Klungkung, 21 November 2025 – Program Studi Antropologi Budaya bekerja sama dengan Go Study melakukan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dalam bentuk International Social Service di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Kegiatan ini diikuti oleh setidaknya 25 orang yang terdiri dari dosen dan mahasiswa. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh dosen Antropologi, I Gede Andi Legawa diikuti oleh dosen lain, diantaranya Aliffiati selaku Koordiantor Prodi, Ida Ayu Alit Laksmiwati, Ida Bagus Oka Wedasantara, Putu Karina Pravitasari Gede Budarsa, Wildan Wahyudinata, dan Ria Hikmatul Hayati. Perjalanan dimulai pukul 08.00 dari kampus Fakultas Ilmu Budaya menggunakan 3 mobil. Setibanya di lokasi, rombongan disambut hangat oleh Ketua Adat dan Kepala BPD Desa Besan bertempat di aula desa.
Dalam kegiatan ini, dosen dan mahasiswa terjun langsung ke lapangan untuk mengamati proses pembuatan gula merah, serta pembuatan dodol buah. Dua produk khas Desa Besan ini menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat desa tersebut. Dalam pelaksanaannya, rombongan dosen dan mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok mengamati proses pembuatan gula merah, satu kelompok lagi mengamati pembuatan dodol buah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga memperkuat pemahaman peserta mengenai kearifan lokal yang menjadi bagian penting dalam kajian Antropologi Budaya. Melalui observasi langsung, peserta memperoleh pengalaman lapangan yang relevan dengan upaya pemberdayaan masyarakat desa berbasis potensi lokal.
Salah satu pengrajin gula merah yang dikunjungi adalah Ibu Yuko Sato, beliau lahir dan besar di Jepang, namun telah lama menikah dengan penduduk asli Besan. Ibu Yuko meneruskan keahlian membuat gula merah dari mertuanya. Gula merah yang dibuat menggunakan 100% nira kelapa. Nira kelapa diproses selama kurang lebih 1 jam sampai menjadi gula merah yang dapat dikonsumsi. Proses pembuatan gula merah di Desa Besan masih mempertahankan penggunaan alat tradisional, seperti tungku dan kayu bakar. Gula merah Desa Besan memiliki karakter yang berbeda dengan wilayah lain di Bali, seperti warna yang lebih terang, memiliki rasa manis legit dan tidak terlalu tajam, memiliki tekstur padat di luar dan lembut di dalam, sehingga memudahkan untuk diiris karena tidak dicampur dengan gula pasir. Saat ini, gula merah Desa Besan telah memiliki Indikasi Geografis (IG) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sementara pembuatan dodol yang diproduksi pada kegiatan ini adalah dodol buah nangka. Pemilihan buah dapat berbeda-beda, menyesuaikan dengan buah musiman. Produksi dodol buah dapat ditemukan di hampir semua rumah warga, dikarenakan makanan ringan ini menjadi bagian dari upacara keagamaan warga Bali. Bahan dasar dodol buah adalah buah matang dan gula pasir. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme, dosen serta mahasiswa ikut andil dalam proses membuat gula merah dan dodol, seperti memilah bahan, mengaduk, hingga proses packingnya.
Selain melakukan kunjungan ke
tempat produksi, rombongan juga melakukan kegiatan berupa penyerahan sembako kepada
30 KK di Desa Besan. Penyerahan pertama dilakukan oleh Kepala Desa Besan dilanjutkan
dengan Kordinator Prodi Antropologi Budaya FIB, Universitas Udayana Kepada
perwakilan KK yang menerima. Kegiatan ini merupakan pembuka kegiatan Pengabdian
Kepada Masyarakat berikutnya, yang akan diadakan Januari tahun 2026. Kepala
Desa Besan menyambut kegiatan ini dengan baik dan berharap kegiatan serupa bisa
berlanjut. Kegiatan pengabdian
ini sekaligus memperkuat komitmen Program Studi Antropologi Budaya dalam
mendukung kesejahteraan masyarakat melalui aksi nyata berbasis kearifan lokal.

No comments:
Post a Comment