 7 Maret 2026, Program Studi S1 Sastra Indonesia FIB Unud melaksanakan Workshop Penyusunan Buku Ajar Berbasis Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) secara hybrid yang bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud dan Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh para dosen Sastra Indonesia FIB Unud beserta tamu undangan dari berbagai universitas di Bali, seperti Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas PGRI Mahadewa, dan Universitas Warmadewa. 

Dalam sambutannya, Koordinator Program Studi S1 Sastra Indonesia FIB Unud, Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. memaparkan tema workshop kali ini yaitu “Transformasi Materi Pembelajaran menjadi Buku Ajar yang Relevan dan Berbasis CPL" guna merespons tuntutan pendidikan tinggi terhadap kualitas pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE). Kegiatan ini merupakan wujud komitmen program studi dalam mendorong para dosen untuk secara aktif berdiskusi dan mentransformasikan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) atau materi perkuliahan yang telah dimiliki menjadi draf buku ajar yang terstruktur.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Beliau mengapresiasi inisiatif tersebut karena transformasi materi perkuliahan menjadi buku ajar akan sangat mempermudah program studi dalam memonitor pemenuhan CPL sekaligus menyempurnakan kurikulum. Hal ini sejalan dengan tuntutan penerapan Outcome-Based Education (OBE) yang menggeser fokus pengajaran dari sekadar penyampaian materi menuju pencapaian kompetensi nyata yang relevan dengan dinamika dunia kerja. Kegiatan ini dinilai memiliki urgensi tinggi karena secara langsung menunjang pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) institusi, khususnya dalam meningkatkan kualitas lulusan. 

Narasumber pada workshop kali ini adalah Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A. dari Universitas Pendidikan Ganesha. Beliau memaparkan pentingnya penyesuaian kurikulum berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Peraturan ini mengamanatkan bahwa standar luaran pendidikan merupakan standar kompetensi lulusan yang wajib dirumuskan ke dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Untuk merealisasikan hal tersebut, perguruan tinggi harus mengadopsi sistem Outcome-Based Education (OBE), yakni pendekatan pendidikan yang berfokus penuh pada pencapaian hasil belajar mahasiswa yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Prinsip utama dari OBE ini ditekankan pada kejelasan hasil pembelajaran, metode pengajaran serta penilaian yang fleksibel, dan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

Dalam tataran praktisnya, pengembangan materi dan buku ajar harus terintegrasi dengan hierarki kurikulum OBE yang terdiri atas Program Educational Objectives (PEO), Program Learning Outcomes (PLO/CPL), dan Course Outcomes (CO/CPMK). Saat merancang bahan ajar berbasis OBE, dosen diharapkan untuk melakukan evaluasi mandiri melalui tiga aspek krusial. Aspek pertama adalah keselarasan (Alignment), guna memastikan tujuan pembelajaran dan tingkat kognitif terhubung langsung dengan CO. Aspek kedua adalah berpusat pada mahasiswa (Student-Centered), yang mengharuskan penyajian konteks dunia nyata serta mendorong partisipasi aktif mahasiswa dibandingkan sekadar membaca materi secara pasif. Terakhir, aspek pengukuran & bukti (Assessment) wajib dihadirkan melalui latihan soal atau tugas yang mengukur ketercapaian kompetensi secara langsung dan spesifik.

Usai pemaparan materi, workshop dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang secara khusus membedah langkah-langkah praktis dalam penyusunan materi ajar. Rangkaian kegiatan ini kemudian ditutup secara resmi dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada narasumber. Ke depannya, penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan mampu memantik motivasi tenaga pendidik untuk terus memperkuat kinerja akademik melalui inovasi bahan ajar yang selaras dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Dengan demikian, institusi dapat terus mencetak lulusan unggul yang adaptif dan siap bersaing menghadapi tantangan zaman.

Thursday, February 26, 2026

Seminar Nasional Kajian Budaya (Narasi Budaya) Seri Ke-10 Bahas Relasi Kuasa dan Identitas dalam Pelestarian Adat dan Pendidikan Bahasa Perancis

 


Seminar Nasional Mahasiswa Kajian Budaya (Narasi Budaya) Seri Ke-10 diselenggarakan secara daring pada Jumat, 27 Februari 2026, dengan mengangkat tema hubungan kekuasaan dan identitas dalam pelestarian adat serta pembelajaran Bahasa Prancis. Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini diikuti oleh 53 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, alumni, dan peneliti, serta dipandu oleh moderator Andriko Sandria, mahasiswa S3 Kajian Budaya UNS Surakarta. Webinar merupakan kolaborasi antara Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Universitas Sebelas Maret. Acara dibuka oleh Koordinator Prodi S3 Kajian Budaya UNS, Prof. Dra. S.K. Habsari, M.Hum., Ph.D., yang menekankan bahwa kajian budaya berperan sebagai ruang analisis kritis terhadap relasi kekuasaan dalam praktik sosial sehari-hari, dan ditutup oleh Koordinator Prodi S3 Kajian Budaya FIB Unud, Prof. I Nyoman Darma Putra, Ph.D.

Dua narasumber, IB Prajna Yogi dari S3 Kajian Budaya Universitas Udayana dan Sri Handayani dari S3 Kajian Budaya UNS, membahas relasi kekuasaan dalam konteks berbeda namun saling terkait. IB Prajna Yogi memaparkan dinamika adat masyarakat Dayak Tomun di Kalimantan Tengah melalui konsep Hidup Baadat dan Mati Bapati. Ia menjelaskan bahwa praktik adat menjadi arena kontestasi antara adat, agama Kristen Protestan, dan negara, yang memengaruhi pembentukan identitas masyarakat. Dengan pendekatan teori Michel Foucault, Pierre Bourdieu, dan Anthony Giddens, penelitian ini menunjukkan bahwa adat bukan sekadar warisan tradisional, melainkan praktik sosial yang terus dinegosiasikan dalam relasi kekuasaan, termasuk ketika adat dimanfaatkan dalam pembangunan dan pariwisata.
Sementara itu, Sri Handayani menyoroti pembelajaran Bahasa Prancis di perguruan tinggi sebagai ruang produksi budaya yang sarat relasi kuasa dan penyebaran ideologi Barat. Ia menemukan bahwa buku ajar Bahasa Prancis cenderung menampilkan dominasi budaya Prancis sehingga pembelajar Indonesia lebih banyak menyerap nilai budaya asing tanpa ruang refleksi terhadap identitas lokal. Melalui penelitian kualitatif di Universitas Negeri Semarang, ia menawarkan integrasi pedagogi kritis, literasi interkultural kritis, dan etnopedagogi agar pembelajaran bahasa tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga memperkuat kesadaran budaya lokal serta identitas pembelajar.

Diskusi berlangsung aktif dengan antusiasme peserta hingga akhir sesi. Dalam penutupannya, Prof. I Nyoman Darma Putra menilai kedua materi yang dipresentasikan sangat orisinal dan mampu mengkaji persoalan identitas serta pendidikan bahasa melalui pendekatan relasi kuasa secara mendalam. Ia juga menegaskan komitmen keberlanjutan seminar Narasi Budaya sebagai ruang belajar akademik yang ke depan akan melibatkan mahasiswa S2 dan S3 Kajian Budaya dari kedua universitas. Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber secara simbolis oleh moderator.


Penyempurnaan Kurikulum Tahun 2026 Program Studi Sastra Inggris

Kegiatan Peninjauan dan Penyempurnaan Kurikulum Tahun 2026 Program Studi Sastra Inggris dilaksanakan pada tanggal 26 Pebruari 2026 sebagai upaya memastikan kurikulum tetap relevan, adaptif, dan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan industri, serta standar akreditasi yang berlaku. Kegiatan tersebut melibatkan panitia, narasumber ahli, serta seluruh dosen di lingkungan Program Studi Sastra Inggris yang dilakukan secara daring dan dipandu oleh Dr. Ni Ketut Sri Rahayuni, S.S., M.Hum. Ketua Panitia, Dr. Putu Weddha Savitri, S.S., M.Hum., menyampaikan laporan kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Program Studi Dr. I Gusti Ngurah Parthama, S.S., M.Hum. Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Ketua UP3M, Dr.  Ni Ketut Widhiarcani Matradewi, S.S., M.Hum.. yang mewakili Dekan Fakultas Ilmu Budaya untuk memberikan sambutan sekaligus membuka acara.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber Prof. Dr. Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd., M.Hum. dari Universitas Pendidikan Ganesha, yang dimoderatori oleh Dr. Galuh Febri Putra, M.A. Materi yang disampaikan membahas perkembangan Digital Humanities sebagai bidang yang mengintegrasikan teknologi digital dengan kajian humaniora, serta implikasinya dalam penelitian linguistik, sastra, dan kajian budaya. Pemaparan memaparkan bahwa media digital memungkinkan penulis mengekspresikan diri dengan cara baru, dan alat digital membantu peneliti mengidentifikasi unsur intrinsik dengan metode yang lebih praktis. Partisipasi pembaca juga meningkat karena berbagai bentuk teks digital seperti webtoon, web novel, film pendek berbasis aplikasi, video TikTok, hingga meme dan caption media sosial kini menjadi bagian dari objek penelitian sastra dan budaya. Narasumber juga membahas kelahiran electronic literature, yang mencakup hiperteks, puisi kinetik, fiksi interaktif, hingga karya generatif yang hanya dapat eksis di lingkungan digital. Munculnya AI menimbulkan pertanyaan mengenai batas penggunaan yang masih dianggap sebagai alat bantu dan yang termasuk kecurangan akademik. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Sains dan Teknologi mulai mengatur penggunaan AI dengan membuat daftar blacklist dan whitelist. AI boleh digunakan untuk mencari sumber belajar, membuat slide berdasarkan materi yang disediakan mahasiswa, latihan mandiri, serta sebagai pendamping pembelajaran. Namun demikian, mahasiswa dituntut memiliki literasi dan kompetensi AI sejak tingkat dasar hingga tingkat lanjut.

Kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan telaah kurikulum yang melibatkan seluruh peserta untuk meninjau struktur mata kuliah, capaian pembelajaran, serta relevansinya dengan kebutuhan akademik dan profesional. Diskusi berlangsung secara aktif hingga sore hari dan menghasilkan sejumlah poin penyempurnaan kurikulum yang akan menjadi dasar finalisasi dokumen kurikulum tahun 2026. Kegiatan ditutup oleh Koordinator Program Studi Sastra Inggris, Dr. I Gusti Ngurah Parthama, S.S., M.Hum.  dan beliau berharap bahwa hasil diskusi dapat memperkuat kualitas kurikulum serta meningkatkan pemahaman dosen terhadap pengembangan kurikulum yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.


FIB Unud Lepas 23 Calon Wisudawan pada Periode ke-174

 


Pada hari Kamis, 26 Februari 2026, Pelepasan Calon Wisudawan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana periode ke-174 dilaksanakan secara luring dan bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala, Gedung IB Mantra Lantai III FIB Unud. Pelepasan calon wisudawan ini dihadiri oleh jajaran dekanat, ketua dan sekretaris Senat FIB Unud, seluruh Koordinator Program Sarjana, Magister, dan Doktor di FIB Unud, seluruh kepala unit di lingkungan FIB Unud serta 23 calon wisudawan yang akan dilepas. 

Mengawali acara, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Perencanaan memaparkan rincian calon wisudawan yang akan dilepas hari ini. Dalam laporannya, terdapat 23 calon wisudawan yang akan dilepas, di antaranya 1 mahasiswa S3 Kajian Budaya, 1 mahasiswa S2 Linguistik, 1 mahasiswa S2 Kajian Budaya, 4 mahasiswa Sastra Inggris, 2 mahasiswa Arkeologi, 4 mahasiswa Ilmu Sejarah, 5 mahasiswa Antropologi Budaya, dan 5 mahasiswa Sastra Jepang. Selanjutnya, beliau memaparkan bahwa 1 mahasiswa Program Doktor berhasil lulus dengan predikat Sangat Memuaskan, 1 mahasiswi Program Magister meraih predikat Dengan Pujian, 1 mahasiswa Program Magister meraih predikat Sangat Memuaskan, 7 mahasiswa Program Sarjana meraih predikat Sangat Memuaskan, 8 mahasiswi meraih predikat Sangat Memuaskan, 4 mahasiswa meraih predikat Memuaskan, dan 1 mahasiswi meraih predikat Memuaskan.

Rincian calon wisudawan disampaikan oleh Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M.Si. selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Informasi menginformasikan mengenai lulusan terbaik dari setiap jenjang program. Predikat lulusan terbaik dari program sarjana diraih oleh Nyoman Dinda Prapti Dwijayanthi, S.S. dari program studi Sastra Inggris, dilanjut dengan Anak Agung Istri Candrawati, S.Kom., S.S., M.Si. dari program studi Magister Kajian Budaya, dan Dr. Ida Bagus Gede Paramita, S.S., M.Si. dari program studi doktor Kajian Budaya.
Nyoman Dinda Prapti Dwijayanthi, S.S. mewakili seluruh calon wisudawan FIB Unud pada pelepasan kali ini  menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas bimbingan seluruh sivitas akademika selama masa perkuliahan. Ia menyoroti bagaimana berbagai tantangan akademik telah berhasil membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang lebih disiplin, kritis, dan bertanggung jawab. Selain menaruh harapan agar FIB Unud terus maju dan adaptif terhadap perkembangan zaman, ia juga berpesan kepada rekan-rekan sejawatnya untuk terus berkembang.

Pada sesi akhir acara, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan FIB Unud menitipkan harapan dan pedoman esensial bagi kesuksesan para lulusan di masa depan. Beliau menekankan dua fondasi utama bagi wisudawan: pertama, pentingnya memadukan kerja keras dan ketekunan dengan cara menentukan sasaran yang jelas (set the goal), senantiasa fokus, bersabar, dan pantang menyerah meski dihadapkan pada kenyataan yang sulit dalam mewujudkan tujuannya. Kedua, beliau mendorong para wisudawan untuk terus mengejar apa yang menjadi rencana (passion) mereka, sembari menanamkan keyakinan utuh pada diri sendiri bahwa mereka pasti mampu mencapai segala cita-cita yang diimpikan, tentunya tidak lepas dari doa tiada henti dari orang tua.


Wednesday, February 25, 2026

Program Studi Sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Gelar “Festival Kamus Digital”


Kamis, 26 Pebruari 2026, Program Studi Sastra Bali, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana telah melaksanakan acara “Festival Kamus Digital" di Ruang Ir. Soekarno, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Acara tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut Bulan Bahasa Bali tahun 2026 di bulan Pebruari ini.

 Festival Kamus Digital ini dilaksanakan dengan kegiatan penyalinan kamus Bahasa Bali ke dalam bentuk digital, lengkap beserta aksara Balinya dan memanfaatkan aplikasi Bali Simbar Dwijendra sebagai sarana. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa aktif program studi Sastra Bali dari angkatan 2022 hingga angkatan 2025, dipandu juga oleh para dosen Sastra Bali, Bapak Koordinator Program Studi Sastra Bali, Pembina Himpunan Program Studi Sastra Bali turut memeriahkan dan mendukung kegiatan ini.

Drs. I Gde Nala Antara, M. Hum menjelaskan bahwa penyalinan kamus digital ini bukan sekadar penyusunan kosakata, melainkan penerapan langsung ilmu mahasiswa Prodi Sastra Bali, mulai dari fonologi hingga semantik. “Ini sekaligus penerapan dan pengaplikasian ilmu yang mahasiswa dapatkan selama kuliah di Sastra Bali.” Kamus Bahasa Bali ini juga disusun ulang dengan penyempurnaan ejaan 2023 dan penambahan kosakata baru yang akan dikembangkan menjadi versi digital.

Drs. I Ketut Ngurah Sulibra, M. Hum selaku Koordinator Program Studi Sastra Bali menyampaikan bahwa mahasiswa Prodi Sastra Bali merupakan cikal bakal pelestarian Bahasa dan Aksara Bali, sehingga keterlibatan mereka dalam penyusunan kamus digital menjadi bentuk kontribusi nyata agar mudah dipelajari oleh generasi berikutnya. “Jadi kamus Bahasa Bali itu akan berisi kata, aksaranya, maknanya dalam huruf latin, serta kata turunannya,” jelasnya. Penyusunan ini juga terintegrasi dengan mata kuliah seperti fonologi, morfologi, dan semantik, dan masing-masing mahasiswa akan mengerjakan sekitar 22 halaman.

Acara ini bukanlah sebatas kegiatan akademik saja, juga sebagai wahana kita sebagai anak muda Bali untuk melestarikan bahasa dan aksara Bali di era digital seperti saat ini. Melalui Festival Kamus Digital ini, harapannya anak-anak muda dapat memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada sebagai sarana untuk menjaga dan melestarikan eksistensi warisan budaya Bali seperti: bahasa, aksara, dan sastra Bali. Tak hanya itu, acara ini juga bertujuan untuk memeriahkan Bulan Bahasa Bali tahun 2026 ini.


Monday, February 23, 2026

Inaugurasi BIPAS Spring Semester 2026: FIB Unud Menyambut 33 Mahasiswa Internasional

 


Pada hari Senin, 23 Februari 2026 telah terlaksana Opening Ceremony dan Orientation Day dari program Bali International Program on Asian Studies (BIPAS) FIB Unud Spring Semester 2026. Bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala Gedung IB Mantra Lantai 3 FIB Unud, kegiatan ini dihadiri oleh koordinator BIPAS,  perwakilan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Wakil Rektor I Universitas Udayana mewakili Rektor Universitas Udayana, perwakilan Asia Exchange, perwakilan International Office Universitas Udayana, tim Bali Study Guide, serta kurang lebih 33 (tiga puluh tiga) peserta dari 10 negara berbeda.

Sambutan dari I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. selaku koordinator BIPAS menyambut kehadiran 33 mahasiswa internasional untuk menempuh studi di program BIPAS Fakultas Ilmu Budaya, yang perkuliahannya akan berlangsung dari tanggal 23 Februari hingga 12 Juni 2026. Beliau berharap para mahasiswa agar dapat sepenuhnya menikmati pengalaman akademis dan budaya selama beberapa bulan ke depan di Bali.
Mewakili Dekan FIB Unud, Dr. Ni Ketut Widhiarcani Matradewi, S.S., M.Hum. selaku Ketua Unit Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (UP3M) FIB Unud mengawali acara orientasi dengan memperkenalkan sejarah fakultas tertua di lingkungan Universitas Udayana yang telah berdiri sejak tanggal 29 September 1958. Beliau juga memotivasi para mahasiswa program BIPAS untuk aktif mengeksplorasi keindahan pulau serta tradisi budaya Bali guna memperkaya pengalaman akademik mereka selama masa studi. Setelah sambutan tersebut, prosesi dilanjutkan dengan serah terima tanggung jawab dari pihak Asia Exchange kepada Universitas Udayana, yang kemudian disahkan melalui pemukulan gong sebagai simbol peresmian masa orientasi.

Selanjutnya, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Udayana, Prof. Ir. I Nengah Sujaya,  M.Agr.Sc., Ph.D. menyampaikan apresiasi mendalam kepada para mahasiswa internasional dan pihak Asia Exchange atas kepercayaan serta kerja sama yang terjalin. Beliau juga menegaskan komitmen Universitas Udayana sebagai institusi pendidikan terkemuka di kawasan Indonesia Timur untuk terus meningkatkan kualitas infrastruktur dan sumber daya manusianya demi menyediakan layanan serta atmosfer akademik yang berstandar global bagi seluruh mahasiswa.

Setelah pembukaan, rangkaian dilanjutkan dengan pemaparan profil dosen-dosen dari berbagai fakultas yang akan mengajar selama Spring Semester 2026. Dilanjut dengan pemaparan dari Putu Eka Ariady Putra, S.P. selaku perwakilan International Office Universitas Udayana mengenai kewajiban mahasiswa untuk memiliki Izin Tinggal Terbatas (ITAS) Visa E30 untuk fokus pada kegiatan akademik dan melarang segala aktivitas bekerja atau berbisnis. Beliau juga meminta mahasiswa BIPAS untuk wajib lapor mengenai rencana perjalanan, mutasi alamat dengan berkas yang diperlukan dan urusan kehilangan paspor.

Pemaparan materi dilanjutkan oleh Prof. Dr. Drs. I Made Rajeg, M.Hum. selaku perwakilan dosen pengajar BIPAS memaparkan esensi kearifan lokal Bali yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana dan keharmonisan toleransi beragama. Mahasiswa BIPAS secara khusus diinstruksikan untuk menerapkan etika dasar, seperti menggunakan sapaan tradisional, berpakaian sopan dengan selendang saat ke pura, dan mematuhi aturan berlalu lintas. Mahasiswa BIPAS juga diperingatkan untuk tidak melanggar pantangan budaya yang sangat krusial di Bali, seperti menyentuh kepala orang lain, menginjak sesajen canang sari, menunjuk menggunakan kaki, ataupun memasuki kawasan suci pura saat sedang dalam kondisi menstruasi.

Menjelang akhir hari orientasi, I Made Sena Darmasetiyawan, S.S., M.Hum., Ph.D. selaku koordinator BIPAS memaparkan bahwa mahasiswa BIPAS wajib menempuh satu kelas Bahasa Indonesia dan dua hingga enam mata kuliah pilihan. Kelayakan untuk mengikuti ujian akhir mensyaratkan minimal 75 persen tingkat kehadiran kelas, dengan toleransi absen maksimal tiga hari bersurat keterangan sah, serta sanksi ketidakhadiran bagi yang terlambat lebih dari 10 menit. Selama perkuliahan berlangsung, BIPAS juga melarang keras penggunaan atasan tanpa lengan, celana pendek, sandal, dan rok mini di area kampus. Di luar rutinitas akademik, Bali Study Guide selaku mitra Asia Exchange turut memfasilitasi kebutuhan mahasiswa melalui layanan logistik seperti penyewaan akomodasi, skuter, dan pengurusan SIM, sekaligus mengkoordinasikan berbagai ragam aktivitas rekreasi opsional untuk memperkaya pengalaman kultural mereka selama di Bali.


FIB Unud Terima Hibah 26 Naskah Lontar dari Akademisi Australia untuk Pelestarian Warisan Budaya Bali

 


Denpasar, 23 Pebruari 2026 – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menerima hibah sebanyak kurang lebih 26 (dua puluh enam) naskah lontar untuk koleksi Perpustakaan Lontar FIB Unud. Kegiatan serah terima dilaksanakan di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan dihadiri oleh pimpinan fakultas, pengelola perpustakaan lontar, dosen, serta pihak donatur sebagai bentuk komitmen bersama dalam pelestarian warisan budaya Bali.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas kepercayaan serta kontribusi yang diberikan. Beliau menegaskan bahwa lontar merupakan sumber pengetahuan tradisional yang memiliki nilai historis, filologis, dan kultural yang sangat penting. Hibah ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat fungsi akademik fakultas, khususnya dalam mendukung kegiatan penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat berbasis khazanah budaya lokal.
Rektor Universitas Udayana dalam sambutannya turut menyampaikan penghargaan atas kontribusi yang diberikan kepada Fakultas Ilmu Budaya. Beliau menekankan bahwa pelestarian naskah lontar sejalan dengan komitmen universitas dalam menjaga identitas dan jati diri berbasis budaya. Rektor juga berharap koleksi ini dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber pembelajaran dan pengembangan riset yang berdampak luas bagi masyarakat.

Naskah-naskah lontar tersebut didonasikan oleh Dr. David J. Stuart-Fox, seorang akademisi asal Australia yang berdomisili di Belanda. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan bahwa donasi ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif untuk mendukung pelestarian warisan budaya Bali serta pengembangan pendidikan dan penelitian. Ia berharap lontar-lontar tersebut dapat dirawat dengan baik dan dimanfaatkan oleh generasi akademisi berikutnya. Adapun daftar lontar yang diserahterimakan mencakup berbagai judul, seperti: Tingkah ing akarya tirtha pangentas, Puja Parikrama, Kajang, Krakah, Yamaraja, Parik Basa, Aksara Utama, Wisik Utama, Piwlas, Panghidup dahi, Gaguritan Hikayat Nabi, Pangunus Wisesa, Pratekaning rare wawu metu, Wariga Gemet, Usada, Usada Tenung Sakit, Gaguritan Dewasa, Kawisesan, Pigedeg, Pabesah, Patengeran Tiwang, Aksara Mawisesa, Kanda Mpat, Usada Manak, empat lontar tanpa identifikasi, serta tiga bundel embat-embatan, pangeling-eling, dan lempir-lempir bebas.

Agenda penyerahan lontar kemudian ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga dan merawat koleksi tersebut secara berkelanjutan. Seluruh naskah lontar akan disimpan dan dirawat secara aman di Perpustakaan Lontar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Keberadaan koleksi ini diharapkan dapat menjadi sumber rujukan yang berharga bagi kegiatan penelitian, pembelajaran, serta pelestarian pengetahuan tradisional bagi generasi mendatang, sekaligus memperkuat komitmen Fakultas Ilmu Budaya dalam menjaga dan mengembangkan khazanah budaya Bali.


FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...