Setiap tahun, situs arkeologi Liang Bua di Flores, Nusa Tenggara Timur menjadi titik temu bagi para peneliti dari seluruh dunia yang berupaya mengungkap bukti-bukti baru mengenai evolusi manusia dan kehidupan prasejarah di Wallacea. Diakui secara internasional sebagai lokasi penemuan Homo floresiensis, Liang Bua terus berperan sebagai salah satu lokasi penelitian arkeologi terpenting di Asia Tenggara, yang menarik kolaborasi ilmiah multidisiplin serta penyelidikan lapangan tingkat lanjut.
Penelitian tahun 2026 yang dilaksanakan pada tanggal 29 Mei hingga 29 Juli 2026, I Made Agus Julianto, S.S., M.Sc., seorang dosen dan peneliti dari Program Studi Arkeologi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana turut berpartisipasi dalam penggalian bersama dua mahasiswa Arkeologi, yaitu Valentha Joe Trisnadjati dan Devina Anggeraini. Keterlibatan mereka mencerminkan partisipasi berkelanjutan Universitas Udayana dalam program penelitian internasional dan kolaborasi ilmiah tahunan di Liang Bua.
Penelitian ini diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Lakehead University (Kanada), University of Wollongong dan Macquarie University (Australia), serta Max Planck Institute (Jerman). Musim lapangan tahun 2026 juga melibatkan lima mahasiswa arkeologi dari tiga universitas di Indonesia (dua dari Universitas Udayana, satu dari Universitas Gadjah Mada, dan dua dari Universitas Indonesia). Kolaborasi ini menciptakan lingkungan di mana para peserta dapat bertukar pengetahuan dan pengalaman lapangan, sehingga mempererat hubungan akademis tidak hanya dengan para peneliti internasional, tetapi juga di antara program-program arkeologi terkemuka di Indonesia.
Proyek ini juga mengintegrasikan keahlian dari berbagai disiplin ilmu, termasuk Arkeologi, Biologi Molekuler, DNA Purba, Genetika Evolusioner, Paleoantropologi, dan Geokronologi, sehingga memungkinkan para peneliti untuk merekonstruksi sejarah biologis, budaya, dan lingkungan Liang Bua melalui pendekatan interdisipliner.
Selama musim penggalian, Valentha Joe Trisnadjati dan Devina Anggeraini bertugas sebagai Pengawas Unit Penggalian, mengawasi proses penggalian harian di dalam unit penggalian yang ditugaskan kepada mereka. Tanggung jawab mereka meliputi pemantauan perubahan arkeologis dan geologis yang terungkap pada setiap lapisan yang digali, memastikan prosedur penggalian dilaksanakan secara sistematis, mengoordinasikan kegiatan penggalian dengan pekerja lokal yang terlatih, serta menjaga keakuratan dokumentasi lapangan sepanjang proyek.
Selain peran pengawasan tersebut, kedua mahasiswa ini secara rutin turut serta langsung dalam proses penggalian dengan bekerja di dalam unit-unit penggalian. Mereka mendokumentasikan setiap lubang penggalian yang telah diselesaikan, mencatat profil stratigrafi dan konteks arkeologis, memberi label dan mengatalogkan bahan-bahan yang ditemukan, serta membantu dalam digitalisasi catatan penggalian harian. Mereka juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengoperasikan Total Station untuk menghasilkan dokumentasi spasial tiga dimensi berpresisi tinggi dari temuan-temuan Arkeologi.
Bekerja bersama tim Arkeologi internasional dan para ahli dari berbagai disiplin ilmu memberikan kesempatan berharga untuk mempelajari beragam metode analitis, termasuk penelitian DNA purba, genetika evolusioner, penanggalan geokronologis, dan analisis paleoantropologi. Melalui kolaborasi sehari-hari dan diskusi ilmiah, para mahasiswa memperoleh wawasan langsung tentang bagaimana penelitian multidisiplin berkontribusi pada pemahaman sejarah evolusi manusia dan pembentukan endapan arkeologis di Liang Bua.
Bagi Valentha Joe Trisnadjati dan Devina Anggeraini, berpartisipasi dalam proyek penelitian Liang Bua merupakan pengalaman akademik yang tak ternilai harganya. Selain memperkuat keterampilan teknis mereka dalam penggalian, pencatatan arkeologi, dan dokumentasi lapangan, program ini memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dengan sesama mahasiswa arkeologi dari Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada, sehingga menciptakan lingkungan yang dinamis untuk berbagi perspektif, mendiskusikan metode arkeologi, dan saling belajar. Di saat yang sama, bekerja bersama para peneliti yang diakui secara internasional memperluas pemahaman mereka tentang penelitian arkeologi multidisiplin dan memperkuat jaringan profesional mereka. Partisipasi mereka mencerminkan komitmen berkelanjutan Universitas Udayana dalam mempersiapkan mahasiswa untuk penelitian kolaboratif baik di tingkat nasional maupun internasional.

No comments:
Post a Comment