Tuesday, May 19, 2026

Maknai Hari Kebangkitan Nasional, Unit Lontar Unud Konservasi Naskah Kuno Hibah dari Belanda

 


Dalam memaknai perayaan Hari Kebangkitan Nasional, Unit Lontar Universitas Udayana (ULU) mengambil langkah nyata yang bukan hanya sekadar acara seremonial, namun juga sebagai tonggak kebangkitan budaya. Langkah nyata yang diambil adalah melakukan konservasi terhadap naskah lontar kuno yang baru dipulangkan dari Belanda. Konservasi lontar kuno ini terlaksana di Ruang Penyimpanan Lontar, Gedung Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus FIB Unud. Konservasi lontar kuno ini tidak hanya dikerjakan oleh tenaga ahli, namun turut melibatkan mahasiswa secara langsung dari Program Studi Sastra Jawa Kuno FIB Unud. 

Mengawali kegiatan konservasi, Dr. Putu Ari Suprapta Pratama, M.Hum. selaku Sekretaris Unit Lontar Unud menegaskan bahwa konservasi ini adalah wujud pelestarian naskah lontar Bali yang telah dipulangkan, di mana perayaan Hari Kebangkitan Nasional sangat erat kaitannya dengan aksi nyata penyelamatan naskah tersebut. Meskipun kondisi fisik naskah hibah ini secara umum tergolong baik dan terawat, tindakan konservasi berkala tetap wajib dilakukan untuk membersihkan material perusak dan memperpanjang usia fisik lontar agar dapat diteruskan ke generasi mendatang.

Fokus utama dari konservasi lontar kuno ini adalah lontar yang dihibahkan oleh David Stuart Fox, seorang mantan pustakawan dari Rijksmuseum voor Volkenkunde (Museum Etnologi Nasional) di Leiden, Belanda. Dari keseluruhan 30 lontar hibah tersebut, Tim Unit Lontar Unud bergerak secara cepat untuk memprioritaskan konservasi terhadap empat cakep lontar pada tahap awal ini. Empat cakep lontar yang memuat pengetahuan tradisional Bali yang sangat bernilai tersebut diantaranya:

  • 62 Lembar Lontar Krakah yang memuat pedoman membaca aksara suci Modre, yang dilengkapi dengan tata cara pelafalan serta simbol-simbol suci aksara Bali.

  • 48 Lembar Lontar Wariga Gemet yang memuat ilmu astronomi tradisional Bali yang berkaitan dengan perhitungan hari baik dan buruk (dewasa).

  • 15 Lembar Lontar Geguritan Dewasa yang memuat acuan krusial bagi masyarakat untuk mengukur baik atau buruknya suatu hari sebelum melangsungkan upacara keagamaan.

  • 28 Lembar Lontar Anggelar Puja Parikrama yang turut menjadi bagian penting dari koleksi naskah yang juga berhasil diselamatkan pada tahap ini.  

Dengan pelibatan mahasiswa secara langsung dalam kegiatan konservasi lontar ini, para mahasiswa memiliki kesempatan untuk mempraktikkan ilmu konservasi dan filologi secara langsung, sekaligus menumbuhkan kedekatan emosional dengan peninggalan leluhur yang sebelumnya sempat melanglang buana ke negeri kincir angin tersebut. Pemulangan puluhan naskah lontar ini pada akhirnya semakin mengukuhkan komitmen Universitas Udayana sebagai pusat kajian naskah Nusantara yang terpercaya sekaligus sebagai benteng pertahanan kebudayaan. 

No comments:

Post a Comment

FIB Unud Gelar KELIR Seri 1: Menenun Masa Depan Bahasa dan Budaya Bali di Era Digital

  Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana resmi menggelar edisi perdana Kolokium Eksplorasi Linguis...