Rangkaian penutupan acara Competition and Charity of English Department (CCED) 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (HMPSSI FIB Unud) dan mengusung tema "Empowering Youth Cultural Creativity in the Digital Age" telah terselenggara dengan sukses dan ditutup secara resmi oleh Wakil Dekan III FIB Unud, Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M.Si. Bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala Gedung Ida Bagus Mantra Lantai III FIB Unud dan terlaksana secara hybrid, penutupan acara tahunan dari HMPSSI FIB Unud ini dihadiri oleh Dr. I Gusti Ngurah Parthama, S.S., M.Hum. selaku Koordinator Program Studi Sastra Inggris, Alfina Adelia Rochman selaku ketua HMPSSI FIB Unud, pimpinan lembaga kemahasiswaan FIB Unud dan para peserta.
Dalam laporannya, Chloe Angelina Parengkuan selaku ketua Panitia memaparkan bahwa CCED tahun ini adalah pertama kalinya CCED terlaksana pada tingkat nasional. Kesuksesan tersebut dibuktikan melalui pelaksanaan kegiatan amal di Panti Asuhan Salam serta penyelenggaraan kompetisi pidato tingkat mahasiswa dan debat tingkat SMA/SMK secara daring diikuti oleh peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.
Puncak acara penutupan ini juga diwarnai dengan pengumuman pemenang dari kedua cabang perlombaan. Pada ajang Debate Competition, posisi pertama berhasil diraih oleh tim "OYSTERS AJI stoned 🗿🗿" yang beranggotakan Ainsly Axelia Luvena, Ivanka Tjung, dan Jimmy Lim Kai Long. Posisi 1st Runner Up ditempati oleh tim "WE HAD NOTHING TO DO THIS WEEK" dengan anggota Irawan Mulia Hakim, William Nugroho Setiyo, dan Zahra Aurelia Zainal, disusul oleh tim "DETIK DETIK SELEKSI KAB" yang beranggotakan Shafira Valeri, Cecilia Amalina, dan Zhafira Luna Adhnia sebagai 2nd Runner Up.
Sementara itu, persaingan pada ajang Speech Competition menobatkan Fathandra Mahesa Suwardi dari Universitas Gadjah Mada sebagai peraih juara pertama. Posisi kedua sukses diraih oleh Made Pramitha Dwi Ardiantini dari Universitas Udayana, sedangkan posisi ketiga berhasil diamankan oleh Rakryan Wirabrama Satya Wisnu Putra dari Universitas Padjadjaran.
Sepanjang gelaran Debate Competition hari pertama yang terlaksana di tanggal 16 Mei 2026, peserta diuji melalui berbagai mosi kontemporer lintas disiplin. Pada babak penyisihan, perdebatan diawali dengan dilema moral prioritas keselamatan nyawa pada kendaraan otonom (Ronde 1), disusul oleh diskursus filosofis mengenai narasi cinta sebagai bentuk adaptabilitas (Ronde 2). Ketajaman analisis ekonomi peserta kemudian ditantang pada Ronde 3 yang menyoroti polemik normalisasi model bisnis "growth over profit" pada industri startup modern.
Memasuki babak penentuan di tanggal 17 Mei 2026, kompetisi berfokus pada fenomena sosial dan kajian budaya. Pada babak Semifinal, peserta ditantang untuk mengkritisi glorifikasi gaya hidup "soft life" di tengah tuntutan produktivitas generasi muda masa kini. Puncak kompetisi di babak Grand Final kemudian ditutup dengan mosi yang sangat selaras dengan diskursus keilmuan sastra, yakni penolakan terhadap kecenderungan literatur dan media arus utama dalam melabeli karakter bervisi keadilan radikal sebagai seorang penjahat (villain). Rangkaian mosi ini secara gemilang berhasil memantik nalar kritis peserta dalam merespons kompleksitas isu global.
Sementara itu, tahapan perlombaan untuk cabang Speech Competition diawali dengan tenggat waktu pengumpulan naskah (work submission) pada tanggal 17 Mei 2026, kemudian dilanjutkan dengan periode pengumpulan video penampilan (video submission) pada 18 hingga 19 Mei 2026. Pada kategori pidato ini, para peserta dituntut untuk merumuskan gagasan kritis mereka melalui tiga pilihan sub-tema utama yang selaras dengan tema besar acara, yaitu: "Digitalizing Cultural Heritage: Youth's Role in Preserving and Promoting Culture in the Modern Era", "Preserving Culture through Digital Innovation", serta "Cultural Pride in the Age of Social Media". Pemilihan ketiga sub-tema tersebut secara khusus ditujukan untuk menggali perspektif generasi muda dalam memanfaatkan inovasi digital dan media sosial sebagai instrumen utama pelestarian identitas budaya.
Sebagai informasi kilas balik, kemeriahan penganugerahan juara ini sekaligus menjadi penutup manis dari seluruh rangkaian kompetisi CCED 2026 yang sebelumnya telah resmi dibuka pada Sabtu, 16 Mei 2026 lalu oleh Wakil Dekan III FIB Unud, Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, S.S., M.Si. Melalui kesuksesan penyelenggaraan dari hari pertama hingga garis akhir ini, HMPSSI FIB Unud berharap momentum CCED tidak hanya menjadi ajang unjuk prestasi, tetapi juga mampu memupuk nalar kritis dan kecintaan generasi muda terhadap pelestarian budaya di tengah pusaran era digital.

No comments:
Post a Comment