Tuesday, June 2, 2026

Bina Desa Buduk FIB Laksanakan Program Konservasi Lontar Bersama Tim Penyuluh Kecamatan Mengwi

 


Buduk, Badung–Dalam upaya menjaga salah satu warisan peradaban masa lampau, tim Bina Desa Buduk FIB mengadakan program konservasi lontar dengan berkolaborasi bersama tim Penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Mengwi (sekarang berganti nama menjadi Penata Layanan Operasional–red). Adapun kegiatan ini dilaksanakan di Griya Gede Simpangan, Desa Buduk sejak 19 Mei 2026 dan  telah memasuki tahap pendataan isi lontar sebagai bagian dari penyusunan katalog naskah lontar yang tersimpan di griya tersebut.  

Ida Bagus Adi Santika selaku Ketua Baga (Bagian–red) Lontar kecamatan Mengwi yang sekaligus tergabung sebagai tim penyuluh menuturkan bahwa kegiatan konservasi lontar menjadi sebuah  langkah pelestarian guna menjaga keberlanjutan warisan intelektual budaya yang terkandung dalam naskah-naskah lontar peninggalan para tetua dahulu. “Karena di Bali sangat kaya akan keberadaan naskah, terutama naskah-naskah kuno yang merupakan warisan dari leluhur atau nenek moyang terdahulu yang dimana isinya sangat penting bagi eee eksistensi Bali itu sendiri sebenarnya. Karena disana mengandung nilai budaya, nilai kearifan lokal, dan nilai pengetahuan,” papar Adi Santika kala ditemui pada kegiatan konservasi  2 Juni 2026 lalu.

Sementara itu, Ketua Tim Bina Desa Buduk yakni Gusti Ayu Putu Dian Oktamaharani menjelaskan alasan dibalik pemilihan Griya Gede Simpangan sebagai lokasi yang dituju dalam melangsungkan program konservasi ini. “Griya Gede Simpangan Manuaba memiliki naskah lontar dengan jenis beragam. Manuskrip lontar yang terdapat di Griya tersebut merupakan tetamian atau warisan dan sebagian besar ditulis oleh keluarga Griya. Belum adanya upaya untuk membuat katalog dari naskah-naskah lontar yang ada di Griya tersebut menjadi alasan utama kami melaksanakan konservasi serta pembuatan katalog di Griya Simpangan Manuaba,” ujar Dian.

Selanjutnya, Adi Santika selaku bagian dari tim penyuluh yang kerap terjun langsung melakukan kegiatan konservasi turut menjelaskan serangkaian tahap yang ditempuh dalam proses konservasi lontar. Adi Santika menjelaskan bahwa proses konservasi diawali dengan identifikasi kondisi naskah untuk menentukan penanganan yang sesuai. Setelah itu, lontar dibersihkan menggunakan kuas guna menghilangkan debu dan kotoran, kemudian diberi minyak sereh agar tetap lentur serta terlindungi dari serangga perusak. Setelah itu, lembaran lontar yang terdiri dari berbagai halaman dibiarkan terbuka supaya setiap sisi yang telah diberi minyak sereh dapat terserap dengan baik serta tidak menimbulkan kelembaban jika langsung ditutup. Adi Santika juga menambahkan bahwa setelah diberi minyak, lontar tidak boleh terpapar sinar matahari langsung. “Jangan dijemur, enggak boleh dijemur. Diangin-anginkan saja,” imbuhnya.

Setelah proses konservasi selesai, dilakukan tahap katalogisasi untuk mendata identitas naskah, mulai dari nomor, judul, jenis naskah, kalimat pertama dan terakhir, penulis, hingga informasi kepemilikannya. “Nah, katalogisasi itu adalah bukan membaca keseluruhan, tidak, tapi menentukan pertama kita memberikan penomoran sama seperti di perpustakaan,” ujar Ida Bagus Adi Santika mengenai proses katalogisasi naskah lontar. 

Setelah melakukan proses identifikasi, tim penyuluh menyebutkan bahwa terdapat 71 cakep naskah lontar yang tersimpan di merajan Griya Gede Simpangan. Naskah-naskah tersebut memiliki ukuran dan jumlah halaman yang beragam. Selain itu, kondisi naskah pun berbeda-beda. Sebagian naskah dalam keadaan utuh dan tersusun urut sesuai nomor halaman. Sementara sebagian lainnya ditemukan dalam kondisi acak, rusak, hingga tidak dapat terbaca. Puluhan lontar tersebut ditulis menggunakan aksara Bali dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). Adapun isi lontar mencakup berbagai bidang pengetahuan, antara lain ilmu alam atau usada, tattwa (psikologi/filosofi), Babad (sejarah dan geografi), suastra (literatur) serta berbagai klasifikasi pengetahuan lainnya.

Kegiatan konservasi lontar ini tidak hanya menjadi upaya pelestarian naskah kuno, tetapi juga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga warisan budaya. Ida Bagus Adi Santika selaku Ketua Baga Lontar Kecamatan Mengwi berharap keterlibatan generasi muda dalam pelestarian lontar dapat terus meningkat di masa mendatang. “Kita sebagai generasi muda juga penting merawatnya (warisan lontar–red) dan melestarikan dalam berbagai bidang apapun itu,” ujar Ida Bagus Adi Santika.

Sependapat dengan hal tersebut, Ketua Tim Bina Desa Buduk, Gusti Ayu Putu Dian Oktamaharani, turut menyampaikan harapannya pada kegiatan konservasi yang telah dilaksanakan, “Harapannya dengan dilaksanakannya kegiatan konservasi ini dapat menjaga, menyelamatkan dan merawat manuskrip kuno ini beserta isinya. Besar pula harapan kedepannya agar generasi muda berikutnya dapat melirik dan juga meningkatkan minat untuk merawat serta meneliti lebih dalam isi dari naskah-naskah tersebut”.


No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...