Saturday, April 4, 2026

Khidmat dan Penuh Syukur: FIB Unud Melaksanakan Upacara Hari Raya Saraswati

 


Pada hari Sabtu, 4 April 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melangsungkan upacara dalam rangka Hari Raya Saraswati. Upacara ini dihadiri oleh civitas akademika Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana berlokasi di Padmasana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Kampus Sanglah. Pelaksanaan upacara ini menjadi wujud pelestarian nilai-nilai spiritual dan budaya Hindu di lingkungan kampus.

Rangkaian upacara ini diawali dengan beberapa penampilan tari, seperti tari Rejang Taman Sari yang dibawakan oleh para dosen dari FIB Unud, tari Rejang Dewa yang dibawakan oleh para mahasiswi FIB Universitas Udayana, Tari Baris Gede, dan pementasan Wayang Lemah.  Upacara dilanjutkan dengan prosesi Mejaya-jaya yang diikuti oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, seluruh Koordinator Program Studi Sarjana, Magister, dan Doktor, dan Koordinator Unit di lingkungan FIB Universitas Udayana. Puncak dari rangkaian kali ini adalah sesi Puja Trisandhya yang dipimpin oleh Putu Gede Suarya Natha, S.S., M.Hum. dan Kramaning Sembah yang dipimpin oleh Ida Pedanda dan diikuti oleh seluruh civitas akademika FIB Unud yang hadir dan berlangsung dengan khidmat.

Harapannya, rangkaian upacara hari raya Saraswati ini dapat mempererat tali persaudaraan civitas akademika FIB Universitas Udayana dan menjadi media untuk mengungkapkan rasa syukur atas anugerah ilmu pengetahuan yang telah diberikan oleh Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan bagi umat Hindu.  Kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga tradisi dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman. Melalui momentum ini, civitas akademika FIB Unud diharapkan semakin termotivasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai budaya dan spiritual.


Monday, March 30, 2026

Upskill Audiensi ke FIB Unud: Gagas Program Short Course dengan Mahasiswa dari University of Technology Sydney

 


Pada hari Senin, 30 Maret 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menerima kunjungan dari Upskill Study Bali. Bertempat di Ruang Dekan, Gedung Ida Bagus Mantra Lantai I FIB Unud, kunjungan ini bertujuan untuk membahas rencana pelaksanaan program jangka pendek (short course) bertajuk "Bahasa Indonesia dan Budaya" bagi mahasiswa University of Technology Sydney (UTS), Australia. kunjungan ini disambut oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. dan Koordinator Program Studi Sastra Indonesia FIB Unud, Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. 

Short course yang diselenggarakan oleh University of Technology Sydney (UTS) ini akan didanai oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia. Short course ini dijadwalkan berlangsung selama dua minggu, mulai 15 Juni hingga 10 Juli 2026, dengan kuota peserta sebanyak 20 mahasiswa. Dalam pertemuan tersebut, pihak Upskill menekankan bahwa FIB Unud dipilih sebagai mitra mendampingi Universitas Gadjah Mada karena memiliki keunggulan kompetensi dosen serta pengalaman dalam menyelenggarakan program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) dan kajian budaya dibandingkan unit lainnya. Program ini diharapkan mampu memberikan pengalaman pembelajaran yang komprehensif bagi mahasiswa internasional, baik secara akademik maupun kultural.

Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D.  menyambut sangat positif inisiasi kerja sama tersebut. Beliau menyatakan antusiasmenya dan menilai bahwa program ini merupakan ide yang sangat bagus untuk pengembangan lembaga, khususnya bagi Program Studi Sastra Indonesia. Beliau juga menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi program tersebut dan merasa senang atas kunjungan pihak Upskill yang dinilai sudah sangat tepat sasaran. Beliau menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi kelangsungan program UTS dan tidak ingin universitas kehilangan potensi kerja sama internasional. 


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Cornell University, Amerika Serikat Jajaki Peluang Kolaborasi Penelitian Pohon Sakral di Bali

 


Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, M.A., Ph.D., menerima kunjungan Prof. Chiara Formichi pada hari Senin (30/3/2026) di Kampus Fakultas Ilmu Budaya, Jalan Pulau Nias, Denpasar. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut membahas potensi kerja sama riset antara kedua institusi.

Rencana kolaborasi ini akan berfokus pada kajian pohon-pohon besar yang memiliki nilai sakral di Bali, terutama yang berada di area pura maupun kuburan, dengan pendekatan multidisipliner serta perspektif pelestarian lingkungan. Penelitian tersebut juga akan melibatkan Dr. Ni Made Pertiwi Jaya, S.T., M.Si., M.Eng. dari Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Udayana, sebagai bagian dari upaya lintas disiplin dalam mengkaji isu lingkungan dan budaya.

Dalam pertemuan itu, Prof. Aryawibawa didampingi Koordinator Program Studi S3 Kajian Budaya, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. Sedangkan, Prof. Formichi hadir bersama timnya, yakni Paola Cannuciari dan Fransiska Eva Lidya Natalia. Prof. Aryawibawa menyampaikan apresiasinya terhadap rencana kerja sama internasional ini dan menyatakan kesiapan Fakultas Ilmu Budaya untuk terlibat dalam riset bersama. Menurutnya, kolaborasi semacam ini tidak hanya penting untuk peningkatan kapasitas, tetapi juga berkontribusi dalam memperluas eksposur Fakultas Ilmu Budaya dan Universitas Udayana di tingkat Internasional. Ia juga memaparkan berbagai kerja sama internasional yang telah dilakukan Fakultas Ilmu Budaya, khususnya dalam penelitian bahasa daerah serta penguatan nilai-nilai Tri Hita Karana sebagai dasar pembangunan berkelanjutan di Bali.

Di sisi lain, Prof. Formichi menyambut positif peluang kolaborasi tersebut dan menekankan pentingnya melibatkan mahasiswa sarjana dalam kegiatan penelitian. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman langsung di lapangan, seperti melakukan wawancara dan proses transkripsi, sehingga pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui praktik nyata. Ia juga menambahkan bahwa partisipasi mahasiswa dalam penelitian dosen merupakan bagian penting dari strategi pembelajaran sekaligus mendukung aspek penilaian akreditasi program studi. Selain itu, ia menekankan pentingnya peran peneliti senior dalam membimbing peneliti muda untuk pengembangan karier akademik.

Kerja sama ini diharapkan segera diwujudkan dalam bentuk program penelitian konkret yang tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat internasionalisasi bidang akademik.


Tuesday, March 24, 2026

Kejar Akreditasi 'Unggul', Sastra Jepang FIB Unud Gelar Workshop Finalisasi Dokumen APS 2.0

 


Pada hari Rabu, 25 Maret 2026, Program Studi Sastra Jepang FIB Unud melaksanakan Workshop Finalisasi Penyusunan Lampiran Dokumen Laporan Kinerja Program Studi (LKPS) dan Laporan Evaluasi Diri (LED) APS 2.0 secara hybrid. Bertempat di Ruang Sidang Dr. Ir. Soekarno Gedung Poerbatjaraka Lantai IV FIB Unud, kegiatan ini dihadiri oleh jajaran dekanat, ketua UP2M (Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) FIB Unud, ketua UP3M (Unit Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu) FIB Unud, para dosen dari Program Studi Sastra Jepang dan Sastra Inggris.

Dalam sambutannya, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menyampaikan bahwa workshop ini merupakan langkah strategis untuk menghadapi reakreditasi Program Studi Sastra Jepang yang masa berlakunya akan berakhir pada bulan September mendatang. Mengingat prodi tersebut saat ini menyandang status akreditasi Unggul, pembaruan dokumen evaluasi mutlak diperlukan untuk menyesuaikan dengan instrumen Akreditasi Program Studi (APS) yang baru.

Workshop ini menghadirkan Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum., selaku asesor dan pakar dari Universitas Sebelas Maret dan dimoderatori oleh Dr, Silvia Damayanti, S.S., M.Hum. selaku Koordinator Program Studi Sastra Jepang. Dalam arahannya, Prof. Rohmadi menekankan bahwa sistem akreditasi terbaru (APS 2.0) sangat bergantung pada verifikasi data daring, seperti penarikan data dari PDDIKTI dan SINTA. Karena sistem penilaian asesor kini lebih kaku dan hanya berfokus pada pilihan "terpenuhi" atau "tidak terpenuhi", kelengkapan Laporan Evaluasi Diri (LED) menjadi sangat krusial. Beliau menegaskan agar tim penyusun tidak hanya menuliskan narasi yang normatif, tetapi wajib memberikan jawaban langsung yang didukung oleh data empiris dan tautan bukti dan harus diletakkan spesifik pada bagian indikator yang sedang dibahas, agar asesor mudah memverifikasi kebenaran argumen.

Untuk menyusun dokumen yang kuat dan mencapai target Unggul, Prof. Rohmadi membagikan lima langkah taktis. Pertama, pastikan seluruh sub-butir indikator pada matriks penilaian BAN-PT tercantum secara lengkap. Kedua, pertegas poin-poin tersebut di dalam naskah. Ketiga, jawab setiap indikator secara lugas di kalimat atau paragraf pertama sebelum menjabarkan penjelasannya. Keempat, sertakan tautan bukti pada setiap jabaran jawaban tersebut. Kelima, khusus untuk memenuhi syarat unggul, program studi harus percaya diri menyatakan bahwa mereka memiliki kualitas yang terbaik dan komprehensif, bukan sekadar menggunakan bahasa bersayap yang menyatakan "sudah memadai"

Terakhir, beliau mengingatkan urgensi kemandirian dokumen karena pada sistem yang baru ini tidak semua program studi akan mendapatkan kesempatan divisitasi ke lapangan atau Asesmen Lapangan. Keputusan akreditasi bisa saja ditetapkan murni berdasarkan dokumen yang dibaca oleh asesor, sehingga tidak ada lagi ruang untuk konfirmasi lisan. Oleh karena itu, mengingat masa akreditasi Sastra Jepang berakhir pada bulan September, kelengkapan ini harus segera diunggah sebelum tenggat waktu. Sekalipun nantinya ada kendala dari sistem kementerian yang membuat jadwal penilaian tertunda, dokumen yang sudah diserahkan tepat waktu akan menjadi jaminan untuk perpanjangan masa aktif akreditasi secara otomatis.

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada Prof. Rohmadi. Beliau berharap agar proses finalisasi dokumen dilakukan secara teliti dengan melihat dan memastikan kelengkapan dari butir ke butir sesuai matriks penilaian. Beliau juga menaruh harapan besar agar program studi memiliki keberanian untuk mengklaim pencapaian terbaik mereka secara tertulis sebagai syarat mencapai akreditasi unggul. Lebih lanjut, beliau berharap setiap tautan bukti pendukung diatur agar dapat diakses secara publik. Terakhir, beliau sangat berharap seluruh dokumen dan data disajikan selengkap dan sedetail mungkin sejak awal karena sistem akreditasi yang baru tidak menjamin adanya proses visitasi lapangan.



Sunday, March 15, 2026

Program Studi Sastra Inggris FIB Unud Melaksanakan Seminar Mengenai Panduan Dokumentasi Bahasa Bersama Pakar dari Republik Ceko

 


Pada hari Senin, 16 Maret 2026, Program Studi S1 Sastra Inggris FIB Unud melaksanakan seminar yang bertajuk “How to Conduct Language Documentation: From Start to Finish”. Bertempat di Ruang 5 Gedung Dr. R. Goris Lantai 1 FIB Unud, seminar ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa dari program studi Sastra Inggris. Workshop ini bertujuan untuk membekali para peserta dengan keterampilan teknis dalam pendokumentasian bahasa sesuai dengan standar modern yang berlaku.

Narasumber pada seminar kali ini adalah George Saad, seorang ahli bahasa dari Palacky University Olomouc, Republik Ceko. Dalam seminar ini, beliau memaparkan bahwa alasan dari munculnya dokumentasi bahasa adalah sebagai alat untuk mempertahankan dan melestarikan bahasa-bahasa yang terancam punah yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti globalisasi, bahasa daerah yang tidak terintegrasi dengan kurikulum, dan stigmatisasi terhadap bahasa daerah. Beliau menerangkan bahwa dalam melaksanakan dokumentasi bahasa, diperlukan adanya data linguistik yang dapat berupa sampel bahasa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Untuk mendapatkan data linguistik tersebut, diperlukan beberapa tahap yang harus diperhatikan, seperti: perencanaan, pemilihan narasumber, dan penerapan persetujuan dari penutur bahasa. Aspek etika menjadi perhatian utama, di mana informan harus memahami tujuan penelitian, memberikan izin atas penggunaan data, serta memiliki hak untuk menarik persetujuan kapan saja. Selain itu, peserta dibekali dengan pemahaman mengenai metadata, yaitu informasi pendukung yang mencakup data penutur, bahasa, serta kondisi perekaman, yang berfungsi untuk memastikan data dapat dipahami dan digunakan secara optimal oleh peneliti lain.

Selanjutnya, peserta seminar berkesempatan untuk berlatih menjadi seorang peneliti bahasa dan penutur bahasa dengan mempraktekkan bagaimana penelitian bahasa dilakukan dengan dokumentasi. Peserta juga diperkenalkan pada berbagai sumber daya linguistik daring serta teknik praktis seperti penggunaan perangkat rekam, penamaan file yang sistematis, dan proses transkripsi. Selain itu, pelatihan ini memberikan panduan teknis dalam melakukan perekaman data bahasa secara efektif, baik menggunakan ponsel maupun peralatan profesional, dengan memperhatikan kualitas audio-visual dan kondisi lingkungan. Peserta seminar juga diajarkan mengenai teknik pengumpulan wordlist, yang melibatkan proses pencatatan langsung bersama penutur dan pelafalan ulang untuk memastikan akurasi. 

Kegiatan ini diharapkan mampu melatih peserta untuk melakukan perekaman data linguistik, serta mengumpulkan metadata yang komprehensif terkait bahasa dan narasumber yang terlibat. Selain aspek teknis, kegiatan ini juga menekankan pentingnya etika penelitian melalui perolehan informed consent atau persetujuan atas penggunaan data sehingga hasil yang diperoleh berkontribusi pada pengembangan ilmu linguistik serta upaya pelestarian bahasa di berbagai daerah.


Friday, March 13, 2026

Tsinghua Southeast Asia Centre UID Bali dan FIB Unud Siapkan Konferensi Internasional tentang Kearifan Lokal dan AI

 


Tsinghua Southeast Asia Centre UID Campus Bali bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana akan menyelenggarakan konferensi internasional bertajuk “Reimagining Intelligence: Indigenous Wisdom and the Future of Inclusive AI” pada 4 September 2026. Konferensi ini menjadi kelanjutan kolaborasi kedua lembaga dalam membahas hubungan antara kearifan lokal dan perkembangan kecerdasan buatan. Kegiatan tersebut juga akan menjadi bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis Universitas Udayana dan Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya yang diperingati pada akhir September.

Tahap awal persiapan konferensi digelar Kick-Off Event of the 2nd International Conference on Indigenous Wisdom in the Contemporary World (CIWCW 2026) pada Jumat, 13 Maret 2026, di Tsinghua Southeast Asia Centre UID Campus Bali. Kegiatan berlangsung secara hibrida di Auditorium UID Bali Campus, Kura-Kura Special Economic Zone (SEZ), Serangan, serta melalui platform Zoom. Kick-off event ini diikuti oleh 113 peserta yang hadir secara langsung dan 128 peserta yang bergabung secara daring.

Mewakili Dekan FIB Universitas Udayana, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., yang juga tergabung dalam Steering Committee konferensi, menjelaskan bahwa penyelenggaraan konferensi kedua ini merupakan respons atas antusiasme peserta pada kegiatan sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan konferensi tahun lalu mendorong banyak pihak agar forum tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun. Menurutnya, tema yang mengaitkan kearifan lokal dengan kecerdasan buatan memiliki relevansi tinggi di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Dalam sambutannya, Academic Director Tsinghua Southeast Asia Center, Michael Tuori, menekankan pentingnya dialog global mengenai hubungan antara teknologi AI dan pengetahuan tradisional masyarakat. Ia menyampaikan bahwa forum ini bertujuan mempertemukan akademisi, pemegang pengetahuan lokal, pembuat kebijakan, serta praktisi teknologi untuk mendiskusikan bagaimana kearifan lokal dapat memperkaya pengembangan teknologi yang lebih etis, inklusif, dan berkelanjutan.

Kick-off event ini juga menghadirkan sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri, antara lain Prof. Thea Pitman dari University of Leeds, Karlina Octaviany dari program Fair Forward GIZ, Prof. I Ketut Ardhana dari Universitas Udayana, serta Dr. Dewa Made Sri Arsa dari AI Center Universitas Udayana. Selain diskusi panel dan sesi tanya jawab, kegiatan ini juga meluncurkan secara resmi Call for Papers dan Call for Partners serta dilanjutkan dengan sesi research matchmaking untuk mendorong kolaborasi penelitian menjelang konferensi utama pada September mendatang.


Kajian Diskursus KB Krama Bali pada Masyarakat Multikultur di Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng Mengantar Dewa Nyoman Dalem Meraih Gelar Doktor

 


Pada hari Jumat, 13 Maret 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menyelenggarakan Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi Linguistik, Program Doktor. Sidang ini berlangsung di Ruang Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, Lantai IV, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Promovendus, Dewa Nyoman Dalem, S.Pd., M.Si., mempresentasikan disertasi berjudul “Pergulatan Diskursus KB Krama Bali pada Masyarakat Multikultur di Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng”. Dalam sidang tersebut, promovenda berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat “cumlaude” Dengan kelulusan ini, beliau tercatat sebagai doktor ke-278 (dua ratus tujuh puluh delapan) di Fakultas Ilmu Budaya dan doktor ke-304 (tiga ratus empat) pada Program Studi Doktor S3 Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Pada sidang promosi doktor ini, Ketua Tim Penguji Disertasi adalah Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., yang didampingi oleh Anggota Tim Penguji yaitu Prof. Dr. A.A.Ngh. Anom Kumbara, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si., Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., Dr. Ni Nyoman Dewi Pascarani, S.S., M.Si., Dr. Pande Wayan Renawati, S.H., M.Si., C.Ed., Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum

Disertasi ini dilatarbelakangi oleh pengamatan penulis terhadap diskursus tentang Keluarga Berencana (KB) krama Bali di Sukasada, Buleleng, yang menunjukkan adanya dinamika sosial dalam masyarakat multikultur. Penerimaan dan penolakan terhadap KB muncul di tengah keberagaman etnis dan agama, seperti Bali, Bugis, dan Jawa atau Blambangan yang hidup berdampingan. Sikap tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kesehatan dan ekonomi, tetapi juga oleh nilai budaya, ajaran agama, dan posisi sosial masing-masing kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menelusuri, mengungkap, dan menganalisis relasi kuasa-pengetahuan yang bekerja dibalik proses penerimaan dan penolakan terhadap diskursus KB krama Bali, oleh masyarakat multikultur di Kecamatan Sukasada.

Penyebab terjadinya pergulatan diskursus KB krama Bali dikarenakan adanya pluralitas Ideologi, disposisi rasionalitas, hibriditas kultural dan negosiasi identitas, serta kinerja struktural. Adapun bentuk-bentuk pergulatan diskursus KB krama Bali berupa ketegangan antara nilai tradisional dan modern, paradoks otoritas simbolik antaraparatus, negosiasi agama dan identitas sosial, serta kontestasi wacana reproduksi antargenerasi. Implikasi yang muncul dari pergulatan diskursus KB krama Bali vii tersebut antara lain, fragmentasi makna keluarga ideal dalam konteks multikultur, dinamika politik tubuh perempuan dan resistensi diam diam, dislokasi makna tradisi dan terbentuknya tradisi baru yang simulatif, serta politik reproduksi dan pemosisian anak sebagai representasi proyek kebudayaan dalam masyarakat multikultur.

Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika sikap masyarakat terhadap program Keluarga Berencana (KB). Secara empiris, sebagian informan menyatakan penolakan terhadap KB pada tingkat pandangan atau keyakinan, namun dalam praktik tetap melakukan pengaturan kelahiran melalui jarak kelahiran alami atau penggunaan kontrasepsi secara tersembunyi. Sebaliknya, ada pula masyarakat yang secara lisan menyatakan menerima program KB, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tetap mempertahankan pola memiliki banyak anak karena pertimbangan adat, agama, maupun tuntutan sosial keluarga besar. Secara teoretis, temuan ini menunjukkan adanya penerimaan yang bersifat simbolik namun tidak selalu diikuti oleh praktik nyata. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pengembangan kerangka Encoding–Decoding Stuart Hall dengan memasukkan unsur ambivalensi dan paradoks dalam proses pemaknaan, yaitu kondisi ketika terjadi penerimaan simbolik tetapi penolakan dalam praktik, serta penerimaan secara pragmatis meskipun secara ideologis tidak sepenuhnya disetujui.

Dalam penelitian ini, penulis menyadari bahwa kajian mengenai pergulatan diskursus KB krama Bali pada masyarakat multikultur di Sukasada, Kabupaten Buleleng, masih terbatas pada ruang sosial dan konteks waktu tertentu serta lebih berfokus pada produksi wacana, otoritas simbolik, dan negosiasi identitas di tingkat lokal. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar penelitian selanjutnya mengembangkan pendekatan yang lebih genealogis dan lintas institusional guna menelusuri relasi antara negara, kebijakan kependudukan, institusi adat, dan otoritas keagamaan dalam proses produksi, legitimasi, serta normalisasi wacana KB krama Bali dalam jaringan kuasa yang lebih luas.


FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...